Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 268 (Melahirkan)


__ADS_3

Beeve yang menunggu di ruang khusus setelah operasi pun belum dapat melihat ketiga anaknya.


Lalu dari arah pintu masuk Emir datang dengan penuh senyuman.


“Aku sudah mengurus segalanya,” ucap Emir.


“Segalanya?” Beeve mengernyitkan dahinya.


“Iya, si kembar sempat meminum air ketuban, jadi mereka terindikasi keracunan, dan ketiganya juga kurang berat badan, pernafasannya juga kurang bagus, jadi dokter mengharuskan si kembar di inkubator.”


“Tapi mereka masih bisa bertahan kan mas?” Beeve yang trauma di tinggal orang yang ia kasihi pun menjadi resah.


“Hei, tenanglah, mereka baik-baik saja, dokter telah memberikan perawatan terbaik pada mereka, sekarang yang penting itu, pikirkan kesehatan mu, kalau kau gelisah dan sedih begini, maka akan berpengaruh pada mereka juga,” ujar Emir.


“I-iya mas.” sahut Beeve dengan menahan tangis.


Setelah menunggu selama 3 jam di ruang khusus operasi, salah satu perawat pun datang memberi obat penurun tensi pada Beeve.


“Saya belum buang angin sus, memang boleh minum obat?” tanya Beeve, karena setahunya, pasien operasi yang belum buang gas tak boleh minum apa lagi makan.


“Boleh kok Bu, siapa bilang enggak boleh, ayo di minum,” ujar sang suster.


Beeve pun meminum obat yang di berikan padanya, setelah itu ia pun di pindahkan ke ruang rawat pribadi yang telah di pesan oleh keluarga Han.


Selama ia di ruangan, Emir selalu setia menemaninya, sedangkan Rahma tak bisa di bawa ke rumah sakit, sebab sejak Andri meninggal, ia mengalami sakit jiwa, karena tak bisa menerima kenyataan.


Yudi sendiri sibuk mengurus perusahaan, alhasil ia dan Julian baru dapat menengok Beeve setelah pulang kerja.


“Bee!!” Julian yang datang pun memberi peluk dan cium pada adiknya tercinta yang sedang terbaring di atas ranjang.


“Bang...” Beeve membalas pelukan Julian seraya menangis.


“Anak-anak ku bang, hiks...”


“Aku sudah tahu, sabar ya dek, jangan menangis, nanti mereka juga menangis disana, harus tabah dan kuat demi mereka, oke!” Julian menyemangati adiknya yang bersedih.


“Betul, banyak kok bayi yang di inkubator, keluar dari sana tubuhnya besar dan kekar,” ujar Emir.


Beeve merasa tenang, setelah mendengar pernyataan dari Julian dan Emir.


“Terus, kapan aku bisa melihat mereka mas?” Beeve yang telah rindu dan belum mengenal wajah anak-anaknya pun ingin segera bertemu.


“Besok ya, kau kan baru selesai operasi, jadi belum boleh banyak bergerak, takutnya bekas operasi mu terbuka,” terang Emir.


“Iya mas.” Beeve pun harus banyak bersabar untuk bertemu buah hatinya.

__ADS_1


Malam harinya, Yudi yang baru pulang kerja mengunjungi Beeve.


Ia yang masuk ke dalam ruangan pun tak lepas dari senyum bahagia.


“Wajah ketiganya begitu identik dengan Andri, hampir tak bisa di bedakan,” terang Yudi yang telah melihat si kembar.


“Memangnya ayah bisa masuk? Bukankah hanya orang tua si bayi yang boleh melihat mereka?” ucap Emir.


“Bisa dong, ayah kan salah satu donatur di rumah sakit ini,” terang Yudi.


Oh iya, karena dulu aku menikah dengan Helena, ayah bersedia menjadi donatur disini,” batin Emir.


“Ibu mu pasti senang melihat cucunya mirip dengan Andri.” Yudi sangat berharap, kehadiran ketiga cucunya, dapat mengembalikan kesehatan mental Rahma kembali.


“Semoga saja yah.” Beeve di buat makin penasaran dengan wajah para putranya yang begitu mirip dengan Andri di mata ayah mertuanya.


Keesokan harinya, setelah kateter Beeve di cabut, ia pun di bantu oleh Emir menggunakan kursi roda untuk menengok anak-anaknya.


Ketika ia dan Emir telah berada dalam ruangan bayi, air mata Beeve berlinang, sebab ketiga anaknya bak pinang di belah dua, wajahnya persis seperti Andri, sangat sulit membedakan satu sama lain, karena ketiga anak kembar Beeve tak memiliki tanda lahir atau lainnya, dan seluruh tubuhnya juga bersih dan mulus.


“Assalamu'alaikum anak-anak ku, ini mama nak.” ucap Beeve menahan tangis, sebab wajah ketiga anaknya mengingatkannya pada sang mendiang suami tercinta.


Andaikan kau masih ada, pasti kau sama bahagianya dengan ku mas, anak-anak kita sangat mirip dengan mu.” berkat kehadiran ketiga buah hatinya, kerinduan Beeve pada Andri pun terobati.


Ia yang belum bisa memberi asi secara langsung pada bayinya, harus berusaha keras memompa air susunya di ruangannya.


Beeve yang berada di ruang rawat tak mengerti sama sekali cara menggunakan pompa asi yang di beli oleh Emir.


Emir yang menunggu di luar ruangan pun mulai bertanya, melalu pesan elekronik.


Sudah dapat berpaa botol? ✉️ Emir.


Baru 2 tetes mas, ✉️ Beeve.


Kok bisa? ✉️ Emir.


Asi ku kering banget mas, ✉️ Beeve.


Emir yang tak sabaran pun masuk ke ruangan. Krieett...


“Mas! Auh..!!!” suara Beeve yang kencang, memuat bekas operasinya terasa sakit.


“Jangan banyak bicara, lagian kau lama banget, kasihan mereka, di banding susu formula, air asi itu lebih bagus untuk penyembuhan bayi, pegang botolnya!” titah Emir.


“Aku saja.” Beeve yang malu karena Emir melihat dadanya pun menolak bantuan Emir.

__ADS_1


“Selain aku, enggak akan ada orang yang bersedia membantu mu, demi kesehatan anak-anak, buang ego mu!”


Karena tak ada pilihan lain, Beeve pun menerima kebaikan hati adik iparnya.


Lalu Emir yang membeli pompa asi model eletronik pun mulai mengutak atik tombol pompan asi tersebut, setelah mengatur kecepatan daya hisap, mesin itu pun mulai bekerja.


“Akh!!” Beeve tersentak sebab ia merasa aneh saat mesin elektronik itu bekerja di dadanya.


“Sakit mas.” ucap Beeve, sebab corong pompa asi itu menarik-narik ujung dadanya.


“Tahan, memberi asi langsung kau kan enggak bisa,” ujar Emir.


“Iya mas.” sahut Beeve dengan wajah meringis kesakitan.


Setelah menghabiskan waktu 30 menit, 2 botol susu berukuran 60 ml pun terisi penuh.


“Nah! Beginikan oke! Ini!” sebelum Emir meninggalkan Beeve ke ruang bayi, ia pun memberi Beeve bubur yang telah di campur dengan berbagai bahan pangan yang memiliki gizi tinggi.


“Banyak banget mas!” netranya membulat sempurna, kala melihat bubur yang menggunung di piringnya.


“Sudah makan saja, harus habis ya!” ujar Emir.


“Baiklah.” demi mencapai kesehatan yang prima, Beeve pun memaksakan diri untuk menelan bubur yang Emir berikan.


Emir yang menuju ruang bayi, tak sengaja berpapasan dengan mantan istrinya Helena.


Ketika netra keduanya bertemu, mereka mendadak canggung.


“Apa kabar bang?” sapa Helena.


“Aku baik, bagaimana dengan mu?” tanya Emir yang telah lama tak mendengar kabar berita dari Helena, pasalnya setelah mereka resmi bercerai, Helena memblokir Emir dari segala media elektroniknya.


“Aku juga.” jawab Helena dengan ragu, sebab ia yang belum move on, masih merasa sakit atas perpisahan mereka.


“Baguslah kalau begitu, oh ya, aku ke ruang bayi dulu ya.” Emir yang tak nyaman memilih untuk menghindar dengan segera.


“Apa aku boleh ikut melihat bayi kak Beeve?” Helena yang ingin menjalin kembali tali silaturrahi antara keduanya pun mulai mendekati Emir kembali.


“Selain orang tua bayi, pihak lain tak di izinkan untuk masuk,” ucap Emir. Seketika Helena menelan salivanya.


Apa mereka sudah menikah? Bukankah bang Andri baru saja meninggal? Wah... luar biasa, batin Helena.


...Bersambung......


Sudah tayang, karya baru dari author!!!

__ADS_1




__ADS_2