
Masa lalu adalah masa di mana kita telah melewati hal tersebut, atau masa yang telah lampau.
Masa lalu itu sangat penting, karena dari masa lalu itu, kita dapat banyak pengalaman yang bisa kita pelajari dari masa yang telah kita lalui dulu.
Seperti yang Sila hadapi sekarang, masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam, dan sudah berhasil ia lupakan, kini justru hadir kembali.
Orang yang pernah mengisi hari-harinya kini kembali dihadapannya lagi.
Sekaligus orang yang telah membuatnya patah hati.
Lelaki yang berdiri tepat di samping suaminya, dia adalah Aldo Reifansyah, adik kandung Rafael Reifansyah, sekaligus mantan kekasih Kaysila Arzetty.
Sila dan Aldo sudah saling mengenal sejak pertama kali masuk universitas.
Dan mereka menjalin hubungan setelah 5 bulan menjadi sahabat.
Satu tahun yang lalu, hubungan Sila dan Aldo harus kandas, lantaran Aldo yang memaksa untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
Namun yang Aldo lakukan bukan keinginannya sendiri, melainkan ada masalah tersendiri yang membuatnya harus pindah ke luar negeri.
Mungkin itu adalah kesalahan Aldo, karena tidak mau berterus terang kepada Sila, sehingga Sila menganggap jika Aldo tidak lagi mencintainya.
Aldo yang pergi secara mendadak dan tidak berpamitan dengan Sila, membuat hubungan keduanya hancur, terlebih Aldo yang dengan sengaja memutuskan komunikasinya dengan Sila, membuat dia kecewa dan sakit hati.
Dan sejak saat itu, Sila memutuskan untuk melupakan Aldo selama-lamanya.
Hingga akhirnya Sila dijodohkan dengan Rafael, yang tak lain adalah kakak kandung Aldo.
Pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta, memang membuat keduanya sangat canggung, tapi Sila yang ingin memulai kisah barunya, dengan senang hati akan berusaha untuk menerima perjodohan itu.
Sila masih terdiam mematung, begitu juga dengan Aldo, matanya tidak berkedip sama sekali.
Rafael yang merasa heran, akhirnya ia memecahkan keheningan.
"Aldo, Sila, kalian kenapa?" tanya Rafael, yang merasa heran dengan kedua insan yang berada dihadapannya itu.
Keduanya terlonjak kaget, mendengar pertanyaan dari Rafael, hingga keduanya sama-sama salah tingkah.
"Ah, enggak papa kok kak," jawab Aldo berbohong. Sementara itu, Sila hanya diam dan menunduk.
"Aldo, kenalin dia istri aku, dan Sila, kenalin dia Aldo, adik aku," terang Rafael, yang memperkenalkan Aldo pada Sila.
Aldo dan Sila sama-sama diam, mereka ada pada pikirannya masing-masing.
Dan lagi-lagi itu membuat Rafael heran bin curiga.
"Kenapa kalian diam, apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Rafael, yang membuat Sila dan Aldo sadar dari lamunannya.
"Eh, enggak kok kak," elak Aldo, dan lagi-lagi Sila hanya diam.
"Ya sudah, Aldo ayo masuk," ajak Rafael, tanpa memperdulikan istrinya, Rafael masuk ke dalam, dan diikuti oleh Aldo.
"Ya Tuhan, kenapa dia hadir lagi, di saat aku sudah melupakannya, kenapa harus datang kembali, dan ini sangat sulit untuk aku terima, orang yang pernah aku cintai dan akhirnya aku benci, dia adalah adik dari suamiku," batin Sila, yang tengah meratapi masa lalunya yang sangat pahit.
Setelah itu, Sila memutuskan untuk masuk dan langsung naik ke atas menuju ke kamar.
Setibanya di kamar, Sila langsung melempar tas yang ia bawa, dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Sila tidak menyadari jika suaminya tengah berdiri di depan pintu kamar mandi.
Rafael merasa heran dengan sikap istrinya itu, tidak biasanya Sila bersikap seperti itu.
Sebenarnya itu tidak masalah bagi Rafael, tapi sebagai suami, ia tetap merasa heran dan ingin tau yang sebenarnya.
Akhirnya Rafael pun memberanikan diri untuk bertanya kepada gadis mungilnya itu.
__ADS_1
Rafael berjalan mendekati Sila yang tengah tengkurap di atas ranjang dan membenamkan wajahnya di bantal.
"Sila kamu kenapa?" tanya Rafael, yang membuat Sila tersentak dan seketika ia bangkit lalu duduk.
"Sila nggak papa kok Kak, sejak kapan Kakak di sini?" elak Sila, lalu balik bertanya pada lelaki yang tengah berdiri di depannya.
"Sudah sejak tadi, kamu benar tidak apa-apa?" sekali lagi Rafael bertanya pada istrinya itu.
"Duh, dia perhatian atau lagi kepo sih, tidak seperti biasanya dia seperti ini, ah aku jadi GR nih," batin Sila, yang merasa aneh dengan sikap suaminya itu.
"Sila enggak apa-apa kok Kak," jawab Sila, dengan terpaksa berbohong.
"Ya sudah kalau kamu tidak apa-apa, oya kamu hari ini kuliah apa nggak?" tanya Rafael.
"Kuliah Kak," jawab Sila.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang saja, soalnya aku ada meeting nanti," ajak Rafael, yang membuat Sila sedikit tersenyum.
"Iya Kak, ayo," jawab Sila dengan penuh semangat, saking semangatnya, Sila langsung bangkit dan tanpa rasa ragu ia merangkul lengan Rafael.
Rafael terdiam, ada getaran aneh saat ia berada dekat dengan istri mungilnya itu.
Namun dengan segera ia menepis jauh-jauh perasaan aneh itu, ia pun segera menormalkan perasaannya.
"Ya udah ayo," sahut Rafael, lalu keduanya pun keluar dari kamar dengan Sila masih merangkul lengan suaminya itu.
Sila berjalan dengan terus merangkul lengan Rafael, meski Rafael terkesan cuek, tapi itu tidak menjadi masalah bagi Sila, karena ia ingin benar-benar memulai kisah barunya.
Tak disangka ada sepasang mata yang melihatnya, siapa lagi kalau bukan Aldo.
"Sila, apa kamu sudah melupakan aku, apa kamu sudah lupa dengan cinta kita, ini memang salah aku yang telah meninggalkanmu, tapi semua itu ada alasannya," ratap Aldo, yang mengingat masa lalunya dengan Sila.
***
Sila sudah tiba di kampus, dan seperti biasa, sebelum ia turun, pasti Sila selalu menyempatkan untuk mencium punggung tangan suaminya itu.
Jantung Sila terasa berhenti berdetak, darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya.
Apakah ini pertanda baik, untuk hubungan keduanya.
Netra mereka saling beradu, bahkan Sila tidak berkedip sama sekali, setelah hampir 5 menit saling berpandangan, akhirnya Rafael sadar jika dirinya harus segera pergi ke kantor.
"Sila, kau baik-baik saja kan?" tanya Rafael, yang mampu membuyarkan lamunan Sila.
"Ah iya, maaf Kak, ya sudah Sila kuliah dulu ya, assalamualaikum," Sila sangat terkejut mendengar pertanyaan dari suaminya, setelah itu ia pun berpamitan lalu keluar dari mobil.
"Oya nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Rafael tiba-tiba. Dan itu membuat Sila sedikit gugup.
Entah ada angin apa, kenapa tiba-tiba Rafael bersikap seperti itu, tapi jujur Sila merasa sangat bahagia, dalam hatinya ia jingkrak-jingkrak seperti baru mendapatkan undian berhadiah.
Sila tersenyum dan itu membuat Rafael sedikit heran.
"Jam 3 Kak," jawab Sila dengan senyum yang mengembang.
"Ya sudah, nanti aku jemput ya," jawab Rafael, dan lagi-lagi hal itu membuat hati Sila bersorak gembira.
"Iya Kak, hati-hati ya Kak," sahut Sila, dan dibalas senyuman oleh Rafael.
Seperti terhipnotis, mendapat senyuman dari suaminya, sampai-sampai, saat mobil Rafael sudah melaju pergi, Sila tidak menyadarinya.
Tiba-tiba Sonya teman dekat Sila datang, dan mendapati temannya yang masih senyum-senyum seperti orang kasmaran.
"Sila, kamu kenapa, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Sonya, lalu menempelkan punggung tangannya di kening sahabatnya itu.
"Nggak panas kok, tapi kok senyum-senyum gitu ya," pikir Sonya.
__ADS_1
Merasa terganggu, Sila pun menyingkirkan tangan temannya itu.
"Ih apaan sih, kamu pikir aku gila apa," ujar Sila dengan wajah cemberut.
"Ya habisnya, kamu senyum-senyum sendiri," sahut Sonya.
"Udah ah, ke kantin yuk," ajak Sila yang langsung menarik tangan Sonya.
Keduanya pun bergegas menuju ke kantin, setibanya di sana Sila dan Sonya langsung memesan makanan dan juga minuman.
Tak butuh waktu lama, pesanan datang.
"Sil, aku denger-denger Aldo sudah balik ke Indonesia ya, dan dia juga akan kembali kuliah di kampus kita," ucapan Sonya membuat Sila menyemburkan minuman yang baru ia seruput.
"Eh Sil, kamu kenapa, biasa aja kali, nggak usah terkejut gitu," ucap Sonya yang melihat ekspresi wajah Sila sangat terkejut.
"Siapa juga yang terkejut, aku cuma kaget doang kok," elak Sila, lalu mengalihkan pandangannya.
Sonya hanya tersenyum, ia tau betul siapa sahabatnya itu.
***
Pukul 3 sore kelas Sila telah usai, ia pun berjalan keluar dari kelas dan segera menuju ke depan gerbang kampus.
Selama berjalan keluar dari kelas, Sila masih saja memikirkan ucapan Sonya yang bilang jika Aldo akan menyelesaikan kuliahnya di universitas di mana ia kuliah.
Baru 10 menit aku berdiri, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping Sila.
Ia sedikit terkejut, tapi Sila sama sekali tidak mengenal mobil siapa yang berhenti di sampingnya itu, perlahan pintu mobil terbuka, dan seseorang turun dari mobil tersebut.
"Hah, Aldo ngapain di sini," gumamnya dalam hati.
Aldo berjalan menghampiri Sila, tapi ia sengaja tidak meresponnya, Sila sengaja mengalihkan pandangannya dari pria itu.
"Mau pulang ya Sil, aku anterin ya, lagi pula kita kan satu arah," tawar Aldo, tanpa basa-basi.
"Maaf Do, aku lagi nunggu kak Rafael," tolak Sila yang mungkin membuatnya sedikit kecewa.
Dia terlihat menghela nafas berat, raut wajahnya pun terlihat kecewa.
"Sila, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, aku mau jelasin semuanya sama kamu, kenapa aku pergi nggak bilang, dan selama .... " sebelum Aldo melanjutkan ucapannya, Sila lebih dulu memotongnya. Karena menurutnya sudah tidak ada lagi yang harus dijelasin, semuanya sudah jelas.
"Maaf Do, menurut aku semuanya sudah jelas, jadi tidak ada lagi yang perlu kamu jelasin," potong Sila secara cepat. Sudah cukup baginya tentang masalah itu.
"Tapi Sil, aku tau kamu menikah dengan kak Rafael karena terpaksa kan, karena kalian dijodohkan, dan aku tau, kalian tidak saling mencintai kan, kamu masih cinta sama aku kan," tuturnya yang membuat hati Sila terasa sakit, aku sendiri bingung dengan perasaannya itu.
"Sudahlah Do, kamu tidak tau apa-apa tentang pernikahan aku dan kak Rafael, jadi lebih baik kamu tutup mulut saja," jelas Sila yang membuat Aldo merasa sangat kecewa.
Bagaimana tidak kecewa, Sila menjalin hubungan dengan Aldo hampir 3 tahun, tapi karena kesalahannya hubungan mereka berakhir, dan sekarang Sila menikah dengan Kakaknya Aldo.
Sungguh sangat menyakitkan kenyataan itu.
"Apa kak Rafael mencintai kamu? Dan apa kamu juga mencintai kak Rafael?" tanyanya yang membuat Sila diam seribu bahasa, Sila bingung harus menjawab apa.
"Karena setauku, kak Rafael mencintai gadis lain," sambungnya.
Deg, jantung Sila terasa berhenti berdetak, nafasnya terasa tercekik, hatinya juga terasa sakit, saat Aldo mengatakan kalau Rafael mencintai gadis lain.
Lalu untuk apa pernikahan itu, kalau Rafael sudah memiliki pilihannya sendiri.
"Aku nggak percaya kalau bukan kak Rafael sendiri yang mengatakan," Sila menolak mentah-mentah ucapan Aldo, karena ia tidak mau terjadi kesalah pahaman.
"Sila, kamu harus percaya sama aku, kalau kak Rafael memang tidak mencintai kamu, dia mencintai gadis lain," Aldo berseru, wajahnya terlihat sangat emosi, saat Sila mengatakan kalau ia tidak mempercayai ucapannya.
Tanpa meminta izin air mata Sila mengalir membasahi kedua pipinya, terasa sangat sakit saat mendengar ucapan Aldo.
__ADS_1
Apakah itu semuanya kenyataan, atau itu hanya rekayasa Aldo, agar ia kembali padanya dan meninggalkan kak Rafael.
Sungguh ini semua membuatnya dilema.