
“Ya walau pun kau lebih tua dari ku 1 tahun, tapi sekarang aku telah menjadi kakak ipar mu,” ucap Beeve membalas keketusan Emir.
“Ck!” Emir berdecak seraya meninggalkan Beeve di depan pintu.
“Dari dulu songong nya enggak berubah, makanya aku malas bertemu dia,” batin Beeve.
Beeve pun menyusul Emir dari belakang, “Hmmm mas, apa mas Emir mau istirahat sekarang?”
“Apa kau mau mengantar ku sampai kamar?” ucap Emir.
“Iya, karena mas Andri sudah berpesan begitu,”
“Enggak perlu, aku cukup naik tangga untuk ke lantai 2,” jawabnya.
“Baik mas, kalau begitu saya permisi mau kembali ke kamar,” ucap Beeve.
Ia pun meninggalkan adik iparnya yang berhati dingin di depan tangga.
“Biar saja dia naik tangga ke lantai 2, lagi pula kaki jenjangnya enggak akan naik betis, kalau hanya menaiki 78 anak tangga,” batinnya.
Emir yang tak mengetahui kalau di rumah itu ada lift pun menaiki anak tangga satu persatu.
Dari anak tangga 1 sampai 30 masih aman, namun untuk yang 31 dan selanjutnya Emir mulai merasakan pegal di kakinya.
“Huft, ini sih gila, pasang anak tangga sebanyak ini, enggak mikir apa kalau tamu mereka akan menderita setiap kali naik turun?” gumam Emir dengan nafas ngos-ngosan.
Setelah bersusah payah akhirnya ia sampai di lantai 2.
“Kenapa enggak pasang lift saja sih?” ia pun duduk sejenak di atas lantai untuk menghilangkan lelah.
Setelah itu Emir bangkit kembali, saat ia baru melewati 1 kamar dari tangga, tanpa sengaja ia melihat sebuah lift terpampang di depan matanya.
Ia pun memejamkan matanya sejenak menahan kesal pada kakak iparnya.
“Kenapa enggak bilang sih Bee?” batinnya.
Lalu ia yang lelah pun memutuskan mengambil kamar yang ada di sebelah lift.
_______________________________________________
Sesampainya Andri di kantor ia bertemu Arman yang telah ada di ruangannya sejak 15 menit yang lalu.
“Astaga Tuhan, kenapa baru sampai pak?” ucap Arman, meledek sahabatnya yang terlambat.
“Maaf Man, aku sibuk soalnya,” ujar Andri.
Arman yang melihat wajah Andri berbinar pun dapat menebak kalau sabatnya telah berbaikan dengan istrinya.
“Ohh... alasan terlambat karena bertempur tadi malam ya?” Arman mulai menggoda Andri.
“Kau sudah seperti dukun saja Man, tahu apa yang aku alami,” ujar Andri.
“Hahaha, nah! Begitu dong Ndri, berdamai dengan keadaan lebih enak kan?!”
__ADS_1
“Iya kau benar, terimakasih Man,” ucap Andri.
“Oh iya, soal sekretaris yang kau minta,”
“Ada dengan itu?”
“Aku sudah mendapatkan 2 kandidat, dua-duanya sama bagusnya, coba kau seleksi sendiri,” ujar Arman.
“Dimana kandidatnya? Suruh ke ruangan ku saja,”
“Oke, aku akan suru masuk satu persatu, ini CV nya.” Arman menyerahkan 2 CV kandidat calon sekretaris pada Andri.
Andri pun duduk di kursinya menunggu kandidat yang akan masuk.
Setelah beberapa saat ada yang mengetuk pintu ruangannya.
Tok tok tok....!!
“Masuk!” ucap Andri.
Ceklek....!
“Permisi pak,” ucap seorang wanita berparas cantik berjalan menuju meja Andri.
“Oh iya, silahkan duduk,"
“Sepertinya aku mengenal gadis ini,” batin Andri.
Kemudian Andri memegang CV wanita yang ada di hadapannya.
“Silahkan perkenalkan diri anda,” titah Andri.
“Baik pak, sebelumnya saya mau mengucapkan terimakasih atas panggilan interview nya, perkenalkan nama Arinda Putri, usia 18 tahun, lulusan SMA XX dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas U, jurusan Administrasi, sekian perkenalan diri saya terimaksih,”
Andri cukup kecewa atas kandidat yang di rekomendasikan sahabatnya.
“Hmmm, mbak Arinda, apa yang melatar belakangi anda sehingga percaya diri untuk melamar kerja disini? Terlebih anda masih kuliah semester satu,”
“Karena saya merasa mampu untuk mengerjakan tugas dari seorang sekretaris, saya juga ahli di bidang administrasi, sebab ayah saya juga bekerja di bidang administrasi perusahaan, saya banyak di ajari oleh beliau, dan saya sering juga membantunya di dalam menyelesaikan tugas yang belum ia selesaikan, kalau masalah kuliah bapak tenang saja, karena saya mengambil kelas ekstensi, dan tadi juga sebelum ke bapak, saya sudah di uji terlebih dahulu oleh sekretaris bapak dan juga pak Arman," terang Arinda lancar.
“Kalau sudah lulus dengan Arman dan Ayu, kalau begitu dia memang berbakat,” batin Andri.
“Baiklah, kalau sudah lulus dari mereka saya percaya kalau kau hebat, seandainya jika mbak Arinda di terima, apa siap melakukan lembur dan juga melakukan trip bisnis di waktu-waktu yang tidak di tentukan?” tanya Andri.
“Siap pak!” jawab Arinda bersemangat.
“Baik kalau begitu, kau boleh keluar, tunggu panggilan selanjutnya, paling lama 2 minggu lagi,” ujar Andri.
“Baik pak, semoga saya mendapat kabar baik segera dari bapak," ucap Arinda dengan tersenyum hangat.
“Iya, baiklah,”
Saat Arinda akan bangkit dari duduknya Andri yang penasaran bertanya pada Arinda.
__ADS_1
“Maaf, apa kita pernah bertemu?”
“Pernah pak, saya adalah sahabat Beeve, yang hadir di acara pernikahan bapak kemarin," terang Winda dengan tertawa ceria.
“Oh, begitu ya...., pantas saja terasa familiar,” ucap Andri.
“Pak, tolong terima saya ya, karena saya akan bekerja keras dan loyal pada perusahaan, hehehehe,” Arinda mencoba melobi Andri.
“Akan saya pikirkan, lagi pula saya perlu memeriksa hasil test yang di berikan rekan saya untuk mu,” ujar Andri.
“Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu, terimakasih banyak atas waktunya,” Arinda kembali menjabat tangan Andri calon atasannya.
Sepeninggalan Arinda, Andri pun mengirim pesan pada Ayu.
✉️ “Kirimkan pada ku, hasil test kedua kandidat Yu,” Andri.
Tak lama, Ayu yang gesit pun mengirim hasil test tersebut ke pesan WhatsApp Andri.
“Oh...., dia pintar juga ternyata,” gumam Andri.
Saat Andri akan meletakkan handphonenya, tiba-tiba handphonenya berdering.
📲 “Assalamu'alaikum, halo ayah?” Andri.
📲 “Wa'alaikum salam, halo Andri, apa kabar nak?” Erdogan.
📲 “Kabar baik yah, maaf kalau aku tidak menanyakan kabar ayah sejak jadi menantu ayah,” Andri.
📲 “Enggak apa-apa nak, kau tentu punya banyak urusan,” Erdogan.
📲 “Iya ayah, tapi.... Ada apa ayah menelepon?” Andri.
📲 “Begini Ndri, ayah mau tanya, apa Beeve jadi masuk kuliah atau bagaimana? Karena ayah lihat di brosur Universitas yang dia inginkan pendaftaran gelombang kedua sudah buka,” Erdogan.
📲 “Oh iya, Andri sampai lupa yah, baiklah, Andri akan membicarakannya dengan Beeve, sepulang dari kantor,” Andri.
📲 “Baiklah nak, maaf kalau ayah mengganggu, oh iya, datanglah ke rumah kalau ada waktu, ayah dan ibu rindu kalian,” Erdogan.
📲 “Baik ayah, kalau sudah luang, kami akan ke rumah,” Andri.
📲 “Ya sudah ya nak, Assalamu'alaikum,” Erdogan.
📲 “Wa'alaikum salam,” Andri.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Kissky_muchu
Jangan lupa mampir ke novel yang lagi hits di bawah ini guys.
__ADS_1