
“Apa-apaan ini?” Cristian yang mendapat tamu tak di undang merasa kurang senang.
“Tanggung jawabi, apa yang sudah kau perbuat, dasar lelaki pengecut!” pekik Andri.
Dengan tertawa getir, Cristian mendorong kembali Beeve ke pelukan Andri.
“Kenapa harus aku? Bukankah dia istri mu sekarang? Hum?”
Andri yang emosi mendorong tubuh Beeve darinya. “Ya, memang aku menikahinya, tapi apa yang ada di perutnya bukan anak ku, jadi ku kembalikan darah daging mu itu pada mu, serta urus perempuan ini dengan baik,” terang Andri.
“Mas, aku enggak mau sama dia,” ucap Beeve.
“Diam kau Bee!” hardik Andri.
“Kau lihat, dia enggak mau pada ku, begitu pula dengan ku, bawa kembali dia, aku enggak sudi melihat pelacu* ini di rumah ku!” kata-kata kasar Cristian membuat Andri naik pitam.
Bug bug bug bug! Andri memberi pukulan beruntun di wajah dan sekujur tubuh Cristian tanpa ampun.
“Kau katakan dia pelacu*! Memangnya yang membuat dia jadi kotor siapa?” bug bug bug!! Andri kembali memukul Cristian di sembarang tempat.
“Hentikan! Mas, nanti dia mati!!” Beeve mencoba memisahkan Andri dan Cristian.
Kegaduhan yang mereka lakukan memancing tetangga untuk menonton, ibu Cristian yang baru pulang dari hajatan pun syok, melihat anaknya di pukuli hingga tersungkur ke teras.
“Anak ku, ya Tuhan!!!” Celine berlari menuju rumahnya.
“Mas, jangan mas! hentikan!” Beeve sibuk memisahkan 2 pria besar yang kekuatannya bagai Hercules.
“Crist, nak!” ketika Celine melihat wajah Beeve, amarahnya memuncak.
Celine dengan sekuat tenaga menarik tubuh Beeve.
Plak!! Plak!! Dua tamparan mendarat di pipi kiri dan kanan Beeve. Dan itu dapat menghentikan Andri dari kebrutalannya.
“Kau lagi! Perempuan jahanam! Pembawa sial! Setelah membunuh suami ku! Sekarang kau mau membunuh anak ku! Demi Tuhan, aku muak!” Celine yang belum terima akan kepergian suaminya menaruh dendam pada Beeve.
“Maaf bu, aku enggak bermaksud menyakiti Cristian.” ucap Beeve seraya memegang pipinya yang masih sakit dengan kedua tangannya.
“Terus apa! Kau bawa preman ke rumah ku untuk menghabisi anak ku?! Jalan*!” ketika Celine akan kembali menampar Beeve, Andri menangkis tangannya.
“Hentikan! Aku suaminya!! Beraninya kau menampar wanita yang tengah mengandung cucu mu!!” pekik Andri.
Lalu Celine menoleh ke perut besar Beeve, “Itu bukan cucu ku! Pergi kalian dari rumah ku, aku benar-benar enggak sudi berhubungan dengan perempuan pembawa sial ini!” pekik Celine. Lalu Celine membantu Cristian untuk bangun.
“Ibu dan anak sama-sama bejat! Cuih, menjijikkan!” Andri membalas kesombongan Celine.
“Pergi kalian!! Membuat malu keluarga ku saja!” Celine mengusir Beeve dan Andri.
Para warga yang menjadikan mereka sebagai bahan tontonan pun jadi berbisik-bisik.
__ADS_1
“Ayo kita pergi mas, malu banyak orang,” ucap Beeve.
“Baik! aku akan pergi! Tapi Beeve akan tinggal disini! Tanggung jawab dengan apa yang kau perbuat pengecut!”
“Mas, jangan tinggalkan aku disini, aku mohon!” Beeve memegang tangan Andri.
“Akh!! Harusnya tempat mu memang disini kan!” Andri menghempaskan tangan Beeve. Kemudian ia melangkah menuju mobilnya yang terpakir di depan pagar rumah Cristian.
“Mas, tunggu aku!” Beeve yang tak mau di tinggalkan menyusul Andri.
“Ku bilang tinggal disini Bee, jangan ikuti aku!” pekik Andri.
“Enggak mau, aku mau ikut pulang mas dengan mu, bawa aku mas, hiks...!” ucap Beeve.
Para tetangga yang berada di antara mereka memberi tatapan sinis dan jijik pada Beeve yabg bagai pengemis cinta.
“Dasar lontong!” ucap salah satu tetangga.
“Jangan pernah perlihatkan lagi wajah mu di hadapan ku.” Andri buru-buru masuk ke dalam mobil, dan mengunci pintunya.
“Mas! Mas Andri buka pintunya, aku ikut mas!!!” Beeve mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil Andri.
Namun Andri yang mati rasa mengabaikannya, dan tanpa pikir dua kali melajukan mobilnya.
Bruummm!!!
“Mas! Mas Andri!” Beeve yang malang mengejar mobil Andri yang terbang secepat kilat.
Kondisinya yang menyedihkan menyita banyak pasang mata, tak sedikit pula yang mengabadikan dirinya yang menangis dalam bentuk video.
Karena tak ingin dirinya jadi bahan konten orang-orang yang tak bertanggung jawab, Beeve dengan setengah berlari pergi menjauh.
Andri yang berada dalam mobil dengan sigap mendial nomor Erdogan sang mertua.
📲 “Halo, Assalamu'alaikum nak Ndri,” Erdogan.
📲 “Wa'alaikum salam, ayah lagi ada dimana?” Andri.
📲 “Lagi di jalan, ini mau pulang ke rumah,” Erdogan.
📲 “Baiklah, aku akan datang ke rumah ayah sekarang juga,” Andri.
📲 “Oke nak, tapi kenapa mendadak?” Erdogan.
📲 “Aku ingin memulangkan Beeve kepada kalian dengan cara baik-baik,” Andri.
Sar!!!!! Deg deg deg deg!!! Erdogan yang sudah merasa Andri tahu masalah Beeve menjadi panik,, jantungnya pun berdetak dengan sangat kencang. Namun ia mencoba tenang.
📲 “Ke-kenapa? Ada masalah apa nak?” Erdogan.
__ADS_1
📲 “Hallah! Aku sudah tahu semuanya ayah! Kalian sekeluarga telah berkomplot menjebak ku!! Kenapa kau masih ingin berbohong yah! Aku ini bukan hanya sekedar menantu mu! Tapi juga keponakan mu!” Andri.
Seketika sesak nafas Erdogan kambuh, tensinya pun juga ikut naik.
📲 “Andri, kau tenang dulu, a-ayah bisa jelaskan!” Erdogan.
📲 “Akhh, enggak perlu penjelasan lagi, aku sudah bilang, tahu tentang semuanya! Sebentar lagi aku akan sampai disana, aku juga akan menghubungi keluarga ku, masalah pernikahan kami, harus di selesaikan malam ini juga, paham, jangan macam-macam dengan ku!” Andri.
Setelah mengatakan tujuannya, Andri memutus sambungan teleponnya.
_________________________________________
“Mas, ada apa? Andri bilang apa? Kenapa wajah mu jadi pucat begitu?” tanya Jane penasaran.
Erdogan yang sesak nafas kesulitan untuk menjawab pertanyaan istrinya.
“Ventolin mana Ventolin!” Jane sigap mencari spray nasal sang suami, namun sayangnya, ternyata mereka meninggalkannya di rumah.
“Aaahh!!” Erdogan menarik dalam-dalam pernafasannya, hingga menimbulkan suara berderik. Erdogan juga memegang erat setir mobil karena tak bisa bernafas dengan normal.
“Mas!! Ayo ke apotik, Mas, Mas!!!!” ujar Jane.
Ciiiiiittttttt!!!!!!!
_________________________________________
Andri yang telah tiba di depan pintu utama rumah orang tua Beeve segera keluar dari dalam mobil.
Ting tong! Ia pun menekan bel dengan sangat tenang.
Tak lama, Julian yang kebetulan di rumah membukakan pintu.
Ceklek!
“Loh, kau datang Ndri?” ucap Julian.
“Iya, Jul.” Andri yang belum di persilahkan masuk pun melenggang bebas ke dalam rumah.
Julian yang menoleh ke dalam mobil Andri tak melihat tanda-tanda adiknya disana.
“Kau datang sendirian? Mana Beeve?” tanya Julian seraya menyusul Andri masuk ke dalam rumah. Lalu Andri berdiri tepat di hadapan Julian.
“Dia, ku tinggalkan di rumah mantan pacarnya, alias ayah kandung dari anaknya,” ucap Andri.
Seketika Julian terperanjat, dan tak bisa berkata apapun.
“Tujuan ku datang kemari, ingin memulangkan adik mu dengan cara baik-baik, aku sudah menelepon ayah dan ibu mertua, sekarang tinggal orang tua ku,” terang Andri.
Julian yang tak ada celah untuk membela diri hanya membisu.
__ADS_1
Kemudian Andri duduk di atas sofa, seraya memperhatikan Julian yang kini tak punya wibawa sedikit pun di matanya.
“Duduklah di sebelah ku Jul, enggak perlu merasa tegang begitu, santai saja seperti selama ini,” ujar Andri.