
Keesokan harinya, Emir yang telah sampai ke Indonesia segera menuju rumah sakit, karena ia ingin melihat keadaan Andri.
Ceklek!
Ketika ia masuk ke dalam ruangan, ia melihat Rahma sedang duduk di sebelah ranjang Andri.
“Bu, bagaimana kabar Andri?” tanya Emir yang seminggu tak mengunjungi sang abang.
“Hem, makin down Mir, sudah 2 hari mas mu enggak bangun.” terang Rahma dengan menghela nafas panjang.
Emir mengusap wajahnya, “Ya sudah bu, kita berdo'a saja, semoga Andri segera pulih.” ucap Emir yang turut prihatin dengan keadaan Andri.
Andaikan Beeve mau menengok Andri, walau hanya sekali, batin Emir.
Lalu Emir mengambil poto Andri yang terbaring lemah, dan pernapasannya juga di bantu peralatan medis. Beeve yang menerima kiriman gambar tersebut makin iba.
Separah inikah keadaan mu mas? batin Beeve.
Hati kecilnya benar-benar tak sanggup menyaksikan keadaan Andri yang begitu menyedihkan. Selanjutnya Emir mengirim pesan pada Beeve.
Sudah 2 hari Andri enggak sadarkan diri, tolonglah Bee, kembali, jenguk dia, meski hanya sekali, ku mohon, ✉️ Emir.
Beeve betul-betul bingung harus melakukan apa. Meski ia masih merasa sakit hati atas luka masa lalu, namun ia tak tega akan penderitaan suaminya saat ini.
Setelah penuh pertimbangan, akhirnya Beeve memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
Ketika ia ingin pergi mandi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok!
“Siapa? Bukannya mas Emir sudah kembali ke Indonesia? Masa aku punya tamu orang Korea?” gumam Beeve, ia pun segera membuka pintu.
“Oh, halo bibi, ada perlu apa kemari?” ucap Beeve.
“Halo, tadi ada kurir mengantarkan barang kemari atas nama mu, makanya ku antar langsung.” terang di Bibi penjaga gedung kosan.
“Terimakasih banyak ya bi,” Beeve menerima paket miliknya.
“Sama-sama nak.” si bibi pun pergi meninggalkan Beeve.
Beeve yang penasaran dengan isi paketnya, langsung menyibak kardus pembungkus barang tersebut.
“Apa?” Beeve tak menyangka, jika kiriman yang ia peroleh adalah dompet yang ia cari.
“Ini pasti ulah si Emir tengil! Mana mungkin ada orang lain yang tahu alamat ku! Dasar setan!” Beeve marah pada Emir yang telah berhasil mengerjainya.
___________________________________________
__ADS_1
“Bu, sebenarnya waktu aku di Korea, aku bertemu dengan Beeve.” Emir memberitahu Rahma akan pertemuannya dengan sang kakak ipar.
“Apa? Dia juga ada di Korea?” Rahma tak percaya akan pernyataan Emir.
“Iya bu, aku sudah memberitahu tentang kondisi Andri padanya, semoga Beeve bisa berbaik hati, dan datang menjenguk Andri.”
“Kau benar Mir, ibu juga kalau bertemu Beeve, ingin minta maaf secara langsung, semoga saja dia mau kembali pada mas mu.” Rahma yang ingin kesehatan sang putra sulungnya pulih kini tak malu lagi kalau harus meminta tolong pada menantu yang pernah ia sakiti.
“Iya bu, makanya kita berdo'a saja, semoga Beeve mau kembali.”
Keesokan harinya, ketika Rahma sedang melenyeka tubuh Andri dengan tisu basah, tiba-tiba ada yang membuka pintu.
Kriett....
“Cepat sekali kau datang Mir.” ucap Rahma yang mengira itu adalah putra bungsunya.
Ketika ia menoleh ke arah pintu, ternyata itu adalah Beeve, yang menghilang selama 4 tahun. Rahma tertegun, air matanya seketika mengalir, Beeve masih berdiri di pintu karena enggan untuk mendekat.
“Bee.” ucap Rahma dengan bibir bergetar.
“Assalamu'alaikum tante.” Beeve yang merasa Rahma bukan mertuanya lagi menyebut tante pada sang ibu mertua.
“Kemarilah nak!” seru Rahma. Ketika Beeve sudah dekat, Rahma memeluknya dengan erat.
“Hiks... maafkan ibu nak, ibu sudah menyakiti mu selama ini, ibu sudah jahat pada mu, membuang mu dan membiarkan mu dalam keterpurukan sendirian.” Rahma yang menyesal berucap seraya berurai air mata.
“Maafkan ibu ya Bee, maafkan ibu, sekarang ibu dapat ganjaran dari yang maha kuasa, dengan membuat Andri sakit begini, ibu benar-benar enggak memikirkan perasaannya dan kau, pada hal kalian berdua saling mencintai, tapi ibu dengan teganya memisahkan kalian, tahu begini ujungnya, ibu enggak akan ikut campur dengan urusan kalian.” Rahma yang rapuh akan kondisi Andri membuatnya beribu kali menyesal atas kelakuan buruknya pada sang menantu.
“Iya-iya tan, Beeve mengerti, Beeve juga minta maaf karena tak seperti yang tante harapkan, tante jangan menangis lagi, karena semua takkan kembali seperti semula,” terang Beeve.
Emir yang baru tiba di ruangan Andri melihat Beeve sedang merangkul Rahma.
Alhamdulillah, akhirnya Beeve datang juga, batin Emir.
Lalu ia mendekat ke ibunya dan Beeve yang sedang berbincang.
“Bu.” Emir mengelus punggung ibunya. Beeve yang melihat kehadiran Emir tiba-tiba merasa canggung bercampur marah, terlebih saat ia mengingat kenangan mereka beberapa hari yang lalu di Korea.
“Ibu pasti belum makan, ayo kita keluar sebentar.” Emir mengajak Rahma keluar, agar Beeve leluasa berbicara pada Andri.
“Tapi Beeve baru datang,” ucap Rahma.
“Iya, Emir tahu, tapi ibu makan dulu ya, karena Beeve enggak akan pergi kemana-mana.” terang Emir, Beeve pun menganggukkan kepalanya, kemudian Rahma dan Emir keluar dari ruangan Andri.
Setelah yang tersisa hanya Beeve dan Andri, Beeve pun duduk di sebelah ranjang suaminya, kemudian ia menatap lekat wajah Andri yang matanya masih terpejam.
“Halo mas, apa kabar?” ucap Beeve seraya mengelus puncak kepala Andri.
__ADS_1
“Lama enggak bertemu, kenapa kondisi mu jadi seperti ini? Pada hal kalau kita bertemu, aku ingin kau sehat-sehat saja dan dalam keadaan bahagia, kalau tahu begini kau payahnya, kenapa waktu itu malah kekeh, enggak mau pisah dengan Arinda? Sekarang kau begini, malah tambah menyusahkan aku mas.” Beeve benar-benar sedih atas kondisi Andri.
“Cepat sembuh mas, karena aku enggak akan bisa setiap hari menjenguk mu kemari, ini juga karena aku terpaksa, kau harus bangkit, usia mu masih muda, masa depan mu masih panjang, masih banyak wanita berjejer yang menunggu untuk kau nikahi, jadi ayo semangat!!” Beeve menahan air matanya yang ingin menetes, meski ia berkata demikian pada Andri namun hati kecilnya sangat iba pada laki-laki yang pernah ia cintai itu.
Kemudian Beeve lanjut menyeka tubuh Andri yang belum di selesaikan oleh Rahma.
Beeve menyeka dengan lembut jari-jari Andri, setelah bersih Beeve mengecupnya.
“Jangan buat aku khawatir lebih lama, tolong cepat sembuh mas.” ucap Beeve. Selanjutnya ia mengecup kening Andri.
Beeve yang ingin melepaskan ciumannya, tiba-tiba merasakan panas hembusan nafas yang keluar dari hidung Andri.
“Mas??” Ternyata kehadiran Beeve merupakan obat mujarab bagi pria malang itu.
Mata Andri yang tertutup selama 3 hari, kini telah terbuka, air matanya pun berlinang, saat melihat Beeve ada di dekatnya.
Ini bukan mimpikan? batin Andri.
Andri yang tak berdaya mencoba meraih wajah Beeve, namun tangannya tak sampai.
Lalu Beeve menggenggam tangan Andri dan mengarahkannya ke pipinya.
“Mas, Alhamdulillah kau sudah bangun.” ketika Beeve ingin memanggil dokter, Andri mencegahnya dengan menggelengkan kepalanya.
Aku ingin berdua dengan Beeve tanpa ada orang lain, batin Andri.
kemudian Andri mulai berusaha mengucapkan nama orang yang membuatnya sakit selama ini.
“B-Bee...”
“Iya mas?” Beeve menganggukkan kepalanya.
“Bee-Beeve, Beeve ku.” setelah berusaha keras, akhirnya Andri dapat mengucapkan nama Beeve dengan lengkap.
Beeve pun tersenyum, yang membuat Andri makin bersemangat. Andri menggenggam erat tangan Beeve, seolah tak mengizinkan Beeve pergi lagi.
“Jangan tinggalkan aku lagi, bawa aku kemana pun kau pergi, aku ingin hidup bersama mu.” pinta Andri dengan wajah memelas.
“Mas, soal itu aku...” Andri menutup kedua bibir Beeve dengan telunjuknya.
“Aku ingin bersama mu, tolong jangan tinggalkan aku,” pinta Andri, ia memeluk Beeve sekuat yang ia bisa.
“Jangan pergi lagi, ku mohon.” Andri terus meminta agar Beeve tak meninggalkannya.
Bagaimana ini? Aku enggak mungkin berlama-lama dengannya, karena aku, tak mau bersamanya lagi, batin Beeve.
...Bersambung......
__ADS_1