
Apa itu yang dinamakan ipar? Ku lihat lebih mirip pasangan kekasih! batin Helena.
“Kita ke rumah sakit Harapan Bunda saja pak.” Helena memberi perintah pada Roni.
“Siap nona.” Roni pun melajukan mobil menuju rumah sakit Harapan Bunda.
“Bukannya itu 30 menit dari sini?” ucap Emir yang merasa jarak tempuh ke rumah sakit tersebut terlalu jauh.
“Sekalian kau ke poli gigi bang!” ujar Helena.
“Tapi masih banyak rumah sakit di sekitar sini.”
“Ke rumah sakit aku berkerja saja!”
“Sudahlah mas, kesana juga enggak apa-apa.” Beeve menenangkan Emir.
“Ya sudah, kalau kau bilang begitu.” ucap Emir seraya melihat wajah Beeve.
Mata Helena membelalak, saat mendengar nada bicara Emir yang lembut pada Beeve.
Ada udang di balik peyek nih! Enggak bisa di biarkan, aku kan lebih cantik dari kak Beeve, dan juga masih gadis, masa aku kalah darinya, batin Helena.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mereka pun sampai di tujuan, Beeve yang bisa berjalan kaki, di paksa oleh Emir untuk naik kursi roda.
Ketika Emir akan mendorong kursi roda tersebut, tiba-tiba Helena memukul kerasa kedua tangan pria tampan tak berperasaan itu.
Plak plak!
“Minggir, biar aku yang dorong!” suara Helena meninggi, seraya memelototi Emir.
“Kau kenapa?” tanya Emir yang tak mengerti kalau Helena sedang di bakar api cemburu.
“Enggak apa-apa, biar aku yang dorong!” Emir pun terpaksa menyingkir, kemudian Helena mendorong Beeve menuju dokter umum.
Sesampainya ke dalam ruangan dokter, Beeve langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu sang dokter pun mulai memeriksanya.
“Dok, apa sakitnya parah?” tanya Emir.
“Ini hanya demam biasa pak, tak perlu khawatir, istri bapak baik-baik saja.” Helena yang mendengar sang dokter berkata Emir adalah suami Beeve makin panas dingin.
“Cukup minum obat dan istirahat, maka akan sembuh,” terang sang dokter.
“Dok,” ucap Helena.
“Iya dokter Helena?” sahut sang dokter.
“Laki-laki ini calon suami ku, bukan suami kak Beeve.” Helena memberitahu statusnya dan Emir dengan menahan rasa kesal.
“Oh, begitu rupanya? Maafkan saya dok, saya tidak tahu,” ujar sang dokter.
“Enggak apa-apa dok, yang penting dokter sudah tahu.” ucap Helena.
“Apa sih kau!” pekik Emir.
Helena memancungkan bibirnya saat Emir ingin marah.
__ADS_1
Aduh, mereka berdua kok malah bertengkar terus sih, bikin aku enggak nyaman, batin Beeve.
Setelah dokter menuliskan resep, mereka bertiga pun keluar dari ruangan bersamaan.
Beeve yang tak ingin merepotkan keduanya pun memilih untuk pulang sendiri.
“Mas, aku pulang sendiri saja ya naik taksi,” ucap Beeve.
“Jangan, kita pulang bersama saja,” ujar Emir.
“Enggak apa-apa mas, aku bisa kok, terimakasih banyak sudah ku repot hari ini.”
“Kau harus ku antar.”
“Udah sih bang, kak Beeve kan bisa pulang sendiri, lagi pula dokter juga bilang kakak enggak apa-apa, berlebihan banget deh.” Helena yang bicara tanpa penyaring pun secara terang-terangan memperlihatkan ketidak sukaannya pada Beeve.
“Tapi kan...”
“Kau beneran bisa pulang sendirikan kak?” tanya Helena memotong perkataan Emir.
“Iya, jangan khawatir, aku akan baik-baik saja kok,” jawab Beeve.
“Tuh, apa ku bilang, ayo bang, kau harus masuk ke poli gigi, mumpung disini sekalian kita bersihkan karang gigi mu, setelah itu kita pergi ke kampus!” titah Helena.
“Ta-tapi...”
“Enggak ada tapi tapian! Ayo!” Helena menggandeng lengan Emir, lalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk membawa Emir menuju ruang poli gigi.
Beeve pun merasa lega, setelah berpisah dengan pasangan kucing dan tikus itu.
Lalu Helena berhenti dan menghempaskan lengan Emir.
“Aku kenapa? Aku cemburu! Cemburu loh bang! Apa abang enggak mengerti kalau aku cemburu pada kak Beeve?”
“Apa? Kau cemburu padanya?” Emir mengernyitkan dahinya.
“Ya, hati ku panas dan perih bagai di tabur cabai Vespa 1 kilo, lalu di siram air asam, tiada dua sakitnya bang! Kau hampir membuat ku remuk tak berarti!” Emir yang tadinya masih ingin marah malah jadi tertawa, sebab Helena begitu berlebihan dalam mengekspresikan isi hatinya.
“Dasar alay! Kau tak punya hak untuk cemburu padanya, karena dia Beeve!”
“Dan karena aku adalah calon istri mu, jadi perasaan sesak yang ku rasakan saat ini adalah wajar! Apa kau enggak pernah merasakan hal yang sama dengan ku?” kata-kata Helena membuat Emir bungkam, karena ia tahu betul apa arti dari yang wanita itu katakan.
Rasa sesak dalam dada, ingin memiliki namun tak mampu untuk di gapai. Mencintai sepihak adalah duka yang tak berujung baginya.
“Oh, mungkin abang enggak pernah merasakan karena abang adalah artis! Punya wajah tampan, wanita yang menyukai mu juga jutaan, makanya kau tak perduli dengan orang yang mencintai mu, pada hal aku punya satu hati, ku isi dengan dirimu seorang, tapi kau malah merobek-merobeknya dalam sekejap bang!” baru saja Emir merasa iba, tapi harus merasa geli kembali, saat ia mendengar tutur kata Helena yang begitu lebay.
Ingin rasanya ia tertawa, namun harus menahannya, untuk menjaga perasaan Helena.
Anak ini beneran lulusan luar negeri enggak sih?! Kok enggak ada wibawanya sama sekali, batin Emir.
“Sudahlah! Kau banyak omong banget dari tadi, kita jadi bersihkan karang gigi apa enggak nih?!” tanya Emir.
“Jadilah! Ayo!” Keduanya pun masuk ke dalam ruangan dokter.
Asli, baru kali ini aku bertemu wanita yang bikin aku stres sekaligus ketawa, batin Emir.
__ADS_1
___________________________________________
Keesokan harinya, Andri yang telah seminggu di Surabaya akhirnya kembali ke Jakarta. Ia pulang dengan membawa 3 kardus oleh-oleh.
Ting tong! Ia pun menekan bel rumah, setelah beberapa saat, sang istri tercinta membukakan pintu.
Ceklek! Krieett!!
“Assalamu'alaikum, sayang!” Andri mentelentangkan kedua tangannya. Beeve yang tak melihat Andri selama seminggu pun langsung memeluk suaminya.
“Mas...! Aku rindu!!!” Andri pun membalas pelukan sang istri tercinta.
“Hei sayang, kau masih sakit ya?” tanya Andri, lalu Beeve pun menganggukkan kepalanya.
“Ya Tuhan, maafkan aku ya sayang, meninggalkan mu saat sakit, coba tunjukkan bagian mana yang sakit.” lalu Beeve pun menunjuk pelipis, dan kepalanya.
“Disini dan disini!” kemudian Andri pun mengecup setiap tempat yang Beeve katakan sakit.
“Hanya itu?” ucap Andri dengan nada yang lembut.
“Masih ada 1 tempat lagi.”
“Dimana sayang?” Beeve pun menunjuk ke hatinya.
“Disini mas, rasanya sesak!” Andri tersenyum manis, lalu mengecup dada istrinya.
“Apa masih sakit?” tanya Andri seraya memeluk istrinya kembali.
“Masih, tapi... sudah lebih ringan.” jawab Beeve dengan manja.
“Pada hal kau sudah berobat, tapi masih belum sembuh? Hum.. sepertinya aku perlu memeriksanya secara terperinci.” Andri pun mengecup nakal bibir istrinya.
“Ku rasa juga begitu mas.” ujar Beeve.
“Bia dimana?” bisik Andri.
“Di rumah ibu, aku titipkan dia, karena enggak ada yang urus, dan juga aku takut Bia ketularan demam ku,” terang Beeve.
“Bagus!” Andri pun menggendong Beeve ala bridal style masuk ke dalam rumah.
“Mas! Nanti bibi lihat.” ucap Beeve.
“Biarkan saja! Kita harus ke kamar sekarang, aku perlu memeriksa mu sayang.” Andri yang kini badannya telah berisi dengan mudah mengendong Beeve.
“Ahh...mas Andri genit!”
“Biar saja!” Andri yang tak sabaran pun melangkah dengan cepat menuju kamar mereka.
Sesampainya dalam kamar, Andri menurunkan tubuh Beeve di atas ranjang. Kemudian Beeve menatap lekat wajah suaminya, yang sedang membuka jas berwarna hitam.
Deg deg deg!
Kok jadi deg degan begini sih? Memang kita sudah lama sih enggak begituan, aduh... kok aku malah panas dingin ya? Aku juga enggak percaya diri nih sama mas Andri, batin Beeve.
...Bersambung......
__ADS_1