Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 90 (Nakal)


__ADS_3

“Apa ada yang lucu?” tanya Andri.


“Bukan lucu, tapi keren mas, kau nampak seperti model pria berotot, untung ini di hutan, kalau di tempat ramai, aku enggak ikhlas kau berpenampilan begitu,” terang Beeve.


“Kenapa? Apa malu-maluin sayang?” tanya Andri kembali seraya mendekat ke istrinya.


“Bukan, pasti wanita yang melihat kekekaran tubuh mu akan jatuh hati,” jawab Beeve.


“Hum, jangan mulai lagi sayang,” ucap Andri.


“Aku serius mas,” ujar Beeve.


“Aku juga serius, kasihan si dede kalau kita harus kembali lagi ke ranjang, anak ku kan butuh makan juga, setelah semalaman begadang gara-gara kita berdua,” terang Andri.


“Idih, mas benar-benar parno, pada hal pikiran ku lurus kok.” Beeve mencubit pipi mulus suaminya.


“Tapi sayang, kau mau apakan makanan kita? Kenapa kau masukkan ke dalam rantang?” tanya Andri, sebab nasi, daging panggang dan juga kentang goreng masakan Beeve di susun rapi ke sebuah rantang tuperwer.


“Kita makan di luar,” ucap Beeve.


“Dimana? enggak mungkin kita jalan-jalan dengan kau memakai baju tipis begitu, nanti tubuh mu habis di gigit nyamuk,” terang Andri.


“Siapa bilang kita mau menyusuri hutan, kita makan di bawah mas, di tepi sungai.” ucap Beeve, dan Andri pun baru ingat kalau di bawah villa yang mereka tempati ada sungai jernih dan banyak bebatuannya.


Ketika Andri ingin mengambil piring, Beeve melarangnya.


“Enggak usah mas, kita makan pakai daun saja,” ucap Beeve.


“Oh ya?” Andri tertawa melihat istrinya yang begitu menghayati peran mereka yang sedang berada di hutan.


“Kau benar-benar suka hidup sederhana ya sayang,” ucap Andri.


“Iya mas, aku kan pecinta alam,” ujar Beeve.


Setelah semua peralatan makan dan makanan mereka telah siap, Andri dan Beeve pun keluar Villa tak lupa keduanya membawa handphone masing-masing. Andri membawa daun pisang dan rantang, sedangkan Beeve membawa handphone mereka berdua.


“Hati-hati jalannya sayang.” ujar Andri karena ia takut istrinya salah pijak.


“Iya mas, kau juga hati-hati ya,” ucap Beeve.


Tak lama mereka sampai di pinggir sungai, meski itu telah pukul 08:00 pagi, namun embun masih menampakkan diri.



Suara burung yang ada di atas bebatuan sungai dan pepohonan berkicau sahut menyahut, membuat suasana pagi begitu menyenangkan hati Beeve dan Andri.


Beeve melihat ke area sekitar, mencari tempat untuk mereka duduki.

__ADS_1


“Mas! Kita disana saja ya!” tangan Beeve menunjuk ke sebuah batu besar yang cukup luas, muat untuk keduanya melakukan piknik di atasnya.


“Oke sayang.” tangan kiri Andri menggenggam erat tangan istri, agar tak terjatuh berjalan di antara bebatuan yang berbagai jenis ukuran itu.


Setelah mereka sampai di tujuan, Andri dan Beeve bertambah senang, karena di antara batu besar yang mereka pilih mengalir air di sisi kiri dan kanannya, terlebih lagi banyak ikan-ikan


sungai yang menghiasi perairan itu.


“Mas! Ada ikan mas!” seru Beeve menunjuk ke arah sungai yang lumayan dalam tapi tak jauh dari mereka, dan di batu yang mereka pilih sebagai tempat beristirahat juga banyak di lalui ikan wader kecil dan patin secara bergerombol.


Beeve tak hentinya memotret ikan-ikan tersebut, pasalnya ia baru melihat ikan yang sering ia makan itu di habitatnya.


“Mau sampai kapan mempoto? Kita enggak jadi makan sayang?” Andri menegur istrinya yang lupa haluan.


“Oh iya mas, aku lupa,” ucap Beeve.


Lalu Andri naik ke atas batu terlebih dahulu, dan meletakkan makanan mereka ke atas batu, setelah itu Andri memegang kedua tangan istrinya, membantu Beeve untuk naik.


Lalu Beeve dan Andri duduk bersama, selanjutnya Beeve membuka satu persatu rantang mereka, dan mengeluarkan isinya dengan tangan.


“Sayang, kau benar-benar enggak bawa sendok juga?” Andri menggelengkan kepalanya.


“Maaf mas, aku sengaja, biar terkesan primitif.” ucap Beeve menahan tawa.


“Haduh, ini namanya terlalu primitif cinta.” Andri yang tak ingin berdebat meraih air yang ada di bawahnya untuk cuci tangan, lalu mengambil nasi dan lauk untuknya ke atas daun pisang.


Andri menyeka sisa minyak yang ada di bibir Beeve dengan tangannya.


“Kau ini manja sekali,” ucap Andri.


“Enggak salahkan mas, bermanja-manja sama suami sendiri?” balas Beeve.


“Iya sih, tapi kita mau ngapain sekarang?” tanya Andri bingung.


“Ya bermalas-malasanlah mas,” ujar Beeve.


Andri yang masih merasa ngantuk pun merebahkan tubuhnya di atas batu, sedangkan Beeve memungut sampah mereka dan memasukkannya ke dalam rantang.


“Kau ngantuk mas?” tanya Beeve, sebab ia melihat Andri memejamkan matanya.


“Iya sayang, kau sendiri memangnya enggak mengantuk?” tanya Andri kembali.


“Ngantuk sih, tapi takut kalau kita tidur sama-sama, nanti ada orang aneh lagi,” ujar Beeve.


“Tenang saja, ini hutan lindung kok, jadi penjagaannya ketat, hanya pengunjung resmi yang di izinkan masuk,” terang Andri.


Meski begitu, Beeve enggan untuk tidur, ia yang masih asyik melihat kawanan ikan nila dan ikan sejenis air tawar lainnya memutuskan untuk merekamnya.

__ADS_1


Perekamannya terhenti sejenak karena ia melihat Andri tidur dengan posisi kepala tak nyaman.


Ia pun berinisiatif mengangkat kepala Andri ke pangkuannya.


“Tidurlah mas.” Beeve mengelus rambut dan wajah suaminya.


“Kalau pegal bilang ya sayang.” ucap Andri seraya tangannya menyusup ke dalam piyama Beeve.


“Mas, ini tempat terbuka lo, jangan ah!” Beeve memukul kecil tangan suaminya.


“Biarin.” Andri yang nakal memasukkan kepalanya ke dalam piyama istrinya.


Beeve yang tak mengenakan apapun pada kedua bukit kembarnya memudahkan sang suami untuk menyesap.


“Mas, katanya kau mau tidur, jangan begini ah, malu kalau di lihat orang.” Beeve mencoba melepaskan kepala suaminya. Namun sang suami tak mau menurut.


“Diam lah sayang, dari pada kau berisik, lebih baik kau kerjakan bagian mu,” ujar Andri.


“Enggak mau ah!”


“Kalau begitu, biarkan aku disini sebentar.” Andri kembali bermain bak bayi di kedua bukit kembar istrinya.


Beeve hanya bisa pasrah, hingga beberapa saat kemudian, Andri tertidur lelap.


“Hah... hah!!” Beeve menarik nafas panjang, ia lega karena Andri telah berhenti.


Dan entah mengapa suasana hutan itu membuat perut Beeve tiba-tiba terdorong untuk buang hajat.


Pada hal mas Andri baru tidur, kasihan bangat kalau harus bangun lagi,” batin Beeve.


Ia pun menahan keinginannya untuk buang air besar.


Namun, perutnya tak bisa di ajak kompromi lebih lama.


Saat ia ingin memindahkan kepala Andri ke atas batu, tiba-tiba ia buang gas dengan sangat keras.


Puttt...!! Dan sialnya, Andri malah terbangun, dan kurang beruntungnya, Beeve malah kembali buang gas.


Puuutttt...


rasanya ia ingin menangis saking malunya, terlebih gas yang ia keluarkan baunya sangat pekat.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....


__ADS_1



__ADS_2