Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 126 (Andri Murka)


__ADS_3

Penghinaan yang Rahma lalukan pada Beeve membuat Andri tak menahan emosinya lagi.


“Bukan karena dia aku jadi durhaka! Tapi karena ulah ibu sendiri! Dia enggak pernah menjelekkan siapapun, kalau soal jalan*, aku juga brengse* bu! Menduakannya, hingga memiliki anak dengan perempuan lain! Jadi apa bedanya aku dengannya, aku hanya berdamai dengan keadaan bu, karena hati ku enggak bisa jauh darinya, aku harus menerima kekurangannya, mengertilah bu! Jangan kau salahkan dia! Lagi pula akulah yang mengejarnya! Bukan dia! Satu lagi, dia enggak melakukan pelet pada ku, karena aku sudah jatuh cinta padanya, sedari ia kecil, ” terang Andri.


“Ibu enggak mau tahu, pokoknya ceraikan dia, sejak dia hadir di kehidupan mu, otak mu jadi enggak beres, jadi suka melawan pada ibu, dia sudah merubah mu 100%, Pilihan terakhir mu dari ibu adalah menceraikannya, titik!” Rahma yang egois membuat hubungannya dan Andri semakin retak.


“Kalau aku enggak mau, gimana bu?” tanya Andri.


“Ku coret kau dari penerima harta warisan, dan kau harus keluar dari perusahaan!” pekik Rahma.


Andri yang sudah muak hidup dalam bayang-bayang orang tuanya merasa tertantang.


“Baik! Ibu kira aku enggak bisa hidup tanpa kalian? Aku bertahan di kantor karena kemampuan ku, bukan karena itu perusahaan milik ayah ku, ayah tak menendang ku meski menentangnya selama ini, karena apa? karena dia membutuhkan ku, sebab aku jenius di bidang pekerjaan ini, ibu pikir aku enggak akan bisa mencari kerja di tempat lain? Banyak yang akan menerima ku, apa lagi dengan riwayat pekerjaan ku yang berprestasi sebagai Presdir.” Rahma tercengang, ia tak menyangka jika putranya tak takut di coret dari harta warisan.


“Sekarang ibu keluar dari rumah ku!” Andri mengusir Rahma yang saat ini membuatnya emosi.


“Apa hak mu melalukan itu pada ibu, rumah di beli dari uang perusahaan, Andri! Hah!” ucap Rahma.


“Kau salah bu, rumah ini di beli dari hasil keringat ku sendiri, ibu tentu tahukan gaji ku berapa sebulan dari perusahaan? Kalau rumah Arinda, baru uang dari perusahaan ayah, jadi ibu enggak ada hak mengusik kediaman ku!” pekik Andri.


“Mas, kau jangan begitu pada ibu, bagaimana pun dia ibu mu, kata-kata mu kasar sekali pada ibu.” Arinda menggenggam tangan Rahma, ia juga takut kalau Andri benar-benar di coret dari surat warisan.


Ini benar-benar di luar ekspektasi, sialan! kenapa mas Andri malah melawan pada ibunya sih! Kalau dia pengangguran, percuma dong aku bertahan disisinya, aku harus mengambil hati ibu mertua, setidaknya aku bisa di bawa ke rumahnya, aku enggak mau hidup susah bersama mas Andri, bisa-bisa uang 4 milyar ku, di minta lagi sama dia, batin Arinda.


“Jangan ikut campur Nda, ini urusan ku dengan ibu ku, sekarang ibu keluar! Jangan pernah kesini lagi, aku juga mengundurkan diri dari ISF malam ini juga, urus saja perusahaan itu sendiri!” ucap Andri dengan nada keras.


“Anak gila! Kau pasti menyesal, apa lagi punya dua istri yang akan melahirkan berdekatan!” ungkap Rahma.


“Enggak usah khawatir, aku masih mampu membiayai kedua istri ku! Silahkan keluar bu! Aku pusing melihat ibu disini!” Andri yang tak gentar membuat Arinda makin panik.


“Mas! Jangan kau usir ibu, kasihan ibu, minta maaflah mas, kalau kau durhaka, hidup mu akan sengsara, ridho orang tua adalah ridho Ilahi,” ucap Arinda.


“Arinda! Kau istri ku, surga mu ada pada ku, jadi turuti apa yang ku katakan, jangan ikut campur yang bukan urusan mu!” terang Andri.


“Aku tahu, tapi kalau salah, wajib aku tegur mas!”

__ADS_1


“Huh, kau serius? Atau kau takut hidup susah dengan ku? Makanya kau membela ibu ku?” Andri memberi tatapan mata tajam pada Arinda.


“Mata mu itu! Jangan kau mengintimidasi Arinda! Dia sedang mengandung cucu ku!” hardik Rahma.


“Masuk ke kamar mu Arinda,” titah Andri.


“Enggak mas, kalau kau enggak minta maaf aku akan menemani ibu!” Arinda menentang keputusan suaminya.


“Ku katakan sekali lagi, masuk ke kamar mu!!” Andri menarik paksa tangan Arinda. “Jangan buat aku marah juga pada mu Arinda, nanti kau akan menyesal!” Arinda yang takut pun sontak berlari menuju lift.


“Sekarang pergi kau dari rumah ku bu!” Rahma yang tak di hargai memutuskan untuk pulang.


“Lihat saja! Kau akan menyesal! Akan ku blacklist kau dari perusahaan, dan juga menghambat jalan mu ke perusahaan lain!” Rahma mengancam Andri.


“Lakukan apapun yang membuat hatimu senang bu!” Andri benar-benar tak perduli akan perkataan ibunya, yang di hatinya hanya ada Beeve seorang.


Setelah Rahma pergi, Andri duduk kembali di atas sofa dengan perasaan sedih, ia pun membiarkan tangannya yang terluka begitu saja tanpa di obati.


Kemudian Andri mendial nomor Beeve, namun tak aktif. “Kau kemana sayang? Jangan kabur lagi, aku mohon,” gumam Andri.


Andri yang lelah menangis, ia merasa hidupnya teramat malang.


“Sayang!” Andri berlari kecil menghampiri istrinya yang ada di depan pintu.


“Assalamu'alaikum mas,” ucap Beeve.


“Wa'alaikum salam,” sahut Andri.


Andri yang rindu bagai tak bertemu 1 abad pun memeluk tubuh Beeve, seraya mengecup lekat bibir istrinya.


“Ssst!!” Beeve meringis saat bekas tamparan di bibirnya mengeluarkan darah kembali.


“Maaf sayang, eh, kenapa bibir mu terluka? Aku kan enggak menggigitnya?!” ucap Andri


Beeve yang menundukkan kepala tak sengaja melihat luka di tangan suaminya.

__ADS_1


“Mas! Tangan mu kenapa? Kenapa banyak kaca dan beling yang menancap?” Beeve syok melihat luka suaminya.


“Aku enggak apa-apa sayang!” Andri kembali memeluk Beeve.


“Mas, ayo ke rumah sakit, nanti infeksi!” ujar Beeve.


“Enggak, ini enggak sakit, kau darimana saja?”


“Aku dari kampus.” ucap Beeve.


Mata sembab Beeve masih terlihat jelas, membuat Andri tak dapat menahan air matanya lagi.


“Maafkan ibu ku ya sayang, dia hanya ingin yang terbaik untuk ku menurut pendapatnya,” ucap Andri.


“Mas, kenapa kau menangis, aku baik-baik saja.” Beeve menyeka air mata suaminya, seraya ikut menangis juga.


“Aku salah sayang, aku sangat lemah, hingga orang lain berhasil mengacau rumah tangga kita,” terang Andri.


“Mas, jangan salahkan dirimu, ini sudah suratan takdir, jangan menangis lagi mas, aku mohon.” Beeve memeluk Andri karena tak tega melihat suaminya yang rapuh.


Andri dan Beeve saling berpelukan dengan berderai air mata.


“Aku sudah lihat dokumen cerai yang mau tanda tangani, tolong jangan tinggalkan aku untuk yang kedua kalinya sayang, maafkan jika ibu ku melukai mu, jangan masukkan ke hati, selagi aku mencintai mu, tak ada yang perlu kau hiraukan, patokan mu hanya aku, bukan orang lain, ku mohon, jangan pergi lagi,” pinta Andri.


“I-iya mas, akan ku turuti apa kata mu, maafkan aku mas, sudah membuat mu khawatir,” ucap Beeve.


“Iya sayang,” sahut Andri.


“Sekarang kita ke rumah sakit ya mas, kita obati luka mu,” ajak Beeve.


“Oke sayang.” Andri dan Beeve pun akhirnya berangkat ke rumah sakit.


Sedangkan Arinda yang menyaksikan dua insan bertingkah bak orang bodoh di matanya geleng-geleng kepala.


“Mereka pikir modal cinta dan kebersamaan saja cukup? Hah! Mas... mas, kau itu punya istri 2, punya anak kandung 1, tiri satu, enggak mikir, sok-sok melawan pada ibu mertua! Lihat saja, aku enggak akan mau kasih uang ku pada mu mas, kalau kau sampai meminta modal! Aku juga harus bisa masuk ke rumah ibu mertua, aku enggak mau hidup susah! Enggak mau mas! Dasar suami bodoh! Ssst..., belum lagi istrinya, tolol! Cocok sih jadi pasangan terkonyol di dunia hah! Persetan dengan larangan mu mas, bisa apa kau kalau aku sudah pergi, yang penting anak ku dapat tempat, dari pada ikut dengan mu, enggak dapat apapun, cih!” pekik Arinda, ia yang tak ingin menderita mencari aman.

__ADS_1


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2