Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 124 (Di Paksa Cerai)


__ADS_3

“Maafkan aku, semua salah ku Nda!” ucap Andri. Hatinya yang lemah membuatnya terombang-ambing akan kenyataan yang ada.


Andri memeluk Arinda yang histeris dalam tangisnya.


“Kapan kau akan menerima ku mas? Aku juga istri mu! Hiks...” Arinda sesungukan dalam pelukan Andri.


Beeve yang menyaksikan suami dan madunya berseteru hingga berpelukan membuatnya ikut menangis.


“Aku tahu akan jadi begini, harusnya aku tak kembali,” gumam Beeve. Andri yang sudah terlambat bekerja pun meminta izin pada Arinda.


“Aku sudah terlambat, nanti kita bicara lagi.” sebelum berangkat, Andri memegang pipi Arinda lalu mengelus puncak kepala istri keduanya.


Beeve makin terluka dengan sikap Andri, ia juga tak sanggup bila melihat adegan selanjutnya, untuk itu Beeve memutuskan masuk ke dalam rumah.


“Hapus air mata mu, kalau kau menangis anak kita juga akan ikut menangis.” ucap Andri.


Setelah itu Andri mengecup perut Arinda, “Papa berangkat ya nak, sehat-sehat, jaga mama mu.” selanjutnya Andri masuk kembali ke dalam mobilnya, dan melambaikan tangan pada Arinda.


Arinda yang masih menangis kembali ke dalam rumah, ia yang berpapasan dengan Beeve melihat sisa air mata di sudut mata lawannya.


Beeve memelototi Arinda seraya beranjak ke kolam berenang.


“Dasar gila! Kau tahukan alasan mas Andri mengabaikan ku karena keegoisan mu? Andai kau tak ada, pasti dia enggak akan sungkan untuk memanjakan ku, dia itu hanya takut pada mu, pada hal hati kecilnya juga menyayangi ku!” ucap Arinda.


“Terserah kau mau bilang apa.” Beeve yang tak ingin menunjukkan kesedihannya pada Arinda memilih pergi.


“Kapan sih kau sadarnya? Kehadiran mu hanya membuat sial di rumah tangga kami, hati mu busuk, sifat mu juga tercela, harusnya kau seperti ku, berhati damai, pada hal aku menerima mu jadi madu ku tanpa protes, apa kebaikan hati ku itu masih kurang hah?” Arinda yang tak merasa bersalah sama sekali mengutarakan pendapatnya pada Beeve.


“Apa kau bilang?” Beeve membalik tubuhnya menghadap Arinda.


“Kau menerima ku? Heh! Kau lupa ingatan ya? Aku ini istri pertamanya, bukan kau, dan kalian menikah tanpa sepengetahuan ku! Dimana akal sehat mu! Sekarang kau menangis-nangis seolah-olah kau yang terzalimi, kau bicara seakan akulah perusak, bukan kau! Dasar sialan!” Beeve yang tersulut emosi menjambak rambut Arinda.


“Aku benar-benar kesal pada mu! Harusnya kita enggak saling kenal!” pekik Beeve.


Ketika Beeve masih menjambak rambut Arinda, tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya.


“Heh! Dasar preman!” hardik Rahma. Mata Beeve membulat sempurna karena sang mertua berdiri tepat di hadapannya.


“I-ibu,” ucap Beeve kikuk.


Plak!


Rahma memberikan satu tamparan di wajah Beeve.


“Beraninya kau berbuat kasar pada menantu ku! Apa ini ajaran kedua orang tua mu sialan!” pekik Rahma.


“Maaf bu, Beeve bisa jelaskan,” ucap Beeve.

__ADS_1


“Enggak ada yang perlu di jelaskan, aku sudah lihat semuanya!” ketika Rahma ingin kembali menampar Beeve, Arinda yang berperan sebagai wanita tersakiti pun memohon pada sang mertua.


“Bu, jangan tampar Beeve bu, nanti dia mengadu pada mas Andri, ujung-ujungnya aku yang akan di marahi bu, tolong....” Arinda menggenggam tangan Rahma.


“Aku enggak takut pada Andri, lagi pula wanita ini benar-benar berandalan, perempuan tapi berjiwa laki-laki! Kasar! Kau tahu, kalau sampai ada apa-apa pada cucu ku, ku tuntut kau ke kantor polisi! Dasar perempuan nakal! Kalau bukan karena Andri mengancam ayahnya, kau takkan bisa masuk ke dalam kebidupan kami lagi! Hah! Kenapa sih kau enggak menghilang saja selamanya, pergi yang jauh, sampai enggak ada yang menemukan mu lagi!” Rahma yang terhasut pun memarahi Beeve habis-habisan.


“Tapi, Arinda duluan bu, bukan aku,” Beeve membela dirinya.


Plak! Rahma menampar mulut Beeve, hingga bibirnya pecah.


“Anak setan, pembawa sial! Jangan coba-coba berbohong, aku sudah kapok kau bohongi menantu jahanam, begini ya didikan orang tua mu padamu?! Hah? Atau kau saja yang bebal dan murahan?”


“Bu, jangan bawa-bawa almarhum orang tua ku,” ucap Beeve.


“Kenapa memangnya? Kau enggak terima? Kau dan kedua orang tua mu sama saja! Pembohong ulung! Harusnya kau sadar diri, sudah melakukan aib besar, tapi masih bertahan di rumah ini! Kemarin sok-sok pergi menarik koper, sekarang kembali lagi, enggak malu menjilat air ludah yang telah kau buang? Huh?” Rahma benar-benar merendahkan Beeve di hadapan Arinda.


“Anak mu yang memaksa ku pulang bu.” jawab Beeve.


“Oh, jadi sebenarnya kau enggak mau padanya lagi? Baguslah! Dan ya, aku datng bukan tanpa oleh-oleh, ini!” Rahma mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya.


Bagus ibu mertua, singkirkan benalu ini dari hidup ku, batin Arinda.


“Apa ini bu?” tanya Beeve.


“Surat cerai bodoh! Kalau memang enggak suka pada anak ku lagi, tanda tangan, dan angkat kaki dari sini!”


“Ayo tanda tangan konyol!” Rahma terus mendesak Beeve.


Beeve yang tak ingin harga dirinya di injak-injak lagi, mengambil pulpen yang ada di tangan Rahma, dan tanpa pikir dua kali, ia pun menanda tanganinya.


Arinda tersenyum puas, karena kemenangan kini ada di tangannya.


Mantap! Akhirnya, aku menjadi istri mas Andri seutuhnya, terimaksih Tuhan. batin Arinda.


“Bagus, sekarang kau angkat kaki dari sini! Karena kau sudah tak punya hak apapun!” Rahma mengusir Beeve dengan kasar.


“Aku akan pergi setelah mas Andri pulang,” ucap Beeve.


“Perempuan gila! Ini rumah anak ku, pergi kau!” Rahma ngotot untuk mengusir Beeve.


“Bu, jangan di usir bu, nanti mas Andri marah,” ucap Arinda.


“Semarah apa sih dia pada ibu? Sampai-sampai kau ketakutan begitu?”


“Pokoknya, urusan akan panjang kalau ibu melakukan ini,” terang Arinda.


“Intinya aku akan pergi kalau mas Andri sudah datang, kalau enggak ada yang perlu lagi, aku mau berangkat ke kampus.” ucap Beeve meninggalkan mertua dan madunya di ruang tamu.

__ADS_1


Beeve pun mengambil tasnya ke dalam kamar, selanjutnya ia dengan wajah tanpa ekspresi lewat dari hadapan Rahma dan Arinda.


“Anak ini sombong tiada lawan, aku benar-benar enggak suka padanya!” ungkap Rahma.


“Sabar bu, dia memang begitu,” ucap Arinda.


“Sabar sekali kau padanya, tapi kau baik-baik saja kan?” tanya Rahma.


“Alhamdulillah, baik dan sehat bu, terimakasih ya bu, sudah membela ku,” Arinda memeluk Rahma.


___________________________________________


Beeve yang berada dalam taksi tak hentinya menangis. Membuat sang supir sering kali melihatnya dari kaca spion.


Kenapa sih, hidup ku tak henti-hentinya kena sial? Aku tahu, aku punya banyak dosa, tapi kenapa harus seberat ini hukuman yang aku terima? Apa setiap orang yang melakukan dosa yang sama dengan ku memiliki nasib yang sama? batin Beeve.


Ketika taksi Beeve telah sampai di gerbang kampus, ia pun buru-buru menyeka air matanya.


Setelah membayar ongkos, Beeve keluar dari dalam taksi. Ia pun berjalan ke dalam kampus.


Saat ia telah sampai ke dalam ruang kelasnya, Beeve tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari Emir.


“Ngapain dia nelpon?” gumam Beeve. Ia yang tak memiliki kegiatan memutuskan untuk menerimanya.


📲 “Halo mas?” Beeve.


Emir yang mendengar suara serak Beeve langsung tahu, kalau sang kakak ipar sedang menangis.


📲 “Siapa yang membuat mu menangis?” Emir.


📲 “Aku enggak nangis mas,” Beeve.


📲 “Jangan bohong, katakan pada ku, apa itu Andri? Atau Arinda?” Emir


📲 “Enggak mas, aku enggak nangis kok, serius.” Beeve.


Sebisa mungkin Beeve yang masih bersedih menstabilkan suaranya.


📲 “Aku tahu, walau kau enggak jujur, Bee, ceritakan pada ku,” Emir


Beeve yang sudah tak tahan keluar dari ruangan mencari tempat sepi.


Beeve yang menemukan ruangan kosong pun langsung masuk ke dalamnya.


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...

__ADS_1


__ADS_2