Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 234 (Helena Ingin Hamil)


__ADS_3

Kabar bahagia itu pun telah sampai pada Emir dan Helena yang baru tiba di New Zeland.


“Wah! Hebat juga bang Andri, topcer! Langsung 3!” Helena merasa bahagia atas kehamilan kakak iparnya.


“Kau benar juga.” jawab Emir dengan sedikit lesu.


“Kita juga enggak boleh kalah bang, kalau mereka tiga, kita harus 4!” Helena yang belum tahu repotnya mengurus anak, berharap memiliki 4 anak segaligus.


“Sepertinya satu saja kau enggak bisa urus dek, apa lagi 4,” ujar Andri.


“Bisa kok bang, lagi pula abangkan belum kerja, kalau aku benar hamil kembar, abang di rumah saja, biar aku yang cari uang,” ucap Helena.


“Enak saja kau, kenapa harus aku yang jadi bapak rumah tangga, pokoknya aku mau satu saja dulu.”


“Aku mau langsung 4 bang!” keduanya pun bertengkar untuk hal yang belum terjadi.


“Oke, 4 anak.” Emir yang lelah berdebat dengan istrinya pun mengalah.


“Kalau begitu abang puding telor bebek dulu, biar manjur, cepat!” Helena mendorong tubuh suaminya agar turun dari ranjang.


“Kita baru sampai loh dek ke hotel,” ujar Emir.


“Ayo, kita harus ke supermarket sekarang! Pokoknya aku mau anak kembar juga!” dengan terpaksa, Emir yang masih lelah harus mengikuti keinginan istrinya.


Mereka pun menuju supermarket yang tak jauh dari hotel mereka menginap.


Gila Helena, apa yang dia mau harus tercapai, dan harus di laksanakn detik itu iuga, batin Emir.


Aku enggak akan kalah dari kak Beeve, semoga saja, aku bisa memgandung anak kembar, batin Helena.


________________________________________


Setelah di rawat seharian di rumah sakit Beeve merasa lebih sehat, ia pun di bawa pulang oleh Andri menuju rumah mertuanya.


“Alhamdulillah, akhirnya enggak perlu nginap sayang,” ucap Andri.


“Iya mas, pelan-pelan ya mas nyetirnya,” pinta Beeve.


“Iya sayang.” Andri pun mulai melajukan mobil membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.


Sesampainya di rumah, keduanya di sambut oleh Rahma, Yudi dan juga Julian.


“Kalian sudah pulang?” Rahma menuntun menantunya untuk masuk ke dalam rumah.


“Iya bu,” jawab Beeve.


“Hei, kau disini?” sapa Andri pada Julian.


“Iya, malam ini aku menginap disini, untuk menjaga Beeve,” sahut Andri.


“Tapi kau enggak tidur di kamar kami juga kan?” Andri mengangkat sebelah alisnya.


“Ya enggaklah, ada-ada saja kau!” pekik Julian.

__ADS_1


“Baguslah kalau begitu.” keluarga besar itu pun berkumpul di ruang tamu, masing-masing dari mereka sibuk memberikan perhatian pada Beeve si ibu hamil.


Selama masa kehamilan kedua Beeve, ia begitu rentan dan mudah sakit, awalnya Beeve menolak untuk tinggal di rumah mertuanya, namun atas permintaan Rahma dan Yudi yang tak tega melihat menantu mereka sendirian, akhirnya Beeve dan Andri tinggal sementara di rumah orang tua Andri.


Tak terasa 2 bulan pun berlalu, Helena dan Emir yang berada dalam kamarnya mulai berdebat kembali.


“Bang!”


“Ada apa?” sahut Emir seraya melirik wajah istrinya.


“Kok aku belum hamil juga ya?” wajah Helena begitu kusut saat mengatakannya.


“Sabar, belum waktunya,” ujar Emir.


“Kitakan sudah 2 bulan menikah, tapi belum di karuniai juga, aku juga mau seperti kak Beeve, dapat perhatian dari setiap orang.” ternyata Helena menyimpan cemburu pada kondisi Beeve saat ini.


“Kau enggak boleh begitu dek, dosa loh, kita sama-sama berdo'a pada Allah, agar segera diberi momongan,” ucap Emir.


“Apa kita transvaginal dan cek ****** saja ya bang? Agar ketahuan, salahnya dimana.” Emir yang takut kalau kekurangan ada di dirinya, menolak ide istrinya.


“Ya Tuhan, kau buru-buru banget sih, nikmati saja masa-masa kita yang sekarang, lagi pula kita sebelumnya enggak sempat pacaran, mungkin Allah memberi kita jeda untuk berbagi kasih sayang sedikit lama, kan tahu sendiri, kalau sudah punya anak, fokus kita akan ke si kecil dek...” terang Emir seraya mengelus puncak kepala istrinya.


“Menurut abang gitu ya?” Helena pun menyandarkan kepalanya ke bahu Emir.


“Iya ade sayang, justru itu, kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita peroleh saat ini,” terang Emir.


“Bang....”


“Kita main lagi yuk?!” Helena mengajak suaminya untuk bercinta.


“Dek, terlalu sering juga enggak baik loh, ini kau sehari minta 3 kali, benih ku bisa jadi encer kayak air kalau begitu terus, kalau mau program setidaknya lakukan 1 kali seminggu,” ujar Emir.


“Abang... aku mau soalnya...”


“Aduh... kau ini! Apapun yang kau mau harus selalu di turuti, tolong dek... kita harus buat jeda, kalau mau punya anak,” ujar Emir.


“Iya bang, tapi kita mulai puasa besok saja ya!” Helena yang sudah pada puncaknya, buru-buru membuka bajunya.


“Astaga dek...” Emir yang tak ingin berdosa bila tak melayani istrinya pun terpaksa menuruti kemauan Helena.


Pukul 21:00 malam, Helena yang baru selesai mandi wajib turun ke lantai 1, disana ia melihat kakak iparnya sedang minum susu ibu hamil di ruang tamu. Ia pun segera menuju sofa, tempat Beeve berada.


“Kak Bee!” sapa Helena.


“Eh, Helene...?” Beeve mendongak pada Helena yang berdiri di sebelahnya.


“Kakak...!” Helena yang manja mulai bertingkah tak jelas.


“Ada apa?” tanya Beeve.


“Bagi tips dong, biar cepat hamil!!” pinta Helena.


Beeve dengan malu pun berkata, “Ya tipsnya hanya bercinta di atas ranjang.”

__ADS_1


“Itu sih sudah kita lakukan setiap hari, tapi aku belum isi-isi juga kak, gimana dong?! Aku juga ingin hamil, punya dede lucu!”


“Sabar Helena, tiap orang itu beda-beda ada yang cepat, ada juga yang lambat, dan kalau mau hamil, jangan tiap hari juga tempurnya, karena nanti benih yang di keluarkan mas Emir kurang bagus, kalau benar-benar ingin, coba sekali sebulan,” terang Beeve.


“Hah?! Sekali sebulan? Bisa enggak tahan aku kak!” Helena yang begitu terus terang membuat Beeve malu.


“Ya kalau memang begitu, sabar saja,” ucap Beeve.


“Tapi kak, aku pernah dengar cerita dari orang-orang.”


“Soal apa?”


“Kalau kita ingin hamil, suruh saja orang yang sedang hamil menginjak induk jari kaki kita, itu benar enggak sih kak?” Helena yang putus asa pun mulai mempercayai mitos.


“Kalau soal itu, aku kurang tahu,” jawab Beeve.


“Tapi kak, walau pun begitu, kau mau kan menginjak ibu jari ku? Tolong ya kak...” Helena meminta dengan menyatukan 10 jarinya.


“Baiklah.” Beeve pun bangkit dari duduknya, “Mau jari yang mana?” tanya Beeve.


“Dua-duanya saja kak!” ujar Helena.


“Oke.” lalu Beeve menginjak ibu jari Helena kiri dan kanan secara bergantian.


Setelah itu, Helena mengelus perut buncit Beeve, selanjutnya ia mengelus perutnya.


“Nular... nular... Bismillahirrahmanirrahim semoga hamil minggu depan, aamiin!” tingkah kocak Helena membuat Beeve tertawa.


Dasar Helena, bisa banget bikin kesal sekaligus ngelawak! batin Beeve.


“Aamiin, semoga kau segera menyusul ya Helena.”


“Aamiin kak.”


“Kalau sudah enggak ada lagi yang perlu, aku ke kamar dulu ya,” ucap Beeve.


“Iya, hati-hati ya kak.” ujar Helena, lalu melambaikan tangannya pada Beeve.


Sesampainya Beeve ke kamar, ia pun cengengesan kembali.


“Kau kenapa sayang?” tanya Andri penasaran.


“Helena lucu banget mas,” jawab Beeve.


“Lucu kenapa sayang?”


“Dia meminta ku, untuk menginjak ibu jarinya, agar cepat hamil,” Terang Beeve.


“Wah, kasihan juga ya sayang, segitunya dia ingin punya anak,” ucap Andri.


“Iya mas, tapi mereka baru 2 bulan menikah mas, dulu juga enggak pacaran, Allah tahulah, kapan memberi waktu terbaik untuk mereka.”


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2