
Keesokan harinya, ketika Arinda dan kedua mertuanya sedang sarapan pagi, ia menyaksikan Rahma dan Yudi adu mulut.
“Bagaimana bu? Apa kau sudah bertemu Andri?” tanya Yudi.
Ha? Ada apa nih? batin Arinda.
“Sudah yah, tapi dia menolak untuk kembali ke perusahaan.” jawab Rahma, dengan rasa takut di hatinya.
“Ck, ini tanggung jawab mu ya! Hah! Baru sehari dia enggak masuk kerja, urusan kantor sudah banyak yang keteteran,” ucap Yudi.
“Aku sudah berusaha yah, dia menolak keras ajakan ku!” Rahma membela diri agar tak di amuk oleh Yudi.
Astaga, aku sudah salah langkah, aku yakin Beeve pasti sudah memfitnah ku yang bukan-bukan, agar mas Andri membenci ku, batin Arinda.
“Kalau kau benar-benar berusaha, pasti dia mau kembali bekerja, ini kau bilang dia menolak? Berarti kau membujuknya kurang maksimal,” ucap Yudi.
“Bu-bukan begitu yah, ibu sudah...”
“Ssstt..., kau benar-benar membuat ku kecewa bu.” Yudi meninggalkan meja makan dengan wajah suram.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Harusnya aku enggak buru-buru keluar dari rumah ku dan mas Andri, batin Arinda.
Arinda yang licik kembali memutar akal, agar ia bisa kembali ke kediaman madunya.
“Ehm bu.”
“Apa Arinda? Kau jangan tambah beban sakit di kepala ku lagi,” ucap Rahma.
“Maaf bu, tapi aku hanya ingin membantu ibu, bagaimana kalau aku saja yang membujuk mas Andri, agar mas Andri mau kembali bekerja?” Arinda yang pura-pura baik pun cari muka di hadapan mertuanya.
“Apa kau bilang? Sedangkan aku saja yang minta dia enggak mau, apa lagi kau, bukannya kedatangan mu kesini karena dia mendukung Beeve untuk mengusir mu?” Rahma mengingatkan Arinda tentang perkataannya.
“Iya, aku tahu bu, tapi apa salahnya di coba dulu, mana tahu berhasil, ibu juga enggak akan di marahi ayah lagi,” ujar Arinda. Rahma yang malas menurunkan gengsinya pada Andri pun memilih setuju dengan usulan Arinda.
“Baik, lakukan semau mu, semoga berhasil.” Rahma yang pusing memutuskan pergi ke salon untuk perawatan.
“Sial, kok aku bisa salah perhitungan begini sih!” gumam Arinda.
Ia yang tak ingin di tinggalkan Andri karena sudah melanggar aturan, buru-buru ke kamar, untuk mengemas barang-barangnya kembali ke dalam koper.
Setelah selesai, ia meninggalkan rumah mertuanya begitu saja, tanpa permisi pada siapapun.
Setelah beberapa jam dalam perjalan akhirnya Arinda tiba di rumah.
Ia pun menekan bel, ting tong ting tong! Sinta yang sedang menyapu ruang tamu
bergegas untuk membukakan pintu.
Ceklek!!
“Ih, lama banget sih kau!” pekik Arinda.
__ADS_1
Tanpa lihat-lihat lantai yang masih basah, Arinda menginjakkan sepatunya yang kotor ke dalam rumah. Alhasil Siska mengulang lagi pekerjaannya.
“Dasar benalu!” pekik Sinta.
Arinda pun langsung menuju kamar Beeve dan Andri.
Tok tok tok!
“Beeve!” Arinda memanggil nama madunya.
Ceklek!
“Eh, kok cepat banget pulangnya ” ucap Beeve yang hanya membuka separuh pintu kamarnya.
“Bukan urusan mu, mana mas Andri?” tanya Arinda.
“Ada tuh lagi mandi, kau enggak akan minta masuk ke kamar hangat kami kan?” Beeve meledek Arinda.
“Bodoh, siapa juga yang mau, ya sudah aku naik ke kamar ku dulu.” Arinda meninggalkan Beeve dengan menarik kopernya ke lantai dua.
“Kenapa enggak tinggal disana saja selamanya.” gumam Beeve. Andri yang telah selesai mandi, memakai pakaiannya.
“Kenapa wajah mu jadi kecut begitu yang?” tanya Andri.
“Arinda sudah pulang mas,” jawab Beeve.
“Oh, tolong kirim pesan padanya, agar ke ruang tamu,” pinta Andri.
Cepat datang ke ruang tamu, mas Andri mau menceraikan mu! ✉️ Beeve.
Arinda yang membaca pesan Beeve seketika jantungan.
“Bagaimana ini? Apa mas Andri akan marah pada ku? Haduh, jangan sampai deh, bisa-bisa nanti aku gagal jadi orang kaya lagi.” Arinda dengan segala akal bulusnya menyusun rencana secepat kilat.
Setelah itu, ia pun turun ke lantai satu menuju ruang tamu.
Sesampainya ia, sudah ada Beeve dan Andri yang duduk bersebelahan. Dengan senyum kaku Arinda menyapa suaminya.
“Mas, ada apa memanggil ku?”
“Apa yang ku katakan kemarin?” tanya Andri dengan wajah galaknya.
“Jangan keluar dari rumah mas,” jawab Arinda.
“Lalu?”
“Maaf mas, aku enggak bisa menolak karena ibu yang meminta, aku juga kesana karena mu mas, demi masa depan kita, aku membujuk ibu untuk mengurungkan niatnya, agar enggak mencoret mu dari harta warisan, maafkan aku mas, kalau cara ku salah,” terang Arinda.
“Oh ya? Sebegitu takutnya kau hidup susah ya?”
“Bukan begitu mas, aku hanya ingin membantu mu,” ucap Arinda berkilah.
__ADS_1
“Aku tahu isi hati Nda!” pekik Andri.
Beeve yang ingin membuat Arinda resah pun mulai melancarkan aksinya.
“Mas, jangan salah sangka dulu pada Arinda, bukankah pendapat ku juga sama dengannya? Agar kau kembali ke perusahaan? Lagi pula Arinda itu tulus, aku percaya, karena ia kemarin berkata pada ku, akan memberikan seluruh uang dan juga rumah yang mas belikan untuknya, demi mendukung keputusan mu mas, Arinda benar-benar ikhlas jika itu di jual, iya kan Nda?” Beeve tersenyum lebar pada Arinda.
Mata Arinda membelalak, ia yang tak pernah berkata demikian menjadi takut, kalau hartanya akan benar-benar di ambil oleh Andri.
Dasar perempuan bolong! Beraninya mengarang cerita palsu. batin Arinda.
“Apa benar Nda?” tanya Andri.
“Ya, kalau memang di butuhkan mas.” jawab Arinda dengan suara redup.
“Sayangnya aku enggak membutuhkan itu, sekarang juga, angkat kaki dari rumah ini, kembali saja kau ke rumah orang tua ku! Di sana kau akan hidup enak, aku tahu kalau kau enggak pernah menyukai ku, tapi aku juga tak perduli sih sebenarnya.”
“Mas, tolong mas, jangan usir aku, aku memang salah, kau pantas membenci ku, tapi tolong jangan usir aku mas, ku mohon! Hiks...” Arinda mulai mengeluarkan air mata buayanya.
Andri yang telah muak tak mengubah keputusannya.
“Angkat kaki sekarang juga, aku benci pada orang yang tak mau patuh, apa lagi berani mengkhianati ku, selama ini aku sudah banyak sabar menghadapi mu, menempatkan mu di samping ku, meski itu menyakiti hati Beeve.” ternyata kemarahan Andri sudah pada puncaknya.
“Mas, jangan! Aku mohon, aku sangat mencintai mu mas, anak mu juga, kami sangat membutuhkan mu ” ucap Arinda dengan tangis sesungukan.
“Sudahlah, jangan banyak drama, orang lain juga akan mengatakan aku bodoh kalau masih memaafkan mu! Pulanglah ke rumah ibu ku, soal nafkah lahir enggak usah khawatir, akan ku transfer,” ucap Andri.
“Mas, jangan, ku mohon!” Arinda terus memohon seraya memeluk kaki suaminya.
Beeve yang menyaksikan ke runtuhan Arinda merasa puas dalam hati.
Hahaha, akhirnya kau tersingkir juga, satu langkah lagi, kau akan kembali ke habitat mu, batin Beeve.
Siska yang kebetulan lewat di hadapan mereka pun di panggil oleh Andri.
“Siska!”
Siska yang mendengar langsung berlari ke hadapan majikannya.
“I-iya tuan?” sahut Siska.
“Kemas seluruh pakaiannya, bawa cepat kemari!” titah Andri.
“Ba-baik tuan.” Siska lari secepat kilat ke lantai dua menuju kamar Arinda.
“Aku enggak mau pergi mas, tolong jangan usir aku,” pinta Arinda.
“Mas, kasihan Arinda, apa kata orang kalau kau mengusir istri mu dalam keadaan hamil?” ujar Beeve.
“Siapa yang mau protes? Tetangga? Netizen? Siapapun itu aku enggak perduli, aku sudah peringatkan kalian dengan keras, tapi ternyata dia enggak patuh!” pekik Andri.
...Bersambung......
__ADS_1
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...