Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 168 (Ciuman)


__ADS_3

Beeve curi-curi pandang pada Emir yang sedang meminum soda cola di hadapannya.


“Kenapa melihat ku dengan diam-diam begitu? Pada hal kau kan bisa melakukannya secara bebas?” ucap Emir seraya menatap tajam ke arah Beeve.


“Aku enggak curi-curi pandang kok, mas Emir kepedean.” Beeve yang ketahuan pun merasa malu.


“Aku melihatnya.”


“Ya sudah, begitu saja kenapa harus di bahas sih mas?”


“Kitakan sedang pacaran sekarang, jadi lalukan secara terang-terangan saja,” ujar Emir.


“Iya deh, mas Emir yang paling benar,” ucap Beeve.


“Sudah malam, ayo ku antar pulang.” Emir pun berdiri dari kursinya.


“Baik mas.” Beeve bangkit dari duduknya, kemudian mengikuti Emir yang melangkah terlebih dahulu di hadapannya.


Beeve dan Emir turun dari gunung Namsan dengan menaiki kereta gantung. Mereka yang berada di ketinggian melihat pemandangan kota Seoul yang begitu indah.


Meski Beeve itu duduk di hadapan Emir, namun pandangannya fokus ke gemerlapnya lampu kota.


Lalu Emir beranjak dari bangkunya, dan duduk di sebelah Beeve.


“Hei, kenapa sibuk sendiri? Pada hal sebentar lagi kita akan berpisah.” ucap Emir menatap lekat wajah Beeve.


“Memangnya ada masalah kalau kita pisah mas?”


“Tentu saja, aku pasti merindukan mu.” Emir mengungkapkan isi hatinya.


“Yang hari ini, jangan masukkan dalam hati ya mas, anggap saja jalan-jalan biasa,” terang Beeve.


“Oh ya?” Emir menaikkan alisnya.


“Iya, nanti kalau kau terlalu menghayati, bisa-bisa malah sakit hati,” ucap Beeve.


“Hem, aku setuju.” saat keduanya masih memandang satu sama lain, tiba-tiba Emir memegang kedua pipi Beeve, selanjutnya ia mengecup bibir manis kekasihnya seraya memberi pagutan-pagutan mesra.


Beeve yang mendapat serangan mendadak pun kaget dan tak percaya kalau Emir akan melakukan hal itu padanya.


“Um... le-lepas mas!” Emir yang tak mau mendengar melanjutkan aksinya, hingga Beeve nekat memukul kening Emir dengan keras.


Plak! Sontak Emir menyudahi ciumannya karena sang kekasih sudah mengamuk.


“Kasar sekali kau!” pekik Emir.


“Siapa suruh cium tanpa izin.” ucap Beeve seraya bersedekap.


“Bukannya kau sendiri yang bilang, semua yang terjadi hari ini, jangan di masukkan ke dalam hati? Jadi ciuman barusan juga sama,” terang Emir.

__ADS_1


“Be-beda dong mas!” Beeve jadi gelagapan karena Emir memberi kartu mati padanya.


“Enggak ada bedanya Bee.”


“Ihh!!!” Beeve yang kesal bangkit dari duduknya, ia yang berniat ingin pindah kursi pun di tahan oleh Emir dengan menggenggam erat tangannya.


“Hei sayang, waktu pacaran kita tinggal sebentar lagi, bisakah kau tetap di samping ku?”


“Enggak mau! Kau genit!” pekik Beeve.


Lalu Emir dengan tersenyum nakal, menarik tangan Beeve hingga duduk di pangkuannya.


“Pada hal aku hanya mencium mu.” ucap Emir seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Beeve.


“Kan janjinya enggak berbuat macam-macam mas.”


“Memangnya ciuman tadi termasuk ke dalam macam-macam yang kau pikirkan?”


“Iyalah mas, lagi pula, kita yang sama-sama setuju buat pacaran satu hari saja sudah jelas salah,” terang Beeve.


“Iya, itu memang salah, setelah berpisah kita sama-sama taubat ya,” ujar Emir.


“Aku ragu, Tuhan enggak akan menerima taubat kita, secara kitakan sengaja melakukannya,” terang Beeve.


“Ya sudah, kalau memang menurut mu enggak di terima, maka kita lanjutkan.” Emir yang masih menginginkan Beeve, memberi pelukan erat, ia pun tak sungkan lagi, mencium wajah sang ipar di setiap incinya tanpa ada yang terlewatkan.


Meski Beeve menolak, namun Emir tak perduli, ia tak menganggap serius wajah sinis yang di perlihatkan Beeve.


Setelah sampai di stasiun kreta gantung, keduanya pun turun.


Wajah Beeve nampak tegang, sedangkan Emir biasa saja.


Emir menghela nafas panjang, kemudian menggenggam tangan Beeve.


Beeve pun mendongak, melihat wajah Emir yang memerah.


“Kita pulang sekarang sayang.” ucap Emir seraya memasukkan tangannya dan Beeve ke dalam saku mantelnya.


Maaf, aku sudah mengerjai mu, tapi ini adalah yang pertama dan terakhir, batin Emir.


Ya Tuhan, aku enggak menyangka, kami benar-benar melakukan perselingkuhan di belakang mas Andri, batin Beeve.


Mereka yang kini dalam taksi pun diam seribu bahasa.


Saat Beeve melihat ke arah jendela kaca pintu taksinya, tiba-tiba Emir menarik kepalanya, untuk di sandarkan ke bahunya.


“Perjalanan masih panjang sayang, tidurlah.” ucap Emir seraya mengecup puncak kepala Beeve.


Ya Tuhan, mas Emir kok begini banget sih!!! batin Beeve.

__ADS_1


Beeve yang merasa ngantuk pun akhirnya terlelap.


“Bee! Beeve!” suara Emir membangunkan tidurnya.


“Mas, apa kita sudah sampai?” tanya Beeve dengan mata yang sipit.


“Sudah sayang, ayo kita turun.” Emir dan Beeve pun keluar dari dalam taksi. Di depan pintu masuk kosan Beeve, Emir memberi pelukan erat pada Beeve.


“Bee, terimakasih untuk hari ini, maaf kalau aku sudah mengambil keuntungan darimu.” terang Emir dengan perasaan sedih.


“Ya sudahlah mas, setelah ini jangan kita ulang lagi,” ucap Beeve.


“Tentu, kita akan menjalani hidup kita masing-masing seperti biasa, dan...”


“Dan? Dan apa mas?” tanya Beeve penasaran. Emir dengan berat hati pun mengatakan hal yang tak ingin ia katakan.


“Maaf, hubungan kita cukup sampai disini, kita putus Bee,” ucap Emir.


Beeve terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia memberi senyuman kembali pada Emir.


“Iya mas, aku menerimanya, semoga setelah ini, mas Emir punya pacar sungguhan,” Beeve mengelus bahu Emir.


“Terimakasih banyak atas do'anya, semoga kau juga bisa kembali ke tempat mu semula, tolong kunjungi Andri setelah kau pulang, dia ada di rumah sakit Harapan Bahagia,” pinta Emir.


“Akan ku pikirkan dulu mas.” ucap Beeve.


Sebelum kembali, Emir mengeluarkan kartu kredit berlogo khusus yang bisa di pakai di berbagai negara untuk Beeve.


“Ini untuk mu, pakai saja semau mu, enggak usah di kembalikan,” Emir pun menyerahkan kartu kredit itu pada Beeve


“Tapi aku hanya butuh...” belum selesai Beeve mengatakan apa yang ingin ia sampaikan Emir malah memotongnya.


“Jangan menolak, pakailah, aku senang bisa membantu mu.”


“Baiklah kalau begitu, aku pakai sampai limitnya habis ya,” ucap Beeve.


“Lakukan saja.” Emir tersenyum puas, karena ia memiliki semangat untuk mencari uang kalau Beeve mau menghabiskan pencariannya.


Setalah itu, Emir pulang ke hotel dengan terus terbayang-bayang akan kenangannya bersama Beeve, terutama saat di kereta gantung. Jantungnya serasa mau meledak, tak dapat menahan gejolak yang ada dalam hatinya.


Beeve yang ada di kamar mandi, menyalakan kran air bathub karena ingin berendam air panas.


Ia yang berdiri di hadapan kaca pun melihat dengan jelas, bekas merah yang Emir tinggalkan di leher hingga bahunya.


“Beruntung tak sampai ke dada ku,” gumam Beeve.


Beeve pun masuk ke bathub yang telah di penuhi air hangat beserta sabun aroma terapi.


Ia yang menyandarkan lehernya ke pinggir bathub pun mulai memikirkan perkataan Emir mengenai Andri.

__ADS_1


“Haaah, apa aku harus mengunjungi mas Andri? Kasihan juga sih dia sakit-sakitan karena ku, andai saja waktu itu mas Andri menceraikan Arinda dengan cepat, pasti kami masih bersama, tapi semua hanya tinggal kenangan semata, aku pun sudah nyaman dengan kesendirian ku, Bia... kau ada dimana sih nak sekarang??” Beeve sangat di lema, kebahagian yang ingin ia gapai adalah berkumpul kembali dengan sang buah hati.


...Bersambung......


__ADS_2