
“Mas... aku enggak bisa melepaskan mereka lagi kali ini,” ucap Beeve.
“Tentu, ayo mandi, kita harus segera pulang untuk membuat laporan ke kantor polisi, dan aku juga sudah menghubungi pengacara kita, agar bertemu disana,” ujar Andri.
Keduanya pun bergegas membersihkan diri, setelah itu mereka berangkat ke bandara untuk kembali ke Jakarta.
Sesampainya, Andri dan Beeve langsung menuju kantor polisi untuk membuat laporan, mereka mencantumkan banyak nama dari keluarga Cristian yang pernah menyakiti putri mereka.
Pada pengacara Hutapea, mereka menunjukkan bekas penganiayaan yang Bia dapatkan, Beeve juga menceritakan semua kronologi bagaimana Bia sampai ke tangan Celine.
Pengacara kondang itu mengerti harus berbuat apa untuk langkah selanjutnya.
Setelah melalui proses yang sangat panjang seharian, keluarga kecil itu memutuskan untuk pulang ke rumah, saat dalam perjalanan Beeve bertanya pada suaminya.
“Mas, kita pulang kemana?”
“Ke rumah kitalah sayang,” jawab Andri.
“Oh, ku pikir ke rumah orang tua mu mas,” ucap Beeve.
“Kau benar juga, kitakan perlu mengenalkan Bia pada mereka, dan kita juga perlu menceritakan apa yang kita lalui dari kemarin sempai sekarang,” terang Andri.
“Ya, aku setuju dengan mu mas.” karena telah sepakat, Andri pun meminta pada supir taksi untuk merubah haluan.
Sesampainya mereka di kediaman orang tua Andri. Keluarga kecil itu pun turun dari dalam taksi, dengan Andri menggendong Bia yang sedang tidur.
Ketika telah berada dalam rumah, Rahma mengernyitkan dahi, saat melihat putranya menggendong anak kecil.
Ia pun mendekat, “Ini anak siapa?” tanya Rahma dengan wajah bingung.
“Ini Bia bu,” jawab Beeve.
“Apa?” Rahma tak menyangka, Bia yang selama ini di cari telah ada di depan mata.
Ia pun sibuk untuk menengok wajah Bia yang pipinya menyadar di bahu Andri.
“Ayo Ndri, bawa ke kamar ibu.” Rahma menuntun putranya menuju kamarnya.
“Ke kamar kami saja bu,” ujar Andri.
“Sudah, ke kamar ibu saja, ibu akan menemani dia tidur, kalau harus naik ke lantai 2, kau enggak akan sanggup,” terang Rahma.
Atas paksaan dari sang ibu, Andri pun membawa Bia ke kamar orang tuanya. Sementara Beeve menunggu di sofa ruang tamu. Tak lama Andri dan Rahma kembali, dan ikut duduk di sofa juga.
“Bagaimana ceritanya, kok tiba-tiba bisa bertemu Bia?” Rahma yang amat penasaran, ingin mendengar cerita dari anak dan menantunya.
“Alhamdulillah, Andri beberapa hari yang lalu mendapatkan informasi mengenai keberadaan Bia dari detektif yang Andri pekerjakan bu.” Andri pun menceritakan seluruh kronologi yang telah terjadi, termasuk saat mereka telah memberikan laporan pada polisi.
“Kasihan sekali Bia, pasti hidupnya berat selama ini.” Rahma benar-benar prihatin atas kisah Bia.
__ADS_1
“Makanya, Andri dan Beeve enggak akan melepaskan mereka bu, karena ini sudah sangat keterlaluan, Bia itu masih belia, Andri juga enggak habis pikir ada orang sejahat itu pada cucunya sendiri!” perkataan Andri membuat Rahma tersindir, pasalnya ia yang sebagai tante kandung juga pernah melakukan hal yang sama pada Beeve.
“Hem, ibu mendukung segala keputusan kalian, kalau butuh bantuan, katakan pada ibu, karena ibu siap melakukan apapun.” Rahma yang merasa takut perkataan Andri selanjutnya akan menyudutkannya lagi, memilih kembali ke kamarnya. Di dalam kamar, Rahma merebahkan tubuhnya di sebelah gadis kecil yang tak berdosa itu.
“Anak yang cantik, panjang umur ya sayang, nenek janji, akan menebus kesalahan nenek selama ini pada mu dan ibu mu.” Rahma yang pernah mengabaikan Beeve sekaligus menjadi salah satu orang yang memisahkan Beeve dan Bia secara tak langsung pun merasa bersalah, untuk itu Rahma bertekad akan membahagiakan Bia, dan juga menganggapnya sebagai cucu kandung.
Saat Rahma mengelus rambut hitam dan panjang Bua, tiba-tiba gadis kecil itu terbangun.
Bia tertegun, sebab ia merasa bingung, saat ada Rahma yang tak ia kenal di dekatnya.
“Kau sudah bangun cantik?” sapa Rahma seraya mengecup pipi Bia.
“Ibu siapa?” tanya Bia.
“Aku ini adalah nenek mu, ibu dari papa Andri,” terang Rahma.
“Nenek?”
“Iya sayang.” Rahma memeluk rubuh mungil cucunya.
“Nek?”
“Iya nak?”
“Mama dan papa mana? Kenapa enggak ada disini?” Bia yang takut di tinggalkan menjadi panik.
“Mama papa ada di ruang tamu nak, ayo Bia tidur lagi, biar cepat besar,” ujar Rahma.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita temui mereka.” Rahma pun menggendong Bia keluar dari kamar menuju ruang tamu.
Bia yang masih dapat melihat kedua orang tuanya pun tertawa riang.
“Mama, papa!” seketika ia minta turun pada Rahma. Kemudian kaki kecilnya berlari menuju Beeve, “Mama!” gadis kecil itu memeluk tubuh ibunya.
“Cepat sekali bangunnya, harusnya Bia tidur lebih lama, biar cepat besar,” ucap Beeve.
“Betul kata mama, kalau malas tidur nanti tubuh mu pendek!” ujar Andri.
“Maaf ma, pa, Bia hanya takut di tinggal saat tidur,” ungkap Bia.
“Mana mungkin di tinggal sayang, lagi pula ini rumah nenek mu,” terang Andri.
“Betul cucu ku sayang, rumah ini adalah rumah Bia juga, mama dan papa mu enggak akan pergi kemana-mana hehehe.” Rahma mengelus puncak kepala cucu sambungnya.
Saat mereka masih berbincang, tiba-tiba Emir muncul ke ruang tamu.
“Ini anak siapa?” tanya Emir.
“Ini Bia Mir, putri ku,” ucap Andri. Sontak Emir merasa lemas.
__ADS_1
Kenapa Andri selalu selangkah lebih maju dari ku? batin Emir.
“Alhamdulillah sudah ketemu.” ucap Emir dengan pandangan tak menentu.
Satu sisi ia senang Bia telah kembali, di sisi lain ia merasa kecewa, karena yang mendapatkan Bia adalah saudaranya bukan dirinya, jadi sudah jelas hubungan Andri dan Beeve takkan terpisahkan.
“Ayo sayang, salam om Emir.” Beeve menyuruh putrinya untuk menjabat tangan si om ganteng.
Bia pun berjalan menuju Emir, lalu mencium punggung tangannya.
“Halo om, nama ku Kishi Bia, salam kenal,” ucap Bia.
“Ha-halo juga nak, kenalkan nama om adalah Emir Han, adik dari papa Andri, Bia bisa panggil aku om Emir, atau papa juga,” ucap Emir.
“Perhatikan ucapan mu bodoh!” pekik Rahma.
“Panggil om ya nak, jangan papa!” ucap Andri.
Beeve tersenyum kecil saat Emir di marahi oleh Rahma dan Andri.
“Ya ampun, aku hanya bercanda, jangan ambil pusing.” kemudian Emir berjongkok, lalu mencium pipi Bia.
“Mau main sama om enggak? Nanti om beli mainan yang banyak.”
“Enggak boleh!” ucap Rahma dan Andri bersamaan, mereka takut Emir yang licik menggunakan Bia sebagai jalan untuk merebut Beeve dari Andri.
“Apa sih kalian? Norak banget!” wajah Emir mendadak masam melihat ibu dan abangnya.
“Sudah, pergi sana, kehadiran mu enggak di perlukan disini!” pekik Rahma mengusir putra bungsunya yang meresahkan.
“Aku kan ingin main dengan keponakan ku, gimana Bia, mau main dengan om?” .
“Mau om!” seru Bia.
“Bia sayang, mainnya dengan nenek saja ya, nenek juga akan belikan mainan yang banyak untuk Bia, om Emir itu enggak punya uang, jadi enggak usah berteman dengannya.” Rahma pun menuntun tangan Bia untuk menuju kamar bayi Emir dan Andri dulu, karena disana banyak mainan keduanya semasa kecil.
“Bu, jangan bawa Bia,” pinta Emir.
“Diam kau! Ini cucu ku!” Rahma pun lanjut melangkah dengan menggendong Bia, karena ia takut Emir akan merebut Bia darinya.
Beeve merasa sangat bersyukur karena semua orang yang ada dalam rumah suaminya menyukai putrinya.
Alhamdulillah, selalu bahagia ya nak, batin Beeve.
Mereka yang kini tinggal bertiga di ruang tamu jadi canggung satu sama lain.
“Selamat ya Bee, akhirnya Bia di temukan juga aku turut senang, semoga kau dan Bia berbahagia, jaga dia baik-baik,” ucap Emir Dengan pandangan yang sendu.
“Terimaksih banyak ya mas,” sahut Beeve.
__ADS_1
...Bersambung......