Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 214 (Bali)


__ADS_3

“Oh iya, mas benar juga ya, hehehe.” Beeve tertawa cekikikan.


Lalu Andri menuju kamar mereka untuk mandi terlebih dahulu. Setelah menghabiskan 15 menit, Andri pun keluar dari kamar dalam keadaan rapi.


“Ayo mas! Nanti kita terlambat naik pesawat!” Beeve yang tak sabaran mendesak suaminya, agar mereka berangkat lebih cepat.


“Iya sayang, sabar.” ucap Andri, mereka pun berangkat ke bandara dengan menaiki transportasi mobil online. Beruntungnya, jarak dari rumah mereka ke Bandara hanya 10 menit, jadi mereka sampai dengan tepat waktu.


Beeve pun menggenggam tangan suaminya mulai dari pintu masuk hingga dengan take off. Keduanya bagai pasangan pengantin baru yang di mabuk cinta, lengket tak terpisahkan.


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 50 menit, akhirnya pesawat yang mereka tumpangii pun sampai di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Untuk ke tujuan, Andri dan Beeve kembali memesan transportasi mobil online. Hanya perlu waktu 1 jam 32 menit, agar mereka sampai ke Villa.


Andri cukup terkesan dengan villa bulan madu pilihan istrinya, karena tempatnya begitu tenang, di kelilingi oleh persawahan. Semua bahan bangunan villa yang memiliki lantai 2 itu terbuat dari bambu, tanpa pintu dan jendela, atapnya terbuat dari gundukan jerami yang telah disusun rapi, selain itu, villa bambu yang mereka booking memiliki dapur dan kolam berenang dari arah gerbang masuk.


“Kau benar-benar pecinta alam sayang,” ucap Andri.


“Karena alam membuat jiwa raga ku tenang mas,” sahut Beeve.


Mereka pun masuk ke dalam villa, di lantai 1 terdapat sofa untuk bersantai, keduanya pun duduk terlebih dahulu untuk melepas rasa cape di badan.


“Semoga saja enggak hujan atau angin badai.” ucap Andri dengan perasaan khawatir.


“Memangnya kenapa mas? Bukannya kalau hujan makin romantis mas?” ujar Beeve.


“Iya, kau benar, itu kalau bangunannya beton atau kayu, ini kau lihat sendiri, semua terbuat dari bambu dan bahan alam lainnya, kalau hujan lebat aku takut bocor, angin kencang bisa rubuh, kalau tak amruk, barang-barang yang ada di dalam sini bisa berhamburan sampai ke sawah, kau lihat kan yang, tak ada pintu atau jendela dari lantai 1 sampai 2,” terang Andri.


Karena pengaruh dari suaminya, Beeve pun ikut was-was. “Kau benar juga mas, tapi... enggak mungkin ah mas, kalau ada resiko begitu, mana mungkin bangunannya di buat begini, rugi dong.”


“Semoga saja sayang, selama kita disini berjalan dengan lancar.” ucap Andri.


“Aamin mas.” setelah cukup bersantai, Andri pun mengajak istrinya untuk merapikan barang menuju ranjang yang ada di lantai 2.


“Ayo, kita bereskan, habis itu kita mandi.” ucap Andri seraya menunjuk ke arah kolam yang ada di hadapan mereka.


“Oke mas.” keduanya pun naik ke lantai 2, lalu menyusun baju-baju mereka ke dalam lemari yang telah di sediakan.


Andri pun memperhatikan dengan seksama area sekitar villa.

__ADS_1


“Ck.” tanpa sadar ia berdecak.


“Kenapa mas?” tanya Beeve.


“Kalau kita main disini, kira-kira ada yang ngintip enggak ya? Soalnya ini terbuka banget.” jawab Andri dengan rasa cemas.


“Enggak akan ada mas, lagi pula ini di tengah persawahan khusus wisata, bukan punya warga, di depan villa juga banyak pohon tinggi, kalau ada yang jadi korban, pasti tempat ini sepi.”


“Oh, gitu ya sayang.” Andri nampak tak tenang melakukan bulan madu di tempat tersebut.


“Iya mas, lagian kau kenapa sih? Dulu waktu di puncak perasaan mas biasa saja, meski itu di luar resort, ini malah semua hal yang di takutkan!”


“Ita deh, maaf sayang, cepat pakai bikini mu, agar kita turun ke bawah.” titah Andri seraya melucuti bajunya, hingga hanya menyisakan celana renang yang telah ia pakai sebelumnya.


“Iya sayang!” sahut Beeve, yang kemudian memakai bikini berwarna merah maroon, perpaduan warna terang dengan kulitnya yang putih, menambah kesan seksi pada tubuhnya yang bagai gitar spanyol itu.


Andri yang melihat tampilan gurih di depan matanya menjadi panas dingin. Berulang kali ia menelan salivanya.


“Ayo!” Andri menarik tangan Beeve menuju kolam berenang dengan buru-buru.


“Sabar dong mas!” ucap Beeve yang takut jatuh saat menuruni anak tangga.


Bara asmara yang telah lama padam kini berkobar kembali, keduanya enggan untuk melepas pagutan satu sama lain, hingga pertahanan keduanya pun roboh.


Burrr!! tubuh jenjang kedua pasangan di mabuk cinta itu jatuh ke genangan air dalam kolam berenang. Bukannya itu menghentikan aktivitas keduanya, justru malah semakin panas.


Setelah 3 menit menyelam dalam air, Andri membawa tubuh Beeve kepermukaan.


“Haah... haaah... aku hampir mati mas karena mu.” ucap Beeve dengan nafas terengah-engah.


“Takkan ku biarkan kau mati sebelum berusia 100 tahun.” Andri pun kembali mengecup bibir Beeve dengan sangat pekat.


“Yang menentukan segalanyakan Tuhan mas.” ucap Beeve seraya memeluk tubuh suaminya.


“Kalau begitu, aku takkan putus berdo'a, agar Tuhan panjangkan umur kita berdua hingga 100 tahun lagi.” Andri yang nakal membuka pengait dua bukit istrinya.


“Mas! Kau enggak berencana melakukannya disini kan?” Beeve melepas pelukannya dari Andri.

__ADS_1


“Apa bedanya disini dan di ranjang? toh sama-sama enggak ada dindingnya.” ujar Andri seraya memelintir kecil puncak bukit milik Beeve.


“Jangan disini, nanti kita masuk angin.”


“Aku maunya disini.”


“Aku maunya di atas ranjang!” ucap Beeve.


“Ya sudah, kalau begitu, habis dari sini, kita lanjut di ranjang, persiapkan tenaga mu, karena malam ini kau dan aku akan begadang sampai pagi.” mendengar perkataan suaminya, Beeve tak bisa berhenti senyum karena malu.


“Tapi mas.” Beeve memegang kedua pipi suaminya.


“Apa lagi sih?”


“Kolamnya akan kotor, kalau kau buang disini, dan kita enggak akan bisa pakai besok lagi.” ucap Beeve.


“Sesekali main di tempat kotor enggak apalah sayang.”


“Ya sudah, ku serahkan semua pada mu mas.” Beeve pun memegang lantai pinggir kolam sebagai tumpuan tangannya.


Lalu Andri yang tak ingin membuang waktu lagi, siap bergerilya di tubuh istrinya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki tak ada yang ia lewatkan, semua ia sapu bersih dengan lidah merah mudahnya yang liar.


Dan suara nakal nan erotis yang ia rindukan selama ini pun perlahan mulai terdengar dengan jelas, keluar dari mulut istrinya. Semangat juang Andri kian meningkat untuk menuntaskan hasrat di tubuh gemulai sang Beeve, istri tercinta.


Andri yang mantan atlet renang pun menyelam ke dalam kolam, untuk memberi pijatan hangat pada buncis kenyal yang telah vakum selama 4 tahun.


Kesibukannya mengobok-obok dalam air membuat Beeve tak tenang, berulang kali dirinya mengeluarkan larva cinta karena keahlian Andri dalam mengerjainya.


Makin lama, getaran di tubuhnya kian hebat, tangannya yang bertumpu di lantai pinggir kolam pun roboh, membuat tubuhnya masuk ke dalam air.


Andri yang telah selesai menatap lekat wajah istrinya, Beeve yang sudah tak kuasa memeluk tubuh Andri dengan erat.


Andri yang paham betul berenang kepermukaan, lalu meletakkan kembali tangan Beeve ke pinggir kolam.


“Mau langsung atau intro lagi sayang?” tanya Andri yang memeluk tubuh Beeve dari belakang.


“Tapi, aku belum menyervis mu mas,” ucap Beeve.

__ADS_1


“Kau bisa lakukan itu di ronde kedua sayang,” bisik Andri di telinga Beeve.


...Bersambung......


__ADS_2