Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 258 (Isak)


__ADS_3

Wajah Gurun dan Fatimah berubah jadi merah padam, menahan malu atas sikap putrinya yang kurang dewasa dan bijak.


“Baiklah nak, maaf atas kecerobohan Helena selama ini,” ucap Fatimah.


“Iya pa, ma, kalau begitu saya permisi dulu.” air mata Helena tak henti berlinang, saat sang suami beranjak pergi meninggalkannya. Ingin memohon tapi gengsi, dan juga takut merendahkan martabat orang tuanya.


Jangan tinggalkan aku bang, batin Helena, ia terus menatap kepergian Emir Sampai luput dari matanya.


Helena yang gundah merana, kemudian bangkit dari duduknya.


“Kau mau kemana?” ucap Gurun.


“Ke kamar pa,” jawab Helena dengan suara bergetar.


“Duduk dulu.” titah Gurun, dengan terpaksa, Helena kembali mendaratkan bokongnya ke atas kursi.


“Papa enggak akan tanya lagi kenapa kau berbuat demikian, tapi... kalau sudah begini, menurut mu semua akan lebih baik? Papa dan mama telah menasehati mu, saat kau akan menikah, pandai-pandai mengambil hati suami, mertua dan keluarga baru mu disana, meski kau berpendidikan tinggi, yang namanya istri harus selalu patuh pada suami, selagi itu benar, dan enggak keluar jalur, kau tahu Helena, keluarga Emir itu selain rekan bisnis, adalah sahabat mama dan papa, astaga! Kenapa kau enggak bisa menahan diri nak? Karena mu, hubungan 2 keluarga bisa pecah! Yang rugi siapa, kau sendiri! Banyak yang akan mengganti posisi mu jika berpisah dengan Emir!” Gurun menasehati putrinya.


“Betul nak, lagi pula yang ingin menikah padanya kau sendirikan? Kalau cinta, harusnya tak begitu, semoga saja Emir memaafkan mu, dan menerima mu kembali, kami selalu berharap yang terbaik untuk mu, tapi jika dia benar-benar enggak menjemput mu, bersabarlah, karena kesalahan datangnya darimu, bukan darinya, jadi kita tak bisa menuntut apapun padanya, jadikan pelajaran berharga masalah ini, jangan ulangi lagi, baik itu bersama Emir atau siapapun, karena berpisah saat masih cinta itu, sakitnya bukan main, kalau kau tegar, kami juga tak masalah,” ujar Fatimah.


“Iya Bu.” Helena mengangguk, meski dalam hatinya berontak.


Selanjutnya ia beranjak ke dalam kamarnya dengan isak tangis tiada henti.


Pada hal aku istri mu bang, kita sudah berjanji untuk selalu bersama dalam ikrar cinta yang suci, tapi kenapa? Perempuan itu dapat mengalihkan dunia mu?” Helena menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, kemudian melanjutkan tangisnya.


____________________________________________


Emir yang telah sampai di rumah bertemu dengan Yudi yang sedang duduk di ruang tamu.


“Emir! Kemari lah!” Yudi mengajak putranya untuk duduk bersama.


“Ada apa yah?”

__ADS_1


“Kenapa kau segegabah itu nak? Masalah dalam rumah tangga itu biasa, kalau memang kesalahannya sudah fatal, diamkan dia, pindah ranjang kalau perlu, di rumah inikan banyak kamar kosong, jangan malah antar pulang, kalau beginikan urusannya jadi ribet, ibu dan ayah enggak enak dengan orang tua Helena, asal kau tahu, ibu dan ayah juga sering bertengkar, banyak konflik antara kami berdua, tapi... sebisa mungkin kami tak ceritakan pada siapapun, tak mengadu pada orang tua dan mertua, bahkan di depan kalian kami tak cekcok, tidak ada yang sempurna dalam kehidupan rumah tangga nak,” terang Yudi.


“Aku sudah sabar yah, tapi dia terus yang cari api!” ucap Emir.


“Ayah tahu nak, Helena yang selalu buat ulah, kau pikir ibu mu tak seperti dia? Hum, jangan salah, dia lebih parah, baik dari segi emosi, cemburu, dan curiga, hasil dari amarahnya, seluruh orang yang bekerja di ISF, di larang pacaran antar sesama karyawan, membawa pasangan dan lain-lain yang merancu ke dalam perselingkuhan, ayah sempat mendebat, namun... apa daya, ayah pikirkan positifnya saja, mungkin ibu mu takut kehilangan ayah, kau juga harusnya begitu, setelah api amarah itu padam, penyesalan pun akan datang, kalau kau merindukannya beberapa hari lagi, apa enggak malu menjemputnya ke rumah mertua mu? Mending kalau Helena mau pulang bersama mu, kalau enggak, bagaimana?” perkataan Yudi sedikit menjernihkan pikiran Emir.


“Sudah resiko yah, harus menanggung malu kalau memang rindu, mungkin aku memang salah melakukan hal itu, tapi... aku tak ada niat menceraikannya, hanya memberi dia pelajaran, agar dia tak menyepelekan segala perkataan ku ke depannya, kalau dia benar-benar berubah, aku akan memaafkannya, tapi kalau masih sama, terpaksa ku lepas, aku enggak suka wanita yang menentang kelaurga, kalau ia benar pasti ku bela, tapi kalau salah jangan harap, dulu juga aku tak ingin menikah dengannya, kalian yang memaksa ku, jadi kali ini, biarkan aku yang memutuskan.”


Yudi tak dapat mengatakan hal lain lagi, karena pada kenyataannya, merekalah yang menjodohkan paksa Emir dengan Helena.


“Aku mau ke kamar yah, jangan bahas dia lagi mulai detik ini, kalau memang ia serius mencintai ku, pasti semua masih baik-baik saja sampai sekarang.” kemudian Emir bbangkit dari duduknya, lalu bergegas menuju kamarnya.


Andri yang telah pulang kerja dari tadi, ternyata diam-diam menguping pembicaraan antara ayah dan adiknya.


Ia pun mendatangi Yudi yang duduk di atas sofa seraya memijat pelipisnya.


“Ada apa sih yah?” tanya Andri penasaran.


“Apa? Kok bisa?” netranya membulat sempurna.


“Karena Helena mengganggu Beeve lagi,” ucap Yudi.


“Astaghfirullah, dasar wanita gila!” hati Andri merasa dongkol pada Helena.


“Hei, kalau kau ketemu Emir, jangan marahi dia lagi, kasihan adik mu, bagaimana pun juga, pasti hatinya berduka atas apa yang terjadi saat ini,” ujar Yudi.


“Baik, ayah tenang saja.” meski sangat ingin melabrak adiknya, namun Andri mengurungkan niatnya, sebab sang ayah telah melarang.


Andri pun kembali ke kamar dengan wajah kusut. Ceklek!!! Ia yang baru membuka pintu kamar melihat istrinya yang tengah tidur lelap.


“Kasihan banget kau Bee, aku masih berdiri tegap saja, sudah ada yang berani menyakiti mu, bagaimana kalau aku sudah tak ada?” Andri merasa iba pada istrinya yang bernasip malang mulai awal pernikahan mereka.


Harusnya dulu aku tak memaksa mu untuk kembali pada ku, maafkan aku sayang, semua duka yang kau dapat muasalnya dariku, batin Andri.

__ADS_1


Andri yang resah tiba-tiba sesak nafas, ia pun dengan cepat mengambil Ventolin inhaler dari dari dalam sakunya, kemudian menghirupnya.


Setelah beberapa saat, nafasnya kembali normal, lalu ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi air panas.


Selepas mandi, Andri merebahkan tubuh di sebelah istrinya, ia yang merasa rindu dia setiap waktunya memeluk tubuh Beeve.


“Mas, aku enggak bisa nafas,” ucap Beeve yang telah terbangun.


“Eh, maaf sayang, aku enggak tahu, kalau pelukan ku terlalu kencang,” Andri mengecup kening istrinya.


“Mas! Bibir ku kering banget, karena jarang di sentuh! Cium!” pinta Beeve, namun Andri yang takut istrinya tertular, menolak dengan halus.


“Lain kali saja, aku tadi banyak merokok, itu berpengaruh pada kandungan mu sayang.”


“Oh iya, mas benar juga,” Beeve memaklumi alasan suaminya yang masih dapat di terima akal sehat.


“Ayo kita tidur, ibu hamil enggak boleh begadang, nanti dedenya kurang sehat.” Andri kembali mencium kening istrinya.


“Mas...”


“Hum??”


“Kau kenapa sih akhir-akhir ini?”


“Aku enggak apa-apa sayang,” jawab Andri


“Tapi aku sering melihat mu murung, apa ada masalah di kantor? Atau penyakit lama mu kambuh?” firasat Beeve sangat kuat, jika suaminya tak baik-baik saja, meski Andri tak mau bercerita.


...Bersambung......



__ADS_1


__ADS_2