
Sebelum berangkat, Beeve terlebih dahulu menyuruh pada Art nya untuk menghias kamar
mereka dengan pernak pernik ulang tahun.
_________________________________________ Setelah pekerjaan Arinda selesai ia pun memutuskan untuk pulang.
Tapi sebelum itu ia teringat akan pesta ulang tahun Andri yang baru saja mereka rayakan bersama dengan karyawan lainnya.
Mungkin Beeve juga akan merayakannya di rumah, batin Arinda.
Lalu ia yang ingin langsung pulang ke rumah pun berubah haluan.
“Mampir ah ke rumah Beeve, lagi pula sudah lama enggak ketemu dia,” gumam Arinda.
Ia pun bergegas turun ke parkiran basement kantor.
Setelah ia sampai ke basement, dengan semangat ia mengendarai motor metiknya menuju rumah sahabatnya.
Saat Arinda hampir sampai tiba-tiba turun hujan deras di sertai angin petir yang menerjang.
Ia yang memiliki semangat tinggi untuk bertemu Beeve memilih menerobos hujan badai tersebut
Hingga tak berapa lama, ia pun sampai ke rumah sahabatnya.
Ting tong ting tong!!
Arinda menekan bel rumah berulang kali, sampai akhirnya ada yang membuka pintu dari dalam.
Ceklek!!
Krieett...
“Eh, non Arinda.” ucap Winda menyambutnya dengan ramah.
Arinda dengan tubuh kedinginan bertanya pada Winda, “Beeve ada mbak?”
“Nyonya belum kembali dari supermarket non, pada hal sudah 1 jam, sebentar non saya ambilkan handuk untuk nona ya,” ucap Winda.
“Iya mbak, terimakasih banyak mbakml.” karena Beeve tak ada di rumah, ia pun inisiatif untuk menelepon sang sahabat.
📲 “Assalamu'alaikum, halo Bee, kau dimana sekarang?” Arinda.
📲 “Di jalan Nda, ada pohon tumbang beberapa meter di hadapan kami, alhasil jadi macet, pohonnya besar banget lagi, petugas juga belum ada yang datang, karena hujannya benar-benar deras,” Beeve.
📲 “Oh, gitu ya, tapi sekarang aku ada di rumah mu, aku di guyur hujan, karena kebetulan aku melintas dekat sini, makanya aku mampir, baju ku basah semua, hehehe,” Arinda.
📲 “Oh ya? Ya sudah, kau minta ambilkan baju pada mbak Winda, bilang ke padanya baju yang ada di kamar kamar tamu lantai 2,” Beeve.
📲 “Oke, makasih banyak ya Bee, aku tunggu kau pulang, tapi kalau hujannya reda sebelum kau tiba, aku pulang ya, karena sudah malam,” Arinda.
📲 “Oke, apa mas Andri ada disana?” Beeve.
📲 “Dia belum pulang, karena ada meeting di kantor klien,” Arinda.
__ADS_1
📲 “Oke, ya sudah kau jangan lupa makan ya, nanti masuk angin lagi, sudah ya Assalamu'alaikum,” Beeve.
📲 “Terimakasih Bee, Wa'alaikum Salam,” Arinda.
“Arinda ada di rumah?” tanya Emir yang duduk di kursi kemudi.
“Iya, katanya dia mampir karena di guyur hujan,” jawab Beeve.
“Hmmm, Andri sendiri dimana?”
“Lagi meeting di kantor kliennya,”
“Oh, baguslah, tapi kali ini kau enggak kasih baju mu lagi kan pada teman centil mu itu?” ucap Emir.
“Enggak mas, aku kemarin belanja baju online lumayan banyak, di taruh di kamar tamu, agar kalau ada yang berkunjung dan lupa bawa baju, ada persediaannya,” terang Beeve.
“Tumben kau cerdas,” ujar Emir.
“Memangnya aku bodoh?”
“Sudahlah jangan di bahas lagi,” ucap Emir.
________________________________________________
“Ini non handuknya.” Winda menyodorkan handuk khusus tamu, yang di ambil dari kamar tamu untuk Arinda.
“Terimkasih mbak, oh ya mbak apa aku boleh minta teh manis hangat?” pinta Arinda.
“Oh, boleh non, ayo silahkan masuk dulu, apa non Arinda bawa baju ganti?” tanya Winda.
“Baik non, kalau begitu saya akan buatkan teh manis hangat, nona ambillah bajunya,” ucap Winda.
Ketika Winda melangkah ke dapur, Arinda pun bergegas mengambil baju, tentunya bukan di lantai 2, melainkan di lantai 1.
Enggak apa-apalah ya, aku malas ke lantai 2, batin Arinda.
Ia yang telah sampai di pinta kamar Beeve dan Andri, dengan mulus mutar handle pintu, yang ternyata tak di kunci.
Krieeet!!!!
Arinda yang lupa akan statusnya pun dengan percaya diri masuk ke dalam kamar sahabatnya yang telah bersuami, dan tanpa bersalah membuka lemari indah nan besar Beeve.
Krieett....
“Banyak banget bajunya.” mata Arinda berbinar melihat koleksi baju bermerek Beeve.
Ia pun dengan santainya mengambil sebuah dress berwarna pastel, yang bahannya terbuat dari sutera, lalu melucuti pakaian basah yang ada di tubuhnya.
Ia yang bak nyonya Andri, menatap lekat tubuhnya yang hampir sama persis seperti Beeve.
Ketika ia ingin mengenakan baju tersebut tiba-tiba lampu di rumah itu padam.
“Aduh, gelap banget, handphone ku....” gumam Arinda seraya meraba-raba jalan yang gelap gulita.
__ADS_1
Tak lama ia mendengar ada yang membuka pintu.
Ceklek!
Ya Tuhan, habislah aku! Malah aku masih belum pakai baju lagi! batin Arinda.
Ia yang tak dapat melihat apa pun tak tahu harus bersembunyi ke arah mana, hingga tiba-tiba, ia menabrak sebuah tubuh.
Arinda yang takut ketahuan pun memilih diam, lalu seseorang itu menangkap tubuhnya.
“Kau baru mandi sayang?” ucap Andri yang merasakan dinginnya tubuh wanita yang ia pikir adalah istrinya.
Arinda di buat jadi serba salah, karena posisinya sangat tidak menguntungkan.
“Sayang.” Andri yang juga tak dapat melihat apa pun hanya bisa meraba ke bagian bukit kembar Arinda.
Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?! batin Arinda.
Cuaca dingin malam itu membuat Andri ingin melakukan penyatuan dengan Beeve sang istri tercinta.
Ia pun menarik tangan Arinda, dengan perlahan menuju ranjang.
“Sayang, mode gelap belum pernah kita lakukan, aku ingin malam ini kita habiskan waktu bersama.” bisik Andri ke telinga Arinda, yang membuat Arinda seketika merinding.
Ia yang awalnya ingin menolak marah pasrah, ketika suami sahabatnya menjajal liar di sekujur tubuhnya.
Rasanya hangat, batin Arinda dengan tubuh menggeliat.
Ia pun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, yang di susul oleh Andri.
Dalam gelapnya malam tanpa penerangan, Andri menikmati tubuh yang bukan milik istrinya.
Ketika ia akan melakukan penyatuan, hatinya di buat bimbang, pasalnya ia teramat sulit menerobos masuk ke lembah yang biasa ia kunjungi.
Namun karena ia sudah terburu nafs*u, ia pun tak menaruh curiga dengan keanehan itu.
Perlahan namun pasti, ia menerjang pertahanan tanggul tersebut.
Petir yang sahut menyahut, di sertai hujan yang ribut, menenggelamkan suara erangan yang menggema di antara keduanya.
Sakit sekali, tapi rasanya lumayan sekarang, batin Arinda.
Hingga saat Andri akan mencapai puncaknya, tiba-tiba lampu menyala.
Namun sayang seribu sayang, larva yang ia semburkan telah mencapai dataran paling dalam lembah Arinda.
Andri yang membuka matanya setelah menikmati indahnya surga dunia di buat syok, pasalnya yang ia campuri bukanlah istrinya melainkan Arinda Putri Karyawan kantor, sekaligus sahabat dari orang yang ia cintai.
...Bersambung.......
...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....
__ADS_1