Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_5


__ADS_3

30 menit setelah kepergian Sila, mobil yang Rafael naiki berhenti di depan gerbang universitas di mana istrinya kuliah.


Rafael memang telat 30 menit, dan seharusnya istrinya sudah menunggu dirinya di depan gerbang, tapi setelah 5 menit Rafael sampai, sosok istrinya tidak dapat ia temukan.


"Sila, kamu kemana sih, katanya jam 3 sudah selesai kelasnya," ujar Rafael, sesekali ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Rafael merasa sangat khawatir, takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


Rafael pun mencoba menghubungi nomor istrinya, tapi hasilnya nihil, nomor Sila tidak dapat dihubungi.


"Kok malah nggak aktif sih, apa Sila marah gara-gara aku telat jemput, tapi tidak seperti biasanya dia begitu," Rafael gelisah, ia merasa sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


Setelah hampir 20 menit Rafael menunggu, akhirnya ia putuskan untuk pulang, Rafael berharap istrinya telah pulang ke rumah.


***


Mobil yang Rafael kendarai telah terparkir di halaman rumahnya, bergegas Rafael keluar dari mobil, dan melangkah masuk ke rumah.


Setibanya di dalam, Rafael langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan istrinya itu.


Namun nihil, sosok yang ia cari tidak dapat ditangkap oleh pandangan matanya.


"Kok nggak ada sih, apa Sila pergi ke rumah temannya," gumam Rafael, dengan perasaan yang gelisah.


"Bi, Bibi," panggil Rafael dengan panik. Bukan panik saja, Rafael juga merasa sangat khawatir jika terjadi yang sesuatu yang tidak diinginkan.


Perempuan paruh baya berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Tuannya.


"Ada yang bisa Bibi bantu Tuan?" tanya bi Inah, dengan raut wajah yang sedikit khawatir.


"Apa Sila sudah pulang Bi," jawab Rafael.


"Belum Tuan, Non Sila belum pulang," sahut bi Inah.


Rafael menghela nafas berat, raut wajahnya semakin panik, dan tanpa pikir panjang, Rafael langsung berlari keluar dan masuk ke mobil, lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sementara itu, bi Inah merasa heran dengan sikap majikannya itu.


Dalam perjalanan, Rafael terus merutuki dirinya sendiri, kalau saja ia tidak terlambat datang, pasti kejadian ini tidak akan terjadi, tapi mau gimana lagi, semua telah terjadi.


Berkali-kali Rafael mencoba menghubungi nomor istrinya, tapi hasilnya masih sama, dan itu membuat Rafael semakin gelisah dan khawatir.


Pandangannya ia edarkan ke sekeliling jalan yang ia lewati, berharap dapat melihat sosok istrinya.


"Sila, kamu di mana sih, kalau pergi bilang dong, jangan seperti ini, jangan bikin orang khawatir," ujar Rafael yang terus fokus menyetir.


Setelah hampir dua jam menyusuri jalan, kini Rafael memutuskan untuk menepi, hari pun sudah mulai petang, matahari telah meninggal bumi, yang tersisa hanya cahaya kemerah-merahan.


***

__ADS_1


"Apa benar yang Aldo bilang kalau kak Rafael sudah memiliki kekasih, tapi kenapa dia nggak pernah jujur, kenapa harus Aldo yang ngasih tau.


Apa kak Rafael takut kalau nanti aku marah.


Pasti aku marah lah, gimana nggak marah, kalau menikah dengan lelaki yang sudah memiliki kekasih," ucap Sila bermonolog sendiri.


Hari mulai petang, gelap pun mulai menyelimuti, tapi sampai sekarang, orang yang Sila tunggu tidak ada kabarnya, ia berharap Rafael mau mencarinya, Sila ingin tau, apakah dia peduli terhadapnya atau tidak.


"Apa kak Rafael tidak mencariku," ucapnya dengan memandang lurus ke depan.


Sila memilih duduk di tepi danau, di mana hatinya bisa merasa tenang saat ia berada di tempat ini.


Dan tempat ini juga kenangan Sila bersama dengan Aldo, lelaki yang pernah mengisi hati dan hari-harinya.


Tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti, Sila merasa penasaran, tapi iaenggan untuk menoleh.


Selang beberapa menit, sebuah tangan memegang bahunya, reflek Sila pun menoleh.


"Aldo, ngapain kamu di sini," pekik Sila, yang merasa kaget dengan datangan Aldo.


"Harusnya aku yang tanya sama kamu, ini udah malam, kamu ngapain di sini terus," ujarnya, lalu duduk di samping Sila. Rasanya sangat canggung dengan posisi seperti itu.


"Itu bukan urusan kamu, apa peduli kamu denganku," sahutnya yang mungkin membuat Aldo kecewa.


"Jelas aku peduli, karena aku masih cinta sama kamu," balasan yang keluar dari lisan Aldo membuat Sila terdiam. Apa Sila tidak salah dengar, Aldo masih mencintainya.


Namun Aldo salah, Sila sudah memutuskan untuk memulai lembaran baru dengan Rafael, meskipun Sila tidak tau perasaannya pada lelaki itu.


"Kamu pulang aja, aku lagi nunggu kak Rafael," ucap Sila kemudian.


"Ngapain kamu nunggu orang yang tidak perduli sama kamu, kalau kak Rafael peduli, pasti dia sudah datang sejak sore," jawab Aldo, dan lagi-lagi setiap kali Aldo menjelekkan Rafael, hati Sila terasa sakit.


"Kenapa Aldo bicara seperti itu, apa Aldo benci dengan kakaknya sendiri, tapi apa alasannya.


Aku merasa sakit dan tak terima saat Aldo menjelekkan kak Rafael, aku memang belum tau banyak tentang dia, tapi aku merasa kalau kak Rafael adalah orang yang baik," batin Sila.


"Itu bukan urusan kamu, aku akan buktikan kalau kak Rafael peduli sama aku," Sila berseru, berharap Aldo bisa mengerti.


Aldo terlihat sangat kecewa, tanpa berkata apa-apa lagi, Aldo berlalu begitu saja.


Sila hanya bisa menatap punggung Aldo yang mulai menghilag, dan setelah Aldo pergi, tiba-tiba terdengar deru mobil yang mendekat ke arahnya.


Setelah mobil itu berhenti, terdengar seseorang keluar dari mobil dan berjalan ke arah Sila.


Karena suasana gelap, hanya sinar rembulan yang menerangi malam, Sila tidak terlalu jelas, melihat siapa yang datang.


Tiba-tiba saja ia merasakan sebuah tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang dengan sangat erat, Sila tersentak kaget.

__ADS_1


"Sila, kamu kemana saja, kenapa kamu pergi enggak bilang, aku khawatir nyariin kamu," ujarnya seraya terus memeluk tubuh Sila dengan sangat erat.


Sila kenal dengan pemilik suara itu, dia adalah Rafael, Sila merasa nyaman dalam pelukannya, tapi ia merasa heran, ternyata dia bisa bersikap seperti itu juga.


"Kak Rafael," lirihnya.


Kini kak Rafael melepas pelukannya, dan membalikkan tubuh sila, agar menghadapnya.


Lalu Rafael memegang kedua bahu Sila, menatap mata gadis itu dengan sangat lekat.


"Aku minta maaf karena aku terlambat menjemputmu, apa kamu marah sama aku, makanya kamu pergi enggak bilang," tuturnya dengan sangat lembut.


Sila terdiam setelah mendengar penuturannya, raut wajahnya terlihat sangat khawatir, tapi Sila bisa melihat kalau semua yang Rafael ucapkan, terlihat tulus.


"Kak Rafael enggak salah, aku yang salah, aku pergi nggak bilang sama Kakak," ucap Sila, ia merasa menyesal karena telah berprasangka buruk terhadap suaminya sendiri.


Namun Sila merasa bingung saat teringat semua perkataan Aldo, tapi untuk saat ini, Sila tidak mau mempermasalahkan perkataan Aldo, gadis itu cukup merasa bahagia saat lelaki yang telah sah menjadi suaminya, ternyata peduli terhadapnya.


"Sekarang kita pulang ya," ajak Rafael. Mata elangnya menatap gadisnya dengan penuh perhatian.


"Iya Kak," sahutnya, rasanya tubuh Sila sangat lemas, sampai-sampai ia tidak bisa melangkan kakinya dan hampir saja Sila terjatuh, untuk saja dengan sigap Rafael menangkap tubuh mungil itu.


"Sila, kamu kenapa? Kamu enggak apa-apa kan?" tanya Rafael, nada bicara dan raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Aku nggak apa-apa kok Kak, cuma lemes aja," jawab Sila, memang benar, tubuhnya rasanya sangat lemas.


"Ya sudah, kita pulang sekarang ya," ajaknya, lalu memapah tubuh Sila dan berjalan menuju ke mobilnya, lalu membantu istrinya masuk ke dalam mobil.


Setelah Rafael masuk dan duduk di kursi kemudi, dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Mobil terus berjalan menyusuri gelapnya malam, sesekali kak Rafael melirik ke arah istrinya.


***


Mereka sudah tiba di rumah, Rafael langsung mengajak Sila masuk ke kamar.


Setibanya di kamar, Rafael langsung membantu Sila untuk merebahkan tubuhnya. di atas ranjang.


"Kamu istirahat saja ya, aku mau mandi dulu," ucapnya dengan lembut, tangannya pun mengelus pipi Sila dengan sangat lembut.


Sila tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, Rafael mulai masuk ke kamar mandi.


Setelah 20 menit, pintu kamar mandi terbuka, Rafael pun melangkah keluar.


Sila sangat terkejut saat melihat suaminya bertelanjang dada, dan hanya handuk yang melilit di pinggangnya, sontak Sila menjerit dan langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


__ADS_2