Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 28 (Piyama)


__ADS_3

Saat Beeve membuka lembar pertama novel Save Yalisa, tiba-tiba handphonenya berdering, saat di periksa ternyata dari Arinda.


📲 “Assalamu'alaikum, Halo, Nda,” Beeve.


📲 “Wa'alaikum Salam, Halo Bee, kau lagi apa? Aku ganggu enggak?” Arinda.


📲 “Enggak kok, ada apa Nda?” Beeve.


📲 “Mm, enggak ada apa-apa sih, tapi.... suami mu ada di situ?” Arinda.


📲 “Enggak, mas Andri sudah pergi ke kantor,” Beeve.


📲 “Ha??? Bukannya kalian masih bulan madu?” Arinda.


📲 “Kita pulang lebih awal Nda,” Beeve.


📲 “Bagaimana bisa?” Arinda.


📲 “Ceritanya panjang,” Beeve.


📲 “Kalau panjang, enaknya ketemu, kirim alamat rumah mu Bee,” Arinda.


📲 “Untuk apa?” Beeve.


📲 “Aku akan datang berkunjung, boleh kan?” Arinda.


📲 “Tapi.....,” Beeve.


📲 “Sudahlah, cepat kirimkan,” Arinda.


Beeve bingung harus bagaimana, ia takut mengundang orang lain tanpa izin suaminya, tapi karena ia juga butuh teman cerita, akhirnya ia memberikannya pada Arinda.


📲 “Jalan pucuk cinta gang bersama nomor 2,” Beeve.


📲 “Oke, aku akan segera datang,” Arinda.


“Semoga mas Andri pulangnya malam, agar enggak bertemu Arinda, takutnya kalau bertemu, dia malah marah pada ku lagi,” gumam Beeve.


Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya Arinda tiba.


Ting ting! ting tong!


Beeve yang mendengar bunyi bel, bergegas ke pintu utama.


Saat ia sampai ke lantai satu ternyata Arinda sudah duduk di atas sofa dengan membawa tas ransel besar.


“Kau sudah sampai?” tanya Beeve.


“Iya, tadi yang buka pintu Art mu,” ucap Arinda.


“Oke, ayo kita ke kamar ku,” ajak Beeve pada Arinda.


Mereka berdua pun kembali naik ke lantai 2 dengan menggunakan lift.


“Rumah mu besar sekali Bee,” ujar Arinda.


“Iya,” ucap Beeve.


Ting!!

__ADS_1


Mereka pun sampai ke lantai 2, dan segera menuju ke kamar Beeve, kemudian Beeve mempersilahkan Arinda duduk di atas sofa yang ada dalam kamarnya.


Sebelum mengobrol dengan Arinda, Beeve menelpon Winda agar membawakan makanan ringan dan jus jeruk segar. Kemudian ia pun duduk di hadapan sahabatnya.


“Ini kamar kalian?” tanya Arinda.


“Bukan, ini kamar ku.” jawab Beeve, yang membuat Arinda mengernyit.


“Maksudnya bagaimana?” ucap Arinda tak mengerti.


“Kami pisah ranjang Nda.” terang Beeve dengan wajah sedih.


“Kok bisa?”


“Ya, karena aku enggak perawan lagi, dia kecewa, malah ingin menceraikan ku,”


“Apa?! Cerai? Apa dia juga tahu soal kehamilan mu?” tanya Arinda dengan cemas.


“Enggak, dia belum tahu, mungkin kalau dia tahu aku membawa anak, dia sudah membunuh ku,” Arinda menjadi gelisah tak menentu mengetahui masalah sahabatnya itu.


“Aduh, gawat bangat ya kalau begitu,”


“Makanya, aku bingung harus apa Nda, waktu ku hanya 1 bulan menjadi istrinya, aku sebenarnya enggak apa-apa di ceraikan, tapi keluarga ku akan malu, tentu kabar keretakan rumah tangga kami yang masih seumur jagung akan jadi buah bibir bagi orang lain, pada hal katanya dia mencintai ku sejak aku SD, tapi cintanya begitu cepat hilang saat tahu aku enggak suci,” terangnya.


“Ya, walau pun kalian bertahan sebenarnya akan ketahuan juga soal kehamilan mu ini,”


“Rencananya sih, kalau semua baik-baik saja, kabar kehamilan ku akan ku katakan bulan depan, kalau soal melahirkan, keluarga bisa atur, agar dokter mengatakan kalau bayi ku lahir prematur, kita juga sudah menyiapkan kerja sama dengan rumah sakit,” terang Beeve.


Arinda pun mencoba memahami situasi yang ada, dan mulai memberi masukan.


“Kau bilang dia sangat mencintai mu kan?”


“Hmmm, kebetulan sekali kalau begitu,” ucap Arinda seraya membuka resleting tasnya.


“Kau mau apa?” tanya Beeve.


“Ini,” Arinda memberikan 5 potong piyama gemes nan manja pada Beeve.


“Apa ini?”


“Ini piyama pemersatu bangsa,”


“Aku tahu, tapi untuk apa?”


“Kau bodoh? Ya untuk kau pakai, goda dia dengan pakaian gemes ini, ku yakin hatinya akan luluh kalau melihat belahan bukit kembar mu, dan juga paha mu yang mulus,” terang Arinda.


“Bagaimana aku bisa menggodanya, kami kan enggak tidur satu kamar,” ucap Beeve.


“Kalau begitu pakai piyama ini ke tempat yang sering ia lewati,” terang Arinda, Beeve pun teringat akan ruang kerja suaminya.


“Kalau Art ku sampai lihat bisa malu aku,” gumam Beeve.


“Untuk apa malu? Ini rumah mu, lagi pula kau nyonya, apa kau mau di cerai bulan depan?” Beeve menggelengkan kepala.


“Ya sudah, tarik perhatiannya dengan ini, ku yakin dia masih sangat mencintai mu, egonya saja yang besar, dia hanya sedang kecewa, Bee pertahankan pernikahan mu, jangan mau di buang begitu saja.”


Berkat masukan dari Arinda, kepercayaan diri Beeve mulai kembali.


“Baiklah, akan aku coba.”

__ADS_1


“Nah! Begitu dong,” seru Arinda seraya memeluk Beeve.


“Tapi Nda, apa kau sekarang menjual pakaian haram?” tanya Beeve dengan senyum meledek


“Sembarangan, aku membelinya khusus untuk mu, aku sudah merasa ada yang enggak beres dengan mu, lelaki sebesar apapun amarahnya, kalau kau bisa memuaskannya di atas ranjang, pasti luluh juga,”


“Kau ngomong apa sih?”


“Itu kata kakak ku, dia sering bertengkar dengan suaminya, kalau suaminya sudah enggak bisa di bujuk, dia akan melucuti celananya, lalu menyesap milik abang ipar ku, ya setelah itu mereka baikan lagi,” meski terkesan aneh namun Beeve mendengarkan dengan serius.


“Baiklah, nanti akan aku lakukan seperti katamu,” ucap Beeve.


“Bagus, kembalikan cinta suami mu Bee,” saat keduanya masih asyik berbicara, Winda datang mengetuk pintu kamar.


Tok tok tok!


“Masuk,” ucap Beeve, lalu Winda pun masuk ke dalam kamar dan menyajikan 2 jus jeruk segar di atas meja.


“Hei,” ucap Arinda pada Winda.


“Iya non?” jawab Winda.


“Nanti malam, selepas Isya kau harus sudah di kamar mu, jangan keluar,”


“Kau bicara apa sih?” Beeve memukul punggung Arinda, yang membuat Winda makin bingung.


“Beeve dan suaminya akan melakukan pengadukan, jadi jangan keluar kamar,” ucap Winda tanpa basa basi


“Jangan dengarkan dia mbak, silahkan mbak kerja lagi,” ucap Beeve dengan tawa canggung.


“Baik non, saya permisi,” Winda pun keluar dari dalam kamar majikannya.


“Maksud mu apa sih?” Beeve meminta kejelasan.


“ Ya...., biar kau bebas kemana saja nanti malam,” ujar Arinda dengan tertawa terbahak-bahak.


“Gila kau ya,”


“Sudahlah, pokoknya kau harus sukses, pikirkan masa depan mu, dan aku harus pergi ke kampus sekarang,” Arinda pun berdiri dari duduknya.


“Ya sudah, ayo ku antar,” ujar Beeve, ia pun mengantar sahabatnya hingga ke depan pintu utama.


Pukul 23:00, Andri yang baru saja pulang kerja merasa haus, ia pun bergegas menuju dapur sebelum ke kamarnya.


Saat ia baru tiba di dapur, ia terkejut melihat Beeve yang berdiri membelakanginya dengan mengenakan setelan piyama you can see di atas lutut, berwarna merah muda, lekuk tubuh indah Beeve jadi terpampang nyata, Beeve yang menyanggul rambutnya menambah kesan sekksi bagi siapapun yang melihat.


Beeve yang ada di hadapan Andri mengambil air minum dari dispenser, ia masih belum tahu kalau Andri telah berada di belangnya.


Gluk gluk gluk....


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Kissky_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.


__ADS_1


__ADS_2