
Namun lama kelamaan rusa-rusa itu makin ramai dan menghimpit Beeve.
Dan salah satu rusa kecil yang telah tumbuh tanduknya menusuk bokong Beeve, yang membuatnya menjerit.
“Akh!!!” rusa kecil itu begitu nakal, yang melakukan sundulan beberapa kali.
“Jangan!!” Beeve menahan kepala rusa tersebut.
Emir yang melihat calon istrinya kesakitan dan juga kewalahan pun mulai masuk dalam kerumunan rusa yang mengelilingi Beeve dengan membawa wortelnya.
“Jangan!! Pergi!” ucap Beeve berulang kali.
“Huss!! Hus!!!!” Emir memukul bokong rusa satu persatu setelah itu melempar wortel ke sembarang arah, agar para rusa meninggalkan Beeve.
“Lempar jauh edamame nya!” titah Emir, kemudian Beeve melakukannya.
Setelah berhasil Emir memegang pundak Beeve yang membelakangi dirinya.
“Bee, kau baik-baik saja?” tanya Emir dengan sedikit cemas.
“I-iya,” jawab Beeve dengan suara bergetar.
“Bee.” saat Emir melangkah ke depan Beeve, ia melihat, kalau Beeve telah menangis.
“Bee? Mana yang sakit? Apa rusanya menggigit bokong mu?” tanya Emir dengan panik.
Beeve yang malu dan juga merasakan sakit tak dapat menahan air matanya.
“Hiks...., sakit Mir!!!” ia pun menangis sejadi-jadinya, pasalnya pada bokong Beeve yang menjadi sasaran rusa tadi, sedang di tumbuhi bisul yang belum matang.
“Hiks..., sakit banget!!” Beeve kecil menangis dengan berderai air mata.
Emir yang tak dapat melihat air mata wanita pun langsung menyeka air mata Beeve.
“Sudah-sudah, apa perlu ku tiup?” tanya Emir.
“Akh!!! Jangan!!” hardik Beeve.
“Bee jangan menangis lagi ” bujuk Emir, seraya memeluk Beeve, kebetulan hari itu baru mereka pengunjung yang datang, jadi tak ada yang tahu tentang kondisi Beeve.
“Bee, sssttt.... sudah, ayo kita kembali.” Emir pun memapah Beeve berjalan menuju tenda.
“Ternyata dia manja dan cengeng, saat menangis pun wajahnya lucu dan menggemaskan, tipe ku banget,” batin Emir.
Ternyata wanita impian Emir adalah seorang yang lemah lembut dan juga manja, dan semua yang ia inginkan ada di Beeve.
Sejak saat itu, Emir telah menambatkan hatinya pada Beeve seorang, Emir juga sempat memberikan cincin berlian untuk Beeve sebelum ia berangkat keluar negeri.
Namun karena cincin itu terlalu besar Beeve tak mengenakannya, ia pun menitipkannya pada Jane.
Dan selama Emir sekolah di London, ia tak pernah kembali ke Indonesia, sebab Emir yang tidak memiliki jiwa bisnis berusaha mencari pekerjaan yang ia sukai.
__ADS_1
Hingga akhirnya ia membuat yo*tube channel, dan membuka akun insta*ram, berkat skill dan ketampanan paripurna yang ia miliki, Emir sukses menarik minat netizen untuk mensubscribe akun yo*tubenya.
Atas kepopulerannya, ia pun banyak di incar oleh rumah produksi, namun karena ia harus fokus belajar, Emir hanya mengambil iklan dan juga endorse, semua itu ia lakukan demi Beeve, agar kelak setelah selesai kuliah ia punya modal melamar dan menghidupi Beeve tanpa menyusahkan orang tuanya, dan tujuan lainnya agar orang tuanya tak dapat mengaturnya.
Namun, yang paling membuat Emir sakit, saat ia mendapat pesan dari Andri, yang menyatakan akan menikah dengan Beeve di waktu yang dekat.
Perasaanya jadi campur aduk, sampai ia juga menitikkan air mata.
Awalnya Emir ingin menetap di London, namun karena ibunya terus memohon agar ia pulang sejenak, ia pun kembali.
Melihat Beeve kembali amarah di hatinya meledak-ledak, ia pun sangat cemburu akan kemesraan Andri dan Beeve.
Ia yang ingin kembali ke London harus gagal, sebab wajah Beeve yang masih ia cintai terus menghantuinya.
Dengan berat hati, Emir berdamai dengan keadaan, asal Beeve bahagia, itu sudah cukup baginya, dan yang terpenting, ia dapat melihat wanita yang ia cintai itu kapan pun ia mau.
FLASHBACK OFF
“Bee, apa mungkin ada takdir untuk kita bersatu suatu saat nanti?” gumam Emir.
Ia yang merasa gundah pun beranjak turun karena lapar.
Ting! Sesampainya Emir ke lantai 1, ia menyempatkan diri ke kolam berenang, untuk menengok, apa Beeve masih ada disana.
Dan saat ia akan sampai ke kolam berenang ia mendengar gelak tawa dari Andri dan Beeve, yang ternyata sedang berenang bersama.
Emir mengepal tangannya karena merasa panas.
“Harusnya aku yang disana, harusnya aku yang menjadi pendamping mu,” gumam Emir.
“Hei!!! Kau sedang apa disitu!!!”
“Aku....” Emir menunjuk dirinya.
“Ayo sini!” ucap Andri.
“Mas, kenapa panggil Emir kesini sih? Baju ku kan menerawang karena basah,” ucap Beeve.
“Oh ya?” Andri tak tahu kalau baju istrinya begitu transparan kalau basah.
Namun Andri tak bisa menyuruh Emir kembali karena adiknya telah ada di hadapan mereka.
“Panas-panas begini kalian berendam?” ucap Emir.
“Bumil lagi ngidam main air.” ujar Andri yang kemudian memeluk Beeve, agar Emir tak melihat bagian bukit kembar istrinya.
“Apa kutunya susah bersih? Nanti malah beranak pinak dalam air lagi.” ucap Emir dengan menahan rasa sakit di hatinya.
“Sudah dong, tadi aku telah membasuh rambutnya dengan sampo kutu.” terang Andri seraya mengecup bibir Beevi yang begitu lucu di matanya
Tanpa Andri sadari tindakan yang ia lakukan membuat mata dan juga hati Emir sakit tiada obat.
__ADS_1
“Mas, kau ini lihat tempat lah kalau mau mencium ku, aku malu kalau kau lakukan ini di depan mas Emir,” bisik Beeve.
Namun Andri yang merasa kalau adiknya telah lumrah dengan hal itu malah mengecup bibir Beeve kembali.
“Dia sudah biasa melihat ini sayang, benar kan Mir?” ucap Andri.
“Apa?”
“Kau sudah biasa melihat orang berciuman di luar negeri kan?” ucap Andri kembali.
“Mas!” Beeve tambah canggung karena Andri langsung mengatakannya pada Emir.
Emir yang lagi-lagi terluka pun menganggukkan kepalanya.
___________________________________________
Keesokan harinya, saat Andri telah di kantor Arinda mengetuk pintu ruangannya.
Tok tok tok!!!
“Masuk!” ucap Andri.
“Selamat pagi pak.” ucap Arida dengan membawa sebuah tas kado di tangannya.
“Ada perlu apa kau kemari?” tanya Andri.
Lalu Arinda pun mendekat ke meja Andri, “Maaf pak kalau sudah mengganggu waktunya, saya hanya ingin memberikan ini.” Arinda meletakkan hadiah yang ia bawa di atas meja kerja Andri.
“Apa ini?”
“Itu hanya hadiah kecil dari saya, sebagai ucapan terimakasih atas bonus yang telah bapak berikan,” terang Arinda.
“Tidak perlu, itu memang hak mu, bawa kembali hadiah mu ini,” ucap Andri.
“Tapi pak, saya sudah membelikannya, dan ini murni hanya ucapan terimakasih saya,”
“Enggak, aku tidak menerima pemberian bawahan ku, karena harusnya akulah yang memberi pada kalian, kalau kau mau berterimakasih pada ku, bekerjalah dengan giat, hanya itu yang aku butuhkan.” karena Andri tak mau menerimanya, terpaksa Arinda mengambil hadiahnya, kemudian ia pun keluar dari ruangan Andri.
“Berlebihan sekali dia, dasar gatal,” gumam Andri.
Arinda yang telah kembali duduk di kursinya merasa patah hati atas penolakan Andri.
Ayu dan Yeni yang melihat hal tersebut langsung meledeknya.
“Jadi malu sendirikan? Kau ini, di kasih tahu malah bilang orang lain iri,” ucap Ayu.
“Betul kak, anak zaman sekarang ya begitu, di kasih masukan dan nasehat malah bilang kita enggak mampu dan kalah saing, hahaha,” timpal Yeni.
Bersambung....
Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat.
__ADS_1