
“Bisa-bisanya kau merasa sengsara memikirkan istri orang lain, ck, ajaib.” Andri menggelengkan kepalanya.
“Apa kau akan menceraikannya?” tanya Emir penasaran.
“Jangan mimpi, aku pergi untuknya, akan ku bawa dia kembali,” jawab Andri.
“Andaikan dia sudah enggak mau bersama mu, aku enggak akan sungkan-sungkan,” terang Emir.
“Kalau dia enggak mau bersama ku, berarti dengan mu juga begitu, karena neraka sesungguhnya bukan hanya pada ku.” ucap Andri, seraya meninggalkan Emir di teras.
Emir menelan salivanya, ia pun sadar Beeve pasti sulit menerima kehadiran mereka kembali.
Sore harinya, Andri yang telah berada di depan gerbang rumahnya melihat ada keanehan.
“Loh, satpam baru ya?” gumam Andri.
Lalu sang satpam pun menghentikan mobilnya, “Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?”
“Buka gerbangnya, aku mau masuk,” titah Andri.
“Sebentar pak, saya akan lapor dulu pada nyonya Arinda,” ucap sang satpam. Sontak Andri mengernyit kan dahinya.
Peraturan macam apa itu? Apa Arinda enggak pernah memberitahu pada satpam ini kalau aku adalah tuan rumah? batin Andri.
“Hei pak, buka saja gerbangnya, karena yang menggaji mu itu aku, buka Arinda, dan ini rumah istri ku!” pekik Andri.
“Tapi pak peraturan dari nyonya, siapapun yang datang harus lapor dulu," terang sang satpam.
“ Oh, Baiklah kalau begitu.” Andri mencoba bersabar dengan hal yang ia hadapi.
Setelah mendapat izin, sang satpam pun membuka gerbang untuk Andri.
Sesampainya di pintu utama, Arinda telah berdiri menyambut Andri yang baru pulang dari Mexico.
“Mas!” dengan manjanya Arinda memeluk Andri.
Lalu Andri memberikan sebuah oleh-oleh yang ada dalam tas kado pada Arinda.
“Oleh-olehnya ini saja ya mas?” tanya Arinda dengan memancungkan bibirnya.
“Maaf ya, aku enggak sempat belanja,” jawab Andri.
Lalu Andri pun masuk ke dalam rumah, ia begitu kaget, karena dekorasi rumah telah berubah 90%, bahkan photo pernikahannya dengan Beeve tak ada satu pun yang di pajang di ruang tamu lagi.
“Kemana semua photo pernikahan ku?” tanya Andri.
“Ku letakkan di gudang, kemarin Beeve memintanya untuk di buang, karena aku enggak tega, makanya kau buat di sana,” terang Arinda.
__ADS_1
“Kau enggak seharusnya meletakkan itu di gudang walau pun dia meminta untuk di buang, karena kami masih resmi jadi suami istri,” ucap Andri.
“Maaf mas kalau aku salah, nanti akan mu panjang lagi.” Arinda pun tersenyum manis pada Andri.
“Sekarang suruh Winda dan Siska memajangnya kembali,” titah Andri.
“Maaf mas, mereka sudah enggak bekerja disini lagi.” Mendengar penuturan Arinda membuat Andri merasa janggal.
“Baiklah, suruh siapa saja yang bisa,” titah Andri kembali
“Oke mas ” kemudian Arinda memerintahkan 2 orang Art barunya untuk mengambil photo pernikahan Beeve dan Andri dari gudang.
Bikin repot, batin Arinda.
Andri memperhatikan semua pekerja, yang tak ada satu pun yang ia kenali.
Ada apa sebenarnya selama aku pergi, batin Andri.
Lalu Andri yang rindu pada Beeve pun meninggalkan Arinda di ruang tamu sendirian menuju kamarnya dan Beeve.
Ceklek.. Krieett...
Seketika hatinya tambah sakit, saat melihat saksi bisu kisah cintanya dengan wanita yang ia cintai kini tinggal kenangan.
Ia yang tak ingin di ganggu oleh siapapun menutup rapat pintu kamar. Dan dalam kamar itu juga tak ada satu photo yang tersisa antara ia dan Beeve.
“Sudah ku bilang untuk bersabar, kenapa kau harus pergi, hiks...” Andri menangis hingga terduduk di lantai.
Ia yang merasa kepalanya berat karena pusing menyandarkannya ke pinggir ranjang.
Masih dalam keadaan terisak, Andri tanpa sengaja melihat tepat di depan matanya merek ranjang yang masih tertempel rapi.
“Bukannya dulu aku sudah mencopot mereknya? Enggak mungkin aku salah, karena aku ingat betul, Apa mungkin ini ranjang baru? Tapi kenapa ranjangnya di ganti? ” gumam Andri.
Ia yang merasa ada sesuatu yang tak beres, menuju ruang kerjanya.
Sesampainya ia di lantai 2, Andri masuk ke bilik Cctv yang mengontrol seluruh area rumahnya.
Ia pun mundur ke beberapa bulan yang lalu, dan betapa kagetnya Andri saat melihat aktivitas yabg terjadi selama ia tak ada.
“Beeve!!!” dengan kedua matanya, ia melihat istri tercintanya di siksa oleh Arinda, ia juga melihat tubuh Beeve yang sangat kurus. Bahkan pertengkaran Arinda dan para Art pun tak luput dari tontonan Andri.
Andri juga melihat Beeve menangis meminta Bia pada Arinda.
Kini Andri mengerti, alasan Beeve minta cerai karena istri keduanya.
Terakhir, Andri membuka rekaman cctv yang ada di kamar mereka, dulu Andri sengaja memasang cctv di tempat privasinya bersama Beeve, karena ingin menonton kenakalannya bersama sang istri saat bercinta, tentunya Arinda tak tahu hal itu, apa lagi Beeve.
__ADS_1
Tak tak tak...
Andri memutar mundur rekaman cctv di kamarnya mulai ia meninggalkan rumah, ia melihat Arinda meletakkan kamera cctv pada kamarnya dan Beeve, semakin jauh Andri menonton rekaman cctv nya membuat ia hampir pingsan. Sebab ia menyaksikan penderitaan Beeve dari kontraksi, melahirkan sampai tak di beri makan.
“Beeve!!” teriak Andri, ”Jadi kau penyebabnya Arinda?” Andri mencabut seluruh file rekaman cctv rumahnya.
Kemudian ia bergegas ke lantai satu menemui Arinda.
Ting!! Ketika pintu lift telah terbuka Arinda yang ingin naik ke lantai 2 berpapasan dengan Andri.
“Keparat!!!” Andri melayangkan tinjunya ke wajah Arinda.
“Mas! Mas! Ampun mas, apa salah ku?!” Arinda histeris karena ketakutan dan juga kesakitan.
“Kau masih tanya apa salah mu? Hah!”
Duak! Duak! Andri yang kesetanan terus memukul Arinda di sembarang tempat, ia tak perduli meski Arinda adalah seorang wanita.
Emir yang baru tiba menyaksikan Andri menganiaya Arinda dengan brutal.
Sontak Emir memisahkan Andri dari Arinda yang kini babak belur, dan bibirnya mengeluarkan darah.
“Kau gila ya! Kenapa kau menyiksa Arinda!” hardik Emir.
“Karena dia! Dia telah menyiksa istri ku! Dia hampir membunuh Beeve ku, hiks...” Andri menangis seraya meronta dari pelukan Emir, karena ia masih ingin mengajar Arinda.
Hah?! Bagaimana mas Andri tahu?! Siapa yang membocorkannya? batin Arinda.
“Sabar, enggak begini caranya, nanti malah kau yang di penjara!” pekik Emir.
“Aku enggak perduli, yang penting aku bisa membunuhnya, lepaskan aku Mir! Sedikit lagi aku akan menghabisi nyawanya!” Andri benar-benar kehilangan akal sehatnya saat itu.
“Jangan!” bentak Emir.
Arinda yang merasa semua di luar kendalinya berniat ingin kabur.
Namun Emir melepaskan Andri, sudah jelas Andri tak mengizinkan Arinda pergi, dengan kasar Andri menjambak rambut Arinda, hingga kepala istri keduanya mendongak ke langit-langit.
“Arinda Putri, ku beri kau talak satu, talak 2 dan talak 3, mulai detik ini kau bukan istri ku lagi, kita berdua telah bercerai!” ucap Andri dengan lancar.
“Mas, ampun mas, maafkan aku!” Arinda menangis ketakutan.
“Emir! Telepon polisi sekarang juga!” titah Andri.
“O-oke,” sahut Emir.
Setelah menelepon polisi, Andri dan Emir menjaga ketat Arinda agar tak pergi kemana-mana.
__ADS_1
...Bersambung......