Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 186 (Salah Sasaran)


__ADS_3

Setelah mereka selesai makan, Gurun pun bertanya pada Rahma dan Yudi.


“Jadi kapan rencana pertunangan anak-anak kita bu Rahma, pak Yudi?”


Emir sontak menoleh pada kedua orang tuanya dengan mata yang membulat.


“Tunangan?!” Emir terkejut bukan main, pasalnya ,ayah dan ibunya tak memberitahunya apapun sebelumnya.


“Iya, bukannya kau sudah tahu mengenai hal ini?” ucap Gurun.


“Tentu saja aku aku enggak tahu apapun!” Emir memberi tatapan mata tajam pada Rahma.


“Loh, ini gimana sih bu?” Fatima meminta kejelasan pada Rahma.


“Ehehehe, Kami memang belum memberitahunya, karena Emir begitu sibuk akhir-akhir ini, tapi enggak masalah, karena sekarang dia sudah tahu.” terang Rahma, Emir pun menyeka kasar bibinya dengan tisu karena kecewa.


“Benar kata tante pa, bang Emir orangnya memang sibuk.” Helena membela calon mertuanya.


“Begitukah? Jadi kapan kira-kira waktu yang pas untuk melakukan pertunangannya?” tanya Gurun kembali.


“Bagaimana kalau lusa,” celetuk Yudi.


“Apa?!” Emir menoleh pada ayahnya.


“Apa sih Mir, reaksi mu berlebihan sekali,” ucap Yudi.


“Kenapa jadi serba dadakan sih?!” Emir yabg gusar membentak Yudi.


“Enggak ada yang dadakan, kau ikuti saja alurnya,” titah Yudi.


“Pak Yudi, jangan begitu, kasihan nak Emir, mungkin dia punya orang lain yang ia suka?” Fatima pun menebak-nebak kemungkinan kondisi Emir.


“Jangan khawatir, anak ku ini masih polos, belum pernah pacaran.”


“Yang benar bang? Jadi kau belum punya mantan?” Helena begitu bersemangat saat tahu Emir masih jomblo. Emir yang pun marah tak menggubris pertanyaan Helena.


“Baiklah, lusa juga boleh, kalau menurut pak Yudi dan Rahma itu adalah waktu terbaik,” ujar Gurun.


“Oke, kalau begitu kita sudah sepakat ya pak.” kedua belah pihak keluarga pun berjabat tangan sebelum berpisah.


Di dalam mobil, Emir terus menampilkan wajah garang pada kedua orang tuanya.


“Emir, terima saja keputusan ayah dan ibu, ini demi kebaikan bersama.” ucap Yudi yang sedang mengemudi mobil.


“Lucu banget ya kalian, sesuka hati menentukan masa depan orang lain, pada hal aku enggak suka wanita itu!” pekik Emir.


“Memangnya kau punya calon lain?” tanya Rahma yang duduk tepat di belakang kursi Emir.


“Belum,” jawab Emir.


“Kalau begitu keputusan kami sudah benar.” Rahma tersenyum karena rencananya berjalan mulus.


“Jangan coba-coba menolak, apa lagi minggat dari rumah, resikonya sangat besar kalau kau sampai nekat.” Yudi memperingati Emir.


“Ck!” Emir berdecak.


“Lagi pula, kau coba buka hatimu untuk orang lain, mana tahu dengan itu, kau bisa melupakan Beeve,” terang Rahma.


“Benar kata ibu Mir, sejujurnya ayah prihatin pada mu, yang berjuang untuk orang yang telah bersuami, memangnya kalau Andri dan Beeve bercerai, kau akan senang? Terus hidup mu akan tentram kalau kau menikahi janda mas mu sendiri?” Emir terdiam dengan perkataan Yudi.


Sesampainya mereka di rumah, Emir langsung menuju kamarnya. Sedang Rahma mencari menantunya. Saat Rahma ke ruang makan, ia pun bertemu Beeve yang sedang makan di meja sendirian.


“Kalian sudah pulang?” Rahma mengelus punggung Beeve.


“Sudah bu.” sahut Beeve seraya tersenyum pada Rahma.


“Andri mana?” tanya Rahma.

__ADS_1


“Ada di kamar bu, sedang istirahat.” jawab Beeve.


“Oh, lalu Rahma mengambil gelas dari lemari piring, kemudian menuangkan air ke dalamnya.


Setelah itu, Rahma dengan hati-hati meneteskan obat cair ke dalam air minum yang baru saja ia tuang, yang fungsinya untuk merangsang wanita dan pria.


Semoga saja, semua berjalan lancar, hehehe, batin Rahma.


Setelah selesai, ia pun memberikan air minum racikannya pada Beeve.


“Nih!” Rahma meletakkannya di hadapan piring menantunya.


“Ya ampun bu, harusnya ibu enggak perlu repot mengambilkan aku air minum,” ucap Beeve.


“Enggak apa-apa nak, lagi pula ini bukan tugas berat, di habiskan ya,” pinta Rahma.


“Oke bu.” Beeve menganggukkan kepalanya. Lalu Rahma pun beranjak dari ruang makan menuju kamarnya, tanpa memastikan Beeve meminum air itu atau tidak.


Andri yang baru tiba di ruang makan pun merasa haus.


“Ini air minum mu sayang?” tanya Andri seraya meneguknya langsung.


Gluk gluk gluk!


“Iya mas.” jawab Beeve.


“Maaf aku minum, habis haus banget yang, di kamar air dispensernya habis.” Andri pun menuang kembali air minum untuk istrinya.


“Oh! Kalau begitu kita bawa minuman botol kecil saja mas ke atas, kalau angkat galon besar pasti akan bikin repot,” ujar Beeve.


“Iya, aku setuju sayang.” setelah Beeve selesai makan, mereka kembali ke kamar.


30 menit kemudian, Andri mulai merasakan efek dari obat perangsang yang ia minum. Perlahan ia mulai merasa kepanasan.


Lalu Andri menambah suhu AC dalam kamar mereka, hingga Beeve yang sedang bermain handphone gemetaran.


“Mas, kau kepanasan ya?”


“Oh, ya sudah kalau begitu.” Beeve pun masuk ke dalam selimut, karena suhu di kamar mereka sudah seperti di kutub Utara.


Saat Andri masih dalam rasa kepanasan, gairahnya pun tiba-tiba memuncak, ia terus melihat Beeve yang ada di sebelahnya penuh nafsu.


Beeve yang sebelumnya tak sadar, lama-lama melihat gelagat aneh dari Andri.


“Kau kenapa mas?” tanya Beeve penuh selidik.


“Enggak apa-apa sayang.” jawab Andri, ia berusaha keras menahan hasratnya.


Kenapa tiba-tiba aku mau berhubungan? batin Andri.


Andri yang takut khilaf merebahkan tubuhnya, ia pun memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, namun si Joni memberontak ingin berpetualang.


Andri jadi gelisah tak menentu, ia berulang kali membolak-balik tubuhnya, seperti cacing kepanasan, hingga membuat Beeve merasa terganggu.


“Kau kenapa sih mas? Aneh banget!” pekik Beeve.


“Sayang.”


“Iya?” Beeve menoleh ke arah Andri yang wajahnya nampak kacau.


“Aku...”


“Apa mas? Bicara yang benar.”


“Maafkan aku sayang, tapi bisakah malam ini, kau dan aku melakukannya?” wajah Andri sangat memprihatinkan saat meminta jatah pada Beeve.


“Enggak mau ah mas! Aku malas!” Beeve menolak mentah-mentah keinginan suaminya.

__ADS_1


“Aku juga enggak mau sayang, tapi entah kenapa, aku jadi tiba-tiba ingin, dan aku... sudah enggak tahan!” Andri terus membujuk Beeve.


“Enggak! Aku belum siap mas, jangan paksa aku!”


“Ck.” Andri yang gelisah kembali duduk, selanjutnya ia menggaruk-garuk rambutnya.


Beeve pun melihat dengan jelas, pendekar sang suami berdiri tegak bagaikan angka satu.


Kok bisa sih? Apa mungkin tadi ibu menaruh sesuatu pada air minum ku? batin Beeve.


“Sayang...”


“Enggak mau!”


“Ya ampun!” Andri yang sudah tak tahan membuka selimut Beeve.


“Mas! Aku enggak mau, jangan maksa deh!” hardik Beeve.


“Tapi kau istri ku, dan aku berhak mendapatkannya, dosa mu besar kalau tidak melayani ku.” terang Andri yang telah terdesak.


“Enggak mau! Kalau kau tetap memaksa, aku akan tidur di kamar lain!”


Andri yang tak ingin berkelahi, apa lagi pisah ranjang dengan Beeve terpaksa meminta izin pada istrinya.


“Baiklah kalau itu keputusan mu sayang, tapi izinkan aku, untuk mengeluarkannya di kamar mandi, aku juga enggak tahu ini kenapa.” ucap Andri dengan menahan rasa malu. Sebab jika ia tak izin, ia takut akan berdosa.


“Mas, kalau kau melakukannya sendirian, bukannya enggak boleh?”


“Mau bagaimana lagi, aku enggak mau mencari sarang lain untuk menuntaskannya,” terang Andri.


Sebenarnya Beeve merasa kasihan, namun ia benar-benar belum siap jika harus bersatu dengan Andri.


Karena Beeve tak memberi jawaban, Andri pun menuju toilet dengan tergesah-gesah.


Beeve menelan salivanya, ia jadi kepikiran pada Andri yang menuntaskan hajatnya sendirian.


“Pasti ibu taruh obat perangsang di minuman ku tadi, makanya mas Andri jadi begitu, ibu kurang kerjaan banget sih!” gumam Beeve.


Pukul 01:00 dini hari, Andri belum keluar juga dari kamar mandi.


“Masa belum selesai juga sih?!” gumam Beeve yang mulai gelisah, ia pun menurunkan suhu AC di kamar mereka.


Obatnya ampuh banget, sudah 5 jam, mas Andri masih bertahan di dalam, batin Beeve.


Ia pun turun dari ranjang, menuju kamar mandi. Tok tok tok! Beeve mengetuk pintu kamar mandi.


Andri yang telah menghabiskan banyak tisu di kamar mandi hampir menangis. Ia merasa sangat menyedihkan. Punya istri tapi tak dapat menggaulinya.


“Mas? Kau baik-baik saja?” ucap Beeve dari balik pintu.


“Iya! Tidurlah duluan, aku baik-baik saja,” sahut Andri.


“Baiklah kalau begitu.” Beeve pun kembali ke ranjang dengan perasaan bersalah.


“Sudahlah, lebih baik aku tidur,” gumam Beeve.


Andri yang berada dalam kamar mandi melihat bekas tisu yang ia pakai.


“Kalian semua terbuang sia-sia, kalau di taruh di tempat yang benar, papa yakin, di antara kalian semua pasti yang jadi presiden, menteri atau pengusaha, Tapi mama mu belum siap menjaga kalian, mohon maafkan kami, anak-anak.” Andri yang hampir gila malah meracau sendiri.


Pagi harinya, Beeve yang baru bangun dari tidurnya melihat ke sebelahnya.


“Loh, mas Andri belum selesai juga?” Beeve yang khawatir pun menuju kamar mandi.


“Mas? Mas Andri? Kau masih di dalam? Jawab mas,l.” Beeve terus memutar handle pintu yang masih terkunci rapat.


“Ya Tuhan! Ibu kasih dosis berapa sih! Sampai-sampai mas Andri masih dalam pengaruh obatnya!” Beeve menjadi gelisah, ia sangat kasihan pada kondisi Andri yang ternyata telah terkulai lemas di atas bathtub tak sadarkan diri.

__ADS_1


Zzzz... Andri yang telah berusaha keras, baru bisa terlelap pada pukul 05:15 pagi tadi.


...Bersambung......


__ADS_2