
Helena begitu agresif dan bersemangat, membuat seorang Emir jadi kewalahan.
“Tu-tu-tunggu dulu! Aku belum siap! Helena!” Emir terus menepis tangan istrinya yang sibuk membuka kancing bajunya satu persatu.
“Akh! Harus berapa lama lagi aku menunggu? Ku lihat, kalau enggak di arahkan, abang enggak ada inisiatif!” ucap Helena yang duduk di atas dada berotot bak roti sobek Emir.
“Beri aku waktu, sebentar saja!” pekik Emir Helalena yang berada tepat di hadapannya membuat Emir tak sanggup membuka mata.
“Jangan lebay deh bang! Apa lagi sok polos, lagak mu seperti belum pernah menikmati surga dunia saja!” Helena yang mengira Emir sama seperti pria lainnya berpikir kalau suaminya sedang berlagak lugu.
“Memang aku belum pernah melakukannya!” terang Emir.
“Apa? Serius bang? Jangan bercanda pada ku!” Helena tak percaya sedikit pun dengan pengakuan suaminya.
“Aku sungguh-sungguh Helena, aku belum pernah melakukannya sama sekali, ya... tapi kalau sampai gunung kembar sih pernah...” ucap Emir dengan ragu.
“Hah! Serius bang? Berapa kali?”
“Cuma sekali, itu juga sekilas!”
“Masa sih?! Laki-laki dengan latar belakang sekolah di luar negeri tanpa pengawasan orang tua, sering dugem, masuk diskotik, enggak pernah begituan??” Helena yang tak percaya terus mengajukan pertanyaan yang sama.
“Helena Paramita Rus...”
“Enggak pake Rusadi bang....” Helena memotong perkataan suaminya.
“Oke Helena, yang sejujurnya aku katakan, aku masih perjaka utuh, kau enggak boleh menilai ku hanya karena pergaulan ku bebas, pacaran pun aku hanya sekali seumur hidup, itu juga... cinta bertepuk sebelah tangan, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh tentang ku.” penjelasan Emir membuat Helena bungkam, ia pun menundukkan kepalanya.
Ternyata dia memang pria baik-baik, beda dengan ku, dia memberikan keperjakaannya pada ku, untuk yang pertama kalinya, sedangkan aku adalah bekas pria lain, sialan banget kalau aku enggak pengertian padanya, sedangkan bang Emir sendiri, mau menerima kondisi ku yang tak utuh padanya, batin Helena.
Dengan berlapang dada Helena turun dari atas ranjang.
“Kau mau kemana?” tanya Emir penasaran, karena mimik wajah Helena tiba-tiba jadi murung.
“Aku... ingin ke kamar mandi, kau tidur saja bang, maaf kalau aku enggak mengerti pada mu.” Helena memungut kembali paksiannya yang tercecer di lantai.
Emir yang ingin mencegah kepergian Helena lagi-lagi tak mampu untuk mengatakan satu kata pun.
Astaga, apa yang ku lakukan, pada hal memberi haknya adalah kewajiban ku. batin Emir, ia pun merasa bersalah terhadap istrinya.
5 menit kemudian, Helena kembali dengan berpakaian lengkap, Emir menatap lekat wajah istrinya yang nampak lesu.
Baru beberapa jam jadi istri ku, aku sudah membuat ia sedih, batin Emir.
Semoga bang Emir memaklumi sikap ku yang tadi, akh... memalukan! Tanpa sadar aku menunjukkan sikap nakal ku, batin Helena.
__ADS_1
Perlahan, Helena naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sebelah Emir yang sedang duduk.
“Kenapa belum tidur bang?” tanya Helena berbasa-basi untuk mencairkan suasana.
“Aku enggak ngantuk,” jawab Emir.
“Bukannya tadi kau mau tidur ya bang?”
“Sekarang enggak lagi,” ucap Emir.
“Oh.. kalau begitu, aku tidur duluan bang.” Helena pun memiringkan tubuhnya, ia tidur dengan membelakangi suaminya.
1 jam kemudian, Helena dan Emir masih belum dapat terlelap. Lalu Emir yang kasihan pada sang istri merebahkan tubuhnya dan menyentuh pundak bidang Helena.
“Dek, apa kau sudah tidur?”
Deg! Jantung Helena bergenderang heboh saat sang suami memanggilnya dengan sebutan dek.
Ini orang jarang bicara manis, sekalinya bertingkah, sanggup membuat ku melayang tinggi sampe ke Pluto, batin Helena.
“Dek... kalau belum tidur jawablah.” sekujur tubuh Helena jadi dingin, lalu dengan perlahan ia memutar tubuhnya mengarah ke suaminya.
“Ade belum tidur bang.” ucap Helena dengan suara yang lembut.
“Oh... ku pikir sudah.” ujar Emir dengan menatap lekat wajah Helena.
“Apa kau marah pada ku?”
“Marah? kok aku jadi marah bang?”
“Ya, karena aku bersikap tak adil pada mu, pada hal ini adalah malam yang penting,” terang Emir.
“Enggak kok bang, justru aku yang keterlaluan, pada hal kau sudah sangat baik menerima ku yang penuh kekurangan ini, tapi aku malah enggak sabar menungggu kesiapan mu, maafkan aku bang.” ucap Helena.
“Helen, kenapa kau berkata begitu?”
“Itu memang kenyataan bang, maafkan aku yang tak dapat memberi kehormatan ku pada mu, untuk pertama kalinya, dan aku sungguh beruntung mendapatkan mu yang bisa menjaga diri untuk istri mu.” terang Helena.
“Helena, jadi kau berhenti karena tahu aku perjaka?” Helena pun mengangguk.
“Iya bang, maafkan aku atas...”
“Sstt... jangan katakan hal yang sama pada ku berulang kali, aku enggak pernah mempermasalahkan masa lalu mu, jadi jangan minder hanya karena itu pada ku.” terang Emir, lalu ia pun memberanikan diri untuk memeluk tubuh istrinya.
“Hiks... terimaksih bang, karena sudah baik pada ku.” Helena menangis haru, atas keikhlasan suaminya, karena tak semua laki-laki dapat berlapang dada atas kekurangan seorang wanita.
__ADS_1
“Sudah, jangan menangis lagi, ini bukan dirimu yang biasanya, akh!! Aku enggak suka,” terang Emir seraya menepuk-nepuk kecil punggung Helena.
“Iya bang, tapi...” Helena melirik wajah suaminya.
“Kenapa dek?”
“Kita main sekarang apa besok?” tanya Helena yang masih penasaran pada suaminya.
“Baiklah, kita lakukan sekarang, kalau itu mau mu,” jawab Emir penuh keraguan.
Kira-kira dia puas enggak yah dengan permainan ku nanti, batin Emir penuh khawatir.
Helena yang telah kembali ke tabiat awalnya, mengecup Emir terlebih dahulu.
“Aku yang di atas atau kau bang?” Helena menggoda suaminya.
“Aku saja.” akhirnya, setelah penuh drama, Helena dan Emir pun melakukan penyatuan pertama mereka.
Emir yang baru pertama kali merasakan indahnya surga dunia, berulang kali menyemburkan larva dan mendesah kuat. Tanpa mereka sadari, suara gaib mereka membuat tetangga kamar sebelah merasa keberatan.
“Gila banget mereka berdua! Enggak tahu ini di rumah apa!” pekik Andri, yang ternyata menginap malam itu di rumah orang tuanya. Emir dan Helena yang berpikir kalau hanya mereka yang ada di lantai 2, malah dengan leluasa melolong indah.
“Sudahlah mas, namanya juga pengantin baru,” ucap Beeve.
“Tapi enggak teriak-teriak juga kali, malu banget dengarnya! Kalau mereka di lantai 1 semua orang sudah dengar kali.” Andri yang risih terus saja mengeluh.
“Ya Tuhan mas, sepertinya kita juga enggak beda jauh dengan mereka, hahaha...” Beeve tertawa melihat suaminya yang marah-marah.
“Apa kau sudah baikan sayang?” tanya Andri yang teringat akan sakit istrinya.
“Sudah kok mas.” jawab Beeve.
“Maaf ya, karena hari ini sangat sibuk, enggak bisa mengantar mu ke rumah sakit sayang.” Andri memeluk tubuh Beeve yang tidur di sebelahnya.
“Iya mas enggak apa-apa kok, lagi pula aku sudah sehat sekarang.” terang Beeve, lalu membalas pelukan suaminya.
Saat keduanya ingin tidur, lagi-lagi mereka di kejutkan dengan suara lolongan dua insan yang sedang menikmati malam pertama mereka.
“Akh! Dasar kurang ajar!” Emir melepas pelukannya dari istrinya.
“Mas? Mau apa?” Beeve yang berpikir suaminya akan melabrak pasnagan pengantin baru itu di kamarnya, merasa panik.
“Ayo turun!” Andri menarik tangan istrinya.
“Ke lantai 1 ya?”
__ADS_1
“Iya, aku enggak mau tidur disini, bikin kesal!” Beeve dan Andri akhirnya beranjak ke lantai satu, menuju kamar tamu.
...Bersambung......