Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 233 (Kembar)


__ADS_3

Andri mau pun Beeve tak dapat menahan air mata bahagia mereka masing-masing. Lalu keduanya saling berpegangan tangan.


“Alhamdulillah, selamat untuk mu istri ku,” Andri mengecup tangan Beeve .


“Selamat juga untuk mu mas, karena sebentar lagi akan menjadi ayah.” Beeve mengecup tangan suaminya. kemudian pasangan suami istri itu tertawa bahagia.


“Perbanyak istirahat ya bu, bapak juga harus lebih perhatikan pada ibu, hamil 1 anak saja lelahnya minta ampun, apa lagi 3 pak, sering luangkan waktu di rumah bersama istri, oh iya, apa ada keluhan bu?” tanya sang dokter.


“Ada dok, pusing, mula, dan juga demam, tolong beri saya obatnya ya dok,” pinta Beeve.


“Dan satu lagi dok, tolong berikan istri saya vitamin penambah nafsu makan, kasihan kalau 3 bayi tidak dapat nutrisi yang memadai.” timpal Andri melengkapi kebutuhan istrinya.


“Baik pak, saya akan terakan di resep ya.” kemudian sang dokter pun menuliskan apa saja yang harus di konsumsi Beeve. Setelah selesai, Beeve dan Andri pun keluar dari ruang USG dengan di bantu oleh 0ara suster untuk menuju ruang rawat kembali.


Sesampainya ke ruang rawat, Andri yang tak sabar segera memberitahukan kabar bahagia itu pada ibunya.


“Mas kau mau apa?” tanya Beeve.


“Mau kasih tahu ibu dan seluruh keluarga!” jawab Andri dengan antusias. Lalu Andri pun mendial nomor Rahma.


📲 “Halo Ndri,” Rahma.


📲 “Halo bu!” Andri.


Rahma segera menjauhkan handphonennya dari telinganya, sebab suara putranya begitu melengking.


📲 “Pelan-pelan Ndri, lagi pula untuk apa menelepon, kitakan sama-sama di rumah,” Rahma.


📲 “Aku sekarang di rumah sakit bersama Beeve bu,” Andri.


📲 “Loh, sejak kapan kalian kesana? Kenapa engga bangunkan ibu dan ayah? Apa Beeve baik-baik saja?” Rahma.


📲 “Tadi pas aku bangun, panasnya sangat tinggi, makanya aku langsung bawa ke rumah sakit tanpa memberitahu siapapun,” Andri.


📲 “Baiklah, nanti kami kesana sebelum berangkat kerja,” Rahma.


📲 “Baik bu,” Andri.


📲 “Tapi, bayinya Beeve baik-baik sajakan?” Rahma.


📲 “Nah! itu yang ingin ku beritahukan pada ibu,” Andri.


📲 “Apa Ndri? Jangan buat panik deh!” Rahma.


📲 “Beeve bu...” Andri.


📲 “Apa? Dia kenapa?” Rahma.


📲 “Beeve ku mengandung anak kembar 3 bu!!!” Andri.


📲 “Apa?!!” Rahma.


📲 “Iya bu! Aku senang banget bu!” Andri.

__ADS_1


📲 “Alhamdulillah!!! Ibu dan ayah akan segera kesana!!” Rahma.


Ibu dan anak itu pun berteriak di tempat mereka masing-masing yang menimbulkan kegaduhan.


“Mohon jangan membuat keributan ya pak.” sang suster menegur sikap Andri yang begitu mengganggu.


“Maaf sus.” ucap Andri seraya menundukkan kepalanya.


_______________________________________


“Ada apa sih bu? Pagi-pagi sudah heboh?” tanya Yudi.


“Beeve yah.”


“Ada apa lagi dengannya?”


“Dia mengandung 3 anak kembar! 3 loh yah!” Rahma begitu bersemangat mengatakan pada suaminya.


“Hah?! Yang benar bu?!” mata Yudi membelalak tak percaya.


“Benar dong yah, ayo yah kita bergegas mandi, lalu ke rumah sakit, ibu enggak sabar mau ketemu Beeve.”


“Ayo bu!” kedua mertua Beeve pun segera bersiap, menyusul mereka ke rumah sakit.


______________________________________


“Mas, kau mau apa lagi? Suster kan sudah menegur mu, jangan menelepon lagi mas.” ucap Beeve, yang khawatir mereka dapat teguran lagi.


“Aku kan perlu memberitahu Julian sayang, nanti dia marah lagi pada ku,” terang Andri.


“Iya sayang,” sahut Andri. Kemudian Andri pun mendial nomor iparnya.


📲 “Halo Jul!” Andri.


Ya ampun, mas Andri, baru juga di kasih tahu jangan teriak, batin Beeve.


📲 “Halo? Ada apa aku menelepon pagi-pagi?” Julian.


📲 “Aku hanya ingin memberitahu, kalau Beeve istri ku, mengandung 3canak kembar, hahahaha!!!” Andri.


📲“Subhanallah, alhamdulillah ya Allah, sekarang kalian dimana?!” Julian.


📲 “Di rumah sakit Medika Rose, cepatlah kemari,” Andri.


📲 “Baik, aku akan segera kesana,” Julian.


setelah sambungan telepon terputus, Julian sujud syukur pada sang pencipta.


“Terimakasih ya Allah, engkau karuniakan keturunan yang banyak pada adik ku Beeve, semoga anak-anak yang ia kandung sehat wal'afiat, menjadi anak yang sholeh dan sholeha, menyayangi kedua orang tuanya, taat beragama.” setelah selesai berdo'a pada Ilahi, ia pun bangkit.


“Keponakan-keponakan ku, tunggu om ya nak, kalau sudah lahir, aku akan minta satu untuk tinggal di rumah ini, hahaha...” Julian pun segera bergegas mandi, agar cepat-cepat menuju rumah sakit, menemui adik tercinta.


________________________________________

__ADS_1


30 menit kemudian, Rahma dan Yudi telah tiba di rumah sakit, mereka pun segera bergegas menuju ruang rawat menantunya.


Ceklek!!! Setelah pintu terbuka, Rahma dan Yudi melihat menantunya terbaring lemah di atas ranjang, dengan tangan di tusuk jarum infus. Rahma masuk dengan perasaan iba bercampur bahagia.


“Beeve!! Kau baik-baik saja nak?” Rahma memeluk tubuh menantunya.


“Aku baik bu.” ucap Beeve dengan suara yang redup.


“Ya Allah menantu ku, pasti berat untuk mu, tapi sabar ya nak... ini ujian terindah dari Ilahi.” Rahma mencium wajah Beeve berulang kali, karena merasa bahagia telah mengandung cucunya.


“Iya bu.”


“Sesakit apapun jangan mengeluh ya nak.” Rahma mengelus puncak kepala menantunya yang basah karena keringat.


“Tentu saja bu, terimaksih atas masukannya,” ucap Beeve.


“Andri, tambahkan suhu AC nya, kasihan Beeve keringatan begitu,” ujar Yudi.


“Siap yah!” Andri pun dengan sigap menjalankan perintah ayahnya.


“Andri, kau harus lebih perhatian pada Beeve ya nak, kalau bisa kalian tinggal di rumah saja, kasihan menantu ku kalau tinggal sendirian di rumah kalian, nanti enggak ada yang merawat lagi.”


“Betul kata ibu Ndri, kalian tinggal di rumah saja, selama Beeve hamil, kalau sudah melahirkan terserah, nanti ayah akan kirimkan suster untuk merawat anak-anak mu,” terang Yudi.


“Iya yah, aku diskusikan dulu pada Beeve bagaimana baiknya,” ucap Andri.


“Jangan sampai kalian tolak ya!” pekik Rahma yang ingin memberi segala hal terbaik untuk anak dan calon cucu-cucunya.


Saat mereka masih asyik mengobrol, tiba-tiba Julian masuk ke dalam ruangan.


“Beeve! Adik ku!” ia pun berjalan cepat menuju Beeve yang ada di ranjang, lalu memberi pelukan pada sang adik.


“Apa kabar bang??”


“Baik Bee, mana yang sakit Bee? Katakan pada abang?” Julian memijat-mijat kepala adiknya.


“Aku baik-baik saja bang.” Beeve yang tak ingin membuat Julian khawatir menyembunyikan sakitnya.


“Baik bagaimana sih? Kau sampai di infus begini, ya Allah Bee, katakan pada ku mana yang sakit dek, biar abang obati.” Julian benar-benar tak tega melihat kondisi adik semata wayangnya.


“Abang... sakit ku ini wajar kok, namanya juga efek hamil,” ujar Beeve.


“Benarkah? Ya sudah kalau begitu, tapi kalau kau ada apa-apa, ngidam atau yang lainnya, katakan pada abang ya Bee!”


“Hei-hei! Aku masih ada disini untuk memenuhinya sialan!.” ucap Andri yang berdiri di belakang Julian.


“Aku juga berhak untuk memenuhi kebutuhan adik ku, oh ya Bee, jenis kelaminnya apa?” tanya Julian penasaran.


“Kalau 6 minggu belum kelihatan bang, nanti di usia 4 atau 5 bulan,” ujar Beeve.


“Baiklah, katakan pada ku kalau sudah tahu pasti ya Bee.” baik dari keluarga Beeve dan Andri menyambut baik atas bertambahnya anggota keluarga baru mereka, semua merasa bersyukur dan juga makin menyayangi Beeve yang kini tengah mengandung.


___________________________________________

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2