Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Jangan Salahkan Takdir_16


__ADS_3

Pukul 9 pagi Aldo kembali lagi ke , ia berniat untuk menjemput Kaysila, atas permintaan Neneknya.


Mobil Aldo sudah terparkir di halaman depan rumah, tanpa merasa curiga, Aldo langsung masuk ke dalam.


Sosok pertama yang Aldo cari adalah Kaysila, tanpa pikir panjang lagi, Aldo segera menuju ke kamar Kaysila.


Namun setibanya di kamar, Aldo sama sekali tidak melihat sosok wanita yang ia cari.


Ia pun berinisiatif untuk mencarinya di kamar mandi, tapi hasilnya sama.


Setelah itu, Aldo bergegas keluar dan turun ke bawah, setibanya di bawah Aldo berpapasan dengan ibunya yang terburu-buru hendak pergi.


"Aldo, kamu sudah pulang?" tanya Maya. Ia merasa terkejut melihat putranya sudah berada di rumah.


"Mama, mama lihat Sila nggak?" pekik Aldo, lalu balik bertanya.


Maya terdiam mendengar pertanyaan putranya itu, ia pun merasa sedikit gugup.


Namun dengan segera Maya menormalkan keadaan, ia tidak peduli lagi jika pun nanti Aldo tau perihal dirinya yang sudah mengusir Kaysila.


"Mana mama tau, kamu pikir mama siapanya, harus tau tentang perempuan itu," ketus Maya, yang membuat Aldo mengernyitkan dahinya.


Aldo terdiam sejenak, ia mencoba menahan amarahnya, Aldo takut jika nanti kelepasan.


Karena Aldo termasuk orang yang mudah terpancing emosinya.


"Tadi pagi Aldo sudah nganterin Sila pulang ma, masa mama nggak lihat Sila kemana," terang Aldo, dengan menahan emosinya.


"Mama sudah mengusirnya ... untuk apa sih kamu nyariin dia, penting banget emang," cetus Maya, dengan tatapan yang tajam.


Aldo terlonjak kaget mendengar ucapan dari ibunya itu, ia tidak menyangka kalau ibunya tega mengusir Sila dari rumah.


Seketika mata Aldo memerah menahan amarahnya, sorot matanya menunjukkan rasa benci.


"Salah Sila apa ma, kenapa mama tega mengusirnya, kalau Nenek tau, pasti Nenek akan marah," ujar Aldo. Susah payah Aldo menahan amarahnya.


"Mama tidak peduli! Yang jelas sekarang pengganggu itu sudah pergi, dan mama bisa menjauhkan Rafael dari perempuan tidak tau diri itu!" Bentak Maya dengan emosi yang meluap-luap.


Aldo sangat terkejut mendengar bentakan dari ibunya itu.


Bukan hanya egois, tetapi Maya sebagai ibu sangat kejam dan juga tega.


Maya tidak pernah memikirkan perasaan kedua putranya, ia hanya mementingkan kepentingannya sendiri.


"Mama memang egois ya, mama dari dulu selalu mementingkan kepentingan mama sendiri, tanpa memikirkan perasaan anak-anaknya," pungkas Aldo. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ibunya tega melakukan itu.


Bagaimana kalau nanti Rafael tau, pasti dia akan kecewa.


Namun Aldo takut jika nanti ibunya dan Aurel bersekongkol untuk mengarang cerita, supaya Rafael membenci Sila.


Aldo tidak akan tinggal diam, ia akan berusaha untuk mencari keberadaan Sila.


"Kamu berani ngomong seperti itu sama mama, kamu tau, semua yang mama lakukan ini demi Rafael Kakakmu, demi kebaikannya," seru Maya dengan menekan setiap ucapannya.


"Mungkin buat mama iya, tapi buat kak Rafael tidak.

__ADS_1


Pantas saja mama sama papa sering bertengkar, karena kalian sama-sama egois," tegas Aldo. Kali ini ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


Tanpa pikir panjang, Aldo beranjak pergi, tanpa menghiraukan setiap ucapan dari ibunya itu.


Kesal dan marah yang kini Aldo rasakan, meski status Aldo hanya sebagai adik ipar, tapi Aldo sudah menganggapnya seperti Kakaknya sendiri.


"Jaga ucapan kamu Aldo! Kamu berani bicara seperti itu sama mama ... Aldo! Kamu mau kemana! Mama belum selesai bicara, Aldo!" Teriak Maya, tapi Aldo sama sekali tidak menghiraukannya.


Maya semakin geram, ia benar-benar tidak menyangka jika putranya sekarang sudah berani bicara kasar seperti itu.


Kalau bukan putranya sendiri, pasti Maya tidak segan-segan ungu menghabisinya.


***


Di lain sisi, Sila masih berjalan menyusuri jalan raya, matanya merah lantaran terlalu sering menangis.


Hampir setengah hari Sila berjalan, dan kini rasa capek, dan pegal telah menyerang tubuhnya, ingin rasanya Sila menghempaskan tubuhnya untuk merilekskan otot-ototnya.


Bukan hanya capek badan, hatinya juga capek mengahadapi masalah demi masalah yang menimpanya.


Kebahagiaan yang belum sempurna itu, harus lenyap begitu saja.


Satu-satunya harapan Sila adalah, anak yang masih ada dalam kandungannya.


Karena bagi Sila sangat tidak mungkin untuk kembali lagi bersama Rafael, mengingat sikap ibu mertuanya yang sangat tidak suka dengannya.


Sila takut jika nanti Rafael akan membencinya, tapi apa daya, Sila tidak bisa berbuat apa-apa selain mengalah dan menerima semua kenyataan itu.


Bagi Sila, Tuhan tidak adil, di saat suaminya terbaring lemah, ia justru tidak bisa berada di sampingnya.


Seharusnya sebagai istri, Sila harus berada di samping suaminya dalam keadaan apapun.


Langkah kaki Sila sudah gontai, ia pun bingung kemana arah serta tujuannya.


Tidak mungkin Sila pulang ke rumah orang tuanya, sedangkan ia tau jika kedua orang tuanya telah kembali lagi ke luar negeri, setelah seminggu Sila dan Rafael menikah.


"Aku harus pergi kemana, aku nggak mungkin pulang ke rumah mama ... atau aku .... " ucapnya, dengan bergegas Sila melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang paling tepat untuk saat ini.


Sila tidak pernah menyalahkan takdir, jika memang semua masalah yang menimpanya adalah jalan takdir hidupnya, ia rela.


Namun jika harus berpisah dengan suaminya, mungkin Sila tidak akan pernah rela.


***


Aldo sudah menyusuri jalan raya hampir setengah hari, tapi tidak ada hasilnya. Aldo sudah lelah menyisir jalanan ibukota yang akan padat kendaraan.


Neneknya yang sedari tadi menelfon pun terpaksa Aldo abaikan, dan sekarang Aldo bingung sendiri, apa yang akan ia katakan pada Neneknya nanti.


Hari mulai senja, matahari pun sudah kembali ke peraduannya.


Aldo yang sudah merasa lelah memutuskan untuk kembali ke RS.


Aldo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sangat capek, hampir setengah hari Aldo mengelilingi kota Jakarta.


Pukul 7 malam, Aldo baru tiba di RS, ia telah memarkirkan mobilnya di parkiran RS.

__ADS_1


Aldo bergegas keluar dari mobil, dan segera melangkah masuk ke dalam.Langkah Aldo menuju ke ruang rawat Rafael.


Kini Aldo sudah tiba di depan ruang rawat Kakaknya.


Dengan hati yang tidak karuan, Aldo membuka pintu ruangan tersebut, perlahan kaki Aldo melangkah masuk.


Sukma yang menyadari itu, bergegas bangkit dari duduknya, dan langsung menghampiri sang cucu.


"Aldo, kamu dari mana saja jam segini baru ke sini, lalu Sila mana, kok nggak sama kamu?"  pertanyaan yang Sukma berikan membuat Aldo semakin bingung, harus mulai dari mana menjawabnya.


Aldo terdiam cukup lama, ia benar-benar bingung bagaimana cara menjelaskannya.


Sementara saat Aldo melihat Kakaknya yang masih terbaring lemah, rasa bersalah muncul pada diri Aldo. Ia merasa jika dirinya tidak bisa menjaga kakak iparnya.


"Aldo minta maaf Nek," ucap Aldo. Ia masih mencari cara bagaimana cara yang tepat untuk menjelaskan semua itu pada Neneknya.


Sukma menghela nafas, kemudian ia mengajak cucunya untuk duduk di sofa yang terdapat di ruangan tersebut.


Keduanya pun duduk bersebelahan, sekilas Aldo menoleh ke arah Kakaknya.


"Sekarang kamu cerita sama Nenek,


kenapa baru ke sini," ujar Sukma dengan menepuk-nepuk punggung tangan Aldo dengan pelan.


"Mama tadi ke sini enggak Nek?" bukannya menjawab, justru Aldo balik bertanya pada Neneknya.


"Tadi siang ke sini, tapi cuma sebentar," jawab Sukma.


"Mama sudah mengusir Sila Nek ... tadi pagi waktu Aldo kembali ke rumah, Sila sudah tidak ada," penjelasan Aldo membuat Sukma terlonjak kaget.


Sukma sempat tidak percaya dengan apa yang cucunya katakan itu.


Namun mengingat sikap Maya terhadap Sila selama ini, sangat mungkin jika Maya mengusirnya.


Maya memang sosok ibu yang egois, dan hanya mementingkan kepentingannya sendiri.


"Kamu sudah mencarinya?" tanya Sukma. Ingin rasanya Sukma marah, tapi sebagai orang tua, ia harus bisa mengontrol emosinya.


"Sudah Nek, tapi Aldo belum bisa menemukan keberadaan Sila, Aldo jadi merasa bersalah sama Nenek dan kak Rafael," jelas Aldo. Ia benar-benar sangat merasa bersalah.


"Ya sudah, kita berdo'a saja semoga Sila cepat ditemukan," ujar Sukma. Wanita tua itu mencoba menenangkan keadaan.


Aldo hanya menganggukkan kepalanya, perlahan ia pun bangkit dari duduknya.


Aldo berjalan menghampiri Rafael, ia menatap wajah Kakaknya yang nampak pucat. Lalu Aldo menarik kursi dan duduk.


Perlahan Aldo menggenggam tangan Kakaknya.


"Aldo minta maaf ya Kak, Aldo belum bisa jaga Sila," ujar Aldo. Wajahnya sangat sendu, terlebih melihat kondisi Kakaknya yang sama sekali belum ada perubahannya.


Sukma pun bangkit dan mendekati cucunya, ia mengelus punggung Aldo dengan lembut.


Sukma merasa sedih, dengan masalah yang menimpa cucu-cucunya itu. Sejak kedua orang tua Aldo dan Rafael sering bertengkar, hanya Sukma yang selalu memberikan kasih sayang pada mereka berdua.


Lagi-lagi ekor mata Rafael berembun, dan meneteskan cairan bening, tapi hal itu sama sekali tidak disadari oleh Sukma dan Aldo.

__ADS_1


Namun saat jari tangan Rafael bergerak, Aldo dapat merasakannya, ia pun melepas genggaman tangannya, tapi sayang, saat Aldo ingin memastikan, ia sama sekali tidak melihat jari tangan Kakaknya bergerak.


Hal itu membuat Aldo merasa sedikit kecewa, apakah tadi dia hanya berhalusinasi.


__ADS_2