Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 135 (Takdir)


__ADS_3

Andri benar-benar merasa bersalah untuk hal gegabah yang ia lakukan.


“Tolong jangan buat pasien merasa tertekan, berikan hal-hal positif, agar kondisi psikisnya membaik, kalau tidak pasien bisa mengidap penyakit mental, ayo pak bu, kita tinggalkan pasien untuk istirahat,” terang sang dokter.


Andri dan kedua orang tuanya pun keluar dari dalam ruangan Arinda. Kemudian mereka duduk di kursi tunggu, dengan perasaan pedih dan sedih yang sama.


Saat Andri menyandarkan kepalanya ke dinding ruang rawat Arinda, tiba-tiba handphonenya bergetar.


Drrrrrt.... ketika Andri memeriksanya, ternyata itu panggilan dari Beeve.


📲 “Halo sayang?” Andri.


📲 “Halo mas, bagaimana dengan keadaan Arinda mas? Dia dan anaknya baik-baik sajakan?” Beeve.


Bukan jawaban yang Beeve dapat, melahirkan suara isak tangis Andri, dari situ Beeve mengerti apa yang telah terjadi.


📲 “Mas, yang sabar ya, aku akan kesana,” Beeve.


📲 “Jangan datang kesini, kau di rumah saja,” Andri.


📲 “Oh, begitu ya mas, baiklah, aku akan menunggu kalian di rumah,” Beeve.


Setelah sambungan telepon terputus, perasaan Beeve mulai tak enak.


“Kasihan Arinda, semoga ia tabah dan kuat, apa mas Andri akan berubah pikiran dengan perceraian mereka? Hufff... kalau sampai Arinda dan mas Andri rujuk kembali, karena peristiwa ini, bagaimana dengan nasib ku?” gumam Beeve.


Ia yang merasa khawatir tiba-tiba mendapat telepon dari Emir. Sebenarnya Beeve malas untuk mengangkatnya, tapi karena ia tak punya teman bercerita, akhirnya ia menerima panggilan video call tersebut.


📲 “Halo mas,” Beeve.


📲 “Halo Bee,” Emir.


Jaringan yang jernih membuat Emir melihat bekas luka lebam di wajah dan sudut bibir Beeve.


📲 “Ada masalah apa lagi sekarang?” Emir.


📲 “Maksudnya mas?” Beeve.


📲 “Kau dan Andri baik-baik sajakan? Kalian enggak jadi ceraikan?” Emir.


📲 “I-iya mas, semua baik-baik saja kok,” Beeve.


📲 “Bohong, siapa yang telah membuat wajah dan bibir mu terluka?” Emir.


Beeve terdiam sejenak, ia tak tahu harus mulai cerita dari mana.


📲 “Bee, cerita pada ku, aku mohon, apa ibu ku yang melakukannya? Atau malah Andri?” Emir.


📲 “Engak mas, ini semua karena kedua orang tua Arinda, mereka menyalahkan ku, karena mas Andri ingin menceraikan Arinda,” Beeve.

__ADS_1


📲 “Apa! Beraninya mereka melukai mu! Bagaimana dengan Andir? Apa si bodoh itu diam saja?!” Emir.


📲 “Mas Andri sangat membelaku mas, karena itu dia langsung memberi talak 1 Arinda,” Beeve.


📲 “Baguslah kalau begitu, tapi kenapa engga sampai 3?” Emir.


📲 “Karena tiba-tiba Arinda syok, dan... dia mengalami pendarahan, malangnya ia bahkan keguguran,” Beeve.


Emir dapat melihat raut wajah khawatir Beeve.


📲 “Ya Tuhan, sekarang bagaimana keadaannya?” Emir.


📲 “Aku belum tahu persis, karena aku enggak di kasih izin buat menjenguk, hiks..” Beeve.


📲 “Kenapa kau menangis? Kau enggak salah, jangan buang air mata mu pada orang yang telah menyakiti mu,” Emir.


📲 “Bukan karena itu mas, aku takut setelah ini, hati mas Andri akan melemah lagi, bisa jadi dia dan Arinda akan rujuk, lalu bagaimana dengan nasib ku mas? Aku lelah kalau setiap hari bersaing dengan Arinda, percuma kesabaran ku selama ini, hiks..., aku benar-benar cape mas,” Beeve.


Emir sangat prihatin dengan keadaan Beeve, ia sangat ingin berada di samping Beeve walau hanya tempat bersandar sementara.


📲 “Sst..., jangan menangis lagi Bee, tenang saja, semua akan baik-baik saja, ingat anak mu, dia sangat membutuhkan perasaan bahagia darimu,” Emir.


📲 “Aku enggak tahu mas, posisi ku benar-benar enggak aman dan nyaman, enggak ada yang menyukai ku mas selain mas Andri, kalau dia mengabaikan ku, tidak akan ada lagi yang menganggap ku,” Beeve.


📲 “Siapa bilang hanya Andri? Akan selalu ada aku, bagaimana pun ceritanya, apapun masalahnya, kau yang paling benar di mata ku,” Emir.


Beeve tahu arti dari perkataan Emir, namun ia tak ingin membahasnya.


📲 “Aku akan segera pulang, setelah pekerjaan ku selesai, tolong jaga diri dan kesehatan, kalau perlu apa-apa, kabari aku,” Emir.


📲 “Baiklah mas,” Beeve.


📲 “Sudah, kau istirahatlah Bee,” Emir.


📲 “Iya mas, terimakasih banyak, sudah baik pada ku,” Beeve.


📲 “Oke,” Emir.


Beeve yang lelah menuju kamarnya, setelah sampai, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Ya Allah, semoga kau memberi petunjuk pada hati suami ku, agar dia enggak berubah pikiran terhadap Arinda, andaikan saja bang Julian mau menerima ku, aku akan pulang ke rumah orang tua ku, aku sudah enggak sanggup, awalnya ku pikir akan berbuah manis perjuangan ku selama ini, tapi siapa sangka, nasib dan takdir ku tak seperti orang lain, hiks...” Beeve kembali menangis meratapi nasibnya.


“Ayah, ibu... Beeve rindu, Beeve harus apa bu sekarang?” Beeve menangis hingga ia terlelap.


___________________________________________


Andri yang duduk di sebelah Arinda tiba-tiba terbangun, karena Arinda menyentuh tangannya.


“Mas, kau masih disini?” ucap Arinda.

__ADS_1


“Eh, kau sudah bangun?” Andri mengelus puncak kepala Arinda.


“Iya mas, dimana semua orang?” tanya Arinda dengan suara yang masih lemah.


“Ibu dan ayah mu sudah pulang, karena ibu mu sedang kurang sehat, dan kedua orang tua ku sedang menunggu di luar,” terang Andri.


“Oh, begitu ya mas.” Arinda memberi tatapan nanar pada Andri, air matanya pun kembali menetes.


“Ada apa? Apa perut mu masih sakit?” tanya Andri dengan lembut.


“Bukan perut ku mas,” jawab Arinda.


“Lalu apa?”


“Hati ku, anak ku mas, anak ku hiks...” Arinda kembali menangis mengingat anaknya yang telah tiada.


“Sudah Nda, kuatkan hati mu, kita harus ikhlas Nda.” Andri menenangkan Arinda yang menangis sesungukan.


“Apa aku masih bisa punya anak mas?” pertanyaan Arinda membuat Andri terperanjat.


Apa dia mau mengandung lagi? batin Andri


“Aku mau anak mas, aku mau anak, anak ku.. anak ku... hiks..” karena tak ingin Arinda makin parah, akhirnya Andri pun menenangkannya.


“Iya, kita akan punya anak lagi, yang penting kau pulih dulu.” Andri sangat dilema dengan situasi yang ia hadapi.


Aku akan menceraikan Arinda setelah ia sembuh total, maafkan aku Bee, semoga kau dapat mengerti situasi ku saat ini, batin Andri.


Setelah dua hari di rumah sakit, akhirnya Arinda di perbolehkan pulang ke rumah.


Ting tong ting ting!


Kriettt....


Beeve membuka pintu utama, dan betapa hancur hati kecilnya, saat melihat Andri menggendong Arinda ala bridal style di depan matanya.


Pertanda apa ini Ya Allah? batin Beeve.


“Assalamu'alaikum sayang,” ucap Andri.


“Wa'alaikum salam mas, kalian sudah pulang?” ujar Beeve dengan suara yang berat.


“Iya, maaf aku harus membawa Arinda ke kamarnya," ucap Andri.


“Oke mas.” sahut Beeve seraya menganggukkan kepalanya.


Kemudian Andri berjalan menuju lift dengan menggendong Arinda yang melingkarkan kedua tangannya di leher Andri.


Beeve menatap lekat madu dan suaminya, batinnya benar-benar tak terima akan takdir yang menghampirinya.

__ADS_1


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2