Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 128 (Arinda Tak Ingin Hidup Susah)


__ADS_3

Yudi geleng-geleng kepala atas kebodohan istrinya.


“Andri itu, selain anak ku, dia lebih bermutu dari siapapun, meski pun kau bilang Emir menjadi pewaris selanjutnya, tidak ada yang bisa menggeser posisi Andri, itu yang harus kau tahu!” terang Yudi.


Rahma jadi resah atas penerangan suaminya, “Terus bagaimana yah? Aku sudah terlanjur marah dan bilang keluar dari perusahaan lagi,” ucap Rahma.


“Pikirkan sendiri, dan aku enggak mau tahu bu, besok Andri harus masuk kerja, kalau enggak, kau yang harus menggantikannya, tangani apa yang ia urus selama ini!”


“Yah, maafkan ibu, ibu salah.” ucap Rahma dengan perasaan menyesal.


“Makanya, kalau mau melakukan sesuatu pikir matang-matang, lakukan diskusi dengan suami, jangan asal ceplas ceplos!” Yudi yang pusing memutuskan untuk beristirahat.


“Ya ampun, aku harus bilang apa ke Andri? Malunya menjilat air ludah sendiri, pasti dia akan ngelunjak, dan meminta untuk aku tak menggangu hubungannya dengan Beeve, akh... sial sekali sih nasib ku!” Rahma merasa gengsi bila harus mengambil hati sang anak.


____________________________________________


Pagi harinya, Arinda yang baru selesai mandi mendial nomor ibu Rahma.


📲 “Halo bu,” Arinda.


📲 “Halo, ada apa Arinda?” Rahma.


📲 “Bu, aku boleh enggak tinggal di rumah ibu, karena Beeve mengusir ku dari rumah ini, katanya ini adalah rumahnya, dan mas Andri juga enggak membela ku sama sekali bu,” Arinda.


📲 “Ya ampun Arinda, kalian kok bertengkar terus sih?” Rahma.


📲 “Bukan aku bu yang cari perkara, tapi Beeve terus bu, aku orangnya damai-damai saja,” Arinda.


📲 “Ya sudah kalau begitu, ibu akan menjemput mu nanti sore,” Rahma.


📲 “Jangan bu, biar aku saja yang langsung kesana,” Arinda.


📲 “Baiklah kalau begitu,” Rahma.


📲 “Terimakasih banyak bu,” Arinda.


📲 “Iya, sama-sama,” Rahma.


Setelah sambungan telepon terputus, Arinda turun ke lantai satu untuk sarapan, sesampainya ia di meja makan ternyata sudah ada Andri dan Beeve disana yang duduk bersebelahan.


Arinda yang merasa Andri tak berguna lagi sekarang, memilih duduk di hadapan keduanya, tak seperti sebelumnya.


Tumben enggak rebutan tempat duduk, batin Beeve.


Beeve si istri pertama menaruh roti panggang di atas piring suaminya.


“Makanlah mas, setelah ini baru minum obat," ucap Beeve.

__ADS_1


“Terimkasih sayang.” Andri yang kesusahan untuk memegang garpu dengan tangan kananannya tak dapat makan dengan baik.


Arinda yang jelas-jelas melihat tangan suaminya penuh dengan balutan kasa, tak mau berkomentar sedikit pun, ia hanya mengurus dirinya sendiri.


“Ya ampun mas, aku lupa kalau tangan mu lagi sakit, biar ku suap ya,” ujar Beeve.


Menjijikkan sekali dua pasangan menyedihkan ini, kalau tahu jadinya begini, lebih baik aku tidur dengan Emir, uangnya kan mengalir terus dari konten-konten yang ia punya, belum lagi bagian dari harta warisan orang tua mereka, batin Arinda.


Arinda yang telah selesai sarapan terlebih dahulu, mulai membuka pembicaraan.


“Hem, mas,” ucap Arinda.


“Iya Nda? Ada apa?” sahut Andri.


“Ibu mertua meminta ku untuk datang ke rumah,” ucap Arinda.


“Untuk apa ibu ku meminta mu kesana?” tanya Andri.


“Katanya ibu ingin merawat ku, karena ibu merasa mas kurang perhatian pada ku, di tambah kemarin ibu melihat Beeve menjambak rambut ku, jadi ibu memohon agar aku tinggal sementara dengan mereka,” terang Arinda.


“Enggak bisa, aku enggak memberi mu izin kesana, kau istri ku, tanggung jawab ku, jangan ada yang keluar dari rumah ini, mengerti?”


Arinda yang tak ingin hidup susah semakin menggebu-gebu dalam hatinya untuk segera menyelamatkan diri.


“Aku juga sudah menolak mas, tapi ibu tetap memaksa, aku enggak enak mas kalau enggak datang kesana,” ucap Arinda.


Beeve menyunggingkan bibirnya, ia tahu kalau Arinda hanya ingin menyelamatkan diri .


“Dengar kata mas Andri Nda, jangan pergi, sekali kau melanggar kata suami mu, dosanya sangat besar, lagi pula obrolan rumah makan yang tadi malam kita rencanakan belum selesai.” Beeve menakut-nakuti Arinda, agar semakin ingin pergi dari rumah.


“Hari ini aku akan pergi mencari kerja, dan aku tegaskan kembali, enggak ada izin keluar untuk kalian berdua.” Andri memperingati dengan tegas kedua istrinya.


“Iya mas, kita enggak akan melanggar perintah mu, lagi pula hari ini aku dan Arinda juga akan mengurus soal pengurangan Art, sekaligus bagi tugas dengan rumah ini,” terang Beeve.


Mata Arinda melotot, saat tahu para Art akan benar-benar akan di berhentikan lebih awal.


“Loh, bukannya masih sisa 2 minggu lagi Bee?” ucap Arinda.


“Iya Nda, tapikan kita pecat dadakan, mereka juga enggak dapat kompensasi, jadi sebagai gantinya di berhentikan lebih awal,” terang Beeve.


Ya ampun! aku enggak mau main kotor-kotoran dengan debu apa lagi kompor, cukup waktu gadis saja aku hidup susah, ini enggak bisa di biarkan, meski tanpa restu si Andri, aku akan tetap pergi, batin Arinda.


Emang enak! Sudah Nda, cepat angkat kaki, aku mendukung mu, batin Beeve.


“Beeve benar Nda,” ujar Andri.


“Mas, kau cari kerjanya setelah tangan mu sembuh saja ya, lagian penampilan itu sangat menunjang untuk di terima kerja, bukannya tabungan mu masih banyak?” ucap Beeve.

__ADS_1


“Ya, walau pun banyak, aku harus tetap cari uang sayang, agar tabungan enggak menipis, iya kan?”


“Mas Andri benar Bee, kalau kita enggak boleh bantu mas Andri untuk mencari nafkah, mau enggak mau, harus cepat cari kerja," ujar Arinda. Andri melirik Arinda saat mengatakan hal demikian.


Apa dia takut aku enggak bisa menafkahinya? batin Andri.


“Kau ini, mas Andri masih sakit loh Nda.” Beeve memelotot pada madunya.


“Sudah, jangan bertengkar, kalian berdua sama-sama benar, tapi sekarang aku minta, jangan ada kerusuhan dulu, ku mohon, aku sangat pusing, tolong yang rukun, agar batin ku bahagia,” pinta Andri.


Keduanya pun mengangguk, meski dalam hati masing-masing ingin saling menerkam.


“Aku berangkat.” Andri mengecup bibir dan memeluk istri pertamanya, tak lupa ia mencium perut Beeve juga.


Ketika ia akan melewati Arinda, rasa tak enaknya mulai muncul.


Ia yang tak mungkin melakukan hal yang sama pada sang istri kedua, memilih untuk mengelus kepala dan pipi Arinda, selanjutnya ia mengecup perutnya, dan berpamitan pada anaknya.


“Papa berangkat ya nak.” setelah itu Andri meninggalkan kedua istrinya di meja makan yang masih menyisakan banyak piring kotor.


“Arinda! Kau cuci piring ya! Aku mau bicara pada Art,” titah Beeve.


“Kau saja yang cuci, memangnya aku babu!” pekik Arinda.


“Kau ini! Keluarga ini sedang berduka, harusnya kau pengertian, dan kompak dengan ku,” ujar Beeve.


“Untuk apa aku melakukan itu dengan mu? Hello! Dari awal kau terus yang cari gara-gara, jadi urus saja sendiri!” Arinda menjulurkan lidahnya pada Beeve.


Beeve yang kesal, dengan cepat melempar garpu pada wajah Arinda.


“Aduh!! Sakit bolong!” hardik Arinda.


“Mau aku lempar dengan gelas sekalian?”' Beeve mengangkat gelas kaca panjang yang ada di sebelahnya.


Arinda yang tahu Beeve takkan main-main langsung merasa takut.


“Jangan macam-macam kau ya!” pekik Arinda.


“Kalau hanya bisa adu mulut jangan banyak gaya! Cepat cuci piringnya, jangan sampai ada yang pecah!” titah Beeve.


“Aku enggak mau, suruh saja babu di rumah ini!”


“Ck, Nda, kau masih mau mereka semua bekerja disini ya?” tanya Beeve.


“Tentu saja, masa nyonya berubah jadi pembantu,” jawab Arinda.


“Aku juga setuju dengan mu,” ucap Beeve.

__ADS_1


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2