Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 206 (Naik Darah)


__ADS_3

Beeve mencubit pipi Andri karena gemes, “Ah! Sakit yang,” ucap Andri.


“Biar, masih bagus ku cubit, dari pada di gigit!” Beeve memeluk Andri yang kini telah berhasil masuk kembali ke dalam hatinya.


“Gigit dong!” Andri menggoda Beeve dengan menggigit kecil daun telinga istrinya.


“Mas... geli!!”


“Geli ya...” Andri yang rindu masa-masa indah mereka pun merebahkan tubuhnya dan Beeve ke ranjang.


“Mau apa mas?”


“Tidur yuk sayang, aku ngantuk.” ucap Andri seraya memeluk tubuh Beeve.


“Iya mas.” keduanya pun tidur bersama dengan berpelukan.


__________________________________________


Emir yang baru selesai membersihkan karang gigi keluar dari ruangan bersama Helena menuju mobil.


“Apa nafas ku masih bau?” tanya Emir.


“Coba bicara lebih dekat pada ku bang, agar aku dapat memastikan.” Ujar Helena, lalu Emir pun mendekatkan mulutnya ke wajah Helena.


“Hembuskan nafas mu bang.”


“Haah! Bagaimana?” tanya Emir.


“Kurang dekat.” Emir yang polos mendekatkan wajahnya kembali, lalu Helena yang cerdik mengecup kilat bibir Emir, setelah itu ia pun berkata.


“Sudah aman bang.” mata Emir membelalak sempurna menerima serangan dadakan dari sang calon istri.


“Kau gila ya?!” pekik Emir seraya memutar bola matanya ke arah Reno yang berada di depan mereka.


“Alah... pak Reno kan suhunya, jadi enggak usah malu.” ujar Helena, yang membuat Emir menepuk keningnya, sebab Helena tak bisa mengondisikan mulutnya.


“Baiklah, terserah kau saja, ayo pak Reno, kita jalan menuju kampus.”


“Baik tuan.” Reno pun mulai melajukan mobil membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.


Helena yang makin berani meletakkan kepalanya di bahu Emir.


“Aduh, kau mau apa lagi sekarang?” ucap Emir seraya memaju mundurkan bahunya.


“Kepala ku sakit bang, pinjam bahu mu ya.” Helena menahan bahu Emir yang bergoyang.


“Ada orang tua, tunjukkan sopan santun mu” bisik Emir.


“Jadi enggak boleh pake bahu?” tanya Helena.

__ADS_1


“Enggak, sandarkan leher mu kebelakang!” pekik Emir.


“Kalau ada kau, kenapa harus bergantung pada kursi mobil yang tak dapat bicara?”


Mulai lagi deh, ini anak puitisnya berlebihan banget, batin Emir.


“Pokoknya enggak boleh!” Emir menolak mentah-mentah keinginan Helena.


“Ya sudah, aku enggak akan pake bahu, tapi...” Helena dengan cepat meletakkan kepalanya di atas pangkuan Emir, “ternyata disini lebih nyaman.”


Astaga Tuhan! Helena! batin Emir.


Helena pun memeluk kedua kaki jenjang calon suaminya, saat pria tampan itu ingin mengangkat kepalanya.


Emir sebenarnya sudah ingin marah, namun ia menahannya, karena ada Reno di hadapan mereka.


“Kau benar-benar luar biasa Helena, lihat saja! Sampai kampus, kau wajib pulang ke rumah mu.” Emir mengancam calon istrinya.


“Terserah kau mau bilang apa bang, yang jelas saat ini aku nyaman.” Helena yang tak perduli akan perkataan calon suaminya, membuat Emir tak berkutik.


Astaga, bagaimana kalau sudah jadi istri, bisa di kekang aku, kemana pun di pantau, batin Emir.


Karena Helena tak kunjung bangkit, akhirnya Emir membiarkannya begitu saja. Helena pun jadi senyum-senyum tak menentu, selain dapat ciuman pertama dari pria yang ia cintai, Helena juga dapat bantal gratis untuk kepalanya.


Kau milik ku, apabila ada orang lain di hatimu, maka ia harus menyingkir, batin Helena.


_________________________________________


Tok tok tok!!


Keduanya pun bangkit dari tidurnya, “Bibi mas.” ucap Beeve.


Saat Beeve ingin turun ranjang, Andri pun mencegatnya.


“Biar aku saja sayang, kau lanjutkan saja tidurnya.” Andri pun turun dan menuju pintu.


Ceklek!


“Maaf kalau saya menggangu tuan, tapi... ada tamu yang mencari tuan,” ucap Ratih.


“Siapa bi?” tanya Andri kebingungan.


“Saya juga kurang tahu tuan, katanya sih keluarga,” terang Ratih.


“Baiklah kalau begitu, saya akan kesana, terimakasih ya bi,” ucap Andri.


“Sama-sama tuan.” Ratih pun beranjak dari depan pintu setelah menyelesaikan tugasnya.


“Siapa mas?” tanya Beeve yang berada di atas ranjang.

__ADS_1


“Kurang tahu sayang, sebentar ya, aku lihat dulu.”


“Oke mas.”


Andri segera beranjak ke ruang tamu, untuk melihat siapa gerangan yang datang. Ketika ia telah sampai, Andri pun memutar mata malas, sebab itu adalah Elia dan Dimas.


Tahu darimana mereka alamat rumah ini, batin Andri. Lalu Andri duduk di hadapan kedua mantan mertuanya itu.


“Mau apa kemari?” tanya Andri tanpa berbasa-basi.


“Nak Andri apa kabar?” sapa Elia seraya mengulurkan tangannya.


“Baik, ada apa kesini?” tanya Andri kembali tanpa menerima uluran tangan dari Elia.


“Begini nak, tujuan kami kesini untuk meminta tolong,” ucap Dimas.


“Tolong? Apa itu soal putri kalian?”


“Iya, benar nak, ini mengenai Arinda.” Dimas terus memainkan kedua tangannya karena grogi dan takut.


“Akh! Aku enggak bersedia membantu apapun yang akan kalian minta.” ucap Andri seraya bersedekap.


“Nak, kami belum mengatakan apapun loh.” Dimas yang putus asa menahan air matanya.


“Aku sudah tahu apa yang ingin kalian katakan, untuk mencabut tuntutan ku pada Arinda kan?” kedua orang tua itu pun menganggukkan kepala.


“Tidak akan ku lakukan! Maaf saja ya!” pekik Andri.


“Andri, tolonglah nak, jangan seperti ini, kasihan Arinda, dia sudah 4 tahun mendekam dalam penjara, pada hal dia masih muda, masa depannya masih panjang, kasihanilah dia nak, bagaimana pun, kalian pernah menjadi suami istri.” Elia menangis, meminta kemurahan hati mantan menantunya.


“Enggak ada seorang pun yang memintanya untuk bertindak jahat, aku sudah cukup baik selama ini padanya, mulai dari aku di jebak, aku masih memberi maaf, bahkan mengangkat derajatnya jadi seorang istri, dengan menyakiti istri sah ku, setelah itu ku buat ia tinggal 1 atap dengan Beeve, lalu ia sering menyebar fitnah dan cerita bohong, itu juga masih ku maafkan, sampai rumah tangga ku di ujung tanduk, masih juga ku beri kesempatan, jadi kurang baik apa lagi aku di mata kalian?”


“Iya, kami tahu semua itu, tapi... kami mohon, cabut tuntutan mu nak, kasihan Arinda, terakhir aku bertemu dia, wajahnya lebam dan bengkak, karena mendapat tindakan kekerasan dari tahanan lain, aku enggak sanggup nak melihat penderitaannya, hiks...” ucap Elia penuh derai air mata, begitu pula dengan Dimas.


“Anggap saja itu balasan, atas semua perbuatannya pada istri dan anak ku.” Andri yang telah menutup pintu maaf pada Arinda sama sekali tak bersedia untuk membantu.


“Jangan begitu nak, berikan Arinda satu kesempatan lagi, kalau nak Andri mau mengeluarkannya, maka Arinda akan menghilangkan dari kehidupan kalian! Aku jamin,” terang Dimas.


“Maaf, aku enggak akan merubah keputusan ku, yang Arinda toreh sakitnya tiada banding, jadi... silahkan keluar dari rumah ku, karena sampai kapan pun, aku takkan goyah dengan pendirian ku.” Elia dan Dimas benar-benar prustasi. Apa lagi saat mengunjungi Arinda nanti, pasti putri semata wayang mereka tersebut menagih hal yang sama, yaitu minta di bebaskan.


Beeve yang merasa suaminya terlalu lama, menyusul ke ruang tamu.


“Siapa sih mas?” melihat wajah kedua orang tua Arinda, Beeve jadi naik pitam.


“Mau apa lagi sih kalian?! Keluar dari rumah ku sekarang juga!!!” suara Beeve yang melengking membuat ketiganya terkejut.


Lalu Beeve berdiri di hadapan Elia, “Keluar!! Ngerti enggak apa yang aku katakan?!”


Andri yang tak ingin kesehatan istrinya menurun pun bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Sabar sayang, kau jangan marah-marah.” ucap Andri seraya memegang kedua bahu istrinya.


...Bersambung......


__ADS_2