
“Masakan istri ku memang yang paling lezat di dunia!” Andri memuji cita rasa masakan Beeve yang menurutnya sangat enak.
“Kalau begitu makan yang banyak mas, agar berat badan mu cepat bertambah, ku lihat kau masih kurang 3 kilo lagi.” Andri melihat tubuhnya setelah sang istri berkata demikian.
“Oh! Kau benar juga sayang, aku masih ada sisa vitamin yang kau berikan, nanti akan ku minum.” ucap Andri bersemangat.
“Bagus mas, habiskan vitaminnya ya!” Beeve mengelus puncak kepala Andri seperti anak kecil.
“Iya mama.” Andri menangkap tangan Beeve yang ada di kepalanya lalu memberi satu kecupan pada telapak tangan wanita cantik tersebut.
“Papa habiskan makannya ya, nanti mama akan masak yang enak-enak lagi, hahaha... geli banget panggil mama papa!” Beeve yang belum terbiasa dengan panggilan itu tertawa cekikikan.
“Pokoknya kalau Bia sudah punya adik, panggilan kita berdua harus di ubah jadi mama papa, aku enggak mau nanti anak-anak memanggil mas, dan kau sayang.” terang Andri, yang ingat dulu Emir pernah melakukan hal yang sama pada ibu dan ayahnya waktu adiknya masih kecil.
“Iya pa, mama mengerti, hahaha...” lagi-lagi Beeve melepaskan tawanya.
Setelah mereka selesai makan, Beeve membereskan peralatan kotor yang mereka gunakan menuju wastafel.
Saat ia masih sibuk mencuci piring, Andri melingkarkan kedua tangannya di pingang ramping ibu satu anak itu.
“Sayang...” Andri yang sedikit membungkuk bersuara manja di telinga Beeve.
“Apa sayang ku?” sahut Beeve dengan memberi kecupan ringan di bibir merona suaminya.
“Aduh! Langsung nyambar lagi!” Andri pun membalas ciuman yang Beeve berikan.
“Mas, aku lagi cuci piring nih! Sana ah! Jangan ganggu aku dulu!” Beeve mengusir Andri agar pergi dari dapur.
Namun Andri yang terlanjur bertenaga menyusupkan kedua tangan bidang dan kekarnya ke dalam baju mini daster merah muda istri cantiknya.
“Ih! Mas Andri! Nakal banget sih! Keluarkan tangan mu!” Tangan Beeve yang masih di penuhi busa sabun merasa tanggung kalau harus menyudahi pekerjaannya.
“Enggak mau! Tapi... kenapa si kembar mu tak pakai kaca mata sayang?” ucap Andri seraya menekan-nekan kedua gunung Everest milik Beeve.
“Ya... pakai pun enggak akan berguna saat begini, yang di kolam saja belum di ambil.” terang Beeve menahan rasa nikmat dari kenakalan jemari lentik suaminya.
“Hem... berarti siap buat di tiup lagi nih, biar makin besar.”
“Mas, kitakan baru selesai, tunggu sebentar lagi, bawah ku juga masih terasa sakit!” Beeve mencegah Andri untuk masuk, karena buncis legit miliknya masih terasa perih.
“Yang benar, kau merasa sakit di bagian itu? Apa aku terlalu kasar sayang?” tanya Andri.
“Jangan tanya lagi, dan mas enggak usah minum obat aneh-aneh lagi lain kali, rasanya kamar rahasia ku mau robek!” Andri tersenyum nakal, sebab ia merasa tak sia-sia memberi si Joni obat pertumbuhan.
__ADS_1
“Baiklah jika itu mau mu, tapi... kalau sekarang kita begituan bolehkan?” Andri melepas dekapannya dari Beeve, lalu memutar tubuh sang istri jadi menghadap dirinya.
“Mau apa mas?”
“Diam saja, ini akan mengobati luka mu.” Andri pun berjongkok, menyusupkan wajahnya ke antara dua kaki istrinya.
Aduh, habis deh aku, batin Beeve.
“Mas! Jangan disini juga dong!” Beeve yang ingin menikmatinya di kamar, malah mendapat penolakan dari Andri, sebab dapur juga mempunyai sensai tersendiri bagi dirinya.
Meski buncisnya masih terasa perih dan berdenyut, namun sapuan sang suami mampu menghilangkan perasaan sakit yang ia rasakan, berulang kali pertahanan Beeve hampir rubuh, ia pun mengenggam erat meja wastafel agar ia tak oleng.
“Kau memang luar biasa mas, akh!” makin lama tubuh Beeve kian bergetar hebat, hingga gelombang air terjun menerjang, mencari tempat yang lebih landai, Andri yang tak sempat menghindar harus menerima, wajahnya basah karena air surgawi dari sang istri tercinta.
“Ma-maaf mas, aku enggak sengaja!” ucap Beeve dengan suara terbata-bata.
Andri tanpa satu kata pun menjulurkan lidah merah meronanya ke setiap sudut bibirnya.
“Rasanya manis.” ucap Andri dengan mendongak, menatap lekat wajah wanita cantik dengan nafas memburu di hadapannya.
“Kau ada-ada saja mas.” saat Beeve masih mengatur nafas, tiba-tiba Andri bangkit dari jongkoknya.
“Are you ready mama?” ucap Andri dengan mengecup bibir Beeve.
Sore itu kedunya habiskan dengan adu gempur di dapur, antara tak ada lelah atau ingin balas dendam pada waktu yang terlewatkan, membuat keduanya sampai lupa waktu, tak ingat jam makan apa lagi yang lainnya, dari dapur mereka beranjak keranjang yang ada di lantai 2.
Andri merubuhkan tubuh istrinya dengan kasar, lalu menindihnya.
“Ayo punya anak!” Andri mengajak istrinya untuk memiliki keturunan kembali.
“Enggak mas, tunggu 3 tahun lagi.” Beeve yang masih ingin membayar waktu yang hilang dengan Bia menolak permintaan suaminya.
“Pelase sayang, aku ingin kau memiliki anak dariku, ku mohon, biarkan aku menanam benih ku di rahim mu!” Andri yang takut kehilangan Beeve terus meminta, agar ia dapat mengikat istrinya, untuk tak pergi kemana-mana lagi.
“Aku enggak mau! Lagi pula aku masih ingin menikmati yang sepeti ini dengan mu untuk waktu yang lama.” ujar Beeve.
“Ck!” Andri sedikit kecewa dengan penolakan istrinya.
“Ayo lanjutkan!”
Dengan menghela nafas panjang, Andri kembali melajukan hentakan cinta pada istrinya.
Pergulatan itu pun berlangsung hingga pukul 21:00 malam, dan peraduan tersebut berakhir dengan adu bercumbu.
__ADS_1
“Mandi sekarang yuk!” Andri yang ingin istirahat langsung mengajak istrinya mandi wajib.
“Baiklah mas.” Andri pun menggendong tubuh istrinya ala bridak style menuju kamar mandi.
Selesai bersih-bersih keduanya memutuskan langsung tidur karena sudah terlanjur mengantuk.
Pukul 00:31 malam, Andri yang terlelap tiba-tiba bangun, sebab ia mendengar suara isak tangis dari sang istri. Perlahan ia mbuka mata, lalu menoleh ke sebelahnya.
“Kau kenapa sayang?” Andri bangkit dari tidurnya, lalu meletakkan kepala Beeve di pangkuannya.
“Bawah ku sakit mas.” ucap Beeve dengan berderai air mata.
“Apa? Sakit bagaimana sayang?” Andri merasa khawatir, takut istrinya kenapa-napa.
“Rasanya panas, perih dan juga seperti di robek-robek!” terang Beeve, mengatakan apa yang ia rasakan saat itu.
“Coba ku periksa!” Andri pun sigap mengambil handphonenya, lalu menyalakan lampu pada handphonenya, kemudian ia beranjak ke antara kedua kaki istrinya.
“Jangan di apa-apain lagi mas! Nanti kalau kacang kedelainya putus gimana?!” ucap Beeve dengan rasa kesal.
“Iya-iya!” sahut Andri.
Mati aku, area buncisnya memerah, batin Andri.
“Bagaimana mas? Ada yang robek enggak? Atau ada yang berkurang?” tanya Beeve penasaran.
“Ada sayang,” jawab Andri.
“Apa mas?” tanya Beeve seraya bangkit dari posisi tidurnya.
“Rambutnya banyak yang rontok! Hahaha!” Andri tertawa cengengesan saat istrinya menangis karena dirinya.
“Ih! Mas Andri! Aku serius! Hiks!!” tangisan Beeve semakin kencang karena candaan receh dari sauminya.
“Ayo ke rumah sakit, kita perlu periksa!” Andri pun bangkit dari ranjang menuju lemari, untuk mengambil baju halal untuk istrinya.
Setelah dapat, ia pun memakaikannya pada Beeve tercinta.
“Aku pesan taksi online dulu ya.”
“Iya mas.” Beeve masih senggukan di sebelah suaminya, membuat Andri merasa bersalah, lalu ia pun meminjamkan bahunya untuk kepala istrinya bersandar.
“Maafkan aku sayang, karena aku kau jadi sakit.” ucap Andri seraya memeluk tubuh istrinya dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
...Bersambung......