
Keesokan harinya, Helena telah berada di kafe yang telah di janjikan.
Yezi yang memasuki kafe pun tak mengetahui, jika pergerakannya telah di pantau oleh beberapa yang berwajib dengan menyamar sebagai pelanggan.
Ia yang melihat Helena duduk di salah satu kursi yang ada dalam kafe, dengan tawa riang melambaikan tangannya.
Helena pun membalas lambaian tangan tersebut. Yezi melenggang bebas menuju kursi sang dokter cantik itu.
“Maaf, aku datang terlambat.” Yezi merasa gak enak karena tak tepat waktu.
“Enggak apa-apa.” ucap Helena dengan tawa menyeringai.
“Ada apa?” tanya Yezi yang merasa aneh, akan sikap Helena.
Hub! Tiba-tiba dari belakang, ada yang memegang bahu Yezi.
“Jangan bergerak!” suara tegas dan berwibawa mengunci pergerakan Yezi dengan menodongkan pistol ke kepala belakangnya.
“Sialan! Kau menjebak ku?!” netra Yezi membulat sempurna.
“Maaf, aku enggak sengaja, Arinda!” Helena memanggil nama asli Yezi dengan tersenyum puas.
“Aku pasti akan membalas mu! Kurang ajar! Beraninya kau berbuat ini pada ku!” pekik Arinda.
“Cukup! Kau tak punya hak untuk bicara Arinda! Terimakasih saudari Helena, sudah bersedia membantu,” ucap sang polisi.
“Sama-sama pak,” sahut Helena.
“Angkat tangan! Dan bangkit dari duduk mu!” titah sang polisi, Arinda yang sudah terjebak, mau tak mau mengikuti perintah. Ia pun berdiri dari duduknya.
Ketika sang polisi akan memborgol tangannya, Arinda secepat kilat melarikan diri.
“Arinda! Diam di tempat!!” titah sang polisi, namun sayang Arinda tak mengindahkan peringatan itu.
Beeve dan Andri yang berada di parkiran melihat Arinda yang sedang di kejar-kejar oleh para polisi.
Duar!! satu tembakan mendarat di betis kanan Arinda, yang membuat ia langsung tersungkur ke lantai, meski begitu, perjuangannya ingin hidup bebas tak surut, dengan sisa tenaga yang miliki, Arinda bangkit, dan melanjutkan langkahnya meski tertatih dan berlumuran darah.
Dan suara tembakan itu ternyata membuat Andri terkejut. Alhasil sesak nafas dan jantungnya pun kambuh.
Beeve yang berada di sebelahnya, melihat gelagat aneh dari suaminya.
“Kau kenapa mas?” tanya Beeve seraya memegang wajah suaminya.
__ADS_1
“Aku enggak apa-apa sayang!” ucapnya dengan napas memburu. Andri yang mencoba tegar di hadapan Beeve, sudah tak dapat melakukannya lagi. Ia pun menekan dadanya untuk menahan sakit yang ia rasa.
“Mas! Kau kenapa?” walau kesadarannya mulai hilang, Andri tetap mengaku kalau dirinya baik-baik saja.
“Aku baik-baik saja sayang.” itu adalah kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum ia tak sadarkan diri.
Andri yang duduk di kursi kemudi menyulitkan Beeve untuk mengambil kendali.
Ia pun mendial nomor Helena agar segera datang ke parkiran.
Duar!!
Peluru kedua menancap di kaki kiri Arinda yang masih mencoba lari.
Brukk!!
Tubuh bidangnya jatuh ke lantai! Kini ia benar-benar tak dapat kemana-mana lagi, ia yang putus asa kembali mengingat masa-masa indahnya sebelum masuk penjara.
“Hahahaha...” Arinda tertawa cengengesan kala mengingat kenangan indah yang bagai mimpi baginya.
Usai tertawa, ia pun menangis, menyesali semua perbuatan yang ia lakukan.
Andaikan aku tak coba-coba masuk ke dalam kehidupan Beeve dan mas Andri, pasti sekarang aku telah jadi sarjana, dan kerja di tempat yang bagus. Tapi karena ambisi dan rasa iri yang ada dalam hati ku, membuat aku kalap, menutup paksa mata hati ku untuk melihat kebenaran, sampai detik terakhir Tuhan memberi ku kesempatan bebas atas pertolongan orang tua ku juga, malah aku mengkhianati mereka, ibu... ayah... maafkan aku, aku durhaka, tak bisa menjadi apa yang kalian mau, dan tak pernah memberi hak baik pada kalian, penyesalan Arinda kian tak berujung, ia yang telah di borgol di bantu oleh 2 polisi untuk bangun.
Mas Andri, meski singkat, kau adalah cinta pertama dan terakhir ku, maafkan aku yang telah menyakiti mu, meski kau tak mencintai ku selama ini, namun tulus mu dalam menikahi dan menyayangi anak kita yang tak memiliki kesempatan hidup dapat ku rasakan, terimakasih suami ku, jika kau beri aku kesempatan, aku ingin berjodoh dengan Andri Han di surga ya Allah, biarkan aku meraih cita-cita ku untuk bersamanya di surga mu ya Robbi. Asyhadu An Laa Ilaaha Ilallah, Waasyhaduanba Muhammad Rasuulullah.
Andri adalah orang terakhir yang ia lihat dalam hidupnya, Arinda Putri berpulang ke Rahmatullah di usia yang sangat muda, yaitu 23 tahun.
Andri yang telah berada di rumah sakit tempat ia biasa melakukan kontrol segera di tangani oleh dokter dan beberapa suster, banyak alat medis yang di tempelkan pads tubuh pria tampan itu. Beeve yang tak tahu apapun menangis histeris.
“Suami ku kenapa dok? Apa penyakitnya parah? Kenapa kalian memasang peralatan yang begitu banyak di tubuhnya? Kasihan dok, jangan tusuk tangannya dok, pasti itu sakit.” Beeve menghalangi para tim medis untuk memasang infus di tangan suaminya.
“Bu, tenang bu, kita hanya ingin memberikan pertolongan yang seharusnya pak Andri,”'terang para suster.
Helena menarik mundur Beeve agar tak menghalangi para suster dan dokter dalam melakukan tugasnya.
Saat dokter akan memasang selang NGT (Nasogastric Tube) ke hidung Andri, Beeve kembali berontak.
“Kenapa kalian masukkan selang itu ke hidung suami ku? Dia bilang, dia baik-baik saja, jangan lakukan, itu pasti sangat sakit!” Beeve membentak semua orang yang ada di ruangan rawat Andri.
“Kak, biarkan dokter melakukan tugas mereka.” Helena memeluk Beeve yang akan menarik selang tersebut dari tangan sang dokter.
Rahma dan Emir yang baru tiba melihat keadaan Beeve.
__ADS_1
“Bee! Tenangkan dirimu!” ucap Rahma seraya memeluk menantunya.
“Mas Andri kenapa lagi bu? Katakan pada ku, bukankah dia sudah sembuh?” Beeve merengek bagai anak kecil pada mertuanya.
“Iya, dia baik-baik saja, sudah nak jangan menangis, hapus air mata mu, pikirkan bayi mu nak,” ucap Rahma.
Emir tak dapat melihat air mata Beeve yang terus mengalir.
Ia pun pergi mengasingkan diri, karena ia juga begitu terpukul dan bersedih atas keadaan saudaranya satu-satunya.
Helena yang tak dapat perhatian sedikit pun dari mertua dan suaminya merasa sakit hati, ia pun diam seribu bahasa, tak memberi kata-kata semangat untuk kakak iparnya yang sedang berduka.
Dengan rasa kecewa dalam dada, Helena pergi ke restoran yang ada di depan rumah sakit untuk makan siang.
“Pada hal aku sudah melakukan hal yang bagus, tapi sedikit pun tak dapat penghargaan dari mereka semua, lagi-lagi dia dan dia terus yang jadi pusat perhatian! Lagian bang Andri kenapa sakit segala sih! Kalau dia lewat, bisa-bisa aku tersingkir lagi, sudah jelas bang Emir akan Pepet wanita gatal itu.” Helena yang telah gelap hati malah berburuk sangka pada suaminya.
_______________________________________
Pukul 23:00 malam, Beeve yang masih setia menemani Andri, duduk di atas kursi tepat di sebelah ranjang suaminya.
Beeve pun mengenggam tangan Andri yang belum sadarkan diri.
“Bee, ayo pulang nak, ini sudah larut malam, besok kita kesini lagi.” Rahma begitu khawatir dengan kesehatan menantunya.
“Enggak bu, aku mau disini, menemani mas Andri, kasihan dia sendirian, pasti dia ingin aku di sampingnya.” ucap Beeve yang tahu Andri tak dapat jauh darinya meski hanya sebentar.
“Ibu tahu nak, tapi... kau sedang hamil, ayo nak, pikirkan bayi kembar mu, Bia juga ada di rumah menunggu mu, besok kita kesini lagi, ibu yakin sebentar lagi Andir akan pulih.” Rahma memberi semangat positif pada menantunya.
“Aku mau, saat mas Andri sadar, aku melihatnya.” Beeve sama sekali tak luluh, walau Rahma telah mengatakan soal anak-anaknya.
Alhasil Rahma pun meminta pada pihak rumah sakit, untuk memindahkan Andri ke ruang rawat yang lebih besar, dan fasilitasnya lengkap agar Beeve merasacnyaman seperti di rumah.
Dengan modal yang cukup, pihak rumah sakit pun memenuhi permintaan Rahma, sesampainya di ruangan rawat VIP, Andri di pindahkan ke atas ranjang yang ukurannya muat untuk 3 orang dewasa, dan itu juga atas permintaan Rahma.
“Terimakasih bu, sudah memberi yang terbaik untuk mas Andri,” ucap Beeve.
“Sudah kewajiban ku nak.” Rahma yang mengerti Beeve ingin menghabiskan waktu berdua dengan Andri pun memilih meninggalkan ruangan.
“Kalau ada apa-apa, hubungi kami segera,” ujar Rahma.
“Baik bu.” sahut Beeve.
...Bersambung......
__ADS_1