Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 75 (USG)


__ADS_3

Namun Andri secepat kilat memberi tatapan mata tajam pada Arinda.


“Kita perginya berdua saja sayang,” ujar Andri.


Waduh, apa itu artinya mas Andri enggak mau ada orang lain? batin Beeve.


Dengan perasaan canggung dan tak enak hati, Beeve meminta maaf pada Arinda.


“Maaf ya Nda, sepertinya kau ikut lain kali saja,” ucap Beeve.


“Tapi Bee, a-aku juga ingin melihat anak mu.” Arinda terus berusaha agar di izinkan ikut.


“Maaf ya, tapi aku hanya ingin pergi berdua dengan istri ku.” keadaan makin canggung karena Andri bersikap dingin pada Arinda.


“Maaf ya Nda.” ucap Beeve, lalu Andri menggiring tangan istrinya untuk keluar rumah.


Sedang Arinda yang merasa tak aman dimana-mana memilih menyusul Beeve dan Andri, niatnya ingin membuntuti mobil Andri, agar kalau ada yang menculiknya Beeve dapat melihatnya.


Andri dan Beeve naik ke dalam mobil sedan berwarna hitam, lalu Arinda pun buru-buru naik ke atas motornya.


Setelah Beeve dan Andri memakai sabuk pengaman, Andri pun melajukan mobil membelah jalan raya.


Selama perjalanan Andri sering kali melihat Arinda dari kaca spion yang ada dalam mobil.


Kau pikir bisa menghindar? batin Andri.


“Mas, kau kenapa dingin begitu sih pada Arinda, aku kan jadi enggak enak,” ucap Beeve.


“Salahnya sendiri, kenapa enggak pengertian, aku kan ingin jalan berdua dengan mu,” ujar Andri.


“Tapi dia kan sudah bilang ikut langsung mas.”


“Dia enggak boleh ikut, bisa mengganggu tahu.” ucap Andri yang kemudian menambah kecepatan mobilnya, mengejar waktu lampu hijau yang akan habis.


Naasnya Arinda tak sempat menyusul, ia malah terjebak lampu merah.


“Akh...!! Sial!” pekik Arinda. Setidaknya Jalanan saat itu masih sangat ramai, membuat hati Arinda sedikit aman.


“Dari sini ke rumah sudah dekat, aku akan pulang dengan kecepatan penuh,” gumam Arinda.


Ketika lampu hijau telah menyala, Arinda melajukan motor metiknya dengan kecepatan maksimal.


Aku harus sampai rumah dengan selamat, jangan sampai tertangkap! batin Arinda.


Ketika ia sedang melewati sebuah perbatasan, tiba-tiba ada sebuah mobil rusa hitam yang melaju kencang dari belakangnya. Arinda pun melihat mobil tersebut, seketika perasaannya jadi tak enak, ia semakin menambah kecepatannya, namun sayang, Arinda yang buru-buru dari rumah Beeve tak melihat kalau bensinnya hampir habis.


Alhasil motor Arinda tiba-tiba mati, di tengah perbatasan sepi dan minim penerangan itu.

__ADS_1


“Akh!!!” ia berteriak sekencang-kencangnya seraya turun dari motor, kemudian Arinda berlari sekuat tenaga, untuk keluar dari jalanan sepi tersebut.


Cittt!!!!


Tetapi, mobil rusa yang mengintainya berhenti tepat di hadapannya.


Brak!!


Tiga orang pria bertubuh besar dan kekar memakai topeng keluar dari dalam mobil.


“Akhh!!! Pergi kalian!!” Arinda berusaha lari mencari jalan lain, namun 2 dari 3 orang pria tersebut menangkapnya dengan mudah.


Sedangkan yang 1 nya lagi mengurus motor Arinda yang tergeletak di jalan.


“Lepaskan aku!! Tolong!!! Tolong!!! Akhhh!!!” Arinda berteriak sekencang-kencangnya.


“Diam kau!” salah satu penculik itu membekap hidung dan mulut Arinda dengan sapu tangan yang telah di beri obat bius.


Perlahan kesadaran Arinda pun menghilang, lalu 2 orang penculik itu memasukkan tubuh Arinda ke kursi belakang kemudi, kemudian mereka menaikkan motor Arinda ke atas mobil, setelah itu melaju ke tempat pengeksekusian Arinda.


______________________________________________


Di rumah sakit Kasih Bunda, Andri dan Beeve telah berada di ruangan USG dokter Ahmad, Beeve yang telah tidur telentang di atas ranjang pun mulai di periksa oleh dokter Ahmad, dengan meletakkan alat transducer ke perut Beeve.


Andri yang duduk di sebelah ranjang istrinua jadi senyum-senyum sendiri.


Ia juga telah sedia dengan handphonenya untuk merekam monitor yang menampilkan bayi mereka.


“Pak Andri kalau mau merekam, yang di layar besar ya.” ucap dokter Ahmad, seraya menunjuk ke monitor 42 inc yang ada di sudut dinding.


“Oh, siap dok,” sahut Andri.


“Nah, itu dia dedenya, halo dek." ucap sang dokter pada bayi Beeve yang telah berusia 17 minggu, yang gerakannya sangat aktif.


Beeve dan Andri merasa haru melihat buah hati mereka dari layar monitor untuk pertama kalinya mereka melakukan USG bersama.


“Usianya sudah 11 minggu ya bu, alhamdulillah bayinya sehat semua organ tubuhnya juga bertumbuh dengan baik, enggak ada yang kurang, telinga mata hidung, paru-paru dan jantung semua masih dalam proses pembentukan.”


“Jenis kelaminnya apa dok?” tanya Andri dengan antusias.


“Kalau jenis kelamin itu, biasanya bisa di lihat pada usia kandungan 4 atau 5 bulan pak, kalau masih 11 minggu, kita belum bisa di memastikan.” terang dokter dengan tertawa kecil.


“Tapi di usia segitu, normal kan dok? Maksud saya enggak ada keterlambatan dalam pertumbuhannya kan?” tanya Beeve.


“Itu normal bu, memang kalau usia 11 minggu, semua organ masih dalam proses pembentukan, nah sekarang berat badan dedenya baru 7 gram panjang 4,1 cm, detak jantung 110-160 kali permenit, dan air ketuban ibu juga sangat banyak dan bersih, pertahankan ya bu, banyak-banyak minum air putih, makan buah-buahan, hindari makanan cepat saji, dan minuman yang mengandung pewarna, apa ada keluhan bu?” tanya sang dokter.


“Enggak ada dok,” jawab Beeve.

__ADS_1


“Apa perlu saya resep kan obat mual atau pusing?”


“Enggak usah dok, karena saya jarang sekali merasa mual,” terang Beeve.


“Berarti hamil kebo ya bu,” ucap sang dokter.


Saat Beeve dan dokter sedang mengobrol, Andri teringat akan bayi yang di kandung oleh Arinda.


Setelah selesai USG, Andri dan Beeve pun meninggalkan ruangan dokter Ahmad, ketika mereka melewati sebuah ruangan Beeve berhenti.


“Mas! Coba kau lihat.” Beeve dan Andri melihat ke ruang bayi yang baru lahir dari balik kaca.


Andri terperanjat, tatkala bayi-bayi mungil tak berdosa itu tidur dalam ranjang mininya masing-masing.


“Lucu bangat ya mas,” ucap Beeve. Dan ada satu bayi yang menoleh ke arah Andri, seolah-olah sedang melihatnya.


Astaga, apa yang telah ku lakukan? batin Andri.


Hatinya seolah menyesal bila membunuh Arinda dan calon buah hatinya.


Anak itu enggak berdosa, bisa-bisanya aku ingin menghabisinya, batin Andri, hatinya mendadak tak tenang.


“Sayang, aku ke kamar kecil sebentar ya.” ucap Andri meminta izin pada Beeve.


“Oke mas, aku tunggu kau disini,” Andri pun bergegas ke toilet.


Sesampainya di bilik toilet, ia mendial salah satu penculik Arinda.


📲 “Halo bos,” penculik.


📲 “Halo, dimana wanita itu?” Andri.


📲 “Sudah aman bos, ini lagi proses penembakan, dan dia masih dalam pengaruh obat bius,” penculik.


📲 “Tahan! Jangan bunuh wanita itu, tunggu aku datang kesana,” Andri.


📲 “Tapi bos...” penculik.


📲 “Jangan lukai dia, aku akan segera kesana,” Andri.


📲 “Baik bos,” penculik.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....


__ADS_1



__ADS_2