Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 123 (Duka Hati)


__ADS_3

Bam! Beeve menutup pintu kamar Arinda dengan keras.


“Sialan!!! Perempuan jahanam! Perusak rumah tangga ku! Harusnya kau pergi! Harusnya kau mati Bee!” Beeve benar-benar membuat Beeve stres.


“Enggak tahu diri, enggak tau tempat, mestinya kau mengejar Cristian, menikah dengannya, bukan dengan suami ku!” Arinda mengamuk sendiri dalam kamarnya.


Sementara Beeve yang masuk ke kamarnya dan Andri melihat suaminya telah terlelap.


Beeve berjalan dengan pelan, lalu menyusup ke dalam selimut dengan hati-hati, agar suaminya tak bangun.


“Katanya kau akan menjaga Arinda.” ucap Andri dengan mata terpejam.


“Dia sudah pulih mas, dan menyuruh ku untuk keluar, makanya aku kembali kesini,” ujar Beeve.


“Yang benar?”


“Iya mas, untuk apa sih aku bohong, lagian dia hanya pura-pura, kau saja yang enggak bisa membedakan,” gumam Beeve.


“Ya sudah, hei kita keluar sebebar yuk.” ucap Andri seraya memeluk Beeve.


“Kemana mas?”


“Ke rumah pak ustad,” ucap Andri.


“Untuk apa? Malam-malam begini lagi?” tanya Beeve.


“Haah..., karena aku banyak pikiran, aku jadi lupa, untuk memperbaiki hubungan kita.”


“Maksdunya apa sih mas?” Beeve yang tak mengerti menggaruk kepalnya.


“Kita nikah ulang, karena kemarin tanpa sadar dan atas dorongan emosi ku, aku mengatakan kau bukan istri ku lagi.”


“Maksudnya rujuk mas?”


“Iya, mumpung masih jam 19:30, harusnya aku mengajak mu dari tadi, tapi karena ada insiden soal Arinda, jadinya ku batalkan, dan sebelumnya aku sudah menelepon Julian, tapi dia enggak bersedia,” terang Andri.


“Kalau di wakilkan ke om saudara ayah kita bisa enggak mas?” tanya Beeve yang masih awam.


“Bisa, maksud mu om Heri yang di Bekasi?” tanya Andri.


“Iya, adik sambung ayah yang lain ibu, aku yakin dia bersedia, nanti mas kasih uang pelicin yang banyak saja,” jawab Beeve.


“Ya sudah, kau telepon saja, suruh buat panggil pak ustad sekalian,” pinta Andri.


“Oke mas.” Beeve pun mendial nomor Heri, adik sambung Erdogan, lain ibu dari ayahnya, beruntungnya Heri yang mata duitan mau membantu keponakannya, untuk menjadi wali nikah.


“Kita berangkat sekarang mas? Karena kesana kan hanya 15 menit lewat tol, nanti mereka nunggu kelamaan lagi,” ujar Beeve.


“Oke sayang.” ucap Andri dengan penuh senyuman.


“Lebar banget mas senyumnya,” ucap Beeve.


“Iya dong, karena ini adalah pernikahan real kita, yang dilandasi cinta dan kejujuran,” terang Andri.


Keduanya pun berpelukan, setelah itu segera menuju rumah om Heri, tanpa sepengetahuan Arinda.


_____________________________________________


Pagi harinya, ketika Andri dan kedua istrinya sedang sarapan di meja makan, lagi-lagi Beeve berebut tempat duduk agar di sebelah Andri.


“Sana kau tukang drama, aku yang berhak di sebelah mas Andri!” pekik Beeve yang tak memperbolehkan kan Arinda duduk disebelah sang suami.

__ADS_1


“Sayang, ini masih pagi, jangan marah-marah,” ucap Andri.


“Enggak tahu tuh mas, kerjaannya ngamuk terus, bikin kesal,” ujar Arinda.


“Diam kau tukang drama!” Andri yang sedang menggigit roti panggang nya di goda oleh Beeve.


“Mas, kau pakai selai apa?” tanya Beeve.


“Selai coklat sayang, kau lihat sendirikan?” jawab Andri.


“Pasti enak,” ucap Beeve.


“Mau coba?” Andri memberikannya roti miliknya pada Beeve. Tentunya Beeve menggigit roti Andri dengan penuh nikmat.


“Enak mas,” ucap Beeve seraya tersenyum.


“Habiskanlah,” ujar Andri.


Arinda yang bagaikan obat nyamuk benar-benar merasa terganggu.


Ia melempar garpu dan pisau makannya ke sembarang arah. Membuat Andri dan Beeve menoleh padanya.


“Kau kenapa?” tanya Andri.


“Pikir saja sendiri!” Arinda meninggalkan meja makan dengan menghempaskan kakinya dengan ke lantai.


Ia pun keluar dari dalam rumah menuju pohon cemara yang ada di dekat gerbang.


“Bikin kesal terus! Dasar pelakor!” pekik Arinda.


Ia yang ingin membalas kesombongan Beeve langsung menelepon mertuanya.


📲 “Assalamu'alaikum, halo bu,” Arinda.


Arinda yang bak artis sinetron mulai beraksi.


📲 “Hiks, ibu pasti sudah tahukan kalau Beeve telah kembali?” Arinda.


📲 “Hei, kenapa kau menangis? Ya, memang ibu sudah tahu kalau dia sudah pulang, tapi ayah mertua mu enggak kasih izin ke ibu untuk datang ke rumah kalian,” Rahma.


📲 “Kalau begitu Arinda harus bagaimana bu? Beeve sudah benar-benar keterlaluan pada ku bu, hiks..,” Arinda.


📲 “Apa maksud mu? Memangnya dia melakukan apa pada mu?” Rahma.


📲 “Beeve sering mencari masalah pada ku bu, dia juga sering menampar dan memukul kepala ku,” Arinda.


📲 “Yang benar? Kau enggak bohong kan?” Rahma.


📲 “Mana mungkin aku bohong bu, dia juga enggak mengizinkan mas Andri untuk tidur dengan ku, bahkan saat aku sakit, dia melarang mas Andri untuk merawat ku bu, parahnya dia juga mengguyur ku dengan air, dan menjambak rambut ku bu, hiks..., aku tertekan banget bu dengan sikap Beeve, seatap aku enggak masalah, tapi sikapnya sangat kasar, dan juga merendahkan ku karena hamil di luar nikah, hiks...” Arinda.


📲 “Apa? Kalau cerita yang benar Arinda! Mana mungkin dia begitu, aku tahu dia lemah lembut, meski Beeve murahan!” Rahma.


📲 “Aku enggak bohong bu, dia juga mengancam akan membunuh anak ku, tolong aku bu, kasihan cucu mu,” Arinda.


📲 “Ya sudah, ibu akan datang kesana, bisa-bisanya dia berbuat kasar pada mu!” Rahma.


📲 “Tolong Arinda ya bu, Arinda benar-benar stres kalau begini terus,” Arinda.


📲 “Baiklah, aku kesana sekarang,” Rahma.


Setelah sambungan telepon terputus, Arinda tertawa cekikikan.

__ADS_1


“Kali ini kau kena batunya, hahaha.” Arinda benar-benar tak sabar melihat Beeve di marahi mertuanya.


“Aku berangkat sayang.” ucap Andri seraya memeluk dan mengecup bibir Beeve.


“Kenapa enggak di teras acara ciumannya mas?” tanya Beeve.


“Kalau Arinda lihat gimana?” Jawab Andri.


“Biarkan saja,” ucap Beeve.


“Kau mau kalau dia minta juga?”


“Ya, enggak juga sih mas,” ujar Beeve.


“Makanya disini saja, biar enggak ada perdebatan di antara kalian,” terang Andri.


“Kesannya kok seperti sembunyi-sembunyi sih mas.” Beeve merasa kalau posisinya bagai simpanan.


“Jangan buat jadi panjang sayang, sudah, aku mau berangkat.” ucap Andri, kemudian ia mencium perut Beeve.


“Papa berangkat ya nak, kalau mama nakal tendang saja, bilang sama mama, buat jangan marah-marah.” Andri yang telah berpamitan pada anak Beeve pun memutuskan untuk berangkat.


“Jangan banyak marah ya hari ini, aku pergi sayang.” Andri mengecup kening Beeve.


“Insya Allah mas,” ucap Beeve.


Setelah Andri beranjak, Beeve mengikutinya dari belang tanpa Andri ketahui. Andri pun naik ke atas mobil yang di kemudikan oleh Ali.


“Berangkat Li,” titah Andri.


“Baik tuan.” Ali pun mulai melaju, saat mobil Andri ingin melewati gerbang, Andri melihat Arinda yang tengah duduk termenung di bawah pohon cemara.


“Berhenti sebentar Li.” pinta Andri. Lalu ia pun turun dari dalam mobil.


“Sedang apa kau disini?” tanya Andri pada istri keduanya.


“Kau lihat sendirikan mas, aku sedang bersantai,” jawab Arinda.


“Masuk ke dalam, lanjutkan sarapan mu,” titah Andri.


“Enggak usah memerintah ku mas, aku mau makan atau tidak, bukannya kau enggak perduli?” ucap Arinda dengan wajah judes.


“Tentu saja aku perduli, nanti kalau anak ku sakit bagaimana?” Mendengar perkataan Andri, Arinda bangkit dari duduknya.


“Apa anak ini saja yang kau perduli kan? Hah? Apa benar kau sayang padanya?” mata Arinda membelalak pada Andri.


“Tentu saja aku sayang,” ucap Andri.


“Bohong! Kalau kau benar-benar sayang, kau pasti melakukan tindakan lebih dari yang anak Beeve terima, contoh kecilnya, mengelus dan menciumnya, menyapanya, walau pun kau tak ingin bersentuhan dengan ku, setidaknya pada anak mu, lakukan hal berbeda, ini untuk yang bukan darah daging mu sayangnya bagai anak kandung!” Arinda yang emosional menitihkan air mata.


“Arinda, kau salah, aku juga sayang pada anak kita,” ucap Andri.


“Bullshit! Kau kejam pada kami mas! Jiwa dan raga mu hanya kau abdikan pada Beeve, saat aku ngidam, apa kau ada? Enggak! Aku sendiri yang mengurusnya, saat aku sakit karena efek hamil, apa kau ada? Enggak juga! Kau lebih memilih bermesraan dengannya! Sejak menikah, tak pernah sekali pun kau tidur bersama ku, dan kau mencampuri ku hanya 2 kali, itu juga enggak ada kerelaan!”


“Arinda, cukup Arinda!”


“Diam! Aku belum selesai mas! Dimana nurani mu? Apa salah ku mengandung anak mu? Ini semua takdir Tuhan! Allah lah yang menjodohkan aku dengan mu, kalau tak ada restu darinya, tentu aku dan kau enggak akan bersama! Apa setelah melahirkan kau akan menceraikan ku? Memisahkan diri dengan anak mu? Atau kau ingin mengambil hak asuh anak mu dan membuang ku?” ternyata Arinda benar-benar terguncang atas kehadiran Beeve.


Semua yang Arinda lontarkan membuat Andri tak dapat berkata-kata lagi, sebab tak ada satu pun yang melenceng dari kenyataan


...Bersambung......

__ADS_1


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2