Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 125 (Curhat)


__ADS_3

📲 “Mas,” Beeve.


📲 “Iya, ceritakan pada ku, aku siap mendengar,” Emir.


📲 “Aku di paksa cerai oleh ibu mu mas, hiks..., aku di suruh tanda tangan surat cerai,” Beeve.


📲 “Apa? Lalu? Apa kau melakukannya?” Emir.


📲 “Iya mas, aku di terus di desak, hati ku sakit mas, ibu juga merendahkan ku di hadapan Arinda mas,” Beeve.


Emir emosi, ketika mengetahui Beeve di perlakukan kasar oleh ibunya.


📲 “Harusnya kau tak menanda tanganinya, kalau memang masih mencintai Andri, jangan terpengaruh akan siapapun, karena yang mengetahui hubungan mu dan suami mu adalah kalian berdua, kalau Andri masih mempertahankan mu, untuk apa kau takut?” Emir.


📲 “Aku bingung mas, aku merasa tertekan, apa lagi lihat mas Andri perhatian pada Arinda, aku cemburu mas, hati ku terluka,” Beeve.


Emir sungguh tak tega, mendengar orang yang ia kasihi menangis sesungukan.


📲 “Hei, tenangkan dirimu, semua pasti baik-baik saja, yakinlah, kalau jodoh enggak akan kemana, aku yakin Andri akan tetap mempertahankan mu, dia belum tanda tangan juga kan?” Emir.


📲 “Belum mas, tapi nanti kalau ibu mendesaknya aku enggak tahu, apa dia akan melakukannya,” Beeve.


📲 “Percaya pada ku, dia enggak akan melakukan itu, karena ku tahu dia sangat mencintai mu, kalau kau memang mencintainya, terima ia dengan kekurangannya Bee, berdamai dengan keadaan, bagaimana pun semua telah terjadi,” Emir.


📲 “Iya mas, terimakasih atas nasehatnya,” Beeve.


📲 “Kau dimana sekarang?” Emir.


📲 “Di kampus,” Beeve.


📲 “Setelah selesai kelas, kau langsung pulang, jangan kemana-mana, apa lagi kabur, kasihan kalau Andri kepikiran,” Emir.


📲 “Baik mas, ya sudah kalau begitu, aku mau masuk kelas dulu,” Beeve.


📲 “Oke, jangan nangis lagi ya, kasihan bayi mu, kalau kau menangis, dia juga akan menangis, jangan pikirkan apapun, kesehatan bayi mu adalah nomor satu, kalau ada omongan yang tak enak di telinga mu, anggap saja sebagai bisikan setan. Emir.


📲 “Iya mas, terimakasih banyak,” Beeve.


Setelah panggilan telepon terputus, Beeve menghapus air matanya, ia juga memakai masker, agar wajahnya tak terlalu mencolok karena menangis.


________________________________________


Emir yang tak terima akan tindakan ibunya langsung menelpon Rahma.

__ADS_1


📲 “Halo nak,” Rahma.


📲 “Ibu lagi dimana?” Emir.


📲 “Di rumah mas mu, ada apa kau menelepon ibu?” Rahma.


📲 “Apa maksud ibu memaksa Beeve cerai dari Andri?” Emir.


📲 “Oh, si pembohong itu mengadu padamu?” Rahma.


📲 “Aku yang memaksanya untuk cerita, lagian ibu kenapa sok sibuk begitu sih pada rumah tangga Andri? Andri sudah tua, dia bisa mengurus segalanya, kenapa ibu yang sebagai tante kandung Beeve malah memaksanya cerai? Otak ibu dimana? Dia menantu ibu juga, pasti perempuan jalan* itukan yang mempengaruhi ibu?!” Emir.


📲 “Pelankan suara mu anak nakal, ibu juga sudah membiarkannya, tapi karena ia sudah main tangan pada Arinda, jelas ibu enggak terima, oh iya kau belum tahukan alasan apa yang membuat ibu makin membencinya?” Rahma.


📲 “Makin membencinya? Memangnya ada apa bu?” Rahma.


📲 “Kau tahu, Beeve yang kau cintai dan mas mu itu adalah wanita murahan? Tak cukup sampai disitu, dia dan seluruh keluarganya telah membohongi kita, anak yang di kandung Beeve, bukan anak mas mu! Jadi, apa salah kalau ibu membencinya?” Rahma.


Duar!!! Jantung Emir serasa meledak mendengar penuturan Rahma.


📲 “Ibu jangan fitnah bu!” Emir.


📲 “Enak saja, dia sudah mengakuinya, dan kemarin dia sendiri yang meninggalkan rumah, tapi mas bu yang bodoh masih saja mengejar-ngejar wanita tak beres itu! Kau jangan menyukainya lagi, cari wanita lain, awas saja kalau kau sama bodohnya dengan Andri,” Rahma.


📲 “Tapi, ibu enggak berhak bertindak sampai sejauh itu,” Emir.


Emir yang syok bercampur kesal langsung mematikan teleponnya.


“Astaga, pasti berat untuk mu Bee, tapi kenapa kau harus berbuat demikian pada keluarga ku? Ternyata itu alasan mu menikah muda?” Emir menjadi kepikiran akan nasib Beeve.


“Lambat laun, ia akan tersingkir juga, bagaimana pun, anak Arinda lah cucu ibu, kasihan kau Bee.” Emir yang buta akan cinta tak masalah dengan kebohongan Beeve tersebut. Justru ia ingin segera pulang, agar dapat membela Beeve dari kemarahan ibunya.


_____________________________________________


Andri yang baru saja sampai ke rumah membuka pintu, saat ia berjalan menuju ruang tamu, ia melihat ibunya memijat kaki Arinda.


“Kapan ibu datang?” ucap Andri.


“Kau sudah pulang?” Rahma menyudahi pijatannya.


“Iya.” lalu Andri memberikan minuman kesehatan pada Arinda yang ia beli di supermarket.


“Terimakasih mas,” ucap Arinda.

__ADS_1


Lalu Andri duduk di sofa, yang berhadapan dengan ibunya dan Arinda. Matanya pun celingak-cekinguk seperti mencari sesuatu.


“Mana Beeve?” tanya Andri.


Lalu Rahma mengeluarkan kertas cerai yang telah di tanda tangani Beeve.


“Apa ini?” tanya Andri kembali seraya membaca kertas yang ibunya berikan.


“Kau bisa bacakan? Dia setuju bercerai dengan mu!” ucap Rahma.


Raut wajah tenang Andri berubah 180 derajat, kemudian ia membanting kertas itu ke atas meja kaca yang ada di hadapan mereka bersama.


“Siapa dalang dari semua ini?” tanya Andri dengan raut wajah tegang.


“Ibu,” jawab Rahma.


“Ibu? Apa hak mu melakukan semua ini bu?! Ini urusan ku!” Andri berteriak pada Rahma.


“Andri! Pelan kan suara mu!” pekik Rahma.


“Diam! Ku tanya, apa hak ibu melakukan semua ini!” Suara Andri makin melengking pada ibunya.


“Karena dia tak pantas untuk mu, dia hanya wanita jalan*, sifatnya juga bagai preman, dia suka melakukan perundungan pada Arinda!” terang Rahma


“Akhh!! Mau dia jalan*, suka merundung! Main tangan! Ibu enggak punya hak melakukan ini semua! Ini rumah tangga ku! Bagaimana pun dia, sekotor apapun masa lalunya, aku mencintainya! Meski pun dia hamil anak orang lain, aku tetap menerimanya! Kenapa yang sibuk malah kau bu! Membuat surat cerai begini! Pasti ibu telah memaksanya kan? Iya kan!” Andri yang marah membanting keras tangannya ke meja kaca yang ada di hadapan mereka hingga pecah.


Prangg!!!!


Arinda dan Rahma jadi ketakutan, terlebih saat mereka melihat darah mengucur dari tangan kanan Andri di sertai serpihan kaca banyak menempel di telapak tangan bidang Andri Han.


“A-Andri, tangan mu!” saat Rahma ingin memegang tangan anaknya yang terluka, Andri menolak bantuan ibunya.


“Apa ayah enggak memberitahu ibu? Ku pikir dengan mengatakan pada ayah, sudah membuat ibu mengerti,” ucap Andri.


“Mas, jangan marah-marah pada ibu, lagi pula Beeve yang setuju untuk tanda tangan.” Arinda mencoba membela Rahma.


“Aku tahu ini semua karena ulah mu juga Nda, sudah bagus aku menutup mata pada mu, tapi ternyata kau mau kena imbas emosi ku juga!” pekik Andri, yang membuat Arinda menundukkan kepalanya.


“Andri, ibu hanya ingin yang terbaik pada mu, Beeve itu tak pantas untuk mu, kenapa kau enggak mengerti maksud ibu nak?” ucap Rahma.


“Aku sudah menikah, bukan anak lajang lagi, sungguh besar dosa mu bu, karena telah merusak rumah tangga ku, kalau sampai Beeve menghilang lagi, aku enggak akan memaafkan ibu!” Andri mengancam ibunya.


“Apa? Kau enggak akan memaafkan ibu? Andri kau sadar akan ucapan mu? Aku ini adalah ibu yang mengandung dan melahirkan mu! Merawat mu hingga kau besar, hanya karena wanita jalan* itu! Kau menentang ku, yang telah memberikan separuh hidup ku pada mu! Pelet apa yang ia berikan sampai-sampai membuat mu durhaka pada ku, surga mu ada pada ku Ndri, ridho orang tua adalah ridho Ilahi!”

__ADS_1


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2