Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 148 (Hera)


__ADS_3

📲 “Salah mas, aku milik mu, sedangkan kau milik bersama,” Beeve.


Wajah Andri jadi kecut ketika Beeve berkata demikian.


📲 “Jangan bawa-bawa orang lain deh sayang, saat kita sedang bermesraan begini,” Andri.


📲 “Mas yang mulai duluan kan?” Beeve.


📲 “Ya ampun sayang, kau pandai sekali merusak suasana, pada hal aku baru mau membahas hal jorok dengan mu,” Andri.


📲 “Jangan ngomong jorok, aku enggak mau mas,” Beeve.


📲 “Wajarlah sayang, kitakan lagi LDR,” Andri.


📲 “Enggak mau!” Beeve.


📲 “ Nanti setelah aku pulang ke rumah, kita video call yah, aku mau melihat kedua sahabat mu itu,” Andri.


📲 “Iih, mas! Geli tahu!” Beeve.


📲 “Hahaha, ngomong-ngomong semua amankan sayang? Enggak ada yang mengganggu mu kan?” Andri.


📲 “Ck, itu dia mas, Arinda memecat Mbak Siska, Resti dan Sinta,” Beeve.


📲 “Loh, kok bisa? Alasannya apa sayang?” Andri.


📲 “Kata Arinda sih, gara-gara rambut ada di piringnya, terus dia menegur Resti, setelah itu Siska membela Resti, dan ujung-ujunganya mereka bertengkar hebat, sampai adu otot segala mas,” Beeve.


📲 “Astaghfirullah, ck, tapi kau enggak apa-apakan sayang?” Andri.


📲 “Kok malah tanya keadaan ku mas? Yang kena hajar kan Arinda,” Beeve.


📲 “Kalau dia ku yakin pasti baik-baik saja, jadi dia memecat ketiganya ya?” Andri.


📲 “Iya mas, pokoknya parah banget, aku sampai malu karena dia,” Beeve.


📲 “Ya sudah sayang, kau jaga diri dan jarak dari dia, karenakan dia psikisnya belum stabil, aku takut kalau dia menyakiti anak kita,” Andri.


📲 “Iya mas,” Beeve.


📲 “Minta Winda menemani mu terus, apa lagi Januari kau mau melahirkan, dan maaf aku enggak ada di samping mu,” Andri.


📲 “Siap mas, enggak apa-apa kok, yang penting do'akan aku setiap waktu mas, agar panjang umur bersama si dede,” Beeve.


📲 “Aku selalu mendo'akan mu sayang, nama mu menjadi urutan ke empat dalam setiap do'a ku,” Andri.

__ADS_1


📲 “Terimakasih banyak mas, kalau begitu kita teleponan besok lagi ya, karena aku mau tidur,” Beeve.


📲 “Oke, kunci pintu rapat-rapat,” Andri.


📲 “Baik mas,” Beeve.


Setelah panggilan telepon itu berakhir, Beeve memutuskan untuk tidur.


Pagi harinya, saat Beeve baru bangun ia pun keluar dari dalam kamar. Ketika ia menuju dapur, tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut.


“Dasar bodoh! Masakan apa ini? Enggak ada rasa garam dan enaknya sama sekali!” pekik Arinda.


Beeve yang sudah berada di dapur pun melihat, ternyata Arinda marah-marah pada Hera.


“Ada apa sih Nda? Masih pagi sudah bikin ribut,” ucap Beeve.


“Ini nih! Si Hera, masa enggak becus!” ungkap Arinda. Lalu Beeve pun menuju meja makan, kemudian ia mengambil sendok dan mencicipi gule ayam buatan Hera yang ada dalam mangkok.


“Umm!” Beeve merasa masakan Hera begitu hambar. “Tambahkan garam Her, ini masalahnya hanya kurang asin saja,” ucap Beeve.


“Tuh kan! Benar kata ku,” ucap Arinda dengan wajah judes.


“Sudalah, hanya perkara kurang asin juga,” ucap Beeve.


“Karena masalahnya enggak rumit-rumit banget, kau saja yang memperpanjang segalanya,” terang Beeve.


Dasar mental babu, batin Arinda.


“Hera, tugas mu kan di kebun belakang, kenapa malah di dapur?” tanya Beeve.


“Itu karena nyonya Arinda meminta saya untuk memasak nyah, pada hal saya sudah beritahu, kalau saya enggak bisa memasak,” jawab Hera.


“Oh, begitu rupanya, mulai besok fokus saja mengurus kebun belakang ya,” ujar Beeve.


“Bee, kau ini apa-apaan sih! Dia itu pembantu, selayaknya harus serba bisa, dia bukan anggota keluarga kita, kalau dia enggak bisa dapat di maklumi,” ujar Arinda.


“Nda, kan masih ada mbak Winda, kenapa kau enggak menyuruhnya saja? Sebelum mereka semua kerja disini, yang pegang dapur kan mbak Winda dan mbak Siska, ini kesannya kau yang cari gara-gara loh,” terang Beeve.


“Apa?! Kau bilang aku cari gara-garaq ya Tuhan?” seketika Arinda naik pitam, lalu ia pun melotot pada Hera yang ada di sebelah mereka.


“Heh! Ini semua karena ketidak ahlian mu dalam bekerja, kurang professional! Apa kau senang Beeve berkata begitu pada ku? Kau senang aku di tegur Beeve?”


“Eng-enggak nyonya.” ucap Hera seraya menundukkan kepala.


“Apa itu? Kau tak mau melihat wajah ku saat bicara?” Arinda pun bangkit dari duduknya, lalu meremass kuat bibir Sinta. Beeve yang melihat pun ikut berdiri, lalu menampar tangan Arinda yang malai kasar mencubit wajah Hera.

__ADS_1


“Arinda! Apa sih mau mu sebenarnya?!” pekik Beeve.


“Aku mau mereka menghormati ku!”


“Mereka memang sudah menghormati, bahkan tak sampai disitu, mereka juga takut pada mu, apa itu masih kurang???” ucap Beeve.


Hera yang ketakutan pun tak dapat membendung air matanya.


“Nangis! Baru begitu sudah menangis!!” tubuh Hera yang mungil membuat Arinda bebas melakukan apapun, Arinda yang di kuasai emosi memukul-mukul kepala Art nya itu.


“Diam enggak? Kalau enggak diam! Aku cekoki mulut mu pakai cabai!” ancam Arinda.


Beeve yang sudah tak tahan, mengambil cabai giling dari dalam kulkas setelah itu, ia ambil pakai tangannya, selanjutnya Beeve tarik rambut Arinda sampai kepalanya menjungkal kebelakang, jleb!!


Beeve memasukan satu kepal cabai giling ke mulut Arinda.


“Nih makan! Dari kemarin kau buat rusuh terus!” pekik Beeve.


Sontak Arinda kepedasan, ia yang ingin berlari ke wastafel untuk mencuci mulutnya pun di tahan oleh Beeve.


“Tunggu sampai 5 menit, baru kau boleh pergi,” ucap Beeve.


“Hah! Hah! Haaa!! Pedas! Lepaskan aku!” Arinda berteriak seraya menangis. Karena kasihan Beeve pun melepaskannya. Arinda buru-buru ke wastafel membersihkan mulutnya.


“Awas kau ya, kalau sampai berulah lagi!” Beeve yang gerah pun memutuskan kembali ke kamarnya untuk mandi.


Namun Hera yang ingin beranjak di hentikan oleh Arinda.


“Berhenti kau di tempat mu!” Hera yang takut, tak melangkah sejengkal pun dari posisinya.


Setelah mulutnya bersih, Arinda memakan gula pasir dengan jumlah yang banyak. Ia yang merasa agak tenang, kembali berdiri di hadapan Hera.


“Ini semua karena mu! Untuk itu, kau ku pecat hari ini juga! Keluar kau dari sini, atau ku tuntut kau ke kantor polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, aku punya keluarga pejabat dan orang penting, kalau aku mau, sekali kontak, kau akan habis!”


Hera yang masih polos dan awam pengetahuan tentang hukum jadi gentar, ia yang miskin tak ingin mencari masalah, karena setahunya, tak ada kemenangan bagi rakyat jelata sepertinya melawan orang kaya, apa lagi orang tersebut mempunyai orang dalam.


“Ba-baik nyah, saya akan berhenti dari sini,” ucap Hera.


“Bagus, kalau begitu bergegaslah, jangan sampai Beeve tahu, cepat!!” Ancaman Arinda benar-benar membuat Hera takut, Art malang itu pun bergegas ke kamarnya untuk menyusun barang-barangnya.


Bersambung...


Mampir ke Save Yalisa yuk! Kisah Romantis dan Mendebarkan.


__ADS_1


__ADS_2