
“Baik bu, jangan lupa saling mendo'a kan agar rencana kita berhasil, ibu juga jangan menangis lagi, setelah ketahuan Arinda kabur, pasti rumah kitalah sasaran utama polisi, ingat jangan tinggalkan jejak, habis dari sini, ganti baju baru, dan buang baju yang ibu kenakan sekarang, agar sidik jari Arinda tak di temukan dimana pun.” Dimas menjelaskan secara terperinci pada istrinya, untuk menghindari kecurigaan polisi.
“Bu, maafkan aku ya, sudah banyak membuat masalah dalam keluarga kita, aku janji, enggak akan menyusahkan kalian lagi, Arinda sayang ibu dan ayah, kalau keadaannya sudah tenang, Arinda akan mengabari kalian, dan kita bisa bertemu kembali.” Arinda memeluk tubuh ibunya dengan berderai air mata.
“Arinda, handphone pria yang tadi kau gunakan dimana?” tanya Dimas.
“Aku membakarnya bersama mobil dan si brengsek itu tadi, ayah jangan lupa untuk menghapus panggilannya!” ucap Arinda.
“Iya, tenang saja!” setelah selesai dengan segalanya, Arinda dan Dimas keluar dari kamar hotel dengan menggunakan masker dan kaca mata.
Selanjutnya mereka meluncur menuju dukcapil setempat untuk membuat ktp baru.
“Yah, kalau sidik jari ku tetap sama, bukannya ktp nya itu percuma?” ucap Arinda.
Lalu Dimas pun menghentikan motornya di pinggir jalan.
“Sini jempol dan telunjuk mu!” pinta Dimas, Arinda yang tak mengerti pun hanya menurut, lalu Dimas mengeluarkan pisau lipat kecil dari kantongnya.
“Ayah, kau mau apa?!”
Sreett!!
Dimas menyayat kecil jempol dan juga telunjuk Arinda.
“Maaf nak, ayah pernah melihat di yutub, cara ini cukup ampun untuk merusak sidik jari, tujuannya agar photo lama mu tak muncul saat kau sedang di periksa di bandara atau dimana pun, semoga beruntung nak.” setelah mengatakan hal itu, Dimas pun memberikan. putrinya alkohol dan plester luka, selanjutnya mereka kembali melaju ke kantor dukcapil.
Keesokan harinya, Beeve yang sedang santai di ruang menonton pun menyaksikan sebuah berita, yang menyiarkan kabar kaburnya Arinda dari penjara, dan mobil Leo yang berada di jurang, serta mayat Leo yang telah hangus tak luput dari sorotan pemberitaan.
Seketika jantung Beeve berdetak kencang, saat menyaksikan berita di pagi itu.
“Ya Allah, bagaimana cara Arinda bisa kabur dari ketatnya penjagaan penjara?” gumam Beeve.
Jujur dalam hatinya timbul rasa takut yang teramat dalam, jikalau Arinda tiba-tiba muncul di hadapannya, atau mencari tahu tentang Bia.
“Semoga saja, dia pergi jauh, jangan mengusik keluarga ku lagi.” Beeve pun mengambil handphonenya yang ada di meja, lalu mengirim pesan elektronik pada sang suami.
Mas, Arinda kabur dari penjara, dia juga membunuh seorang kepala penyidik, coba kau lihat beritanya, ✉️ Beeve.
Andri yang menerima pesan dari istrinya langsung khawatir, sebab ia takut jika Arinda menggangu keluarga kecilnya lagi.
Baik sayang, kau tenang ya, katakan pada satpam di rumah agar jangan sampai lengah, cegah jika Arinda datang ke rumah, ✉️ Andri.
“Oke mas, tapi yang paling aku ku cemaskan adalah Bia, aku takut kalau kedua orang tua Arinda mengetahui sekolahnya juga, aku akan jemput dia sekarang, ✉️ Beeve.
“Enggak, jangan kemana-mana, biar Roni saja yang jemput, kau sedang kurang sehat, tenangkan dirimu, aku juga akan segera pulang, ✉️ Andri.
Baiklah mas, ku tunggu, ✉️ Beeve.
Selesai berkirim pesan, Andri melihat berita di internet, lalu ia pun menggenggam kuat handphonenya, karena tak percaya.
__ADS_1
“Hebat juga dia, bisa kabur dari penjara, mudah-mudahan Arinda cepat tertangkap, kalau enggak, bisa bahaya banget untuk keluarga ku,” gumam Andri.
Setelah itu, ia pun menghubungi Arman untuk menangani pekerjaannya hari itu, selanjutnya Andri bergegas pulang menuju rumah orang tuanya.
________________________________________
Sementara di rumah orang tua Arinda sudah ada beberapa polisi yang datang berkunjung, seluruh isi rumah Arinda di geledah oleh petugas, namun hasilnya nihil, Dimas dan Elia yang tak lepas dari kecurigaan polisi pun di seret menuju kantor polisi untuk di mintai keterangan lebih lanjut.
Sesampainya di kantor polisi, Dimas mau pun Elia di cerca dengan berbagai pertanyaan.
“Katakan! Dimana Arinda sekarang berada?!” tanya sang polisi.
“Maaf pak, kami benar-benar tidak tahu, kami tahu Arinda melarikan diri setelah bapak-bapak datang ke rumah kami tadi,” ujar Dimas.
“Benar pak, kami belum bertemu Arinda sama sekali,” timpal Elia.
“Kalian jangan mempersulit penyelidikan kami! Cepat katakan! Karena Arinda sekarang adalah buronan, dengan pasal berlapis! Jika kalian terbukti menyembunyikan tersangka, maka kalian juga akan terjerat hukum!” pekik sang polisi.
“Kami siap menerima hukuman apapun jika terbukti bersalah pak,” ucap Dimas.
“Betul pak, kami ini jujur, tak mungkin kami menyembunyikannya, karena kami sadar, anak kami itu sedang menjalani masa tahananannya, walau dia anak kami, kalau salah, tetaplah salah,” terang Elia.
Seberapa keras pun polisi memaksa kedua orang tua itu untuk mengaku, namun mereka tetap tutup mulut, hingga akhirnya untuk hari itu Dimas dan Elia di perbolehkan pulang, namun bukan berarti mereka lepas dari sorotan para polisi.
Elia dan Dimas menghela nafas panjang setelah mereka berdua kembali ke rumah.
“Benar-benar bikin sesak nafas bu,” ucap Dimas.
“Ibu benar, kita harus hati-hati dalam bergerak dan menggunakan handphone kita, kalau tidak, bisa habis kita mendekam dalam penjara juga,” ujar Dimas.
“Iya, ayah benar,” lanjut Elia.
Karena putri semata wayang mereka, Elia dan Dimas mau tak mau menjadi kriminal juga.
___________________________________________
Andri yang telah sampai di rumah menemui Beeve yang berada dalam kamar bersama Bia.
“Sayang!” Andri memeluk istri dan putrinya.
“Mas, kau lama sekali datangnya.” ucap Beeve yang ketakutan.
“Mama kenapa sih pa? Dari tadi peluk Bia terus, tapi enggak bilang apa yang terjadi,” terang Bia.
“Mama seperti ini karena ada tante-tante yang lari dari penjara.” lalu Andri pun memperlihatkan photo Arinda pada Bia.
“Kalau Bia lihat orang ini dimana pun, segera lari ya, cari orang dewasa, dan minta pertolongan, kalau Bia di sekolah Bilang pada bu guru untuk menghubungi mama dan papa, Bia mengertikan?” ucap Andri.
“Iya pa, berarti tante ini orang jahat ya pa?”
__ADS_1
“Iya nak, pokoknya kalau bertemu dengannya lari, nama tante ini adalah Arinda Putri,” terang Andri.
“Oke pa, Bia mengerti,” ucap Bia.
Malam harinya, saat di meja makan, keluarga Han pun sibuk membahas tengang Arinda.
Helena yang belum tahu siapa itu Arinda mulai bertanya-tanya.
“Kalian semua kenal dengan buronan itu?”
“Iya begitulah,” jawab Rahma.
“Kok bisa keluarga besar Han kenal dengan orang jahat, otak psikopat begitu bu?” tanya Helena dengan polosnya.
Lalu Emir pun menjawab, “Dia mantan istri Andri.”
Sontak Helena menoleh ke arah abang iparnya yang sedang makan.
“Jadi bang Andri sudah 2 kali menikah? Kak Beeve istri pertama atau yang kedua?” Helena yang makin penasaran mulai menggali informasi.
“Istri pertama ya Beeve.” ucap Emir, Helena menutup mulut dengan tangannya karena tak percaya, jika abang iparnya selingkuh.
“Poligami dong,” celetuk Helena.
Andri dan Beeve pun langsung merasa kenyang saat adik mereka membahas tentang masa lalu mereka kembali.
“Hei, itukan sudah berlalu.” ujar Rahma, ia tahu kalau Beeve dan Andri tak suka akan pembahasan yang menyakitkan banyak pihak itu.
“Tetap saja itukan kenyataan bu, bagaimana pun sejarah enggak bisa di rubah, tapi masa depan bisa di perbaiki, semoga saja Arinda cepat tertangkap, aku takut kalau kehadirannya mengancam keselamatan Beeve, terlebih sekarang Beeve sedang mengandung, dulu dia masih sekedar kriminal ecek-ecek, sekarang sudah dalam tahap penghilangan nyawa, bisa bahaya kalau sampai dia bertemu salah satu keluarga kita, jika dia merasa dendam.” perkataan Emir membuat keluarga besar itu bergidik ngeri.
“Bang, aku takut, gimana dong kalau dia menyakiti ku?” Helena memegang lengan suaminya yang kekar.
“Kalau kau sih aku yakin, pasti dapat menjaga diri, kalau dia macam-macam, cabut saja giginya satu persatu,” terang Emir.
“Abang... ade serius!” Helena yang manja merengek pada suaminya.
“Kau benar juga Mir, kita harus bantu para polisi itu untuk mencari Arinda, ayah jadi enggak tenang, apa lagi yang menjebloskan dia ke penjarakan keluarga kita, ayah takut dia menyakiti salah satu dari kita, terutama Bia dan Beeve,” ujar Yudi.
“Aku akan suruh detektif yang menemukan Bia dulu untuk mencari Arinda, semoga saja dia berhasil,” ujar Andri.
Setelah selesai makan malam, mereka pun kembali ke kamar masing-masing, malam itu Bia tidur bersama kakek dan neneknya.
Helena dan Emir yang baru tiba ke dalam kamar berdebat kecil terkait masalah perlindungan.
“Abang tega banget pada ku!”
“Maksudnya apa dek?” tanya Emir tak mengerti.
“Masa di depan semua orang abang bilang aku bisa jaga diri, dan yang paling di khawatirkan adalah kak Beeve dan Bia? Dimana harga diriku abang buat? Harusnya istri yang abang utamakan, yang datang mengancam keselamatan anggota keluarga Han itu narapidana, pembunuh tahap pertama loh bang! Abang Sedikit pun enggak khawatir pada ku?”
__ADS_1
...Bersambung......