Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 73 (Rekaman)


__ADS_3

Ada apa dengan Arinda? Apa dia bertengkar dengan pak Andri? batin Yeni.


“Hei Arinda, apa kau baik-baik saja?” Yeni menyentuh bahu Arinda, namun bukannya berterimakasih karena di khawatirkan mantan rekan kerjanya, Arinda justru memberi respon di luar dugaan.


“Singkirkan tangan menjijikkan mu dari ku.” Arinda menepuk-nepuk bekas tangan Yeni di bahunya.


“Dasar kotor, harusnya kau sadar diri, aku dengan mu itu enggak selevel.” ucap ketus Arinda yang membuat Yeni mengernyit.


“Dasar enggak tahu di untung, aku kan hanya mengkhawatirkan mu saja,” ucap Yeni.


“Khawatirkan saja dirimu sendiri, jangan suka ikut campur masalah orang lain bodoh!” pekik Arinda.


Setelah itu, Arinda bergegas meninggalkan Yeni menuju lift.


Ting!


Ketika lift terbuka ia pun masuk, beruntung tak ada siapapun dalam lift, Arinda buru-buru membereskan rambut dan wajahnya yang kacau sebelum sampai ke lantai dasar.


Ting!


Sesampainya di lantai dasar Arinda keluar, ia pun mengambil handphone yang ada dalam tas nya. Ternyata sejak ia sampai ke lantai 8 Arinda telah mengaktifkan rekaman suara.


Ia pun tersenyum puas akan hasil kinerjanya hari itu.


Aku harus mendapatkan mu mas, karena pewaris yang sebenarnya itu ada di perut ku bukan anak Beeve, batin Arinda.


Ia pun mematikan rekaman suara itu, selanjutnya ia kirim pada Andri melalui pesan WhatsApp.


“Kita lihat, siapa yang lebih kuat mas, hahaha.” Arinda teramat senang, ia tak perduli akan nyawanya yang terancam, karena ia yakin betul, Andri akan menjadi miliknya..


Andri yang melihat ada pesan baru masuk ke dalam handphonenya langsung membukanya, ketika ia mendengar isi rekaman suara yang ia terima, Andri menggenggam kuat handphonenya.


Arinda yang mengetahui Andri telah membaca pesannya pun mengirim pesan kedua.


✉️ Ku tunggu itikad baiknya 1x24 jam, kalau enggak, bukti visum, DNA dan hasil usg kehamilan ku, akan ku sebar ke seluruh keluarga mu mas Andri sayang, Arinda.


Andri meremass rambutnya kuat-kuat, lalu ia pun menelepon Arman.


📲 “Halo Man, cepat kau datang ke ruangan ku sekarang juga,” Andri.


📲 “O-oke Ndri,” Arman.


“Ya Allah ada apa lagi ini?!” Arman yang tahu semua sedang tidak baik-baik saja bergegas turun dari ruangannya yang berada di lantai 9.


Ting! Setelah pintu lift terbuka, Arman dengan langkah tergesah-gesah masuk ke dalam ruangan tanpa menyapa Yeni.

__ADS_1


Dan untuk ke dua kalinya Yeni di buat bingung akan situasi yang ada.


Bam!! Tanpa sengaja Arman membanting pintu.


“Ada apa Ndri?” tanya Arman.


“Si jalan* itu barusan datang kesini!” jawab Andri dengan emosi.


“Maksud mu Arinda?”


“Betul.”


“Mau apa dia kemari?”


“Untuk meminta tanggung jawab, karena dia sekarang sedang hamil anak ku,” terang Andri.


“Astaga naga!” Arman ikut syok mendengarnya.


“Apa kau yakin Ndri?”


“Aku enggak tahu harus percaya atau tidak, karena dia membawa bukti usg, tespek dan juga surat keterangan hamil dari dokter, gilanya percakapan kami barusan di rekam juga olehnya!” terang Andri.


Arman mengusap wajahnya dengan tangannya, “Tanggung jawab seperti apa yang dia minta?” tanya Arman.


“Dia minta aku untuk menikahinya, kan gila!”


“Dan barusan dia mengirim pesan, menunggu itikad baik ku, kalau enggak, dia akan menyebar bukti-bukti yang ia punya termasuk hasil visum perbuatan ku yang kemarin! Akh!! Aku pusing man!”


Arman yang sebagai pendengar pun jadi panik menghadapi situasi yang ada.


“Terus apa tindakan yang akan kau ambil selanjutnya?”


“Akan ku bunuh dia,” ucap Andri.


“Hei, kau jangan asal bicara! Jangan kotori tangan mu hanya untuk hal seperti ini!”


“Hal seperti ini apa sih maksudnya? Ini masalah besar, kalau aku menuruti maunya, sama dengan akan menghancurkan kehidupan rumah tangga ku, aku dan Beeve akan segera memiliki anak, kau pikir seperti apa jadinya kalau aku menuruti maunya?”


“Tapi kalau membunuh akan membuat mu masuk penjara, dan kau akan berpisah dengan istri mu untuk waktu yang lama, bahkan bisa selamanya, kau pikir membunuh manusia semudah membunuh hewan?”


“Enggak mungkinkan aku menikahi dia?”


“Tambahi saja uang tutup mulutnya,” ujar Arman.


“Yang 4 milyar saja dia enggak sentuh, apa lagi di tambah jumlahnya, dia itu hanya ingin aku, mengertikan?” terang Andri.

__ADS_1


“Hmmm... rumit sekali Ndri kalau begini,” ucap Arman.


“Tapi aku punya rencana.”


“Apa itu?”


“Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya, akan ku bawa dia ke klinik yang bisa melakukan aborsi.”


“Ndri, bayi itu enggak bersalah, yang salah ya kalian berdua, anak tak berdosa itu jadi korban karena keegoisan kalian berdua? Jangan bunuh anak mu Ndri, kasihan dia,” pinta Arman.


“Kau enggak ngerti Man,” ucap Andri.


“Kau yang tidak mengerti, anak itu enggak bersalah, jangan kau habisi dia karena kebejatan ibunya, aku sendiri yang sudah lama menikah belum memiliki anak, sedang aku yang di beri kemudahan ingin membuangnya? tak ada masalah yang tak bisa di selesaikan, jangan bunuh anak mu, kasihani dia, dan aku akan menemani mu menemui Arinda untuk membuat kesepakatan,” terang Arman.


“Kesepatan apa maksud mu?” tanya Andri.


“Apa saja yang akan kita bicarakan nanti," jawab Arman.


“Jangan aneh-aneh ya!”


“Kau yang aneh-aneh! Tahan niat membunuh mu itu! Belum tentu setelah Arinda dan anak mu mati hidup mu akan tenang,” terang Arman.


_______________________________________________


Di kampus, setelah kelas pertama selesai, Beeve memutuskan untuk keluar ruangan.


Cristian yang melihat Beeve akan melangkah menuju pintu pun menyusulnya


“Bee, kau mau kemana?”


“Apa urusan mu?”


“Ayo aku temani, sudah lama kita enggak mengobrol secara baik-baik," ujar Cristian.


“Maaf saja ya, aku enggak punya waktu mengobrol dengan mu, dan tolong jangan ganggu aku, anggap kita enggak saling kenal bisa kan??” pekik Beeve.


“Ya Tuhan, kau jangan sombong begitu pada ku Bee, bagaimana pun kita ini adalah mantan kekasih, jangan terlalu cuek, dulu kita sangat dekat, masa sekarang untuk jadi sahabat saja enggak bisa?” terang Cristian.


“Jangan banyak bicara Crist, aku sudah bilang, jangan ganggu hidup ku, karena aku sudah menikah, aku sudah punya kehidupan sendiri, harusnya kau banyak bersyukur karena aku enggak menuntut mu ke pengadilan," ucap Beeve.


“Oke fine! Kita memang punya masa lalu yang kelam, tapi itu hanya cerita masa lalu, sekarang sudah beda, kau sudah menemukan pengganti ku, apa salahnya kalau kita berteman lagi? Sama seperti dulu?” sikap tak tahu malu Cristian benar-benar membuat Beeve ingin muntah, kalau bisa rasanya Beeve ingin meludahi wajah Cristian saat itu juga, namun karena banyak orang ia mengurungkan niatnya.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....

__ADS_1



__ADS_2