Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 137 (Mengurung Mu)


__ADS_3

“Ibu rasa, semua sudah baik-baik saja sekarang, tolong kau jangan buat Arinda stres karena masalah perceraian dan lainnya,” pinta Elia.


“Betul nak Andri, saya sebenarnya ingin sekali menuntut mu, namun karena anak ku sangat membutuhkan kehadiran mu, aku mengurungkannya, jadi tolong urus dengan benar, jangan gegabah dalam hal apapun lagi, soal Beeve biarkan saja, nanti dia juga akan tenang, toh dia enggak ada tempat yang mau di tujukan,” terang Dimas.


“Baiklah,” ucap Andri.


“Kalau begitu kami pulang dulu, ayah titip Arinda,” ucap Dimas.


“Terimakasih untuk semuanya nak Andri,” ucap Elia.


“Sama-sama bu, yah,” sahut Andri.


Setelah Dimas dan Elia pergi dari rumah, Andri pun menyusul Beeve ke kamar.


“Arinda kembalilah ke kamar mu untuk istirahat,” ujar Andri.


“Tapi mas...”


“Aku mau ke kamar dulu.” Andri pun segera beranjak, sesampainya Andri ke kamar, ia melihat Beeve menyandang tas sandang kecilnya.


“Kau mau kemana?” tanya Andri.


“Aku mau pergi mas,” jawab Beeve.


“Kau mau pergi kemana? Hah?” Andri memegang tangan Beeve yang dingin.


“Kemana pun, asal enggak bersama mu dan wanita itu!” pekik Beeve.


“Sayang, kau jangan tinggalkan aku, aku enggak bisa hidup tanpa mu.”


“Kau enggak bisa hidup tanpa ku mas?”


“Iya.” Andri menganggukkan kepalanya.


“Bohong! Kau bisa hidup tanpa ku, buktinya tadi malam, kau berjanji tidur dengan ku, tapi apa? Kau malah bersama Arinda mu itu!” sabar Beeve benar-benar sudah pada ujungnya.


“Dia mau bunuh diri sayang, kau lihat kan tadi malam tangannya teruka?!” terang Andri.


“Iya! Aku lihat, dan aku juga lihat kau menciumnya.” Beeve menyentuh kasar bibir Andri.


“Sama seperti yang kau lakukan pada ku!” Beeve mengeluarkan isi hatinya dengan suara bergetar dan berurai air mata.


“Oh.. enggak cuma itu, aku juga lihat kau memeluknya di ranjang, aku juga mendengar kalau kalian ingin punya anak lagi! Hah! Kau benar-benar ya mas!”

__ADS_1


“Sayang, sayang aku mengatakan itu agar dia tenang, bagaimana pun juga, dia butuh aku, kami baru berduka,” terang Andri.


“Memangnya hanya dia yang membutuhkan mu mas? Aku juga! Aku juga butuh!”


“Sayang.”


“Mas! Aku juga terluka, hati ku ini bukan baja anti karat, aku bisa rapuh mas, dan kau tahu itu.”


“Aku tahu, tapi...”


“Tapi kau pura-pura enggak mengerti, dan mengabaikan ku, karena anak yang ku kandung ini bukan milik mu, itu kan alasannya?” ucap Beeve.


“Sayang, aku...”


“Dan yang Arinda kandung anak biologis mu, kau pikir aku enggak sakit hati, kalau kau berkata anak ku, anak ku..., hah! Aku sakit mas! Aku merasa tersindir, apa karena aku berbuat dosa di masa lalu, jadi aku tak pantas bahagia di masa depan? Apa aku harus hidup dalam bayang-bayang perbuatan buruk ku yang dulu, baru sesuai?”


“Sayang, aku enggak pernah menilai mu sampai sejauh itu,” ucap Andri.


“Sekarang begini saja, kau pilih aku tau dia mas?” Beeve memberi pilihan pada Andri yang masih dilema.


“Tentu saja aku memilih mu,” jawab Andri cepat.


“Kalau begitu, ceraikan dia sekarang dan usir dia dari sini detik ini juga!” Andri menghela nafas panjang atas permintaan Beeve.


“Sayang, itu enggak mungkin ku lakukan, dia masih terguncang, ayolah, setelah dia sehat, aku janji akan menceraikan dia,” ungkap Andri.


“Maksudnya?”


“Kau lebih memilih dia.”


“Bukan!”


“Ceraikan saja aku mas, biar hidup mu enggak meresahkan begini,” pinta Beeve.


“Permintaan konyol apa lagi itu?” Andri mencengkram kedua bahu Beeve.


“Kau yang konyol mas!” pekik Beeve.


“Jangan bicara yang aneh-aneh, aku enggak akan pernah menceraikan mu,” ucap Andri.


“Kalau begitu aku yang akan menceraikan mu.” mata Andri lun membulat sempurna.


“Beeve!” teriak Andri.

__ADS_1


“Maaf mas, meski aku mencintai mu, tapi aku enggak bisa berbagi hati dengan yang lain, selama ini aku bertahan bukan karena bodoh, atau tak bisa berdiri sendiri di atas kaki ku, aku melakukan semuanya, karena kau suami ku, dalam pacaran, mengejar seseorang yang di kasihi di sebut pengemis cinta, tapi dalam ikatan yang sah, mempertahankan pasangan itu artinya memperjuangkan keutuhan rumah tangga, meski dari sebelah pihak benar-benar brengsek, tapi yang utama di lakukan adalah bersabar, karena cinta bukan hanya tentang gairah, karena kehidupan pernikahan tak selamanya mulus, untuk itu aku mempertahankan mu hingga aku kerasa bosan,” terang Beeve.


”Jadi sekarang artinya kau telah bosan pada ku?” tanya Andri.


“Iya, aku bosan mas, pendirian mu membuat aku menderita, jadi biarkan kita melalui jalan yang berbeda, aku ikhlas mas.” Beeve berkata seraya menangis tersedu-sedu.


“Kau bohong, ku tahu kau masih sangat mencintai ku ” ucap Andri seraya memeluk Beeve.


“Aku enggak pernah bilang tak mencintai mu lagi, tapi lelah ku membuat aku tak ingin bersama mu mas, hiks... beri aku talak sekarang, agar kita tak punya hubungan lagi,” pinta Beeve.


“Enggak bisa, selain aku, tak ada yang boleh memiliki mu.” Andri berniat mencium bibir Beeve, namun Beeve menutup mulut Andri dengan tangannya. Dan itu adalah penolakan pertama Beeve pada Andri.


Andri yang ingin mengubah isi hati Beeve melepas paksa tangan Beeve.


“Selamanya aku akan menjadi suami mu, dan selama itu kau tak boleh menolak ku.” Andri mengecup bibir Beeve yang telah lama tak ia sentuh.


Beeve mencoba melepaskan diri, namun Andri mengunci pergerakan Beeve.


Aku mencintai mu Bee, jangan tinggalkan aku, sedikit lagi, bertahanlah sebentar lagi, batin Andri.


Cukup lama Andri bergumul pada bibir dan rongga manis istrinya, hingga ia melepaskan pagutan tersebut.


“Please, beri aku 1 bulan saja, kalau aku masih ingkar kau boleh pergi,” pinta Andri.


“No, seperti kata ku mas, aku yang akan menceraikan mu!” keputusan Beeve sudah bulat, ia yang sekarang bukan yang dulu lagi.


Andri menelan salivanya, karena tak dapat meluluhkan hati Beeve, terpaksa Andri melalukan tindakan terakhirnya.


“Maafkan aku sayang.” ucap Andri, seraya melepas pelukannya dari Beeve. Kemudian ia berjalan cepat menuju pintu.


Bam!! Retek!! Andri mengurung Beeve dalam kamar.


Sontak Beeve berlari ke pintu, “Mas! Mas Andri, buka mas! Jangan kurung aku! Ku mohon mas! Mas Andri!” Beeve terus berteriak seraya menggedor pintu, namun karena bangunan seluruh rumah rapi dan rapat, jadi seberapa kuat pun Beeve menggedor, suaranya hanya terdengar samar-samar saja.


Andri yang melihat Winda melintas di depannya pun memberi perintah.


“Winda, kemari lah!” titah Andri.


“Iya tuan?!” sahut Winda.


“Jangan ada satu orang pun yang membuka pintu ini, dan beritahu pada seluruh yang bekerja di rumah ini, untuk mengawasi pergerakan nyonya, dia enggak boleh keluar dari rumah,” titah Andri.


“Baik tuan.” jawab Winda, selanjutnya ia langsung mengunumkan di group chat seluruh pekerja yang ada di rumah itu.

__ADS_1


Setelah itu Andri beranjak dari kamarnya dengan membawa kunci kamar di tangannya.


Kenapa sih kau enggak mengerti kondisi ku? batin Andri.


__ADS_2