Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 259 (Jujur)


__ADS_3

“Aku baik-baik saja sayang, kadang ada kerjaan yang bikin pusing sedikit, jadi wajarlah, apa lagi sekarang persaingan bisnis lagi gila-gilanya,” terang Andri.


“Begitu ya mas.” ucap Beeve seraya melirik serius suaminya.


“Iya sayang, jadi kau tak perlu risau kan aku, pikirkan dirimu sendiri, kau dan anak-anak harus sehat selalu.”


“Iya mas, aku akan jaga kesehatan,” Beeve pun membalas pelukan suaminya.


“Masalah Helena, jangan masukkan dalam hati, anggap saja angin lewat atau orang gila,” ujar Andri.


“Iya mas, dari kemarin sudah ku anggap gila kok,” ucap Beeve.


Setelah percakapan singkat tersebut, Andri dan Beeve tidur pulas.


Keesokan harinya, tepat di Minggu pagi yang terik akan sinar mentari yang telah menyingsing tinggi di angkasa. Andri, Emir dan juga ayahnya duduk santai di tepi kolam berenang di temani dengan secangkir teh manis hangat dan pisang goreng di atas piring.


“Mir, bagaimana dengan perasaan mu hari ini nak? Apa sudah baikan?” Yudi menyapa putra sulungnya.


“Hati ku masih sama yah, belum goyah.” sahut Emir seraya menyeruput tehnya.


Yudi pun menghela nafas panjang, “Jangan lama-lama nak, nanti keasyikan sendiri malah bahaya, ayah enggak mau kalau rumah tangga mu berantakan.” ucap Yudi yang ingin anak-anaknya hanya sekali menikah seumur hidup.


“Iya ayah, kita lihat nanti, bagaimana perkembangannya,” ujar Emir.


Andri sendiri tak bisa memberi komentar, sebab ia sendiri masalahnya lebih parah dari sang adik.


“Kau bagaimana Ndri, enggak ada masalah dengan Beeve kan?” tanya Yudi, yang ingin memastikan keadaan kedua putranya.


“Iya yah, alhamdulillah, semua aman terkendali, ayah tak perlu khawatir.” Andri meyakinkan ayahnya bahwa semua baik-baik saja.


“Hum, baguslah kalau begitu, ayah senang mendengarnya.” Yudi menepuk punggung putranya.


“Mir, bagaimana dengan yang ku katakan kemarin, terkait perusahaan?”


“Aku enggak minat Ndri,” ucap Emir.


“Jangan paksa anak ini Ndri, biarkan dia dengan apa maunya!” Yudi yang telah bosan membujuk Emir sebelumnya pun membiarkan putra bungsunya meraih cita-cita yang ia inginkan.

__ADS_1


“Tapi yah, Emir juga punya kewajiban di perusahaan, aku mau dia bergabung, dan harus di bawah pengawasan ku langsung.” Andri yang ingin menjadikan Emir penggantinya pun terus memaksa agar adiknya mau masuk ke perusahaan.


Sikap Andri tersebut memancing kecurigaan di hati Yudi dan Emir.


“Ada apa Ndri, sebelumnya kau tak ngotot jika Emir enggak mau,” ucap Yudi penuh selidik.


“Enggak tahu yah, dari kemarin dia memaksa ku terus untuk kerja di perusahaan,” timpal Emir.


“Dulu aku tak meminta karena kau masih kecil, aku enggak mau waktu bermain mu tersita karena pekerjaan, sekarang kau sudah lulus kuliah, apa salahnya, mulai menjalani kewajiban mu sebagai pengurus perusahaan.” tanpa sadar Andri malah keceplosan.


“Bukannya yang jadi penerus ayah adalah kau, jadi CEO? Kenapa jadi aku?” Emir dan Yudi makin penasaran pada Andri yang menurut mereka menyembunyikan sesuatu.


“Aku dan kau sama Mir, enggak mungkin perusahaan itu jatuh telak pada ku sendiri, kau juga pasti dapat bagian dari ayah, jadi ku minta kau kerja di perusaan, jangan cuma terima beres doang!” terang Andri.


“Enggak, kau pasti menyembunyikan sesuatu, orang seperti mu, mana perduli dengan ku, selama ini kau juga enggak pernah mengharapkan tenaga ku, jujur Ndri, katakan pada kami, ada apa!” Emir yang tahu sifat Andri, tak begitu saja percaya pada perkataan saudaranya itu.


“Ayah setuju Mir, Andri aneh banget, katakan Ndri, ada apa, kita ini keluarga, jangan kau tanggung sendiri.” Yudi mendesak putranya untuk jujur.


Andri yang masih meragu antara cerita atau tidak jadi gelisah tak menentu. Ia terus menggaruk kepala tak jelas.


“Jujur pada ayah! Ada apa! Jangan buat ayah marah Ndri!” hardik Yudi.


“Penyakit ku kambuh lagi yah, malah sekarang aku mengidap penyakit lainnya,” ucap Andri.


“Astaga, apa aku sudah berobat? Apa saran dari dokter, apa kau perlu rawat inap?” tanya Yudi.


“Sebenarnya iya yah, tapi aku enggak mau,” ucap Andri dengan wajah yang lesu.


“Ya sudah, kalau begitu ikuti kata dokter, agar kau cepat sembuh.” ucap Emir yang khawatir pada Andri.


“Percuma juga kalau aku di rawat disana.” wajah Andri mendadak pasif saat mengatakan hal itu.


“Kenapa?” tanya Emir dan Yudi.


“Penyakit ku sudah kronis, dan jantung ku sudah stadium akhir, parahnya aku juga mengidap edama paru,” terang Andri.


Yudi dan Emir tersentak saat mengetahui kondisi Andri yang semakin menurun.

__ADS_1


“Tenang nak, ayah akan melakukan apapun untuk kesembuhan mu, kita akan berobat ke tempat paling terbaik, ayah yakin kau masih bisa sembuh.” air mata Yudi menetes, saat anak yang ia sayangi dan banggakan tak berdaya.


“Betul kata ayah, jangan pikirkan urusan kantor, aku akan menggantikan mu sampai kau sembuh, ayah, sebaiknya kita ke Amerika, kita berobat kesana saja,” ucap Emir.


“Iya, kita berangkat hari ini juga.” Emir dan Yudi menjadi heboh, keduanya sangat ingin Andri sembuh kembali.


.


“Sudah ku katakan percuma, kalian mengerti tidak?!”


“Tidak ada kata percuma Andri! Jangan membantah! Kau pasti sembuh nak!” Yudi bersikeras menyemangati putranya.


“Benar kata ayah! Kau jangan menyerah Ndri! Pikirkan anak-anak mu! Jadikan mereka sebagai penyemangat hidup mu!” timpal Emir.


“Masalahnya, usia ku sudah enggak lama lagi, dokter telah memvonis, paling lama 1 tahun lagi, aku juga merasa tak enak badan, tapi aku berusaha tegar di hadapan Beeve, kalau dia tahu aku sakit, aku enggak bisa membayangkan, betapa khawatirnya dia, aku juga takut terjadi apa-apa padanya dan bayi kami, untuk itu ayah, ku mohon pada mu, sebelum aku mati, buat surat warisan untuk anak-anak ku, aku ingi pergi dengan tenang.” air mata Andri mengalir dengan deras, ia merasa sedih dengan nasib yang di berikan Ilahi padanya.


“Ayah pasti memberikan bagian anak-anak mu, bukankah soal Bia juga ayah tepati?”


“Enggak yah, aku ingin melihat surat warisan itu dengan segera, aku enggak mau anak dan istri ku terlunta-lunta, aku yang masih hidup saja sering menyaksikan istri ku di perlakukan tak layak, bagaimana kalau aku sudah mati? Enggak ada yang bisa menjamin, hari ini sama dengan hari esok, sekarang ayah mungkin suka, lusa siapa yang tahu?” dengan penuh pertimbangan, Yudi pun menyetujui permintaan Andri.


“Baiklah nak, tapi penuhi permintaan ayah juga, tolong berobat nak, yang di katakan dokter itu hanya prediksi semata, keputusan Allah siapa yang tahu.” Yudi memeluk putranya, ia kembali mengenang masa-masa kecil Andri yang Baru saja dalam ingatannya.


Jangan tinggalkan ayah nak, ayah belum siap, batin Yudi.


Emir pun ikut menangis, saudara satu-satunya begitu ripuh di usia yang terbilang muda.


“Tolong, sembunyikan dari Beeve, aku engga mau dia khawatir, apa lagi resah, dia sudah cukup menderita selama ini karena ku.” Andri meminta Emir dan ayahnya untuk tutup mulut.


“Baiklah anak ku.” Yudi yang tengah memeluk Andri berulang kali memberi ciuman pada putranya, seperti dulu di masa kecilnya.


Sedang Emir mengelus punggung Andri dengan perasaan sakit.


...Bersambung......



__ADS_1


__ADS_2