
Beeve menutup kembali pintu dengan perasaan terluka.
“Bukannya aku enggak pengertian dengan Arinda, tapi rasanya apa yang ku terima saat ini sangat tak adil,” gumam Beeve.
Setibanya di kamar Arinda, Andri merebahkan tubuh istri keduanya di atas ranjang.
“Istirahatlah.” ucap Andri seraya menyelimuti sekujur tubuh Arinda, ketika Andri ingin beranjak, Arinda menggenggam tangannya.
“Jangan tinggalkan aku mas, aku ingin bersama mu.” pinta Arinda dengan wajah memelas.
Andri yang ingin psikis Arinda pulih dengan cepat, menuruti permintaannya.
“Oke.”
“Tidurlah di sebelah ku mas, aku mohon.” Andri menghela nafas panjang mendengar permintaan Arinda. Namun ia tetap menurutinya.
Andri pun merebahkan tubuhnya di sebelah Arinda, kemudian Arinda memeluk tubuh Andri.
Beeve yang ternyata menyusul keduanya ke lantai 2, menyaksikan itu semua, ia pun menelan salivanya.
Dengan perasaan tak tergambarkan lagi, Beeve meninggalkan keduanya yang telah terlelap.
“Apa aku salah, kalau aku merasa cemburu dan tak terima?” batin Beeve benar-benar berontak, menerima cobaan baru dari sang pencipta.
Pukul 22:00 malam, Andri turun dari lantai dua, ia yang lapar menuju ke dapur, ketika ia telah sampai, Andri melihat Beeve duduk termenung di atas kursi dengan di hadapannya tersedia segelas susu ibu hamil.
“Kau belum tidur?” tanya Andri, sontak Beeve melihat ke arah Andri.
“Sebentar lagi mas,” jawab Beeve.
“Jangan begadang, apa besok kau ada kelas?”
“Ada mas.”
“Ya sudah, cepat minum susu mu, setelah itu tidur, agar besok badan mu segar,” ujar Andri.
“Oke.” Beeve hanya menjawab singkat setiap perkataan Andri.
Kemudian Beeve meminum seluruh susu yang ada dalam gelasnya hingga tak tersisa. Setelah itu ia bangkit dari duduknya tanpa memberi sepatah kata pun, kemudian Andri menggenggam tangan Beeve.
“Jangan cemburu, aku hanya mengikuti saran dokter, jangan memberinya tekanan, agar ia cepat sembuh dari trauma keguguran yang ia alami,” terang Andri.
“Oh.”
“Oh? Sayang, aku tahu hatimu terluka karena aku, tapi ku mohon pengertian mu, aku melakukannya karena saran dokter dan rasa iba, bagaimana pun, kami baru kehilangan anak kami.”
Anak kami? batin Beeve
__ADS_1
“Ku mohon, tahan sebentar saja, ini demi kebaikan semuanya, aku juga berduka sayang, itu anak ku, anak kandung yang ku tunggu-tunggu kelahirannya,” terang Andri.
“Iya mas, aku tahu itu anak kandung mu, aku paham kalian berdua berduka dengan anak kalian, aku juga ikut berduka, tapi apa salah kalau aku merasa marah? Hah? Aku sudah bersabar selama ini, dan kata mu kau ingin menceraikannya, mana? Kok malah di bawa kembali kesini?” Beeve yang telah muak menghempaskan genggaman tangan Andri.
Andri pun berdiri dari duduknya, “Jangan lupa sayang, anak ku tiada karena ulah ku sendiri, tolong beri aku ruang, hati ku sangat hancur saat ini, begitu juga dengan Arinda, ini hanya sebentar, setelah dia pulih, aku akan tetap menceraikannya,” terang Andri.
“Aku yakin kau pasti ingkar janji lagi mas,” ucap Beeve.
“Enggak sayang, aku janji pada mu!” meski banyak keraguan dalam hatinya, Beeve pun memberi kesempatan lagi pada suaminya.
“Baiklah.” ucap Beeve, kemudian Andri memeluk dan mengecup kening Beeve.
“Tapi malam ini kau tidur dengan ku kan mas?”
“Tentu saja, duluan saja ke kamar, aku mau makan dulu, lapar sayang,” ucap Andri.
“Oke mas.” hati Beeve sedikit terobati, karena Andri masih tetap tidur bersamanya.
Kemudian Beeve menuju kamar mereka terlebih dahulu sebab ia sangat ngantuk, karena selama Andri di rumah sakit, tidurnya benar-benar tak teratur.
Pukul 01:00 dini hari, Beeve terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Ketika ia meraba ke sebelahnya, ternyata Andri tak ada disana.
“Mas?” Beeve bangkit dari tidurnya. “Apa dia sholat malam?” Beeve yang penasaran menuju mushola, namun sesampainya ia kesana, tak ada tanda-tanda kehadiran suaminya.
Beeve mengelus dadanya, “Kau tidur bersamanya ternyata,” gumam Beeve.
Ting! Ketika pintu lift terbuka, Beeve segera menuju kamar Arinda.
kebetulan pintu Arinda tak tertutup rapat, Beeve dengan hati-hati membuka pintu tersebut. Namun tak ada Andri mau pun Arinda disana.
“Dimana mereka?” Beeve yang penasaran mulai menggila, menyusuri seluruh lantai 2, langkahnya pun terhenti, saat ia akan sampai di dekat balkon bekas kamarnya dulu.
“Kau jangan gegabah Nda, jangan bunuh diri!” Andri memeluk Arinda yang menangis sesungukan.
“Aku rindu bayi kita mas, aku rindu,” ucap Arinda.
Meski tahu Arinda sedang sakit, tapi perasaan egois Beeve tetap tak bisa menerima Andri memeluk Arinda.
“Maafkan aku, aku salah karena telah mencelakai anak kita, ku mohon, tenangkan dirimu Nda, jangan begini, nanti kau tambah sakit,” terang Andri.
“Enggak, biarkan aku melompat mas, aku sudah enggak kuat lagi.” Arinda terus meronta ingin terjun bebas.
“Cukup, kau juga sudah melukai tangan mu, jangan lagi Nda, anak kita enggak akan senang dengan kau menyiksa dirimu begini.” Beeve mengalihkan pandangannya ke pergelangan tangan Arinda yang ada bekas darahnya.
Apa sesakit itu Nda? batin Beeve.
Kemudian Andri yang sudah kewalahan, memeluk erat tubuh Arinda, selanjutnya ia mengecup bibir Arinda.
__ADS_1
Deg!!! Jantung Beeve berdetak dengan kencang, saat ia melihat Andri berciuman dengan Arinda, hatinya pun berkecamuk, mengamuk dan remuk.
Setelah berciuman, Arinda sedikit tenang, lalu Andri menggendong tubuh Arinda untuk kembali ke kamar, namun matanya membelalak, saat melihat Beeve, berdiri lurus di hadapannya.
“Sayang!” Andri tak dapat mengatakan apapun lagi, terlebih saat Beeve meneteskan air mata.
“Teruskan! Sampai dia mengandung anak kedua mu!” pekik Beeve.
“Sa-sayang!”
Beeve dengan langkah kaki yang kasar meninggalkan keduanya, Andri sendiri tak tahu harus mengurus yang mana terlebih dahulu.
Mengejar Beeve ia takut Arinda bunuh diri, menjaga Arinda ia takut Beeve pergi.
Dengan hati bimbang, Andri memilih Arinda, ia pun membawa istri keduanya kembali ke kamar.
Semoga Beeve enggak mengamuk parah, astaga Tuhan, bagaimana ini! batin Andri.
Beeve yang telah berada di lantai satu menoleh ke belakang, “Jadi mas Andri lebih memilih dia!” dengan kesal Beeve membanting keras pintu kamarnya.
Pagi harinya, Beeve yang bangun kesiangan karena begadang, keluar dari dalam kamar dalam keadaan rapi.
Hatinya yang masih muram, bertambah suram, saat melihat kedua orang tua Arinda beserta ustad duduk berhadapan dengan Andri dan juga Arinda.
Beeve pun mendekat, Elia yang melihat kehadiran Beeve lantas memanggilnya.
“Kemarilah, duduk disini,” titah Elia.
Beeve pun duduk di sofa yang berada di sebelah Arinda dan Andri.
“Ada apa om dan tante datang kemari?” tanya Beeve.
Elia mendengus, kemudian ia menyandarkan bahunya ke punggung sofa, seraya bersedekap ia berkata.
“Kami kesini, karena Andri dan Arinda sudah rujuk,” terang Elia.
Sontak Beeve menoleh ke Andri yang menunduk.
“Serius mas?!” tanya Beeve dengan perasaan bergejolak, dan dengan grogi Andri mengangguk.
“Kan! Bohong lagi! Kau gila ya mas! Akh!” Beeve bangkit dari duduknya.
“Maafkan aku sayang,” ucap Andri.
“Minta maaf terus, tapi ulang lagi, enggak jelas banget hidup mu, plin plan!” Beeve beranjak dari ruang tamu.
...Bersambung......
__ADS_1
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...