
Emir yang buru-buru pun keluar dari hotel dengan masih memakai baju setelan formalnya.
Emir masih ingat betul kemana ia mengantarkan Beeve tadi malam. Dengan menaiki taksi Emir menuju kosan Beeve.
Selang beberapa waktu ia pun sampai di tujuan. Sebelum turun dari taksi Emir merapikan rambutnya terlebih dahulu.
Setelah itu, ia pun keluar dari taksi, dengan penuh senyuman.
Ketika Emir ingin membuka pintu masuk kosan Beeve tiba-tiba wanita yabg ingin ia temui keluar.
Kebetulan yang sangat tidak terduga bagi Emir, andai ia terlambat 1 menit saja, mungkin Emir akan kehilangan Beeve.
“Hum? Kau sedang apa disini mas?” tanya Beeve dengan rasa penasaran.
“Aku...”
“Iya? Kau mau apa?”
“Aku ingin minum kopi.” jawab Emir yang tak tahu mau memberi alasan apa.
“Loh, aku kan enggak jualan kopi, dasar aneh,” gumam Beeve.
“Bee.”
“Iya mas?”
“Apa aku boleh minta segelas kopi? Karena tadi malam kopi yang kau beri belum jadi ku minum,” pinta Emir.
Namun Beeve yang ingin berburu kuliner pun tak bisa memenuhi keinginan pria tampan yang ada di hadapannya saat ini.
“Maaf ya mas, aku sedang buru-buru, lagi pula itu hanya kopi biasa, dan kau bisa mendapatkannya dimana pun,” ujar Beeve.
“Kalau begitu, boleh aku menemani mu hari ini?” Emir yang ingin dekat-dekat dengan Beeve lebih lama pun berharap hari itu mereka bisa jalan berdua.
“Enggak ah, aku mau pergi sendiri,” ucap Beeve.
“Aku ikut ya, nanti aku yang traktir apapun yang kau beli,” Emir terus membujuk Beeve.
“Aku punya uang mas, jadi enggak perlu ” Beeve pun melangkah meninggalkan Emir. Namun Emir yang bersikukuh, terus mengikuti Beeve.
“Ayolah, aku punya banyak uang, tapi enggak tahu mau di buat kemana,” ucap Emir.
“Donasikan saja mas!”
“Iya, makanya aku mau donasi pada mu, jadi aku boleh ikut ya!” tanpa terasa keduanya pun telah tiba di halte bis, Beeve yang masuk terlebih dahulu di ikuti oleh Emir.
Aduh, kok dia enggak ada menyerahnya sih? batin Beeve.
Kemudian Beeve dan Emir pun duduk di tempat kursi yang sama.
“Kita kau kemana?” tanya Emir penasaran.
“Gwangjang Market,” jawab Beeve.
“Memang ada apa disana?”
__ADS_1
“Disana banyak menjual makanan tradisional Korea dengan bahan-bahan yang segar, aku sudah mencari di google, tempat itu sangat terkenal, harga makanannya juga lumayan murah,” terang Beeve.
“Kau benar-benar serius rupanya.”
“Tentu saja, aku ingin membuat berbagai jenis menu makanan dari beberapa negara, di restoran ku” ungkap Beeve.
Saat keduanya asyik berbincang, mereka tak sadar penumpang telah penuh, yang membuat Emir merasa tak nyaman.
“Kita turun di halte selanjutnya ya,” ucap Emir.
“Kenapa?”
“Sempit,” bisik Emir.
“Sudah tanggung mas, lagi pula kan ini pengalaman buat kita, berinteraksi langsung dengan warga lokal,” terang Beeve.
“Tapi disini bau asem.” Emir yang tak tahan menutup hidungnya.
“Ih, nyusahin banget kau mas, jangan manja deh!” pekik Beeve.
Meski bis itu memiliki Ac, namun karena banyaknya penumpang, hawa di bis terasa lebih panas.
Emir terus mengipas-ngipas wajahnya yang mulai berkeringat. Dan penderiataan Emir ternyata tak cukup sampai disitu, seorang ibu hamil pun secara misterius berdiri di sebalah kursinya.
Awalnya Emir pura-pura tak melihat karena ia merasa malas berhimpitan dengan orang lain.
“Mas, itu ibu hamil ada di sebelah mu, ayo berdiri!” sampai akhirnya Beeve mengatakan hal itu padanya .
“Enggak ah, aku malas.” wajah Emir nampak judes saat Beeve memintanya.
“Enggak mau, nanti keringat orang lain menempel pada ku.” Beeve cukup kesal melihat Emir yang tak mau bersahabat dengan orang lain.
“Ya sudah kalau begitu, aku saja yang berdiri, laki kok enggak bisa di andalkan!” Beeve pun berdiri dari duduknya, dan mempersilahkan ibu hamil tersebut duduk di kurisnya yang berada di sebelah kaca.
Beeve yang berdiri dekat dengan beberapa pemuda Korea lainnya pun membuat Emir panas dingin.
“Bee, kau jauh sedikit dari pria itu, dia menempelkan bahunya ke bahu mu, sangat enggak sopan.” ucap Emir yang tak mengerti suasana dalam angkutan umum.
“Itu hal biasa mas, namanya juga dalam bis.”
“Makanya tadi ku bilang naik taksi, kau sok-sok bersahaja.” Emir yang tak mau berdiri menggantikan Beeve pun memutuskan menarik tubuh wanita kesayangannya itu untuk duduk di pangkuannya.
Sontak Beeve ingin berdiri kembali, namum Emir menahan pinggangnya.
“Jangan kemana-mana, kecuali ada kursi yang kosong,” titah Emir.
“Mas, kau ini bikin aku malu saja, kau enggak lihat orang lain matanya tajam menatap kita berdua!” bisik Beeve dengan jantung dag dig dug.
Lalu Emir membalas tatapan tajam yang orang-orang berikan pada mereka.
“Dia istri ku, apa ada masalah?” ucap Emir dalam bahasa Korea.
“Sejak kapan aku istri mu mas? Kalau bicara itu yang benar!”
“Aku mengatakannyakan agar mereka bersikap biasa saja,” terang Emir.
__ADS_1
Bis yang semakin ramai pun membuat Beeve tak bisa berdiri kembali, alhasil ia pasrah duduk di pangkuan adik iparnya.
Sedangkan Emir merasa sangat bahagia, ia tak menyangka akan mendapat kesempatan langka lebih dekat dengan Beeve.
Rambut Beeve yang terurai membuat Emir dapat mencium bau harum wanita yang ia sayangi itu.
Tanpa sadar Emir menyandarkan kepalanya di pungging Beeve.
“Mas, kau ngapain?” tanya Beeve merasa risih.
“Aku ngantuk, pinjam punggung mu sebentar.” ucap Emir seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Beeve.
Ia yang hanyut akan bau surgawi dari Beeve pun terlelap.
30 menit kemudian bis yang mereka naiki akhirnya berhenti di salah satu halte terdekat dengan Gwangjang Market.
“Mas, mas! Ayo bangun!”
“Hah? Kita ada dimana?” tanya Emir dengan mata yang masih mengantuk.
Beeve yang buru-buru menarik tangan Emir untuk turun dari bis.
Emir pun menguap serta meregangkan kedua tangannya.
“Ini Gwangjang?”
“Iya mas, ayo bergegas kalau enggak mau di tinggal.”
“Baik bu.” keduanya pun berjalan bersama menuju pasar Gwangjang, dan samar-samar mereka pun mencium aroma kuliner yang begitu lezat hingga membuat perut keduanya keroncongan.
“Kau mau makan apa?” tanya Emir.
“Hemm, kita makan yang itu saja mas.” Beeve menunjuk ke arah odeng yang berbentuk seperti usus namun terbuat dari ikan, odeng tersebut di beri kuah panas, jadi cocok di makan saat cuaca dingin bersalju saat itu.
Keduanya pun duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan.
“Jadi kau hanya ingin makan odeng kesini?” ucap Emir.
“Tentu enggak mas, aku akan manambah menu.” Beeve pun menulis pesanan tambahannya di sebuah buku bil.
“Aku mau Bibimbab, Bindetdeok, Danpatjuk, Jajangmyeon,” gumam Beeve.
“Hei, apa kau bisa memakan semuanya? Itu banyak banget loh,” ujar Emir.
“Tenang saja, aku akan berbagi makanan dengan mu mas,” ucap Beeve.
“Yang benar saja, aku kan model, mana mungkin makan sebanyak itu.”
“Ssttt!! Menurut saja, siapa suruh kau mengekor pada ku.” ucap Beeve.
...Bersambung......
__ADS_1