Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 70 (Meluapkan Amarah)


__ADS_3

Andri yang telah berada dalam kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan shower.


“Essst...” punggungnya masih terasa perih akibat goresan kuku Arinda yang tajam.


“Aku hanya berharap semua baik-baik saja apapun yang terjadi, aku enggak mau berpisah dari Beeve, semoga dia juga begitu pada ku, maafkan aku sayang, tanpa sengaja aku telah mengkhianati mu,” gumam Andri.


10 menit kemudian, Andri pun keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama warna abu-abu.


Beeve yang telah menunggu di atas ranjang tersenyum lebar meski hatinya terasa sakit.


“Sudah selesai mas?”


“Iya sayang.” lalu Andri naik ke atas ranjang, kemudian mengelus perut Beeve.


“Halo anak papa, lagi ngapain di dalam?” Andri menempelkan telinganya di perut istrinya.


“Aku lagi main pa, papa dede kangen papa," ucap Beeve ala suara balita.


“Papa juga kangen dede, sehat-sehat ya sayang, makan yang banyak, biar dede cepat besar.” ucap Andri seraya mencium perut Beeve.


“Iya papa sayang.” balas Beeve, ia yang mengira akan di cium setelah bayinya, di buat kecewa karena Andri langsung merebahkan tubuhnya.


Beeve mengelus dadanya, lalu tiduran di samping suaminya.


“Mas...”


“Iya sayang?”


“Apa kemarin kau mengganti sprei ranjang kita?” tanya Beeve dengan hati-hati.


Andri yang takut akan pertanyaan Beeve sebisa mungkin menjawab dengan tenang.


“Iya sayang,”


“Kenapa? Itukan baru ku ganti mas.”


“Aku enggak sengaja muntah di atasnya,”


“Lalu, sprei nya ada dimana? Kenapa aku enggak lihat? Pada hal aku suka sprei itu,” ucap Beeve.


Apa benar dia suka spreinya? Atau dia telah curiga pada ku? batin Andri.


“Maaf sayang, karena aku muntah banyak, jadi langsung ku buang saja, lagi pula kalau kau suka, kita bisa beli lagi, karena itukan barangnya banyak,” ujar Andri.


Benarkah mas karena muntah? batin Beeve.


Namun karena tak ingin memperpanjang masalah, Beeve pun menyudahi pertanyaannya.


“Mas,”


“Iya sayang?”

__ADS_1


“Ini malam Jumat loh.” ucap Beeve memberi kode.


“Lalu?”


“Kita enggak tempur mas?” Andri yang masih merasa jijik pada dirinya sendiri, serta merasa bersalah pada istrinya, dengan terpaksa menolak secara halus.


“Maaf sayang, aku sangat lelah, kita tunda dulu di lain harinya.” ucap Andri memalingkan tubuhnya dari Beeve.


Enggak lucu kan kalau dia lihat bekas goresan si jalan* itu, batin Andri.


Sedang Beeve yang menerima perlakuan demikian dari suaminya menjadi down.


“Biasanya mas Andri enggak kenal lelah, aku yang sekarang pakai piyama seksi tak dapat menarik perhatiannya lagi?” Beeve kembali tertekan, kecurigaannya pun semakin menjadi-jadi, namun ia tak punya cukup bukti.


Malam itu keduanya habiskan dengan memikirkan kegelisahannya masing-masing, hingga tak terasa matahari telah menyusup masuk ke jendela kamar mereka.


Beeve bangkit dari tidurnya dengan wajah pucat.


Ia pun turun dari ranjang menuju kamar mandi, Andri yang mengintip pergerakan istrinya menjadi tambah bersalah.


Maafkan aku sayang, rasanya aku yang kotor ini enggak pantas menyentuh mu, batin Andri.


1 jam kemudian, Andri yang ingin berangkat ke kantor, hanya berpamitan tanpa mencium Beeve, namun demikian ia tak lupa untuk mengelus perut istrinya.


Hati Beeve lagi-lagi merasa sakit, kali ini dia benar-benar yakin, kalau suaminya memiliki wanita lain, meski itu bukan Arinda.


Beeve pun kembali ke dalam rumah, ia yang ingin bercerita merasa tak punya tempat yang tepat.


Ia yang masih di kuasai rasa curiga pun kembali mendial nomor Arinda, namun Arinda tak kunjung mengangkat teleponnya.


Lalu dari telepon rumah, Beeve mendial kantor suaminya, mencari tahu apakah Arinda masuk bekerja.


Kebetulan di laci meja telepon yang ada di ruang tamu, ada buku daftar nomor perusahaan ISF.


Tak perlu waktu lama, Beeve yang beruntung pun mendapatkan nomor telepon kantor suaminya.


Setelah tersambung, ia pun di instruksikan untuk menekan angka, sesuai bagian-bagian yang ingin ia tuju, hingga akhirnya ia di sambungkan dengan HRD.


📲 “Halo, disini Farida ada yang bisa di bantu?” Farida.


📲 “Halo, saya Friska, ingin menanyakan sesuatu,” Beeve.


📲 “Iya, kak Friska mau menanyakan apa?” Farida.


📲 “Apa karyawati yang bernama Arinda Putri Masuk kerja hari ini?” Beeve.


📲 “Maaf dia sudah di pecat 2 hari yang lalu kak,” Farida.


📲 “Alasannya apa ya kak?” Beeve.


📲 “Terkait alasan, itu rahasia perusahaan, kalau tidak ada keperluan lagi saya akan matikan teleponnya, selamat siang,” Farida.

__ADS_1


📲 “Siang juga,” Beeve.


“Pada hal aku belum selesai bicara, dasar HRD, enggak punya sopan santun!” pekik Beeve.


“Hmm... apa karena itu ya, Arinda enggak mau mengangkat telepon ku? Tapikan belum 3 bulan, kenapa mas Andri buru-buru memecatnya?” guman Beeve.


“Arinda kira-kira di rumah enggak ya? Tapi kalau aku datang, apa dia akan menerima ku masuk ke rumahnya?” kecurigaan Beeve tentang Arinda pun berkurang, sebab menurutnya alasan Arinda menghindarinya karena masalah pekerjaan.


Tiga hari kemudian, Andri yang masih bersikap dingin, membuat Beeve tak dapat menahan beban di hatinya.


Selepas Andri mandi, Beeve langsung meluapkan amarahnya.


“Mas!” Suara keras istrinya membuat Andri tersentak.


“Ada apa sayang? Kenapa suara mu keras begitu?”


“Itu enggak penting, aku hanya ingin tahu, kenapa akhir-akhir ini kau berubah?” tanya Beeve.


“Berubah bagaimana sayang? Aku biasa saja kok,” jawab Andri.


“Biasa bagaimana sih mas? Aku rasa kau juga sadar akan perubahan mu, pergi dan pulang kerja enggak mencium ku, enggak pernah ngajak mandi bersama lagi, dan yang terpenting, kau juga enggak menyentuh ku mas, biasanya kau yang selalu meminta jatah, ada apa? Apa aku melakukan kesalahan, sehingga kau menghindari ku?” Beeve yang di kuasai emosi mulai menangis.


“Bukan begitu sayang, aku hanya lelah.” ucap Andri menyeka air mata istrinya.


“Lelah atau bosan mas? Apa aku sudah enggak menarik di mata mu? Setiap malam kau langsung tidur, pada hal kau bilang, kau mencintai ku, ingin menua bersama ku, tapi baru sebentar kita bersama, kau sudah berubah, apa mungkin ada yang lain di hati mu mas? Hiks...” Beeve menumpahkan, segala isi di hatinya.


“Sayang, itu enggak benar, aku hanya lelah, enggak ada yang lain di hati ku selain kau, percayalah, semua yang ku lakukan saat ini demi keluarga kecil kita.” terang Andri seraya memeluk istrinya.


Astaga, ternyata pikirannya sudah sampai kemana-mana, batin Andri.


“Gimana aku mau percaya, memangnya lelah bisa membuat mu bungkam juga pada ku? Tak banyak bicara, katakan kalau kau punya yang lain, agar aku tahu harus bagaimana,” terang Beeve.


“Sayang, ssstt..., jangan bicara yang aneh-aneh, aku enggak ada yang lain selain dirimu, maaf kalau sikap ku telah menyakiti mu, dan terimakasih telah berterus terang pada ku, dan aku janji enggak akan begini lagi pada mu.” ucap Andri menenangkan istrinya.


...Bersambung.......


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....


Nama : Andri


Usia : 26 Tahun


Tinggi : 183 Cm


Pasangan : Beeve An Mahveen




__ADS_1


__ADS_2