
🥀 Saat marah membakar hati
Selayaknya kita membatasi diri
Jika lepas kendali
Banyak hal yang akan terjadi 🥀
Tanpa terasa matahari pun perlahan telah menampakkan sinarnya, Beeve juga telah sampai ke rumah orang tuanya, ia melihat pelayat telah berdatangan satu persatu.
Beeve pun segera turun dari dalam taksi, baru saja ia menginjakkan kaki di teras, sang satpam yang bekerja menjaga rumah keluarganya mencegatnya.
“Maaf non Bee, nona tidak bisa masuk ke dalam,” ucap sang satpam.
“Pak, jangan menghalangi ku untuk melihat kedua orang tua ku.” pinta Beeve.
“Mohon maaf non, saya juga tidak ingin melakukan ini, tapi atas perintah tuan Julian, nona di larang menginjakkan kaki ke rumah, terhitung dari detik ini juga sampai ke depannya,” terang sang satpam.
“Pak, saya mohon jangan seperti ini, biarkan saya masuk.” Beeve terus meminta tolong, tapi sang satpam tak dapat mengabulkan permintaan Beeve.
“Sebaiknya nona tinggalkan rumah ini, lagi pula malu non, kalau tuan muda dan nona harus bertengkar di saat begini, yakinlah non, setelah luka hati tuan Julian sembuh, pasti nona akan di izinkan untuk kembali, mengertilah non.” atas bujukan sang satpam, Beeve pun mengalah, dan memutuskan untuk pergi dari rumah orang tuanya.
“Ya Allah, mohon maafkan aku, tolong terima kedua orang tua ku di sisi mu, jangan siksa mereka karena kesalahan yang aku lakukan, hiks...” waktu terasa cepat berputar bagi Beeve saat itu.
Beeve yang malang hanya berdiri di seberang jalan rumahnya, meski banyak orang yang berbisik tentangnya yang seorang anak yang tak dapat masuk ke dalam rumahnya sendiri, a tak perduli.
Beeve yang dalam keadaan berduka sampai lupa untuk mengisi perutnya, pada hal kehidupan yang ada dalam rahimnya juga membutuhkan nutrisi.
Menjelang Zuhur, ibu dan ayahnya Beeve pun keluar dari dalam rumah di tandu oleh warga menuju mesjid.
Ia dengan menangis haru menggiring di barisan paling belakang, sebisa mungkin menyembunyikan diri, agar Julian tak melihatnya.
Pada saat prosesi pemakaman juga demikian, Beeve hanya menyaksikan dari jauh, hatinya pun tak putus mendo'a kan ayah dan ibu tercintanya.
Setelah kedua orang tuanya selesai di kebumikan, para warga dan sanak saudara pun meninggalkan area makam satu persatu, begitu juga dengan Julian.
Saat itulah Beeve memiliki kesempatan untuk mendekat.
“Bu, yah, maafkan Beeve ya, Beeve sudah banyak menyusahkan kalian, Beeve bandel, andaikan Beeve mau mendengarkan, nasehat kalian.” semua sesal yang ada dalam hatinya kini tak bisa mengembalikan nyawa kedua orang tuanya lagi.
Cukup lama ia berada di makam Erdogan dan Jane, hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah Andri.
Pukul 17:00, Beeve tiba di rumah, ia pun di sambut bisu oleh Winda.
Sesampainya ia ke ruang tamu, ternyata suami dan kedua mertuanya sedang duduk bersama di atas sofa.
“Kau sudah kembali?” ucap Andri.
“Iya mas.” Beeve pun duduk di hadapan suaminya.
__ADS_1
“Bee, aku sudah berdiskusi dengan ayah dan ibu ku soal pernikahan kita, bagaimana baiknya ke depan...,”
“Aku mengerti mas.” ucap Beeve memotong perkataan suaminya.
“Kau akan menceraikan ku kan?” Beeve yang tak ingin menyusahkan orang lain pun memilih untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Sedang Andri terperanjat mendengar penuturan Beeve.
“Baik mas, aku terima jika itu mau mu, maaf kalau aku sudah menipu dan berbuat licik selama ini pada mu dan keluarga mu, maafkan Beeve ayah, ibu,” ucap Beeve dengan penuh kesadaran diri.
“Aku sudah memaafkan mu Bee, terkait soal cerai yang kau ucapkan, kami sebagai orang tua menyerahkan semuanya pada kalian berdua,” terang Yudi.
“Bagaimana Ndri? Bukankah ini yang kau inginkan? Lagi pula kau kan juga punya anak kandung yang harus fokus kau urus,” ujar Rahma.
Beeve menelan salivanya, ternyata kedua mertuanya sudah tak menginginkannya lagi.
“Tapi Andri...,”
“Sudahlah Ndri, lagi pula Beeve juga setuju untuk cerai, apa lagi? Jangan buat masalah lebih rumit, fokus pada anak kandung mu saja, jangan buat susah jalan hidup mu, mengerti?” ucap Rahma.
“Bu, biarkan mereka yang memutuskan.” Yudi mencoba memberi kebebasan pada anak dan menantunya.
Beeve menitihkan air mata, saat ini dirinya tak ada lagi di hati siapapun.
“Bu, aku....,” Andri yang meragu kembali di yakinkan oleh Rahma.
“Sudah, ceraikan Beeve, toh abangnya juga sudah memutuskan hubungan dengan kita,” titah Rahma.
Beeve yang merasa tak ada hak lagi di rumah itu bangkit dari duduknya.
“Kau mau kemana?” tanya Andri.
“Ke kamar mas, mengemas barang ku,” ucap Beeve.
Hati Andri benar-benar sakit atas keputusan yang Beeve ambil. Meski Andri sempat berkata pisah sesungguhnya itu tak timbul dari dalam hatinya.
Beeve pun beranjak ke dalam kamar, air matanya tak hentinya mengalir, meski ia berulang kali menyekanya namun kucuran yang bagai sumber mata air itu tak bisa berhenti.
Ia pun mengambil koper yang ia bawa dari rumahnya dulu. Andri yang tak tahan lagi, menyusul Beeve ke dalam kamar.
“Ndri, berhenti! Jangan kau cegah kepergiannya!” titah Rahma.
Andri yang masih sayang pun tak menggubris perkataan ibunya.
Di dalam kamar ia melihat Beeve telah selesai mengepak barangnya. Bahkan Beeve mengganti bajunya. Ia memakai kembali pakaian yang ia bawa dari rumah orang tuanya dulu sewaktu pertama kali menikah.
“Kau mau kemana?” tanya Andri dengan mata memerah.
“Aku akan pergi mas, maaf atas semua yang ku lakukan, maaf telah melukai hati mu,” terang Beeve.
__ADS_1
“Kau enggak boleh pergi,” ucap Andri.
“Mas, kau juga sudah enggak menginginkan ku kan? Ibu dan ayah mu juga begitu, aku sudah ikhlas kalau kau ceraikan sekarang mas, aku pantas mendapatkan itu.” terang Beeve.
“Ini rumah mu, kau tak harus pergi dari sini kalau kita memang akan bercerai,” terang Andri.
“Enggak mas, ini milik mu.” kemudian Beeve mengembalikan black cart pemberian Andri dulu padanya.
“Ini, aku kembalikan mas.” dada Andri benar-benar sesak, kini ia baru merasakan apa yang Beeve rasakan saat Andri berkata pisah.
Memohon lah Bee, agar aku tak menceraikan mu, aku pasti menerima mu dan anak mu juga, batin Andri.
Mas, apa kau akan benar-benar membiarkan aku pergi? Kalau kau tak menahan ku, aku akan ikhlas pada takdir perpisahan kita mas, batin Beeve.
“Black cart itu milik mu, pakai saja,” ucap Andri.
“Enggak mas, aku datang tanpa membawa apapun, jadi pergi juga harus sama.” ujar Beeve.
“Barang yang sudah ku beri, pantang untuk ku terima lagi,” ucap Andri
Karena Andri menolak, Beeve inisiatif memasukkan black cart tersebut ke dalam saku Andri.
Kemudian ia meraih kopernya, “Aku pergi mas, ku tunggu surat cerai darimu.” ucap Beeve. Kemudian Beeve mencium tangan Andri untuk yang terakhirnya kalinya.
Nafas Andri seolah berhenti beredar, jantungnya berdetak dengan kencang, badannya pun ikut panas dingin.
Beeve keluar dari dalam kamar dengan mengenang kebersamaannya bersama sang suami.
Meski singkat, tapi aku mencintai mu mas, batin Beeve.
Sesampainya Beeve ke ruang tamu, ia pun duduk di hadapan mertuanya.
“Terimakasih untuk ayah dan ibu, telah menyayangi ku selama ini, ku harap ayah dan ibu dapat memaafkan kesalahan yang telah aku perbuat, sehat dan panjang umur, yah, bu.” Yudi dan Rahma hanya mengangguk untuk respon perkataan Beeve.
Setelah itu, Beeve menjabat tangan kedua mertuanya.
Andri yang tiba di ruang tamu pun seakan mau gila, karena Beeve benar-benar akan pergi.
“Bee..” ucap Andri.
“Aku, pergi mas, semoga kita berdua menemukan bahagia kita masing-masing, aku... aku mencintai mu suami ku, Assalamu'alaikum.” setelah mengatakan perasaannya, Beeve melangkah keluar dari rumah pemberian suaminya padanya dengan penuh air mata.
Aku menyayangi mu mas, batin Beeve.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
__ADS_1