Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 98 (Bergosip)


__ADS_3

“Apa kau sudah puas?” tanya Andri.


“Untuk malam ini cukup, berikutnya kita coba gaya baru ya mas,” ucap Arinda memberi usul.


“Terserah kau mau bilang apa.” Andri yang ingin bangkit dari ranjang di cegah oleh Arinda.


“Malam ini, tidurlah dengan ku mas.”


“Maaf, aku enggak bisa.” ucap Andri.


“Ayolah mas, aku masih rindu.” ujar Arinda seraya mengeratkan pelukannya pada Andri.


__________________________________________


Beeve yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya meraba-raba ke sebelahnya.


“Hum?” ia merasa tak dapat menemukan tubuh suaminya.


Perlahan Beeve membuka mata, “Kemana mas Andri?” gumamnya bingung.


Ia pun bangkit dari tidurnya, lalu beranjak menuju kamar mandi.


Tok tok tok!


“Mas! Kau ada di dalam?” karena tak ada jawaban, Beeve memutar handle pintu kamar mandi.


Ceklek!


Selanjutnya ia masuk, namun tak menemukan suaminya dimana pun.


“Kok enggak ada sih? Apa mungkin ke dapur ya?” ia yang penasaran beranjak menuju dapur, namun sayangnya, suaminya tak ada disana.


“Enggak mungkinkan dia kerja dini hari begini?” Beeve yang makin penasaran bergegas menuju lantai 2.


Ia pun menekan tombol lift dengan cepat berulang kali.


Ting!


Saat pintu lift terbuka, tiba-tiba Andri ada di dalamnya.


“Kau mau kemana sayang?” tanya Andri seraya ke luar dari dalam lift.


“Ke lantai 2, mencari mu mas,” jawab Beeve.


“Kenapa harus mencari ku?” tanya Andri kembali


“Karena saat aku bangun, kau enggak ada di sebelah ku, di kamar mandi dan dapur juga enggak ada,” terang Beeve.


Astaga, untung aku cepat, batin Andri.


“Aku ke ruang kerja sebentar, karena ada telepon mendadak tadi,” terang Andri.


“Oh, gitu ya mas.” ucap Beeve dengan menatap lekat leher suaminya yang masih mengkilat karena keringat.


“Iya, ayo kita kembali sayang.” ujar Andri menuntun Beeve menuju kamar.


___________________________________________

__ADS_1


Pagi harinya, ketika Beeve Andri sedang sarapan, tiba-tiba Arinda muncul dengan rambut yang basah.


Deg deg deg!!


Jantung Beeve berdetak dengan kencang, sebab Andri juga pagi itu mencuci rambut.


Apa hanya perasaan ku saja? batin Beeve menatap curiga pada keduanya.


Arinda juga sesekali curi pandang pada Andri, yang di saksikan langsung oleh Beeve.


Enggak beres nih. hati Beeve sungguh tak tenang di buatnya.


Setelah selesai sarapan, Andri pamit untuk berangkat kerja.


“Aku berangkat ya sayang.” Andri mengecup pipi kiri kanan dan bibir Beeve, tak lupa ia juga mencium perut Beeve.


Arinda yang berada di sebelah Beeve menelan salivanya.


“Hmm mas, aku ikut dengan mu ya.” pinta Arinda. Sontak Beeve menatap tajam wajah sahabatnya itu.


“Enggak bisa.” Andri menolak permintaan Arinda.


“Betul, kau pulanglah sendiri pakai taksi, enggak bagus kalau kau berduaan dengan suami orang dalam mobil yang sama,” ucap Beeve.


Arinda cemberut mendengar perkataan Beeve, setelah itu Andri pun berangkat.


Sialan! Beraninya kau pada ku Bee! Kau itu hanya wanita kotor! Aku itu lebih baik darimu, dan aku adalah menantu sah dari keluarga mas Andri,” batin Arinda.


“Kau enggak pulang? Sebentar lagi aku mau ke kampus,” ucap Beeve.


“Jalan pak!” titah Arinda pada sang supir.


Beeve yang menerima perlakuan aneh Arinda jelas tak menyangka.


“Ada masalah apa dia dengan ku?” gumam Beeve.


Beeve yang tak punya kegiatan di rumah pun memutuskan untuk berangkat kuliah.


“Harusnya tadi aku berangkat dengan mas Andri, tapi karena Arinda semuanya jadi gagal deh.” Beeve pun mengambil tasnya ke dalam kamar, selanjutnya ia berangkat ke kampusnya dengan menggunakan transportasi mobil online.


Sesampainya Beeve, ia beranjak ke perpustakaan, karena kelasnya baru mulai 2 jam lagi.


Perjalanan menuju perpustakaan melewati ruangan Emir, Beeve yang sudah memaafkan Emir pun memutuskan untuk mampir sejenak ke ruangan sang adik ipar, karena ia tahu pagi itu Emir ada mata kuliah.


Ketika ia telah masuk ke dalam ruangan, ia tak melihat tanda-tanda Emir disana.


“Hei, kau mencari Emir?” tanya salah seorang mahasiswa yang bernama Bandi, teman dari Emir di jurusannya.


“Iya, apa dia belum datang?” tanya Beeve kembali.


“Loh, kau enggak tahu ya?”


“Soal apa?”


“Emir kan ambil cuti kuliah,” ucap Bandi.


“Oh ya?” Beeve tak mengira kalau Emir mengambil cuti saat baru masuk kuliah.

__ADS_1


“Kau kan pacarnya, masa enggak tahu hal sepenting itu, hahaha,” ucap Bandi.


“Aku iparnya, tapi terimakasih atas informasinya ya.” Beeve pun keluar dari ruangan Emir.


“Apa dia cuti karena aku? Dan.... dimana dia sekarang?” hati Beeve bertanya-tanya akan keberadaan Emir.


Ia yang telah sampai ke perpustakaan mengambil tempat duduk di tempat yang paling tenang, yaitu di sudut bagian ruangan.


“Apa perlu aku tanya kabarnya? Tapi...., kami kan masih dalam kondisi canggung.” Beeve bingung harus berbuat apa, meski Emir telah keterlaluan padanya, ia tak ingin bermusuhan lebih lama.


“Bagaimana pun kami adalah keluarga, pasti akan sering bertemu, masalah perasaan satu sama lain harus segera di selesaikan, agar bisa bersilaturrahmi lagi,” gumam Beeve.


“Tapi, masa aku yang harus menelepon dia duluan?” Beeve yang masih bingung harus berbuat apa, memutuskan untuk memikirkannya nanti saja.


__________________________________________


Pukul 15:00 siang, Beeve yang telah selesai kuliah kembali ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Beeve yang ingin segelas jus segar pun menuju dapur.


Sesampainya ia di dapur, ia mendengar Resti dan Sinta sedang bergosip. Mereka yang fokus ke arah kompor tak menyadari kehadiran Beeve disana.


“Ih, gila sih! Aku enggak percaya banget sama apa yang dia sampaikan,” ucap Sinta.


“Betul, tapi melihat kegilaan dan arogannya sepetinya benar,” balas Resti.


“Mereka membicarakan siapa?” batin Beeve yang masih mendengarkan di belakang mereka berdua.


“Sstt!! Aku muak banget Rest sama wanita pelakor itu! Gayanya itu lo, hum!! Ingin rasanya aku menginjak-injak kepalanya, enggak tahu diri banget, seenaknya! Sudah seperti nyonya rumah saja, pada hal dia cuma wanita penggoda, menjebak orang lain untuk mendapatkan tujuannya.” ungkap Sinta, yang kembali mengingat keangkuhan Arinda.


“Betul, yang paling gila! Kau tahu apa?” ucap Resti.


“Apa Rest!” ucap sinta penasaran.


“Kau pasti jijik mendengarnya,” ungkap Resti.


“Iya apa? Cepat katakan!” seru Sinta.


“Tadi pagi mbak Siska cerita yang membuat aku merinding, bisa-bisanya si jalan* itu berbuat gila disini.”


“Apa lagi itu?”


“Dia, dan tuan bercinta tadi malam di kamarnya.”


Deg deg deg deg!!!


Seketika Beeve syok mendengarnya, jantungnya berdetak tak beraturan, nafasnya pun sulit beredar.


“Astaga! Kau serius?!”


“Iya!! Mbak Winda mendengar suara desahannya, pada hal kan setiap kamar di rumah ini hampir kedap suara saking rapatnya, bisa-bisanya suara kotornya terdengar sampai ke luar!” terang Resti.


“Astaga, kasihan sekali nyonya Beeve, harusnya kemarin tuan menghabisi nyawanya saja, sekarang dia malah jadi benalu tanpa malu, sampah!” pekik Sinta.


...Bersambung.......


...Tinggalkan dukungan pada novel ini, agar author makin semangat update untuk kalian....

__ADS_1


__ADS_2