Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 189 (Otw Manado)


__ADS_3

1 jam kemudian Andri sampai ke rumah orang tuanya, setelah itu mereka berangkat menuju kediaman Helena.


Sesampainya ke rumah Helena, mereka di sambut hangat oleh sanak famili Helena.


Memang pertunangan yang berlangsung sangat sederhana, mengingat waktu yang sempit dan juga pelaksanaan yang buru-buru.


Emir yang menjadi orang penting dalam acara itu tak banyak bicara, ia hanya mengikuti arahan dari kedua orang tua dan pemandu acara.


Sangat terlihat jelas ketidak relaan dirinya atas pertunangan itu, namun tak ada satu pun dari keluarganya yang mendukung bila ia membatalkannya.


“Bang Emir, kau tampan sekali, aku sampai tak mengenali mu.” Helena memuji Emir yang memakai pakaian berwarna senada dengannya.


“Berisik!” pekik Emir.


“Sudah ganteng, jangan pakai marah lagi, jadi jelek tahu!” ucap Helene.


Setelah melalui berbagai rangkaian acara, Akhirnya Helena dan Emir resmi bertunangan, semua orang bergembira atas pasangan muda itu.


Saat kedua belah pihak keluarga sedang duduk berbincang di ruang tamu setelah acara selesai, Yudi dan Gurun mulai membahas langkah selanjutnya untuk anak-anak mereka.


“Kapan kira-kira pernikahan mereka kita laksanakan?” tanya Yudi.


“Bagaimana kalau 2 bulan lagi? Kebetulan saat itu adalah ulang tahun Helena,” ujar Gurun.


“Apa enggak kelamaan?” ucap Rahma yang ingin buru-buru Emir menyandang status suami.


“Buru-buru juga enggak baik bu,” ucap Yudi.


“Ayah, ibu pengen banget bawa Helena ke rumah, biar ada teman ngobrol!” terang Rahma.


“Helena juga enggak sabar tan, ingin segera jadi menantu tante, tapi apa kata ayah benar, waktu terbaik adalah saat hari ulang tahun ku,” ucap Helena.


“Baiklah kalau begitu, berarti tante harus banyak bersabar.”


“Iya tan.” keduanya pun berpelukan karena sama-sama tak sabar ingin menjadi satu keluarga.


Setelah sepakat dengan rencana pernikahan di lakukan 2 bulan lagi, keluarga Emir pun pulang ke rumah.


Beeve dan Andri yang berada dalam mobil mulai membahas kembali rencana mereka yang akan ke Manado.


“Besok kita berangkat jam berapa mas?”


“Jam 08:00 pagi sayang.”


“Aku jadi penasaran, sebagus apa sih tempatnya,” ujar Beeve.


“Bagus banget, tunggu saja sampai kau lihat,” ucap Andri.


Keesokan harinya, Beeve dan Andri pun berangkat menuju Manado dengan menaiki pesawat.


Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam lebih, akhirnya mereka sampai juga ke bandar udara Internasional Sam Ratulangi.


Selanjutnya, mereka menuju rumah Celine dengan menaiki taksi, karena kebetulan kediamannya tak jauh dari bandara.


Hanya butuh 15 menit dalam perjalanan, mereka pun tiba di sebuah rumah besar dan mewah dengan tembok berwarna putih tulang.

__ADS_1


Keduanya pun turun dari dalam taksi, Beeve yang tak tahu apapun soal tempat liburan mereka mulai bertanya.


“Ini rumah siapa mas? Memangnya keluarga darimu ada orang Manado?”


“Enggak ada sayang,” jawab Andri.


“Lalu? Ini rumah siapa?”


“Nanti juga kau akan tahu, ayo!” Andri pun menggenggam tangan Beeve menuju gerbang rumah Celine.


Di tiang gerbang besar itu, terdapat sebuah bel, lalu Andri pun menekannya.


Ting tong!


Tak lama, dari arah rumah keluarlah Celine dengan masih memakai setelan baju olah raga.


Beeve yang mengenal sosok pemilik rumah itu, sontak melihat ke wajah suaminya.


“Mas, itukan ibunya Cristian?!”


“Iya, kau benar, dan tujuan kita kemari untuk menjemput Bia,” terang Andri.


Jantung Beeve berdetak dengan kencang, saat tahu, sebentar lagi ia akan bertemu dengan putri kecilnya. Celine yang telah berhadapan dengan mereka mengernyitkan dahinya.


“Kalian??” dan tanpa alasan yang jelas Celine memutar mata malas.


“Selamat pagi tante, apa kabar? Lama enggak bertemu.” ucap Andri dari balik gerbang.


“Untuk apa kalian kemari?” tanya Celine.


“Memangnya kalian punya hak untuk bertemu dia?”


“Tentu saja tan, karena aku adalah ibunya, sudah lama aku mencari anak ku, tolong tan, pertemukan aku dengan Bia.” Beeve berharap Celine tak mempersulitnya kali ini.


“Dia lagi enggak ada di rumah.”


“Di-dia dimana tan?” tanya Beeve penasaran.


“Lagi di rumah adik ku, jadi kalian pulang saja dulu, karena dia baru kembali seminggu lagi,” ujar Celine.


“Tan! Tolong antar kami ke rumah adik tante, aku ingin sekali bertemu dengan anak ku.” Beeve yang sudah tak tahan menahan rindu mulai menangis.


“Aku enggak punya waktu, lagi pula aku sangat sibuk! Pulang kalian!” pekik Celine.


“Tante, jangan begitu, kita jauh-jauh dari Jakarta untuk bertemu Bia, tolong beri kami kesempatan untuk bertemu anak kami,” pinta Andri.


“Anak kami! Anak kami, itu bukan anak mu, pergi dari sini, atau aku lapor polisi! Karena sudah mengganggu ketenangan ku!” Celine yang keras mengancam Beeve dan Andri.


“Lapor saja kalau itu mau mu tan! Bukannya Beeve punya hak untuk bertemu anaknya? Aku juga sudah tahu, kalau Cristian telah tiada.”


Beeve yang baru tahu Cristian telah wafat terkejut bukan main.


Pantas aku tak dapat menghubunginya lagi, batin Beeve.


“Tante jangan mempersulit keadaan, karena mudah saja bagi pihak kami, untuk mengambil hak asuh bia kembali,” terang Andri.

__ADS_1


“Anak-anak setan! Sampai kapan pun, aku enggak akan menyerahkan Bia pada kalian!” pekik Celine.


“Tante, ku mohon, jangan begini pada ku, aku sangat merindukan anak ku! Hiks...” Beeve menangis histeris, saat yang di rindukan telah di depan mata namun ia tak dapat menggapainya.


“Jangan harap!” Celine yang tak ingin berurusan panjang dengan Beeve dan Andri memutuskan masuk ke dalam rumahnya.


“Mas... gimana ini? Tante enggak mau memberikan Bia pada ku, hiks...” Beeve menangis seraya menarik-narik baju Andri.


“Tolong aku mas, apa yang harus ku lakukan agar anak ku kembali?”


“Tenang sayang, sebaiknya kita cari hotel dulu, setelah itu, baru aku pikirkan caranya, jangan menangis lagi, aku berjanji, akan mendapatkan anak kita kembali.” Andri memeluk Beeve untuk menenangkannya.


Kemudian mereka pergi mencari hotel yang dekat dengan kediaman Celine, setelah dapat dan melakukan check in Andri menyuruh istrinya untuk beristirahat.


“Tidurlah sayang, kau pasti sangat lelah.”


“Bagaimana aku bisa tidur mas, saat ku tahu anak ku dimana dan aku tak bisa bertemu dengannya?!”


“Sayang, aku janji akan mendapatkan anak kita, tapi tolong kau jangan menangis lagi, sebab aku enggak mampu melihat mu sedih begitu, harusnya kau berbahagia, walau belum bertemu langsung, tapi kita sudah mendapatkan alamat tante Celine,” terang Andri.


Beeve menundukkan kepalanya, karena yang di katakan suaminya ada benarnya.


“Maafkan aku mas, aku terlalu emosional.” ucap Beeve seraya menyeka air matanya.


“Iya sayang, itu manusiawi kok, tapi... biasakan kau tidur sekarang? Serahkan semuanya pada ku, aku akan mengurusnya.” Andri menuntun Beeve untuk naik ke ranjang.


“Izinkan aku ikut andil juga mas, masa kau yang sibuk sendiri.”


“Oke, tapi sekarang kau tidur dulu, setelah bangun, baru kau ikut andil, bagaimana?” Andri yang tak ingin melihat Beeve lama-lama menangis memaksa istrinya untuk tidur dengan segera.


“Baiklah mas, tapi janji ya, setelah aku bangun, aku boleh ikut mengurus segalanya.”


“Iya sayang.” Andri pun mengecup puncak kepala istrinya, sebelum ia rebahkan ke atas ranjang.


Setelah itu, ia mengelus kepala Beeve, seraya menutup kedua matanya.


“Harus tidur! Jangan buka matanya lagi.” Andri memperlakukan istrinya seperti anak kecil.


Setelah 10 menit menidurkan Beeve, Andri pun keluar dari kamar menuju kafe hotel.


Sesampainya ia di kafe, Andri mulai mendial nomor detektif Heru .


📲 “Assalamu'alaikum pak Heru,” Andri.


📲 “Walaikumsalam pak Andri, ada apa ya pak?” Heru.


📲 “Kita di persulit, bapak kira-kira punya kenalan disini, untuk mencari alamat dari adiknya bu Celine?” Andri.


📲 “Oh, ada pak, saya akan hubungi sahabat saya yang ada di Manado, saya juga akan memberikan kontaknya pada bapak.” Heru


📲 “Alhamdulillah, terimakasih banyak pak atas bantuannya,” Andri.


📲 Sama-sama pak, kalau begitu saya tutup dulu ya, assalamu'alaikum,” Heru.


📲 “Walaikumsalam,” Andri.

__ADS_1


__ADS_2