
Cukup lama mereka menunggu mobil online yang mereka pesan, namun sayangnya tak pernah terhubung ke pengemudi mana pun.
Andri sendiri merasa samgat panik, karena istrinya tak kunjung berhenti menangis.
“Sayang, aduh bagaimana ini ya Tuhan.” Andri menggaruk kepalanya, ia jadi kewalahan sendiri.
“Belum dapat juga mas?” tanya Beeve dengan mata yang basah.
“Belum sayang, sabar ya.” jawab Andri dengan perasaan cemas.
“Aduh mas, panas banget! Hiks...” Beeve
terus saja menangis, yang membuat Andri merebahkan rubuh istrinya kembali ke ranjang.
Hingga 30 menit kemudian, mobil online yang mereka pesan masih belum terhubung juga.
Andri yang tak sanggup mendengar isak tangis sang istri memutuskan untuk membuka ****** ***** istrinya.
“Mas! Masa mau main lagi?”
“Aku bukan mau itu sayang.” setelah kaca mata segi tiga penutup buncis milik istrinya terpampang nyata, Andri mengambil kipas angin yang ada di sebelah ranjang mereka, lalu menyalakannya.
Drrkkkkk!!!
“Apa masih panas sayang?” tanya Andri.
“Terlalu kencang mas! Rasanya jadi nyut-nyuyan!” Andri yang tak kehilangan akal mematikan kipas yang baru ia nyalakan, kemudian ia meraih brosur villa yang ada di atas meja, dan mengipas harta berharga milik istrinya yang sedang kurang sehat.
“Kalau seperti ini bagimana sayang? Apa masih sakit?” Beeve melirik ke arah suaminya, lalu ia pun dapat melihat mimik wajah tampan Andri yang sangat kacau.
Kasihan mas Andri, kalau aku terus menangis bisa-bisa dia khawatir semalaman, batin Beeve.
Meski belum sembuh, Beeve pun berpura-pura merasa sehat.
“Sudah mas, terimakasih banyak ya.” lalu Beeve membuka lebar kedua tangannya.
“Benar nih?” tanya Andri penuh keraguan di hati.
“Sudah mas, ayo kemari, aku ingin memeluk mu.” Beeve tersenyum, agar suaminya percaya.
“Baiklah sayang.” Andri pun naik ke atas ranjang, lalu menerima pelukan hangat dari istrinya.
“Aku ngantuk sayang, apa boleh aku tidur?” tanya Andri dengan hati-hati, agar tak terlihat egois.
“Boleh mas, tidurlah.” Beeve menepuk-nepuk punggung suaminya.
“Oke sayang, kalau masih sakit, bangunkan aku, jangan sungkan,” ujar Andri.
“Iya mas ku.” Beeve mengecup kening seraya mengelus puncak kepala suaminya.
Beeve yang masih menderita dia area terlarangnya harus meredam tangis, sebab ia takut tidur suaminya terganggu.
Pagi harinya, Andri bangun dari tidurnya, lalu ia melihat wajah istrinya yang pucat.
__ADS_1
“Apa kau enggak tidur semalaman?” tanya Andri seraya bangkit dari pelukan istrinya.
“Aku tidur kok mas, tapi enggak senyenyak dirimu,” terang Beeve.
“Baiklah, kalau begitu, kita pulang sekarang ya sayang.” ujar Andri.
“Tapi mas, ini masih pagi, buru-buru banget,” ucap Beeve.
“Enggak apa-apalah sayang, toh sebelum pulang kita masih ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi mu,” terang Andri.
Setelah itu, Andri menggendong Beeve ala bridal style menuju kamar mandi yang ada di lantai satu.
Sesampainya mereka ke dalam kamar mandi, Andri membantu istrinya membersihkan diri terlebih dahulu, selanjutnya baru dirinya.
Usai mandi, mereka kembali ke lantai 2, untuk berpakaian, setelah keduanya rapi, mereka pun meninggalkan villa tanpa mengisi perut terlebih dahulu.
Saat mereka akan dekat dengan bandara mereka mampir sebentar di sebuah klinik untuk berobat.
Beeve pun mencarikan keluhannya pada resepsionis yang mengurus pendaftaran pengobatan pada pasien, sehingga mereka di arahkan ke dokter obgyn.
Saat Beeve tengah di periksa oleh dokter wanita paruh baya, sang dokter pun tersenyum kecil.
“Ini enggak apa-apa kok bu, pak... hanya saja kalau berhubungan, jangan terlalu kasar, dan kasih juga jeda waktu, kasihan loh pak kalau lecet begini.” terang sang dokter.
Andri pun menggaruk-garuk kepalanya karena malu, si dokter tahu dengan tepat penyebab sakit istrinya.
“Saya akan beri resep, di konsumsi sampai habis ya bu.” ucap sang dokter.
“Baik dok.” jawab Beeve, setelah selesai, keduanya pun keluar dari klinik.
“Maafkan aku sayang.” Andri meraih tangan istrinya.
“Ingat ya mas! Jangan minta jatah sebelum sembuh, bisa-bisa nanti punya ku betulan copot!” pekik Beeve.
“Iya sayang, maafkan aku ya, aku janji enggak akan mengulaginya lagi.” Andri berulang kali meminta maaf seraya tersenyum pada istrinya yang masih marah.
“Iya deh! Ku maafkan!” Beeve pun membalas genggaman tangan Andri.
Sebelum pulang, mereka makan terlebih dahulu dan membeli oleh-oleh pada keluarga yang ada di Jakarta.
Pukul 14:00 siang, Beeve dan Andri telah tiba di rumah, Andri membantu Beeve untuk merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
“Tidurlah sayang.” ucap Andri dengan lembut.
“Tapi mas, kita belum jemput Bia, kasihan, pasti dia menunggu kepulangan kita,” ucap Beeve.
“Tenang sayang, aku akan menjemputnya ke rumah ibu.l,” ujar Andri.
“Baiklah mas, jemputnya sekarang saja ya, aku sudah sangat rindu padanya.” atas permintaan sang istri, Andri pun berangkat meski masih lelah.
__________________________________________
Sesampainya Andri di rumah orang tuanya, ia melihat ibunya sedang sibuk bermain boneka Barbie bersama Bia.
__ADS_1
“Assalamu'alaikum.” ucap Andri, lalu Rahma dan Bia menoleh ke sumber suara.
“Walaikumsalam, Loh! Kalian sudah pulang Ndri?” ucap Rahma.
“Sudah bu,” jawab Andri.
“Mama mana pa?” tanya Bia dengan mata celingak-celinguk.
“Mama di rumah, lagi sakit, jadi enggak bisa ikut jemput Bia,” terang Andri.
“Beeve sakit apa Ndri?” tanya Rahma penasaran.
“Hanya sedikit pusing kepala bu.” Andri tak mengatakan hal yang sebenarnya karena ia merasa konyol dan memalukan.
“Oh, tapi sudah berobat kan?”
“Sudah bu.”
“Kalau begitu kita pulang sekarang saja pa, kasihan mama menunggu sendirian.” Bia begitu khawatir dengan keadaan ibunya.
Lagi-lagi Andri tak bisa beristirahat meski hanya 5 menit saja.
“Oke sayang, kalau begitu kami pulang sekarang ya bu.” Andri berpamitan pada Rahma.
“Iya nak, hati-hati di jalan ya,” ujar Rahma.
“Iya bu.”
“Bia pulang ya nek.” gadis kecil itu pun menjabat tangan Rahma.
“Oke sayang, hati-hati di jalan ya.” Rahma memberi ciuman selamat tinggal untuk cucunya.
Setelah itu Andri dan putrinya kembali ke kediaman mereka, beberapa saat dalam perjalanan keduanya pun sampai di tujuan.
Bia yang cemas pada keadaan ibunya, ikut masuk ke kamar kedua orang tuanya.
Bia menatap lekat wajah Beeve yang tertidur nyenyak.
“Pa...”
“Ssstt...” Andri memberi kode pada putrinya untuk tak bersuara. Bia yang mengerti pun menganggukkan kepala. Lalu keduanya keluar dari dalam kamar dengan perlahan.
“Sayang, kau main sama bibi dulu ya, papa mau jaga mama di dalam.” ujar Andri yang sebenarnya ingin tidur.
“Bia juga mau jaga mama pa.” ucap gadis kecil itu.
“Nanti saja sayang, setelah papa lelah baru giliran Bia yang menemani mama, oke?” Andri mengusap puncak kepala putrinya.
“Ya sudah pa, nanti panggil Bia ya, enggak usah merasa sungkan,” ucap Bia.
“Iya nak.” Bia pun melambaikan tangannya pada ayah sambungnya sebelum ia menuju dapur untuk mencari Ratih sang Art.
“Akhirnya... semoga aku bisa tidur nyenyak.” gumam Andri, kemudian ia pun masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di sebelah Beeve.
__ADS_1
“Maafkan aku sayang, tanpa sengaja aku menyakiti mu lagi.” dengan perlahan Andri mengecup kening Beeve, setelah itu ia pun memejamkan matanya untuk tidur.
...Bersambung......