Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 174 (Di Lema)


__ADS_3

Beeve yang keluar pun tak lupa menutup pintu kamar. Saat ia berbalik, i hampir saja menabrak tubuh besar Emir.


“Ih, mas Emir! Ngapain berdiri tepat di belakang ku?” tanya Beeve yang terkejut.


“Bee, kau jangan salah sangka ya, Helena bukan pacar ku, sungguh!” Emir yang berpikir Beeve cemburu pun berusaha menjelaskan.


“Ya ampun mas, dia pacar mu atau tidak pun, aku enggak perduli loh, lagi pula apa urusannya dengan ku?” ucap Beeve yang membuat Emir menggaruk-garuk kepalanya.


“Iya juga ya, mana ada urusannya dengan mu,” gumam Emir.


“Nah! kalau sudah tahu, minggir dari hadapan ku, aku mau turun!” pekik Beeve.


“Tapi kau enggak ada rasa cemburu sama sekali?” tanya Emir kembali.


“Memangnya ada hal yang harus membuat ku cemburu?”


“Ya, bagaimana pun juga, kitakan pernah pacaran Bee, walau pun cuma sehari,” terang Emir.


“Huuuh, ada-ada saja kau mas, bukankah kau sendiri yang bilang, setelah kembali ke Indonesia kau enggak akan mengganggu ku lagi? Ku rasa kau lupa, sudahlah ah mas, lagi pula kau dan Helena cocok kok, gadis seperti itu jangan kau sia-siakan!” setelah mengatakan hal tersebut, Beeve pun turun menuju dapur.


“Apa aku salah? Perasaan, Beeve juga menyukai ku, walau hanya sedikit,” gumam Emir.


Andri yang berada dalam kamarnya, mulai mendial nomor seorang detektif kenalannya.


📲 “Halo pak Roni, apa kabar?” Andri.


📲 “Oh, pak Andri, kabar ku baik-baik saja, ada apa nih pak? Tumben menelepon ku?” Roni.


📲 “Aku mau minta tolong, untuk mencari seorang laki-laki dan anak perempuan, kira-kira usianya 4 tahun, datanya akan ku kirim pada bapak melalui file pdf,” Andri.


📲 “Baik pak, jangan khawatir, saya akan melaksanakan perintah pak Andri,” Roni.


📲 “Terimakasih banyak pak,” Andri.


📲 “Sama-sama pak Andri,” Roni.


Andri merasa sedikit lega, setelah ia menyerahkan masalah Cristian dan Bia pada Roni, sang detektif handal yang cukup tersohor di kotanya.

__ADS_1


“Semoga saja, dengan ketemunya Bia, Beeve dapat menerima ku sepenuhnya, Ya Allah, izinkan aku tetap bersama dengan istri ku.” Andri sangat berharap, Bia segera di temukan, agar hubungannya dan Beeve dapat terjalin kembali.


Malam harinya, saat ingin tidur, Beeve merebahkan tubuhnya jauh dari Andri.


“Bee.” Andri menggeser badannya agar lebih dekat dengan sang istri.


“Iya mas?” Beeve melirik Andri yang kini hanya berjarak 1 jengkal darinya.


“Kenapa tidurnya jauh dariku sayang?”


“Bukan apa-apa mas, aku hanya takut kau merasa sempit,” ujar Beeve.


“Mana mungkin aku kesempitan sayang, ranjangnya kan luas.” Andri pun memindahkan kepala Beeve agar tidur di atas lengannya.


“Mas! Nanti lengan mu patah loh, kepala ku kan berat." ucap Beeve, selain karena ia masih marah pada Andri, alasan lainnya adalah, ia merasa canggung, setelah 4 tahun tak bersua, tiba-tiba bermesraan seperti dulu lagi.


“Bee, jangan menghindar dariku terlalu lama, tolonglah, aku tahu semua kesalahan yang ku perbuat, atau sebenarnya kau enggak suka pada ku karena aku penyakitan sekarang?” ucap Andri penuh selidik.


“Mas, aku enggak seperti itu, hanya saja hati ku belum siap, kalau harus seperti dulu lagi dengan mu,” terang Beeve.


“Bee, sampai kapan kau akan seperti ini pada ku?”


“Baiklah sayang, aku mengerti, maafkan aku yang terlalu memaksa mu.” Andri pun meletakkan kembali kepala Beeve ke atas bantal, lalu ia menggeser tubuhnya menjauh dari Beeve.


Ia yang tak dapat menahan air matanya, memiringkan badannya, agar Beeve tak melihat kerapuhannya.


Ya Tuhan sakit sekali, baru seperti ini rasanya hati ku telah hancur berkeping-keping, mungkin ini yang Beeve rasakan, saat dulu aku tak mau menyentuhnya, dan juga mengasingkan dia tidur di lantai 2, batin Andri.


Beeve yang samar-samar mendengar suara hidung tersumbat dari Andri pun langsung mengerti, kalau suaminya sedang menangis.


Kenapa kau jadi begitu cengeng sih mas? batin Beeve.


Beeve yang dasarnya berhati lembut pun langsung iba pada Andri.


Ia pun menggeser tubuhnya, lalu ikut memiringkan badannya. Dengan penuh kasih sayang, Beeve memeluk Andri.


“Mas? Kau baik-baik saja?” tangan Beeve yang cekatan menyentuh mata suaminya, “Hem...” selanjutnya Beeve bangkit dari tidurnya, lalu ia memutar tubuh Andri menjadi telentang. Kemudian meletakkan kepala Andri di pangkuannya.

__ADS_1


“Kenapa kau menangis mas?” tanya Beeve seraya menyeka air mata Andri dengan kedua ibu jarinya.


Andri pun menggelengkan kepala, ia benar-benar tak sanggup bila Beeve abaikan.


“Ya ampun, sudah tua kok masih nangis sih? Aduh-aduh, hapus air mata mu mas, malu tahu kalau sampai orang lain tahu, mas Andri seorang presdir ISF menangis hanya karena seorang perempuan?! Hah! Nanti kau di ledek baru tahu rasa, hahaha.” Beeve mencoba menghibur Andri, agar tak menangis lagi.


Lalu Andri melingkarkan kedua tangannya di pinggang Beeve, seraya membenamkan wajahnya ke perut istrinya.


“Maafkan aku Bee, sekarang aku baru benar-benar mengerti perasaan mu selama ini, maafkan aku yang sering menyakiti mu.” ucap Andri dalam isak tangisnya.


“Ya ampun mas, semua itu sudah berlalu, jangan kau ungkit lagi, yang penting pikirkan kesehatan mu mas, ISF sangat butuh pemimpin cerdas seperti mu,” terang Beeve menyemangati suaminya.


“Apa kau akan meninggalkan ku, kalau aku enggak bisa sembuh total?” tanya Andri yang takut Beeve melirik pria lain.


Sejenak Beeve bungkam, bukan karena masalah pengganti, namun apakah ia harus bertahan dengan Andri atau tidak.


“Bee, jujurlah pada ku.” Andri yang penasaran terus meminta kepastian pada Beeve.


“Mas, apa kau siap kalau aku berkata jujur?” tanya Beeve dengan wajah serius.


Lalu Andri menarik wajahnya dari perut Beeve, “Iya, kalau itu memang dari hatimu yang paling dalam,” ucap Andri


“Sebenarnya, aku juga enggak tahu mas, apa aku masih bisa bersama mu atau tidak,” terang Beeve.


Andri pun terdiam, saat Beeve mengatakan demikian padanya. Lalu ia pun bangkit dari tidurnya.


“Aku tahu cara memastikannya bagaimana,” ujar Andri.


“Maksudnya mas?” Beeve mengernyitkan dahinya.


Lalu Andri mengecup bibir Beeve yang telah lama tak berinteraksi dengannya.


“Akh!” Beeve mendorong tubuh Andri untuk menyudahi ciuman yang ia terima.


“Kenapa?”


“Mas, kenapa kau belum mengerti juga sih? Untuk memastikan sebuah perasaan itu bukan hanya dengan bercinta, tapi di lihat dari rasa nyaman kita juga bersama seseorang itu, aku berkata begini bukan karena apa-apa, tapi aku perlu memastikan perasaan ku, kalau aku benar-benar ingin hidup kembali dengan mu mas, karena bagi ku semua enggak mudah, setelah aku mengalami semuanya! Kau pun jelas tahu apa yang telah ku lalui!” setelah mengatakan isi hatinya Beeve kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, begitu pula dengan Andri.

__ADS_1


Malam itu, keduanya di lema atas perasaannya masing-masing.


...Bersambung......


__ADS_2