Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 226 (Nasehat)


__ADS_3

“Namanya juga ingin berkarir, ya enggak apa-apa sih.” ucap Emir yang kini telah selesai makan.


“Iya juga sih, dari pada vakum di rumah, kak Bee...” Helena menggenggam tangan kiri Beeve. “Semangat bekerja ya kak, kalau setahu ku kerja di restoran itu capenya minta ampun, tapi... kakak harus tetap semangat.” Helena yang telah selesai sarapan, sama-sama bangkit dengan Emir menuju kamar mereka.


Andri yang menyaksikan istrinya di remehkan, geleng-geleng kepala, sebenarnya ia ingin menegur Helena, namun karena Helena adalah orang baru, ia membiarkannya, Andri lebih memilih memberi kesempatan pada Emir untuk menasehati istrinya sendiri.


“Sombong banget cara bicaranya si Helena,” ucap Andri.


“Itu cuma cara bicaranya mas, aslinya dia baik banget kok.” Beeve menenangkan suaminya, agar tak tambah emosi.


“Semoga saja Emir mengerti dan menasehati perempuan itu,” terang Andri.


“Iya mas.” sahut Beeve.


Mereka yang telah selesai sarapan bangkit dari tempat duduknya masing-masing.


Saat Andri akan beranjak dengan putrinya, kakinya terhenti, karena sang istri tak ikut keluar dari dapur.


“Ayo sayang.”


“Duluan saja mas, aku mau bereskan meja makan dan mencuci semua yang kotor ini.” terang Beeve yang tak bisa meninggalkan tempat dengan keadaan berantakan.


“Kau enggak harus melakukannya? Biarkan saja Art yang mengerjakannya,” ucap Andri.


“Enggak ah mas, kasihan Art kita sibuk banget bersih-bersih rumah dari kemarin sampai sekarang, masa sekedar cuci piring saja harus mengharapkan mereka?” Beeve yang baik hati, tak tega memberatkan para Art di rumah itu hanya sekedar mencuci piring.


Lalu Andri pun mendekat pada istrinya, “Hem... beruntung sekali aku mendapatkan mu, sudah baik, rajin rendah hati lagi.” Andri mengecup kening istrinya karena merasa bangga, tanpa mereka sadari, Bia menyaksikan keromantisan keduanya.


“Kok yang di cium hanya mama pa?” ucap Bia.


“Astaga!” Andri dan Beeve terkejut akan suara putrinya.


“Hem... mama dapat ciuman karena bersikap baik dan rajin nak,” ucap Andri sebagai alasan.


“Iya, kalau Bia bersikap baik, maka mama dan papa akan kasih ciuman juga untuk Bia.” timpal Beeve dengan senyum manisnya.


“Kalau begitu Bia bantu mama cuci piring saja,” Bia kecil naik kembali ke kursinya untuk mengambil piringnya.


“Eh, enggak usah sayang, biar mama saja, untuk sekarang, Bia main saja ya,” ujar Beeve.


“Kan Bia juga ingin dapat ciuman dari mama papa.”


“Kalau mau di kasih hadiah ciuman dan kasih sayang dari mama dan papa, Bia cukup belajar yang rajin ya sayang, nanti kalau Bia sudah besar, baru bantu mama dalam mengerjakan rumah.” Bia yang mengerti pun menurut apa kata ibunya.


“Ayo sayang, kita ke depan, nenek dan kakek pasti sudah menunggu mu.” Andri pun menuntun putrinya untuk meninggalkan dapur.

__ADS_1


Sedangkan Beeve melanjutkan acara bersih-bersih dan cuci piring.


Emir yang berada di kamar bersama Helena, mulai menasehati istrinya.


“Helena...”


“Panggil aku ade bang.” pinta Helena yang terlanjur nyaman dengan panggilan tersebut.


“Ehm, iya dek...”


“Apa bang? Mau bicara apa?” tanya Helena yang duduk di atas ranjang bersama suaminya.


“Kedepannya, kalau kau ingin bicara dengan Beeve, pilih kata-kata yang bagus, jangan sampai menyinggung perasaannya, bagaimanpun dia itu adalah kakak ipar kita, menantu tertua, kalau kau asal ngomong ceplas ceplos, itu enggak sopan namanya dek,” terang Emir.


“Memangnya ada yang salah dari yang aku katakan bang?” Helena yang merasa baik-baik saja akan tutur katanya tak mengerti situasi yang ada.


“Jelas salah, kau enggak perlu menyinggung soal pendidikannya, dia mampu untuk kuliah dimanapun, hanya saja, dia belum ada kesempatan, dan soal pekerjaan, jangan salah ya, dia bukan pelayan, tapi dia sendirilah pemilik restoran itu.” Helena sedikit terkejut dengan pernyataan suaminya.


Apa dia anak orang kaya? akh... paling dapat modal dari keluarga bang Emir, batin Helena.


“Iya bang, lain kali aku akan menjaga tutur kata ku, kalau itu memang salah.” ucap Helena yang tak ingin memperpanjang masalah.


Lalu Emir pun mengusap puncak kepala istrinya, “Bagus... harus lebih anggun, bersopan santun ketika berhadapan dengan keluarga ya, kalau hanya kita berdua sih, terserah kau saja,” ujar Emir.


“Iya dek?”


“Kita mau berapa lama tinggal disini?” tanya Helena yang tak ingin tinggal di rumah mertuanya.


“Selamanya,” jawab Emir.


“Bukannya lebih baik kalau kita tinggal di rumah sendiri ya bang? Akan lebih nyaman dan... lebih bebas, takutnya kalau bersama orang tua banyak yang salah di setiap aktivitas kita bang.”


“Dek... kami hanya dua bersaudara, kalau aku meninggalkan rumah, kasihan ayah dan ibu, kalau hanya tinggal berdua, pasti mereka akan merasa kesepian,” terang Emir.


“Ck, aku takut kalau ibu tiba-tiba enggak suka pada ku, apa lagi aku kan enggak bisa pegang dapur dan rumah.” Helena begitu khawatir dengan kekurangannya itu.


“Kan ada Art, lagi pula kau sibuk di rumah sakit, untuk apa lagi mengerjakan rumah? Tugas mu hanya dua, melayani ku dan juga pasien-pasien mu.” Emir menyemangati istrinya yang tak percaya diri.


“Oh iya, kau benar juga ya bang, nanti kalau ibu memarahi ku, saat aku salah, bela aku yang bang...”


Emir yang tak suka Helena berpikir negatif terhadap ibunya, memukul kecil kelapa istrinya.


“Baru juga di ingatkan, kalau bicara itu, saring-saring mana yang akan kau katakan! Ibu ku enggak sekejam itu, baru sehari jadi menantu negatif thinking mu sudah akut, gimana kalau seminggu? Aku akan membela mu kalau benar, jika salah aku akan ikut memarahi mu.” sikap tegas Emir membuat Helena merapatkan kedua bibirnya.


Aduh... salah ngomong lagi deh aku, batin Helena.

__ADS_1


Karena tak ingin di benci suaminya, Helena pun membujuk Emir.


“Maafkan aku ya bang, aku salah, bukan maksud ku begitu, hanya saja, banyak di luar sana yang bercerita mengenai mertua mereka yang galak, tapi kalau ibu, aku yakin dia baik, hehehe.” Helena mencium pipi Emir agar tak cemberut lagi padanya.


“Pokoknya berpikir positif Helena, dan kalau ibu dan ayah tak mengusir kita dari rumah ini, jangan berpikir untuk pindah, sampai kapan pun.” terang Emir.


“Iya abang sayang.” sahut Helena dengan tertawa lebar.


Huh! Pada hal aku butuh privasi, dan bangun sore kalau libur, batin Helena.


Semoga saja Helena dapat menyesuaikan diri, jangan sampai memancing emosi ibu, bisa gawat kalau sampai mereka berselisih faham, batin Emir.


___________________________________________


Arinda yang berada dalam selnya tiba-tiba di panggil oleh sang sipir.


“Arinda, ikut saya!” titah sang sipir.


Arinda yang tak tahu alasan ia di panggil pun merasa deg degan.


Ada apa ini? Apa rahasia ku ketahuan, bisa mati aku kalau benar! batin Arinda.


Ia pun keluar dari selnya dengan jantung berdebar-debar.


Setelah berjalan beberapa saat, ia pun sampai di sebuah ruangan.


“Masuklah,” titah sang sipir.


Arinda menelan salivanya buat-bulat, dengan gemetaran ia membuka handle pintu.


Ceklek! krieet.... ia membuka pintu dengan ragu.


“Kau sudah datang Arinda?” ucap Leo sang kepala penyidik yang sempat memberi hadiah padanya beberapa bulan yang lalu.


“Iya pak, ada perlu apa ya memanggil saya?” tanya Arinda dengan gugup.


“Duduk dulu.” Leo mempersilahkan Arinda duduk di hadapannya.


Lalu dengan perasaan cemas, Arinda duduk di hadapan Leo.


“Apa kau bisa melayani ku malam ini?” tanya Leo dengan wajah menggoda pada Arinda.


“Apa?” netranya membelalak saat ia mendapat tawaran tersebut dari Leo.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2