Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 27 (Makan banyak)


__ADS_3

“Aku enggak tahu Man, hati ku masih kecewa,”


“Hum, berarti malam pertama mu batal dong?” tanya Arman.


“Enggak, aku menuntaskannya,”


“Hah???” Arman semakin jijik dengan sikap Andri.


“Kenapa wajah mu begitu?” tanya Andri.


“Ku pikir karena dia enggak perawan kau enggak meneruskannya, tapi.... punyanya masih ketatkan?” tanya Arman kembali.


“Nanya apa sih kau?” Andri kesal dengan pertanyaan sahabatnya.


“Kalau masih ketat dan membuat mu ketagihan, kenapa harus menceraikannya, berdamai lah dengan keadaan, sayang loh, istri secantik itu kau biarkan tidur sendiri, tapi.... waktu itu kau buang di luar apa di dalam?” tanya Arman.


“Di-dalam,”


“Hmmm, hati-hati, jangan-jangan benih tumbuh di rahimnya, jangan gegabah kalau mau menceriakan anak orang, dari pada meninggikan ego, lebih baik berbaikan, ya sudah aku mau bertemu Klien,” ucap Arman.


“Tunggu!”


“Ada apa lagi?”


“Apa kau sudah dapat sekretaris baru untuk ku? Kau tahukan Ayu akan keluar bulan depan,” ucap Andri.


“Belum, nanti akan ku usahakan,” setelah itu Arman meninggalkan Andri di ruangannya.


Andri yang mendapat nasehat dari sahabatnya mulai mencernanya di kepalanya.


___________________________________________


Sementara Beeve yang bosan di kamarnya memutuskan untuk turun ke lantai 1, ia yang merasa lapar dengan sangat hati-hati menyelinap ke dalam dapur.


Saat ia sampai, ia terdiam karena melihat 2 orang ART yang tengah berbenah, satu memasak satunya lagi mencuci piring.


Beeve dengan tenang mendekat, Art yang tengah memasak tiba-tiba melihat kehadiran Beeve.


“Astaga!” ucap Art spontan.


“Ada apa?” ujar Art yang mencuci piring, lalu keduanya pun menoleh ke Beeve.


“Maaf sudah mengagetkan kalian,” ucap Beeve.


“Hmm, kita yang minta maaf nyonya, perkenalkan nama saya Winda umur 31 tahun,” ucap Art yang tengah memasak.


“Saya Siska nyonya umur 30 tahun,” ucap Art yang memegang piring.


“Saya Beeve,” sambung Beeve.


“Semoga nyonya menyukai kinerja kita berdua, kami dari yayasan yang sama nyonya,” terang Winda.


“Ah, iya, tapi.... apa tuan sudah berangkat?” tanya Beeve, keduanya pun saling melihat satu sama lain.


“Sudah berangkat dari pagi nyonya,” terang Siska.

__ADS_1


Mengetahui suaminya tak ada di rumah, Beeve memanfaatkan kesempatan.


“Mbak Winda lagi masak apa?” tanya Beeve penasaran.


“Saya lagi sup iga nyonya,” ucap Winda.


“Oh ya?” Mencium wangi yang begitu menggugah selera membuat perutnya semakin lapar.


Beeve pun mendekat ke kompor, dan menghirup uap sup iga tersebut.


“Nyonya lapar?” tanya Winda.


“Iya mbak, apa masih lama matangnya?”


“Ini sudah matang kok nyah,”


Lalu Siska sigap mengambil nasi untuk majikannya.


“Tunggu mbak Siska, apa tadi kau mencuci piring yang ada tulisan namanya?”


“Oh, iya nyonya, sudah saya taruh di rak piring,” terang Siska dengan tersenyum.


“Taruh nasi di piring itu saja, mulai hari ini sampai seterusnya, jangan ganti piring ya mbak,” ucap Beeve.


Meski terkesan aneh, namun Siska menuruti titah sang majikan. Ia pun mengambil nasi untuk sang majikan, awalnya Siska menaruh 2 sendok nasi di piring, sebab ia lihat majikannya tipikal yang tidak banyak makan.


“Ah, mbak, tolong nasinya kasih enam sendok ya,” titah Beeve dengan semangat, ketika Winda akan menaruh sup iga ke dalam mangkok, Beeve menghentikannya.


“Langsung tuang ke piring saja mbak,”


“Baik nyonya, bawa kemari Sis piringnya,” pinta Winda.


Winda pun menyerahkan piring sang nyonya pada Winda.


Winda yang baik hati menaruh banyak daging iga di piring Beeve.


“Silahkan di makan nyonya semoga nyonya suka dengan masakan saya,” ucap lembut Winda.


“Terimakasih mbak,” Beeve yang lapar memasukkan makanan yang ada di piringnya sesuap demi sesuap ke dalam mulut dengan tangannya.


Siska dan Winda saling tatap satu sama lain, mereka tak menyangka nyonya cantik di hadapan mereka bisa mukbang.


Siska pun memberikan air minum pada sang nyonya yang akan akan segera selesai makan.


Gluk gluk gluk!!


“Ahhhhh!!! Kenyang!” gumamnya tanpa sadar.


Lalu ia mendongak ke arah art nya, yang menampilkan wajah aneh.


“Ah hahahaha, maaf kalau aku makannya aneh,” ucapnya malu.


“Ah, bukan nyonya, justru kita kagum pada nyonya, makan banyak tapi tubuhnya bagus,” terang Winda.


“Betul nyonya, bagi tips nya dong nyah,” pinta Siska.

__ADS_1


“Ahhahahaha, aku hanya rajin olah raga, kalian juga kalau sudah selesai bekerja, bisa olah raga kok,” ucap Beeve.


“Kita boleh olah raga nyah?” tanya Siska.


“Iya, kalian juga bisa bersantai kalau memang pekerjaan rumah sudah selesai, yang penting sih, semua beres dulu, kalau sudah kalian bebas mau ngapain, asal sopan,” ucapnya, karena para Art di rumahnya juga demikian.


“Alhamdulillah nyah, kalau soal rumah pasti akan kami bereskan, saya dan Winda belum pernah nyah mendapat kebebasan seperti itu, kalau majikan tidak tidur, kita akan terus kerja rodi,” terang Winda, mengingat masa sulitnya selama ini.


“Betul nyah, terimakasih nyonya,” ucap Siska.


“Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke lantai 2, tolong simpan rapi piring ini, dan gelasnya....,” Beeve teringat kalau gelas miliknya telah pecah tadi malam.


“Mm..., gelasnya aku bawa ke atas saja.” setelah memberi perintah, Beeve meninggalkan kedua Art nya dengan membawa gelas yang baru saja ia pakai.


Setelah Beeve jauh, keduanya pun mulai bergosip.


“Bukannya kamar tuan dan nyonya di lantai 1?” ujar Winda.


“Betul, kenapa nyonya bilang lantai 2?” lanjut Siska.


“Apa mereka bertengkar?” ucap Winda.


“Hah...., semoga saja enggak, karena kelihatannya nyonya orang baik, nanti kalau mereka ribut dan lainnya, kita lagi yang repot,” timpal Siska.


“Tapi nyonya terlihat masih anak di bawah umur ya?” ucap Winda, sebab wajah Beeve masih terlihat seperti anak-anak, meski tubuhnya besar.


“Kau benar juga mbak,” timbal Siska.


Sementara Beeve yang telah sampai di lantai 2, berniat ingin masuk ke ruang kerja suaminya.


“Kira-kira kalau aku masuk sekali lagi, ketahuan enggak ya?” batinnya.


Setelah berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk masuk ke ruangan itu.


Ceklek!


Beeve membuka pintu dengan pelan, ia pun masuk dengan sangat sopan, kemudian Beeve menuju menuju meja kerja suaminya, untuk mengambil spidol.


“Beeve, sudah selesai,” Beeve menandai kembali gelas yang ia pakai dengan namanya, tepat di bagian bawah gelas.


Ketika Beeve akan keluar, tiba-tiba hatinya ingin melihat koleksi buku-buku suaminya.


“Wahh.. banyak bangat, kira-kira ada komik enggak ya?” Beeve pun menyusuri setiap bagian rak buku yang ada disana.


“Hah...., sebanyak ini isinya hanya buku-buku yang membosankan,” Beeve merasa jengkel, sebab suaminya hanya mengoleksi buku administrasi, dunia bisnis, ekonomi dan juga sains.


Saat Beeve berpindah ke rak selanjutnya, ia menemukan sebuah novel yang berjudul Save Yalisa, sebenarnya Beeve tidak suka membaca novel, namun karena tak ada yang bisa di baca selain buku itu, ia pun akhirnya membawa novel tersebut ke kamarnya.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Kissky_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2