Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 23 (Kotor)


__ADS_3

“Berikan aku kesempatan mas, kalau kau menceraikan ku sekarang, aku akan hancur, dan keluarga ku akan malu, mereka tak tahu apapun mengenai kenakalan ku selama ini, tapi mas...., aku hanya sekali melakukan itu, bukan berulang kali, ku tahu enggak layak untuk ku membela diri, tapi aku ingin bersama mu mas, hiks....,” Beeve mencoba membujuk suaminya.


“Bee, aku enggak bisa,” ucap Andri, yang membuat Beeve semakin bersedih.


“Ya Allah, ayah dan ibu pasti akan malu karena aku, bagaimana pun aku harus bisa mengambil hatinya,” batinnya.


“Mas, aku mohon jangan ceraikan aku, aku akan jadi istri yang baik dan setia,”


“Maaf Bee,” karena Andri begitu bersikukuh, Beeve pun memberi penawaran.


“Ya sudah, tapi bisakah kau ceraikan aku 1 bulan lagi mas? Jangan sekarang juga, aku malu mas, setelah itu aku enggak akan menolak, kalau memang kau sudah enggak mencintai ku dan tak menginginkan ku lagi, hiks.....” Andri berpikir beberapa saat, hingga akhirnya ia pun bermurah hati pada istrinya.


“Baiklah, satu bulan lagi,” ucap Andri.


Setelah melakukan percakapan itu, Andri kembali keluar dari dalam resort.


Sedangkan Beeve masih terus menangis, ia tak menyangka nasibnya akan senaas itu.


“Hiks...., apa wanita seperti ku enggak berhak untuk bahagia? Aku memang bersalah, tapi...., aku juga ingin bahagia, ya Allah maafkan aku, aku memang bodoh selama ini, lebih bodohnya aku mau mengikuti keinginan orang tua ku, hiks....,” Hingga malam pun tiba, namun bukan lagi gelap yang indah bak pengantin baru pada umumnya, sebab sang suami yang mengaku mencintainya sejak ia dini lebih memilih di luar.


Hingga pagi menjelang Andri tak kunjung kembali, Beeve yang bergadang semalaman menunggu halalnya di depan pintu masuk resort itu pun malai drop, tubuhnya tiba-tiba menggigil, ia juga merasa sangat pusing.


Ia yang sudah tak kuat, masuk ke dalam, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang masih tercium aroma percintaan mereka kemarin sore.


Ia yang merasa sakit luar biasa pun mulai tak sadarkan diri.


Pukul 07:00 pagi, Andri kembali ke dalam resort, ia lihat Beeve tengah pulas di atas ranjang.


Ia yang ingin cepat-cepat kembali pulang pun mengemasi barangnya.


Awalnya ia ingin meninggalkan Beeve, namun ia tak enak hati bila orang-orang menanyakan keberadaan istrinya.


Bagaimana pun jika aib istrinya tercium oleh keluarga dan orang lain, ia jugalah yang akan malu.


“Bee, bangun Bee!” ucap Andri yang berdiri di sebelah ranjang.


“Hmmm...,” sahut Beeve dengan wajah yang pucat dan bibir pecah-pecah.


Andri yang melihat kondisi istrinya pun mulai cemas.


“Kau sakit?” tanya Andri.


Meski ia marah pada Beeve, namun tak dapat begitu saja menghilangkan nuraninya.


“Aku baik-baik saja mas,” jawab Beeve.


“Hemm, aku akan pulang, apa kau masih ingin disini?”


Hati Beeve sangat terluka mendengar perkataan suaminya, namun ia mencoba tegar.

__ADS_1


“Aku ikut pulang dengan mu mas,” ucapnya.


“Aku akan keluar sebentar untuk membeli obat, kau demam atau apa?” tanya Andri.


“Aku hanya pusing mas,” ucap Beeve.


“Baiklah, akan ku belikan Paracetamol untuk mu,”


Beeve yang takut jika kandungannya bermasalah kalau sampai salah minum obat pun menolak kebaikan suaminya.


“Enggak usah mas, aku cukup sarapan dan minum air putih saja,”


Lalu Andri mengambil air dan sebuah roti coklat dari atas meja makan untuk istrinya.


“Ini, makanlah,” Andri menyodorkan makanan dan minuman itu pada Beeve.


“Terimakasih mas,” perlahan Beeve pun melahap roti coklat itu sampai habis, kemudian ia meneguk air mineral yang suaminya berikan.


“Mas, apa kau enggak sarapan?”


“Enggak, kalau sudah selesai ayo kita pulang, kalau kau belum kuat, tinggallah sampai kau sehat,” ujar Andri.


Mendengar perkataan suaminya, hati Beeve merasa perih.


Matanya kembali berkaca-kaca, kali ini ia merasa sudah benar-benar di buang.


Andri tahu jika Beeve berusaha menahan air mata.


Beeve berusaha bangkit meski ia merasa berat, sebelum berangkat pulang, Beeve membasuh wajahnya ke kamar mandi.


Sebenarnya Andri merasa kacau, melihat istrinya yang begitu menyedihkan, namun hatinya masih menolak untuk berdamai dengan keadaan.


Tak lama, Beeve pun keluar dari dalam kamar mandi, ia pun menyisir rambutnya yang berantakan.


Saat Beeve menyingkap rambut panjangnya, Andri melihat ruam merah bekas percintaan mereka kemarin.


Hatinya terenyuh, “Apa kau menikmatinya? Atau kau hanya melaksanakan tugas mu sebagai seorang istri?” batinnya.


“Ayo mas,” ucap Beeve yang telah selesai merapikan diri.


Saat Andri akan menarik koper Beeve, Beeve sudah meraihnya terlebih dahulu.


“Aku saja mas, aku masih bisa.” Beeve yang merasa seperti sampah dan berdosa pada suaminya, tak ingin menyusahkan suaminya lebih jauh, ia juga takut jika suaminya bertambah marah padanya jika harus bergantung, mengingat pernikahan mereka hanya tersisa 1 bulan lagi.


“Enggak apa-apa aku saja, kau kan sakit,” ujar Andri.


“Enggak apa-apa mas, kopernya ringan kok,”


“Tetap saja.....,”

__ADS_1


“Terimakasih mas, tapi ini benar-benar enggak berat, isinya hanya baju honeymoon dan bikini, jadi enggak usah khawatir, ayo kita berangkat,” ujar Beeve.


Beeve pun melangkah keluar terlebih dahulu, yang di susul oleh Andri.


Ia yang berjalan di depan Andri langkahnya begitu lambat, sesekali Beeve tersandung, ia yang merasa prustasi kembali menangis diam-diam tanpa mengeluarkan suara.


“Di tinggal hamil, selanjutnya di ceraikan karena enggak suci, ya Allah takdir ku benar-benar sial,” gumamnya dalam hati.


Andri yang merasa Beeve terlalu lambat pun mendahuluinya, saat melewati Beeve, ia melihat dari sudut ekor matanya, wanita cantik itu ternyata sedang menangis.


Andri tak menggubrisnya, ia pun berjalan cepat menuju speed boat mereka kemarin.


Sebelum Beeve sampai ke speed boat, ia terlebih dahulu menyeka air matanya.


Lalu setelah ia di depan speed boat, ia pun naik terlebih dahulu, selanjutnya mengangkat kopernya ke kapal speed boat.


Ketika Beeve melangkah menuju kursi, ia tiba-tiba merasa pusing, langkahnya pun oleng, hingga tubuhnya menyentuh punggung Andri.


Sontak Andri menjauh, dan mengibas-ngibas punggungnya, seperti sudah terkena kotoran saja.


Mendapat perlakuan seperti musuh, tanpa sadar air mata Beeve bercucuran dengan sendirinya.


“Ma-maaf mas,” ucapnya.


“Ya Allah, kenapa aku jadi mudah menangis begini? Apa karena efek hamil? Atau memang aku yang menjadi lemah sekarang?” batinnya.


Ia yang merasa tak percaya diri lagi di hadapan Andri perlahan duduk di atas kursi, tak mau melihat suaminya lagi.


Dalam diam, air matanya terus mengalir bagai hiliran sungai.


Berulang kali ia menyeka dengan kerah bajunya, hingga kerah bajunya basah, sedangkan Andri mulai menyalakan mesin speed boat, dan perlahan kapal itu mulai menyusuri lautan.


Selama perjalanan keduanya tak saling bertegur sapa, mereka sibuk akan masalah hatinya masing-masing.


Beeve yang melihat burung-burung beterbangan di atas air laut mulai berandai-andai.


“Kalau saja aku bisa menjaga diri, membatasi diri, dan mendengarkan orang-orang yang menasehati ku, pasti saat ini aku sudah seperti burung-burung itu, terbang bebas kemana pun aku mau, bahkan aku bisa menolak pernikahan ini, atau kalau memang menikah dengannya, aku akan tertawa bahagia, merasakan indahnya kehidupan rumah tangga, memang menyesal tiada guna, liburan yang seharusnya seminggu menjadi satu hari,” batinnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, mereka pun tiba di pelabuhan Mariana Ancol.


Andri turun terlebih dahulu, Beeve yang kesulitan untuk naik ke jalan aspal pun terdiam sejenak.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Kissky_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2