Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 83 (Genting)


__ADS_3

“Terus bagaimana? Apa kau akan menikahinya?” tanya Rahma.


“Terpaksa bu,” jawab Andri.


“Enggak bisa! Kau enggak boleh melakukan itu!” ucap Emir.


“Keluarganya memberi ku waktu 5 jam untuk membawa kalian ke rumahnya, kalau enggak anak kami akan di gugurkan, ku mohon kalian mengerti.”


“Terus gimana dengan Beeve, apa kau mengerti keadaannya?! Apa dia akan mau kau madu?” ucap Emir.


“Untuk itu, ku mohon kerja samanya, sembunyikan tentang ini dari Beeve,” pinta Andri kembali.


Buk!


Emir yang tak terima akan ide Andri melayangkan satu pukulan ke wajah abangnya tersebut.


“Emir! Jangan pukul mas mu!” Rahma kasihan pada Andri yang menerima pukulan dari Emir.


“Dia layak mendapatkannya bu! Emir enggak terima kalau Beeve harus menerima hal ini!” emosi Emir meledak-ledak tak bisa menahan kesabarannya lagi.


“Maafkan aku Mir, walau aku tak mencintai ibunya, tapi aku menyayangi anak itu,” ujar Andri.


Buk buk buk!


Emir memukul tubuh Andri dengan sembarang, membuat Rahma jadi ketakutan, ia tak pernah melihat putra bungsunya berlaku ganas seperti itu selama ini.


“Emir sudah! Jangan pukul Andri lagi.” Rahma memeluk tubuh Andri, untuk mencegah Emir memukul putranya kembali.


“Lepasin Andri bu, Emir belum puas menghajarnya! Kau pikir selain Beeve yang merasa sakit, aku enggak sakit? Aku sedih kalau Beeve merasa sedih, aku bahagia bila dia bahagia, maka dari itu, ku biarkan dia menikah dengan mu! Sekarang kau mau menikahi wanita jalan* itu! Kau bilang kau sayang dengan anaknya? Terus bagaimana dengan anak Beeve?”


“Mir! Kau suka Beeve?” tanya Rahma, ia tak percaya kalau Emir menyukai Beeve juga.


“Tentu saja aku suka! Sudah lama aku suka dia, kami sudah pernah berjanji akan menikah kalau sudah dewasa, entah kenapa perjaka tua ini malah menikahi Beeve!” terang Emir.


Rahma memijat pelipisnya, ia tak menyangka masalah akan menjadi serumit itu. Saat mereka masih bersitegang, tiba-tiba ada yang membuka pintu dengan sangat kencang.


Brak!!


Ketiganya pun menoleh ke arah pintu, ternyata yang datang adalah Yudi.


“Ada apa ini sebenarnya?” tanyanya, terlebih ia melihat anak dan istrinya telah berurai air mata.


“Ini dia nih yah biang keroknya!” Emir menunjuk wajah Andri.

__ADS_1


“Apa? Kenapa? Bisa jelaskan pada ayah?” ucap Yudi seraya duduk di sebelah Andri yang wajahnya berantakan.


“Jelaskan penjahat kelam*n!” ucap Emir.


“Ck! Diam dulu Mir.” Yudi menegur Emir yang tak sabaran.


“Ayah, maafkan Andri, tapi Andri mohon kesediaan ayah, untuk ikut bersama Andri ke rumah Arinda, karena waktu ku sudah tak banyak,” pinta Andri.


“Arinda siapa Ndri?” tanya Yudi keheranan.


“Wanita yang tak sengaja ku hamili yah,” ucap Andri.


Yudi terdiam, dan mengelus dadanya, ia yang syok sampai tak bisa berkata apapun.


“Maafkan Andri yah, Andri juga enggak mau ini terjadi, Andri di jebak yah, untuk cerita lebih rinci, Andri akan ceritakan setelah kita pulang dari rumah Arinda, tolong aku yah, aku enggak mau kehilangan anak yang di kandung Arinda,” terang Andri.


Yudi menghembuskan nafas panjang, ia yang sangat kecewa, geleng-geleng kepala.


“Kau tahu Ndri, perbuatan mu ini akan menghancurkan kerukunan keluarga kita dan Beeve?”


“Aku tahu yah, aku juga pasrah menerima apapun yang terjadi, tapi sekarang ku mohon pada ayah dan ibu, untuk ikut bersama ku ke rumah Arinda, waktu ku tak banyak, sekarang hanya tersisa 2 jam lagi, bagaimana pun itu cucu kalian yah.” Andri sangat memohon pada kedua orang tuanya.


“Jangan mau yah, biarkan saja anak itu jadi korban, toh dengan itu semua akan beres,” ucap Emir.


Lalu Yudi berpikir sejenak, untuk memutuskan langkah apa yang akan dia ambil.


“Ayo kita berangkat.” ujar Yudi, yang membuat Rahma dan Emir terperanjat.


“Yah, kau serius?” tanya Rahma pada suaminya.


“Tentu saja, kita akan bicarakan disana, bagaimana pun anak kita salah bu,” jawab Yudi.


“Tapikan yah, Beeve....”


“Sudah bu, ayo kita berangkat, bagaimana pun kita harus mengurus hal ini, kau juga harus ikut Mir,” titah Yudi.


“Enggak, aku enggak mau, karena sampai kapan pun aku tidak merestui hal ini, kalau kalian memang mau pergi, pergilah sendiri, aku mau ke kampus!” Emir yang kesal bangkit dari duduknya, kemudian ia beranjak dari ruang tamu menuju kampus.


“Ibu juga enggak ikut yah,” ucap Rahma.


“Bu, kau harus ikut, ayo kita dampingi anak kita, kita bicarakan baik-baik disana, bagaimana pun ini masalah kita juga, aku tahu ini berat bagimu, karena harus berlawanan dengan mas Erdogan, aku juga sama bu, apa bedanya aku dengan mu?” terang Yudi pada istrinya.


Akhirnya, Rahma dengan berat hati menyetujui permintaan suaminya. Mereka pun bergegas menuju rumah Arinda.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 30 menit, akhirnya mereka pun tiba. Andri dan kedua orang tuanya pun keluar dari dalam mobil menuju rumah Arinda.


Tok tok tok!


Andri mengetuk pintu rumah calon mertuanya, tak lama dari dalam ada yang membukakan pintu.


Ceklek, krieeet!! Ternyata yang membuka pintu adalah Elia.


“Assalamu'alaikum tante,” ucap Andri.


“Wa'alaikum salam, kau sudah datang nak?”


“Sudah bu.” Elia mempersilahkan keluarga Andri masuk ke dalam rumah, di ruang tamu Rahma dan Yudi melihat Arinda dan Dimas yang tengah duduk bersebelahan di bangku panjang yang muat di duduki tiga orang.


Ini perempuan perusak rumah tangga anak ku?batin Rahma.


Melihat kehadiran calon besannya, Dimas bangkit dari duduknya. Yudi menjabat tangan Dimas dengan sopan.


“Yudi.”


“Dimas.” kemudian Yudi menjabat tangan Elia dan juga Arinda.


Sementara Rahma tak melakukan sentuhan fisik tersebut, sebab ia merasa jijik dengan Arinda dan keluarganya.


Lalu Yudi mencolek tangan istrinya, seolah memberi kode untuk berjabatan juga.


“Jangan paksa aku yah.” bisik Rahma, Elia dan Dimas mencoba memaklumi sikap Rahma tersebut.


“Silahkan duduk.” ucap Dimas pada ketiga tamunya.


Andri dan kedua orang tuanya duduk di satu bangku panjang, berhadapan dengan keluarga Arinda.


“Buatkan minum untuk tamu kita nak,” titah Elia pada putrinya.


“Baik bu.” Arinda beranjak dari duduknya menuju dapur.


“Jadi bagaimana nak Andri, apa kau sudah menceritakan semuanya pada orang tua mu?” tanya Dimas.


“Sudah, anak anda menjebak putra saya, masuk ke kamarnya, pada hal anak ku sudah menikah, anak ku juga berkata, kalau dia tidak mencintai anak anda, tapi anak anda berlaku tidak sopan, menurut anda apa pantas, kelakuannya di sebut benar? Dan apa harus anak ku menikahi anak mu?” terang Rahma yang merasa kesal.


Yudi yang baru tahu kalau anaknya di jebak merasa marah, namun karena ia tak ingin ada keributan, ia pun memilih untuk bersikap tenang.


...Bersambung.......

__ADS_1


...Mari berlomba-lomba menjadi readers yang budiman, dengan kasih rate 5, like, komen, hadiah, vote serta tekan favorit pada novel ini, biar author makin semangat....



__ADS_2