
“Satu yang harus kau tahu mas, tak mudah bagi ku memisahkan diri darimu, meski kau berulang kali menyakiti ku, ku rasa aku adalah orang yang paling bodoh di dunia ini, karena mencintai dirimu yang banyak menancap luka di hati ku.” terang Beeve, Andri menurunkan pandangannya ke lantai.
“Maafkan aku sayang.” hanya itu yang dapat Andri katakan untuk istrinya.
“Tapi sekarang aku sadar, kenapa aku begitu.”
“Memangnya kenapa?”
“Karena cinta tulus itu tak bersyarat, semua kekurangan dan kelebihannya akan kita terima, karena mencintai bukan tentang seberapa besar kita memperoleh kenyamanan atau kepuasan dari seseorang itu, tapi seberapa ikhlas kita menerima pasangan kita, karena cinta sesungguhnya itu dari hati, bukan fisik atau bibit dan bobotnya.” terang Beeve, Andri menatap lekat wajah istrinya yang bercerita tulus dari dalam hati.
“Terimakasih, karena telah memilih ku.” ucap Andri, lalu Beeve memutar tubuhnya menghadap suaminya.
“Terimakasih juga telah memilih ku mas, ku harap setelah ini kau dan aku tetap mencintai sampai maut memisahkan.” keduanya pun berpelukan dengan sangat erat, seolah itu adalah pelukan terakhir mereka.
Di malam yang dingin, sunyi akan keramaian masa, pasangan suami istri itu di hibur oleh nyanyian jangkrik dan kodok khas pedesaan, perbincangan hangat antar keduanya terhenti, mana kala si Joni menggeliat kembali.
“Bee, aku punya tebak-tebakan.”
“Apa mas?”
“Ada yang berdiri tegak tapi bukan kebenaran, apakah itu?” tanya Andri dengan menahan tawa.
Lalu Beeve mencengkram kuat si Joni yang sedari tadi mengeras bagai besi beton.
“Akhh!! Sakit sayang! Kalau itu kenapa-napa nanti kau juga yang rugi,” terang Andri.
“Diam! Banyak omong banget dari tadi.” Beeve menyumpal bibir manis suaminya.
Beeve makin menekan sumpalan tangannya saat Andri ingin bicara.
“Ssttt... apa milik mu masih sakit mas?” tanya Beeve.
Andri pun mengangguk, lalu Beeve menyusup ke dalam selimut, untuk memeriksa kondisi si Joni kepunyaan suaminya.
“Aduh! Sayang pelan-pelan saja, lagi pula enggak ada yang merebutnya mu.” Andri pun membuka selimut pembalut tubuh mereka. Lalu ia rapikan rambut istrinya yang urakan, agar ia dapat dengan jelas melihat pengerjaan istrinya yang begitu brutal.
Beeve yang telah lama tak menembangkan lagu cinta, kali itu enggan melepas si Joni yang jadi sarana mikrofonnya.
“Ssst!! Sayang...” Andri berulang kali mendesis, karena sang istri tercinta makin liar seperti di masa lalu, ekspresi wajah menggoda Beeve saat mengaduk-aduk benda keramatnya membuat nafas Andri makin memburu tak menentu, aliran darahnya juga seakan pecah, jantungnya jedag jedug ingin melompat dari tempatnya.
Tak ada kata yang bisa ia ungkapkan, karena bibirnya sibuk mendesis seperti sedang mengunyah cabai 1 kilo.
Belum lagi, ketika ia lihat lekukan tubuh Beeve yang aduhai, membuat dirinya ingin pingsan, namun ia menguatkan mentalnya, sebab jika ia melewatkan kesadarannya, maka surga dunia yang kini ia rasakan akan hilang.
Larva yang ingin menyembur kini telah di ujung tanduk.
__ADS_1
“Sa-sayang, a-aku ingin keluar!” ucap Andri dengan suara terbata-bata.
Beeve mengangguk, Andri yang ingin menyudahi acara karaokean itu berniat menarik mundur si Joni, namun sang istri yang bagai Dewi kenikmatan menahannya dengan kuat.
Astaga, aku bisa gila kalau begini! batin Andri.
Dengan sangat terpaksa, larva api asmaranya ke luar di tempat yang tak seharusnya.
Ia yang kelelahan, menyandarkan tubuhnya di punggung sofa, berpikir semua telah selesai, ternyata istrinya masih lanjut ke lagu berikutnya.
“Sa-sayang tunggu dulu.” Andri mencoba menghentikan Beeve yang begitu baik budi padanya di malam yang indah itu.
“Diam, atau ku gigit?!” wajah Beeve nampak tegang saat mengatakannya, hingga Andri yang bagai kucing rumah tak berdaya jadi bungkam.
“Ya sudah, lanjutkan sampai kau lelah.” Andri pun pasrah dengan apapun yang Beeve lakukan padanya.
Malam itu terasa sangat panjang, meski Andri merasa lelah dan selalu minta menyerah, namun Beeve lagi-lagi selalu berhasil membuat ia menggeliat dan menyemburkan larva berulang kali.
Pukul 03:00 pagi, tenaga Andri benar-benar telah habis, tubuh keduanya pun telah basah oleh keringat yang bercucuran deras mulai dari pangkal rambut hingga kaki.
“Mas! Mas! Buka mata mu!” suara kerasa dan melengking Beeve membuat mata Andri segar kembali.
“Sayang, kau benar-benar top, dan yang paling oke! Apa sekarang kita bisa tidur?” tanya Andri yang kesadarannya sudah mulai hilang.
“Iya aku tahu, apa boleh, kalau aku istirahat 1 jam saja sayang? Rasanya kulit si Joni sudah habis semua kau makan.” terang Andri yang merasakan perih pada benda keramatnya.
“Banyak alasan! Punya mu masih tegak begitu, kemana kau yang dulu perkasa mas?” Beeve meledek Andri yang tak seperti dulu ganasnya.
“Bee, sayang ku, ku akui kau sangat ahli, tapi...” belum sempat Andri menyelesaikan barisan kalimat yang ingin ia ucapkan, Beeve dengan tiba-tiba membenamkan si Joni ke dalam kamar minimalis miliknya.
“Kalau kau lelah, tidur saja mas, aku akan menuntaskannya sendiri.” ucap Beeve yang mulai melakukan gerakan indah di atas tubuh Andri.
Astaga, kenapa istri ku jadi genit begini? batin Andri.
Andri yang kasihan pada istrinya mengumpulkan seluruh sisa tenaganya, lalu ia pun bangkit dan menukar posisi bercinta mereka.
“Kau yang minta sampai pagi ya.” ucap Andri, Beeve pun mengangguk.
Lalu Andri menghentak kuat miliknya, hingga menyentuh tempat terdalam milik Beeve.
“Pelan-pelan mas.” Andri menggelengkan kepalanya, tak mau mendengar apa kata istrinya.
Hingga sinar mentari telah menampakkan sinarnya, keduanya masih sibuk beradu dalam cinta.
Pukul 07:00 pagi, Andri dan Beeve terbaring lemah seraya berpelukan di atas sofa.
__ADS_1
Sebelum kesadaran Andri benar-benar hilang, ia pun menutup tubuh mereka berdua dengan selimut.
Tak perlu menunggu waktu lama, Andri dan Beeve pun terlelap hingga pukul 16:00 sore.
Beeve yang bangun lebih dalu melihat Andri yang masih terlelap di sebelahnya.
Ia pun tersenyum malu mengingat hal-hal yang mereka lakukan.
Karena tak ingin menggangu tidur suaminya, Beeve turun dengan perlahan, namun saat ia ingin melangkah, ia merasa pangkal bahanya terasa perih dan ngilu.
Aduh! Sakit banget, batin Beeve.
Beeve melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dengan jalan terpingkal-pingkal.
Selesai mandi ia menuju lantai 2 untuk berpakaian.
“Ya ampun, punya ku perih banget ya Tuhan.” meski masih merasa tak sehat di bagian organ intinmnyaa, namun semangat Beeve untuk menyajikan masakan lezat untuk sang suami tak padam.
Ia turun kembali ke lantai satu, lalu menuju dapur. Beeve melihat bahan masakan yang ada dalam kulkas yang telah di sediakan oleh pihak villa.
Selanjutnya, Beeve yang ahli dalam urusan memasak mengolah bahan-bahan yang ada jadi hidangan istimewa.
Aroma wangi dari ikan bakar yang telah tersaji di atas meja makan membuat Andri bangun dari tidurnya.
Ia pun duduk dengan tegap, lalu menoleh ke arah dapur.
“Kau sudah bangun mas?” sapa Beeve dengan senyuman hangat.
“Iya sayang, kau sedang masak apa?” tanya Andri.
“Ikan kakap bakar mas!” seru Beeve.
Lalu Andri pun menyusul Beeve ke dapur, saat ia ingin mencubit daging ikan yang telah masak, Beeve memukul tangannya.
“Kau mandi dulu mas, jorok banget sih!” pekik Beeve.
“Tapi aku sudah lapar.banget yang,” ucap Andri.
“Kalau enggak mandi, berarti mas enggak boleh makan!” Andri menutup rapat kedua bibirnya, lalu dengan wajah memelas ia menuju kamar mandi.
Beeve tertawa melihat ekspresi suaminya yang begitu lucu di matanya.
Setelah 10 menit Andri keluar dari kamar mandi dengan berpakaian rapi. Lalu ia pun duduk di kursi meja makan. Kemudian Beeve mengambil nasi untuk Andri dan dirinya. Selanjutnya mereka berdua makan dengan lahap di sajikan pemandangan sawah yang indah.
...Bersambung......
__ADS_1